Tag: olly dondokambey

Akhirnya Gubenur Olly Siap Lantik Elly Lasut

Gubernur Olly Dondokambey (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Ikut hadir dalam sidang ekspos polemik Bupati dan Wakil Bupati Talaud, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Rabu (15/1/2020) memberikan tanggapan positif soal putusan.

Seusai sidang ekspos, Olly Dondokambey menyatakan kalau Bupati Talaud terpilih Elly Engelbert Lasut (E2L) tidak ada masalah. Menurut Olly, sidang ekspos tersebut berjalan baik dan sudah membuat semuanya menjadi jelas. Makanya, dia menyatakan siap melantik Elly Lasut dan Mochtar Parapaga jika diperintah.

“Iya, saya sebagai bawahannya Mendagri tentu patuh. Kalau sudah ada keputusan dari Mendagri terkait ekspos ini, dan saya diperintahkan untuk melantik, maka saya akan melantik mereka berdua,” ujar Olly yang juga Bendahara Umum PDI Perjuangan ini.

Saat ditanya apakah polemik pelantikan ini sudah selesai, dengan lantang Olly menyatakan sudah selesai dan final setelah adanya hasil dari ekspos kasus ini.

“Ekspos ini dilakukan Kemendagri karena ada masalah. Jadi ini yang terakhir, apapun hasilnya kita tunggu saja dan kita wajib menerimanya,” tutur Olly.

Gubernur yang murah senyum itu menyebutkan Elly tidak bermasalah lagi. Dia pun siap melantik keduanya jika sudah diperintahkan Mendagri. (*/Am)

Kepemimpinan Adalah Teladan, Sebuah Perspektif Humanis

Bung Amas (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Manado

Dalam buku literatur kepemimpinan secara teoritis menawarkan bermacam cara. Bagaimana trik menjadi pemimpin yang ideal, pemimpin idola, dan pemimpin teladan yang diharapkan rakyat. Jika kita merujuk pada teori perencanaan yang diajukan George R. Terry, maka akan ditemukan Planning, Organizing, Actuating dan Controlling atau yang akrab kita sebut POAC. Berarti seorang pemimpin harus punya modal, diantaranya mengerti tentang cara merencanakan, mengorganisir, menjalankan, dan mampu mengendalikan apa yang dilaksanakan.

Kalau menyimak pemahaman dasar itu, cukup mudah. Namun, kebanyakan pemimpin-pemimpin kita mengalami kesulitan dalam tataran implementasi. Bagaimana tidak, karena dalam praket kepemimpinan acap kali diperhadapkan dengan irisan kepentingan yang plural. Keberagaman kepentingan inilah yang menyebabkan pemimpin gagal mengelola kekuasaan. Sehingga akhirnya pemimpin itu menjadi kehilangan legitimasi dan mendapatkan yang namanya distrust.

Kemudian, kenapa tema besar dalam tulisan ini adalah ”pemimpin itu teladan”?. Berarti ada pertanyaan yang nanti berkembang, bahwa jangan-jangan ada pemimpin kita saat ini yang tidak menjadi teladan.  Padahal betapa mulianya pemimpin, mereka sebagai panutan atau role model. Beberapa spanduk berukuran besar dipasang di depan jalan umum yang bertuliskan ”Kepemimpinan Adalah Teladan”, menggelitik saya ikut sumbang pikiran. Saya setuju tentang narasi besar itu.

Perlu di bumikan, jangan sekedar menjadi pajangan. Bukan pula gaya-gayaan, melainkan dapat dijalankan ungkapan tersebut oleh mereka yang kini menjadi pemimpin kita. Selanjutnya, roda kepemimpinan itu bergantian, tidak berhenti pada satu generasi saja. Artinya, dalam rangka edukasi publik, maka perlu para pemimpin itu merawat akal sehat publik dengan tindakannya. Pemimpin harus hadir sekaligus menjadi inspirasi bagi rakyat. Spanduk yang disebarkan di beberapa lokasi strategis di Manado itu, menurut saya adalah upaya literasi politik. Perlu kita beri apresiasi, sosialisasi untuk membangun kesadaran publik yang baik telah dilakukan.

Seperti kata Ki Hajar Dewantara bahwa pemimpin itu perlu bersikap bijaksana dan profetik. Ketika di depan ia memberi contoh, di tengah memberi semangat. Lalu, bila ia berada di belakang, maka pemimpin tersebut harus mampu memberi pengaruh. Di pentas Pilkada Serentak 2020, warga Sulawesi Utara tentu merindukan pemimpin paripurna. Setidaknya, pemimpin yang tidak munafik, jika berani berjanji, akan ia tunaikan janji tersebut.

Tapak langkap pembangunan yang dibuat Gubernur Olly Dondokambey, dan para Gubernur-Gubernur terdahulu meninggalkan jejak yang luar biasa. Konsep pembangunan berkelanjutan, mengajarkan kita generasi hari ini untuk bersyukur, mengakui, memberi apresiasi dan menaruh hormat kepada mereka. Atas kontribusi, karya dan kesungguhan mengabdi, membuat Sulawesi Utara sampai saat ini mengalami kemajuan pesat. Dalam seleksi kepemimpinan daerah di Pilkada Serentak 2020, rakyat perlu pula merefleksikan pilihan-pilihan politiknya.

Karena pemimpin tidak sekadar menciptakan pengikut. Melainkan menciptakan lebih banyak pemimpin. Kerinduan untuk terlahirnya regenerasi kepemimpinan yang hebat dan berkualitas itulah yang dinanti, sehingga rakyat patut diingatkan agar selektif. Berpijak pada pesan yang ada dalam spanduk ”Kepemimpinan Adalah Teladan”, berarti diperlukan revolusi kesadaran, kejujuran dan keberanian dalam memilih di Pilkada 23 September 2020 kelak. Semua rakyat diberikan penghargaan yang sama atas nama demokrasi, di TPS nanti tiap mereka yang wajib pilih punya satu suara per orang.

Tak membedakan, baik Guru Besar, buruh, politisi, broker, birokret, petani, rakyat termarginal, keluarga pejabat. Kalangan borjuis dan miskin papah, pun punya hak suara yang sama dalam berdemokrasi. Maka dengan itu, jangan disia-siakan hak memilih tersebut. Ketika kita membaca probabilitas kemunculan pemimpin teladan, umumnya mereka terlahir dari bawah. Tidak instan, sosok pemimpin teladan itu mereka yang biasanya terbentuk dari kesulitan-kesulitan hidup.

Pemimpin teladan yaitu mereka yang juga sudah tuntas sejak dari dirinya. Tidak terpenjara pada penguasaan, kontrol dan intervensi orang lain. Yang ditakutinya hanyalah Allah SWT. Mereka tumbuh dengan kemandirian, kejernihan pikirannya, keikhlasan, memahami adab, tidak gila dengan pujian dan penghargaan. Pemimpin teladan itu tak mau banyak mengobral janji, ia sadar diri. Tau apa yang menjadi kemampuannya, bicara sekedarnya, kemudian lebih banyak bekerja.

Seperti itu pula, pemimpin teladan itu mereka takut mengambil sesuatu yang bukan haknya. Tidak berlaku zalim kepada orang lain, tidak pendendam. Menjauh dari korupsi tentunya, ia tumbuh subur dengan tradisi saling menghargai. Mengerti sosiokultural rakyat, tidak jumawa. Pemimpin yang berkarakter, dalam ucapan dan perbuatannya melahirkan pelajaran yang ditiru rakyat. Mereka bertindak mengintegrasikan rakyat, punya kepekaan sosial. Bukan mendiskriminasi rakyat atau menjadi sumber konflik di tengah rakyat. Pemimpin teladan itu, ketika ia tiada rakyat mengingatnya. Mendoakannya tiap saat. Pemimpin teladan berarti ia yang selalu menjadi problem solving.

Dalam perspektif humanis, pemimpin teladan yakni mereka yang menghargai hak-hak dasar rakyat. Mereka yang memiliki komitmen terhadap perjuangan kemanusiaan. Menegakkan keadilan, memerangi kemungkaran, membawa rakyat pada kesejahteraan. Tidak membudayakan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), potret pemimpin yang bertindak atas keputusan-keputusan rasional. Mendahulukan kepentingan kolektif, mengabaikan kepentingan personal dirinya dalam urusan kepemimpinan publik. Dan menjadi pemimpin yang ramah, bukan pemarah.

Ketua Asosiasi PWR Ucapkan Selamat untuk Fransiskus Maindoka

Solidaritas PWR (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Dikenal sebagi birokrat yang disiplin, ulet, loyal dan berintegritas, Fransiskus Maindoka akhirnya diberikan kepercayaan oleh Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Sulut, Steven Kandouw selaku Plt Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sulawesi Utara.

Fransiskus mendapat beragam apresiasi. Bahkan dukungan juga disampaikan sejumlah aktivis pemuda Sulut terkait dilantiknya ASN murah senyum dan berwawasan luas ini. Hal itu seperti disampaikan Donal Pakuku, yang menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Sulut atas amanat yang diberikan tersebut.

Tak hanya itu, Pakuku yang juga Ketua Asosiasi Penambang Wilayah Ratatotok (PWR) mengucapkan selamat kepada Fransiskus Maindoka yang telah dilantik sebagai Plt Kepala Dinas Esdm Pertambangan provinsi Sulawesi Utara yang Baru.

”Kami menyampaikan banyak selamat kepada Bapak Fransiskus Maindoka yang baru saja dilantik sebagai Plt Kepala Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral Provinsi Sulawesi Utara. Beliau memang layak diberikan amanah oleh Pak Gubernur Sulut dan Pak Wakil Gubernur karena kinerja yang baik,” ujar Pakuku, Selasa (3/12/2019), yang juga diaminkan Sekretaris Asosiasi Jefri Pangerapan dan anggota Asosiasi Berry Betrandus bersama Boy Taroreh.

Menurut Pakuku pengabdian Fransiskus Maindoka dalam kerja pelayanan memang telah teruji. Pihaknya juga bersedia dengan senang hati melakukan sinergi dalam kerja-kerja. Masyarakat, tambahnya, akan mendukung apa yang menjadi program Dinas ESDM Sulawesi Utara. (*/Redaksi)

Minta Pemuda Bersatu, Gubernur OD Apresiasi Musda KNPI Sulut

Gubernur Olly Dondokambey (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Dilaksanakannya Musyawarah Daerah (Musda) ke-XIV Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Sulawesi Utara (Sulut), di Sekretariat KNPI Sulut, kawasan KONI Manado, mendapat sambutan positif Gubernur Sulut Olly Dondokambey, SE.

Musda yang digelar Ketua KNPI Sulut, Jackson Kumaat, SE itu berlangsung, Jumat (29/11/2019). Gubernur OD, begitu sapaan akrab politisi senior dari PDIP itu juga menyampaikan harapannya agar pemuda di Provinsi Sulawesi Utara dapat bersatu. Proses penyatuannya yakni dengan melahirkan satu KNPI saja. Gubernur yang murah senyum ini menyampaikan keinginannya agar pemuda Sulut menjadi pemuda mandiri.

”Saya berharap KNPI tetap bersatu di Sulut. Dan menghimbau agar KNPI, serta pemuda Sulut menjadi pemuda yang mandiri. Saya mengapresiasi pelaksanaan Musda XIV yang digelar di Sekretariat DPD KNPI Sulut GOR KONI Sario,” ujar Gubernur OD, Minggu (1/12/2019) saat diwawancarai wartawan, di kantor Gubernur Sulut.

Untuk diketahui, Jackson sendiri saat dikonfirmasi menyampaikan terima kasih atas sambutan luar biasa dari Gubernur. Menurutnya pihaknya akan menyerahkan keputusan kepada Gubernur OD dalam melakukan penyatuan dan Jackson siap mengikuti arahan tersebut.

Suasana setelah pembukaan Musda KNPI Sulut (FOTO Suluttoday.com)

”Prinsipnya kami patuh pada keputusan Pak Gubernur Olly. Tentu saya berterima kasih sebesar-besarnya atas arahan dan apresiasi dari Pak Gub. Kerinduan saya adalah pemuda Sulut bersatu, saya dengan yang diharapkan Pak Gub tentunya,” kata Kumaat, Senin (2/12/2019). (*/Redaksi)

Imba-Altje Jebakan Ataukah Penanda Kemenangan PDIP di Pilwako Manado?

Olly Dondokambey, Ketua DPD PDIP Sulut (FOTO Ist)

(Sebuah Analisis Jelang Pilwako Manado)

RAGAM prestasi politik diukir Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Olly Dondokambey. Dalam politik, prestasi sewaktu-waktu bisa berubah menjadi bencana. Artinya, tidak konstan praktek politik itu. Capaian positif, boleh beralih menjadi proses degradasi. Tidak mudah mempertahankan kekuasaan atau sesuatu yang diperoleh dalam politik. Meraih cita-cita kadang tidak sulit didapat. Namun mempertahankannya yang membutuhkan kerja ekstra.

Fakta tersebut sudah banyak kita temukan. Tumbangnya para politisi yang menjadi petahana dalam rebutan kursi kekuasaan politik. Seperti itu pula, lahirnya politisi instan. Yang ditakar dengan istilah politisi abal-abal. Mereka yang baru bergabung dalam kancah perpolitikan, politisi pemula dapat mengalahkan para politisi kawakan. Itulah realitas politik. Relatif berjarak antara imajinasi politik, ekspektasi dan aktualisasinya dilapangan.

Tentu banyak pihak berfikir optimis, sedikit merasa superior ketika membaca keberhasilan PDIP Sulawesi Utara saat ini. Tapi patut diingat, jangan menjadi euforia. Singkatnya, PDIP untuk Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado 2020 harus jernih dan inklusif membaca peta politik. Agar tidak kalah kesekian kalinya, maka teori perpaduan perlu diterapkan. Silahkan, simulasi pasangan calon Wali Kota dan calon Wakil Wali Kota dilakukan secara kompatibel.

Menjalankan fatsune politik. Mewujudkan politik kerukunan. Kemudian yang tak kalah pentingnya, PDIP yang diketahui juga punya stratak handal dan mengetahui peta jalan berpolitik, jangan kecolongan. Mengerti kultur masyarakat Manado, kecenderungan dan minat politik, PDIP harus bergerak cepat. Evaluasi kekalahan terdahulu. Ketika berani mengambil resiko, kemudian berfikir keras meramu potensi agar menang di Pilwako 2020. Indikatornya, tentu pada penentuan pasangan calon.

PDIP juga perlu melakukan shifting paradigm atau perubahan paradigma. Dari gaya berpolitik yang terkesan tertutup, oligarki, menuju ke capaian-capaian yang lebih menantang, terbuka dan demokratis. Sejatinya harus ada progres yang perlu diambil PDIP. Mengutamakan kader untuk meningkatkan grade partai itu penting. Amat perlu juga diperhatikan ialah bagaimana mengkombinasikan kekuatan. Faktor segmentasi pemilih yang bersifat suku, agama, ras dan antar golongan jangan diabaikan.

Isu politik identitas rasanya perlu dibaca tuntas PDIP. Sebab umumnya dalam kompetisi politik, pengaruh partai tidak terlalu dominan. Melainkan pengaruh figur, ketokohan atau personal dari politisi yang diusung. Jika isu sensitif dikelola dengan matang, melalui strategi kapitalisasi politik, maka bisa membahayakan kemenangan PDIP.

Ketika lengah, tak mampu membendung isu-isu yang menarik kepekaan dan simpati publik. konsekuensinya, partai politik atau kompetitor politik dengan mudah dikalahkan. Apalagi, efek Pilpres juga masih mewariskan kekuatan politik representatif. Pemilih Manado kalau dikategorisasi, Joko Widodo dan Prabowo Subianto akan mudah dilakukan mapping.

Varian isu dan pengelompokkan tokoh itu harus dideteksi. Maksudnya apa?, agar partai politik dapat membedah kekuatan dan kelemahannya terlebih dahulu. Lantas parpol itu dengan sedikit agak mudah mengatur kemenangan. Melalui instrument membaca peluang, dan meminimalisir datangnya ancaman. Sederhananya, PDIP perlu merefleksikan lagi keberagaman yang dinamis di Manado dengan mengikat rapat kerukunan itu dalam politik representatif.

Demokrasi kita yang menampilkan citra politik simbolik, tidak boleh abaikan. Dalam gambar besar koalisi, jika Jimmy Rimba Rogi mengambil kader muslim sebagai calon Wakil Wali Kota Manado, maka PDIP jangan kalah langkah. Mekanisme demokrasi kita mengharuskan adanya sistem paket, bukan sistem pemilihan tunggal, makanya perlu ‘perkawinan’ politik yang kuat.

Menengok sejenak perjalanan politik PDIP di Manado, sudah beberapa kali mengalami kekalahan. Kelemahannya tentu selain pada ‘amunisi perang’ yaitu pada figur yang diusung. Calon Wali Kota dan calon Wakil Wali Kota tidak mengakomodasi kepentingan gerbong komunitas masyarakat tertentu. Pengalaman berharga itu, tentu membuat PDIP tidak mau lagi mengulangi kekalahan.

Warga Manado umumnya penasaran dan menunggu kejutan PDIP. Bagaimana pun itu, poros politik PDIP tak lain adalah pemenang di parlemen. Terbukti dengan Ketua DPRD Kota Manado dari PDIP, memiliki jumlah kursi terbanyak di DPRD Manado. Bila Olly Dondokambey terjebak bahaya laten politik dinasti, maka akan muncul antipati publik terhadapnya. Tentu itu mencaji ancaman terhadap posisinya, kerana Pilwako Manado juga bersamaan dengan Pilgub Sulut 2020.

Pada hitung-hitungan politik rasional, tentunya Olly tidak mau membuat blunder. Tak mau menggali kuburan sendiri untuk mengubur nasib politiknya. Kondisi seperti itu mengajak Olly selaku pimpinan PDIP Sulut agar selektif menjaring pasangan calon kepala daerah. Bukan sekedar mengandalkan financial sebagai amunisi politik, melainkan figuritas, program dan tokoh yang diusung. Komponen itu menjadi penentu kemenangan. Konstalasi politik di Pilwako begitu kompleks, sebelumnya telah mematahkan bahwa uang bukanlah satu-satunya faktor determinan kemenangan politik. Melainkan ada variabel lain. Ada akumulasi nilai yang berkonsekuensi.

Jangan bergembira berlebihan dengan kemenangan, karena bisa menyeret PDIP pada kekalahan. Mengutip pemikiran Sun Tzu yang mengatakan seni tertinggai perang adalah bagaimana menaklukkan musuh tanpa pertempuran. Jenderal dari Tiongkok, ahli strategi milter dan juga filosof itu berpesan bahwa jika mau menang aktor politik atau gerilyawan harus mengenali dirinya. Tau siapa musuhnya, disitulah kunci kemenangan. Selain takdir yang ditentukan Tuhan.

Bahkan Sun Tzu menyarankan harusnya para petarung itu tampak lemah ketika anda kuat dan kuat ketika anda lemah. Posisi politik PDIP untuk Kota Manado berada diatas saat ini, karena bisa mengusung calon sendiri, tanpa berkoalisi pun. Apakah PDIP Manado punya obsesi ‘mengunci’ lawan dengan memborong semua rekomendasi parpol seperti yang dilakukan James Sumendap Ketua DPC PDIP Minahasa Tenggara beberapa waktu lalu?.

Semua tergantung strategi. Dalam perespektif politik itu sah-sah saja, tapi mengganggu nafas dan pertumbuhan demokrasi. Karena akan melanggengkan kesewenang-wenangan dan sentralistik. Kebebasan disatu sisi akhirnya tersandera. Demokrasi kita dibajak kelompok elit berduit, kelompok yang mengendalikan kekuasaan, dan realitas tersebut kebanyakan tidak disukai masyarakat. Hindarilah praktek ‘memborong’ rekomendasi dukungan seperti itu.

Akan menjadi paradoks ditengah masyarakat. Hal itu tidak menyuburkan budaya demokrasi kita. Pilwako yang sepatutnya membangkitkan kebersamaan, memamerkan kegembiraan, malah tereduksi dengan arogansi sektoral. Alur itu akan membuat partai politik dijauhi masyarakat. Tumbuhkan edukasi dan literasi politik seharusnya, banyak merangkul, bukan memukul. Watak berpolitik anti kritik dihindari.

Apapun argumennya, kita tidak lagi menerapkan politik pintu terbuka. Seperti politik yang diterapkan kaum kolonial liberal di Indonesia. Karena Indonesia saat ini pemerintahannya mengurusi soal pemerintahan yang mencakup universal. Termasuk penataan logistik atau urusan ekonomi. Sehingga semua partai habis-habisan bertarung di Pilkada tentunya. PDIP harus keluar dari tumpuannya yang biasa, ia harus menjadi lebih luar biasa dan hebat.

Langkah menuju itu adalah dengan mengambil Wakil Wali Kota yang punya basis massa jelas. Dapat mewakili etnis, agama, kekuatan politik dan kelompok masyarakat tertentu. Ketika itu yang dilakukan, maka PDIP Manado akan mudah meraih kemenangan di Pilwako Manado 2020. Karena posisi Olly dengan beban politik yang tidak sedikit juga sedikit riskan bila tak serius mengatur strategi.

Terbangunnya citra bahwa Olly yang juga Gubernur Sulut ini begitu melekat dengan label penganut politik dinasti. Stigma ini juga dapat menjadi penanda yang bisa melemahkan Olly. Eksistensi keluarga Dondokambey secara nyata mulai tersebar diposisi-posisi inti pemerintahan. Ada Dondokambey yang menjadi aanggota DPR RI, Wakil Bupati, ada Ketua DPRD, dan posisi lain yang belum terlacak. Secara konstitusional tidak masalah sebetulnya. Hanya saja sering dikait-kaitkan dengan etika politik.

Lalu isu yang kurang merugikan lainnya ialah PDIP dianggap sebagai partai politik yang anti Islam. Kemudian dianggap mengutamakan politik pragmatis. Intervensi kekuasaan dan politik transaksional menjadi sampah yang merusak tatanan praktek politik kita akhirnya. Masih ada waktu merubahnya. Jangan giring masyarakat pada cara berpolitik yang pragmatis. Itu sangatlah destruktif terhadap demokrasi.

Upaya membuat framing Imba-Altje Dondokambey untuk paslon Pilwako Manado 2020 sebetulnya patut dicurigai. Skeptisisme berpolitik kadang diperlukan. Karena tidak semua pujian menguatkan, dan tidak semua hinaan atau kritik dilandasi kebencian. Jika benar paket Imba-Altje dipatenkan, maka potensi kekalahan PDIP di Manado akan terulang. Harusnya Olly jeli membaca ini, menata ulang situasi dan ritme politik. Jangan sampai Olly terjaring skenario penjebakan nantinya. [**]

 

——————————————

Penulis : Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Manado

iklan1