Tag: NU

Pelantikan MW KAHMI Sulut Akan Dihadiri Sejumlah Menteri

Pelantikan dan seminar KAHMI Sulut (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Pelaksanaan pelantikan pengurus Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Sulawesi Utara (Sulut) masa bakti 2020-2025, Sabtu (15/2/2020) bertempat di Graha Gubernuran Sulut, kawasan Bumi Beringin, Insya Allah akan berlangsung sukses.

Selasa (11/2/2020), Ketua Panitia pelaksana pelantikan KAHMI dan Forum Alumni HMI Wati (FORHATI) Sulut, dr Taufiq Pasiak menyampaikan kesiapan pelaksanaan pelantikan. Taufiq yang juga dosen Unsrat Manado itu mengatakan pelantikan dirangkaikan dengan Seminar Nasional.

“Doakan semoga semua proses pelantikan KAHMI dan FORHATI Sulut berjalan sukses. Alhamdulillah panitia telah menyiapkan segala kebutuhan dan kelengkapan kegiatan. Saya mengajak seluruh keluarga besar KAHMI Sulut hadir dalam kegiatan ini,” ujar Taufiq.

Setelah pelantikan, hari itu juga dilakukan Seminar Nasional di Hotel Aston Manado. Lalu besoknya, Minggu (16/2/2020), pukul 05.30 – 12.00 dilakukan jalan sehat. Start dari Lapangan Sparta Tikala dan finish di Lapangan Ketang Baru. Kegiatan ini juga dilangsungkan dengan Temu Alumni Akbar HMI se-Sulut.

Lanjut Taufiq, Presidium KAMI Sulut terpilih ini menyebut bahwa pelantikan akan dihadiri sejumlah Menteri yang adalah para Alumni HMI. Selain itu, para narasumber yang akan hadir dalam Seminar yaitu mereka yang dinilai berkompeten, dengan mengusung tema: “SDM Unggul di Era Revolusi Industri 4.0 dan Industri 5.0 untuk Mewujudkan Sulut Hebat Menuju Indonesia Emas”.

“Tema Seminar akan dibahas para narasumber yakni, Dr Agung Firman Sampurna, SE.,M.Si (Ketua BPK RI), Dr. H. Zainudin Amali, (Menpora), Olly Dondokambey, SE (Gubernur Sulawesi Utara), Dr. Ahmad Doli Kurnia, (Ketua Komisi 2 DPR RI) dan Dr. H. Akbar Tanjung. Hasil diskusi tentu akan kita buatkan karya dan disampaikan ke pemerintah daerah Sulawesi Utara,” kata Taufiq menutup.

Sementara itu, Koordinator Presidium KAHMI Sulut terpilih Iskandar Kamaru saat diwawancarai menuturkan pelantikan pengurus KAHMI Sulut kali ini harus berbeda dan lebih semarak dari yang sebelum-sebelumnya.

“Panitia pelantikan sedang bekerja keras untuk berhasilnya kegiatan pelantikan MW KAHMI Sulut dan FORHATI. Pelantikan harus lebih semarak dan sukses. Do’akan semoga semua berjalan lancar, sampai hari H pelaksanaan kegiatan. Ayo kita bersatu-padu besarkan KAHMI Sulut,” kata Iskandar yang juga Bupati Bolaang Mangondouw Selatan ini.

Selanjutnya, sejumlah Presidium KAHMI Sulut lainnya seperti Sudendro Boroma, Asripan, Abdurahman Konoras, juga mengajak seluruh keluarga besar KAHMI Sulut menyukseskan kegiatan tersebut.

Untuk diketahui, undangan yang akan hadir ialah para mantan-mantan pengurus organisasi Cipayung. Pengurus Muhammadiyah Sulut, NU Sulut, Syarikat Islam Sulut, DMI Sulut, BKPRMI Sulut, Alkhairat, LPTQ Sulut, PHBI Sulut, IPHI Sulut, BAZNAS Sulut. Kemudian, PA GMNI, senior GMKI, senior PMKRI, Ikatan Alumni PMII, Pemprov Sulut, pemerintah daerah Kabupaten/Kota, Majelis Daerah KAHMI Kabupaten/Kota, organisasi paguyuban, dan undangan lainnya juga akan hadir. (*/Am)

Ketum PB PMII Bersama Sekjend Dijadwalkan Lantik Pengurus PMII Cabang Manado

Agus M Herlambang (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Manado Masa Khidmat 2018-2019 yang dipimpin M. Fadli Ibrahim rencananya akan dilantik langsung Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar (PB) PMII yang juga akan dihadiri Sekretaris Jenderal (Sekjend) PB PMII bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Sulawesi Utara (Sulut).

Pelantikan sendiri, akan dilaksanakan tanggal 22 Desember 2018 bertempat di Pesantren Pondok Karya Pembangunan Kombos Kota Manado, sebagaimana disampaikan Ketua Panitia Pelaksana. Panitia pelaksana dikatakannya telah menyiapkan persiapan pelantikan pengurus.

”Ketum PB PMII Sahabat Agus M Herlambang dan Sekjend Sabola Al-Kalamby. Akan hadir juga Ketua PW NU Sulut, Drs. H Sya’ban Mauludin, Badan Otonom (Banom) NU se-sulut dan Pengurus cabang PMII se-Sulut. Panitia telah menyiapkan segala persiapannya, semoga berjalan dengan baik,” kata Masita A Mokodongan, Ketua Panitia.

Disampaikannya pula, ikuti hadir kader/ anggota PMII Cabang Manado dan organisasi ekstra Cipayung plus. Acara tersebut di Rangkaian dengan Dialog Nasional mengangkat tema: “Kaum muda Nahdliyin sebagai Poros Utama Memperjuangkan Cita-Cita Kemerdekaan”.

Menurut Masita A Mokodongan selaku Ketua Panitia pelantikan bahwa suda seharusnya kaum muda Nahdiyin mengawal dan menjadi garda terdepan untuk memperjuangkan cita cita kemerdekaan yang sudah begitu lama di perjuangankan pendahulu-penduhulu NU.

”Ini sebagai momentum menyegarkan semangat kaum muda NU untuk tetap mengawal perjalanan negara bangsa ini,” kata Masita, Selasa (18/12/2018). (*/Redaksi)

Togam dan Aktifis Islam Arahkan Dukungan pada Talumepa

Berlangsungnya silaturahmi (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Pamor sebagai sosok pemimpin Kota Manado semakin meng’Christal pada diri Christiano Talumepa SH.,MSi. Dukungan demi dukungan terus mengalir pada mantan birokrat yang pernah dipercayakan menjabat Kepala Biro Hukum termuda di Indonesia. Selasa (26/06/2018) sejumlah tokoh agama (togam) dan aktivis Islam pun menyatakan mendukung Talumepa menjadi Calon Wali Kota Manado pada pemilihan tahun 2020 nanti.

Talumepa pun dengan rendah hati menerima silahturahmi serta saling bertukar pikiran dengan ramah. Kepada media ini Talumepa mengatakan para tokoh dari Syarikat Islam, Bamusi, Perisai, NU dan Muhamadya menginginkan Kota Manado tetap menjaga kerukunan umat beragama.

Tak hanya itu para tamu memberikan signal bahwa Talumepa dianggap layak  menjadikan Kota Manado sebagai Kota yang Damai. Dan dengan senyum yang bersinar, hati yang bersih dan transparan dalam menerima semua dukungan, Talumepa pun memberikan apresiasi serta mengatakan bahwa jika ditunjuk pimpinan dan atas perkenanan Tuhan bila memang demikian, dirinya siap membawa perubahan warna dan menjadikan Manado semakin hebat.(Cat)

Catatan Ketua Lesbumi Sulut: NU Mau Dibawa Kemana?

Spanduk Mukerwil (Foto Ist)

Spanduk Mukerwil (Foto Ist)

Berharapap Pada Mukerwil PWNU Sulut Mukerwil NU Sulawesi Utara (30/4/2016) di Manado diharapkan dapat merumuskan berbagai agenda dan program yang produktif dan realistis. Selain itu, keputusan strategis yang berisi serangkaian program dan kebijakan organisasi harus menjadi upaya PWNU Sulut merealisasikannya. Persoalan dasar yang menjadi tuntutan masyarakat saat ini adalah agar NU semakin meningkatkan khidmah dan kiprah dalam kehidupan berbangsa di Sulawesi Utara. Di tengah arus globalisasi yang membawa gelombang liberalisasi, telah melonggarkan seluruh ikatan keluarga, ikatan sosial bahkan ikatan agama. Padahal tanpa ikatan agama, tanpa ikatan keluarga dan tanpa ikatan sosial, maka norma dan moralitas sulit dijalankan. Untuk menjawab realitas tersebut, NU dibutuhkan sebagai pelopor yang mngorbitkan gerakan dibidang moral. Dengan maksud, memberi arah dan memberi spirit dalam menjalankan kehidupan berbangsa di Tanah Toar ini.

Tantangan terberat NU di Sulawesi Utara adalah kembali mengkampanyekan misi perdamaian dan semangat ukhuwah yang menjadi nilai luhur Islam sebagai agama Rahmatan Lil ‘Alamin. Sebab, belakangan, Sulawesi Utara kembali direpotkan dengan konflik-konflik yang mengarah pada perseteruan antar kelompok. Sebut saja peristiwa Basaan, penolakan pembangunan rumah ibadah di Bitung dan tempat lainnya, serta konflik horisontal di Dumoga. Pastinya, keadaan ini akan merusak tatanan kehidupan sosial antar bangsa. Apalagi di tengah kelangkaan kepemimpinan dan keteladanan saat ini, NU diharapkan tampil memeberikan arah dan bimbingan. Sebagai organisasi yang memiliki sikap tawassuth dan tawazun, NU diharapkan selalu menempatkan diri secara proporsional di tengah masyarakat Sulawesi Utara yang majemuk, karena itu ketika dalam situasi konflik NU selalu menjadi penengah dan penyeimbang, sehingga berhasil menjaga kerukunan bagi semua pihak.

Suka atau tidak, telah terjadi pergeseran nilai kehidupan berbangsa di Sulawesi Utara. Pengalaman hidup berdampingan dengan kelompok lain belakangan sedikit mengkhawatirkan. Kecurigaan, bayangan ketakutan bahkan prasangka-prasangka mulai bergentayangan. Ketika terror bom terjadi di luar sana, penolakan pembangunan gereja oleh kelompok mayoritas, serta sentimen kelompok ditayangkan oleh mereka yang kebetulan beragama Islam, ternyata menjadi bagian dari latar ketidak-simpatisan sebagian non muslim terhadap Islam, khususnya di Sulawesi Utara. Dari sini, NU punya tugas penting untuk mensyiarkan gagasan dakwah multikulturalnya, yang dapat menggugah semua kalangan bahwa Islam merupakan agama yang damai dan mencintai perdamaian. Kendati semua konflik yang terjadi murni kriminalitas, faktanya muslim dengan non muslim yang bertikai.

Sejak awal, NU mengintegrasikan dirinya dengan kekuatan bangsa lain dan bahu-membahu membangun Nusantara, utamanya di Sulawesi Utara. Sehingga, dapat dikatakan bahwa hari depan NU adalah hari depan Sulawesi Utara, demikian juga masa depan Sulawesi Utara adalah masa depan NU. Oleh karena itu, sebagai sebuah penegesan, NU menjadi organisasi yang disegani, sehingga menjadi pertimbangan dalam menetapkan berbagai keputusan sosial, politik, ekonomi, dan kepemerintahan. Tentu saja, ini tugas berat. Apalagi dengan semakin kompleksnya kehidupan masyarakat dewasa ini. Tantangan baru dan tugas baru membutuhkan jawaban baru serta langkah baru.

Mukerwil PWNU Sulut kali ini harus menjadi ajang yang tepat untuk merumuskan semua strategi gerakan kebudayaan sesuai dengan ajaran para wali dan dilanjutkan para ulama NU. Hasil dari forum sakral ini, NU di Sulawesi Utara akan memperlihatkan apa yang disebut oleh Said Agil Siradj, syuhud tsaqafi (penggerak intelektual) dan syuhud hadlori (penggerak peradaban). Semoga hajat penting ini benar-benar menampilkan Islam Ahlusunnah Wal Jamaah yang membawa nilai-nilai moderat, sehingga dapat mengeluarkan keputusan serta agenda kerja berbasis pada spirit yang mengutamakan nilai kejujuran, pengabdian, kesederhanaan, gotong royong, dan kebersamaan. Kita berharap demikian. Semoga…. (***)

 

Catatan: Taufik Bilfagih, Ketua Lesbumi NU Sulut.

Lakukan Muktamar Lanjutan, Ini 9 Pernyataan Sikap Forum Lintas PWNU

Kondisi Muktamar ke-33 belum lama ini (Foto Ist)

Kondisi Muktamar ke-33 belum lama ini (Foto Ist)

MANADO – Penolakan bermunculan setelah dilakukannya Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) belum lama ini, berbagai pernyataan tegas dikeluarkan Pengurus Wilayah (PW) NU yang memiliki hak suara disaat Muktamar lalu. Wujud dari resistensi itu cukup beralasan, menurut sejumlah PWNU PBNU kini diisi oleh orang-orang partai politik (Parpol). Padahal dalam ketentuan AD/ART, NU Ketua PBNU tidak boleh merangkap jabatan.

Inilah 9 pernyataan sikap dan tekad penyelamatan NU yang dipublikasi Forum Lintas (FL) PWNU.

1. Istiqomah menolak hasil Muktamar ke-33 NU di Jombang dengan segala produk yang dihasilkan karena sarat pelanggaran dan penyimpangan.

2. Tidak mengakui kepengurusan PBNU 2015-2020 karena dihasilkan dari proses Muktamar yang cacat hukum dan cacat etika.

3. Menolak cara-cara premanisme yang dilakukan oleh oknum PBNU yang menakut-nakuti serta mengancam PWNU, termasuk meminta/memaksa hadir pada acara pengukuhan dengan konsekuensi akan memecat bila tidak mengindahkan.

4. Prihatin dengan susunan pengurus yang mengaku sebagai PBNU 2015-2020 karena sarat dengan parpolisasi (banyak orang Parpol yang diangkat sebagai pengurus) penuh dengan nepotisme.

5. Turut serta mendukung upaya hukum, bersama PWNU dan PCNU se-Indonesia, baik aspek pidana maupu perdata melalui proses pengadilan untuk menegakkan kebenaran dan niat meluruskan prilaku terpuji yang tidak sesuai dengan aturan dan akhlakulkarimah.

6. Bertekad untuk menyelamatkan dan meneggakkan khittah NU, baik dalam hal aqidah Islam ahlussunah waljamaah maupun prinsip gerakan Jam’iyyah, dari upaya intervensi ideologi paham lain maupun kekuatan politik yang hanya akan memanfaatkan NU untuk kepentingan politik praktis-pragmatis.

7. Menghimbau kepada semua struktur NU di luar PBNU (yang sedang vakum) untuk tetap menjalankan aktivitas pengabdian umatnya dengan berpegang teguh pada Khittah Nahdliyyah sebagaimana yang digariskan oleh Rois Akbar Hadratussyaikh KH. Hasim Asyari.

8. Mendukung gerakan kultural napak tilas tawasul tabaruk muasis NU dan penegakan khittah yang telah dimulai di pondok pesantren syechona Cholil Bangkalan. Karenanya diperlukan wadah ”Gerakan Tegakkan Khittah NU’.

9. Meminta kepada segenap warga Nahdliyyah untuk berdoa agar NU tetap selamat dari berbagai upaya penyimpangan dan pembelokan dari sekelompok orang yang hanya ingin memanfaatkan dan menggerogoti NU. Tertanda: Juru bicara Forum Lintas PWNU, Andi Jamaro Dulung.

Bahkan, menurut Fesal Musaad PWNU Maluku menegaskan bahwa Muktamar ke-33 sebenarnya belumlah selesai, sehingga perlu dilakukan Muktamar lanjutan. ”Iya, harus dilakukan Muktamar lanjutan. Jangan dikira Muktamar ke-33 di Jombang itu sudah final, karena mekanisme yang digunakan menyalahi aturan dan tidak semestinya dilakukan,” ujar Fesal. (Amas Mahmud)

iklan1