Tag: pandemi

KRISIS PEDAGOGI

Ilustrasi belajar work from home yang tidak beres (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Pandemi itu suatu produk kebudayaan destruktif. Ia tak butuh mewadahi suatu rentangan bio-evolusi. Karna itu, pandemi bagi dunia pendidikan (pedagogi) bukan lagi tuntutan bagi ‘masyarakat bebas sekolah’ atau ‘pendidikan bagi kaum tertindas.’ Lebih dari itu, kewajiban dunia pedagogi sekarang ini merupakan iklim dari proses — meminjam ungkapan sejawaran sains Yuval Noah Harari — “di dunia yang dipenuhi informasi yang kemaruk (irrelevan), kejelasan (clarity) adalah kekuatan (power). Dengan kata lain, pedagogi bisa terhindar dari kritik para pedagog sebagai ‘akhir dari pedagogi’ (the end of pedagogy) Reimert.

Apa yang menjadi krisis pedagogi di tengah badai pandemi, selain krisis leadership, kita dihadapkan pada ketimpangan atas teknologi pendidikan yang dibarengi oleh merosotnya kemampuan inovasi dan kreatifitas nyaris seluruh subyek didik. Kebudayaan konstruktif yang dihadirkan oleh dunia pedagogi mendadak tersungkur atas ulah alam pedagogi itu sendiri.

Teknologi pendidikan yang diwakafkan oleh sains lebih dari seperempat abad, tiba-tiba dibenturkan begitu saja oleh ketidakmampuan kita menghadapi krisis alamiah dari suatu proses perubahan yang jauh dari prediksi. Tak heran, krisis-krisis lain ikut serta secara berenteran memenuhi jagat peradaban mutakhir saat ini. Krisis inipun menunjukkan kelemahan konstruk mentalitas bangsa yang selama ini kuyub dan gagap bersembunyi di balik aturan dan undangan-undang institusional.

Walhasil, parodi dan plesetan SD Online hingga Webkul (kulian web/zoom) tumbuh menjadi keniscayaan fasilitas yang menyesatkan mentalitas komunikasi pedagogi. Sejatinya, krisis total pedagogi itu tumbuh beriringan secara kontraproduktif antara kegamangan psiko-mentalitas kita dan inkapabilitas fasilitas teknologi pedagogi kita. Layak krisis teknologi pada umumnya, pedagogi pun diambang sakratul maut akibat covid-19 yang absurd dan brutal.

IDEOLOGI DAN PANDEMI

Reiner Emyot Ointoe (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Pada tahun 1960, Daniel Bell (1919-2011), sosiolog dari Universitas Cambridge menghebohkan dunia akademi dan politik dengan terbit bukunya: Akhir Ideologi (The End of Ideologi: On The Exhaustion of Political Ideas in The Fifties). Tentu saja, prediksi akademis-filosofis ini menghentak karna dengan pendekatan sains politik meramalkan kejatuhan ideologi komunisme yang sudah hampir lebih dari 100 tahun mendemami negara-negara penganut, terutama Rusia (Eropa) dan Cina (Asia).

Bahkan terbukti, pada 1990 prediksi Bell ikut meruntuhkan komunisme di seluruh Eropa Timur seperti yang ditulis oleh Zbigniew Brzezinski, penasehat Presiden Jimmy Carter dalam “The Grand Failure.” Akhir sebuah ideologi tentu bukan malapetaka bagi peradaban umat manusia sebagaimana dibuktikan oleh sejarah bencana pandemi. Lantas, apa hubungan antara ideologi dan pandemi untuk melakukan apa yang ditawarkan oleh filsuf Friedrich Nietzsche dalam mempercepat jatuhnya perubahan sebagai “transvaluasi nilai” (umwertung aller wertung).

Dalam tatanan perubahan segala nilai, ideologi dan pandemi sama-sama memiliki elan vitalitas untuk mengoreksi nilai-nilai apa yang tidak relevan dalam menapaki jalannya perubahan sebagai keniscayaan sejarah. Dalam artikata, ideologi dan pandemi sama-sama menghasilkan pergerakan. Tak jadi soal, apakah arah pergerakan itu brutal atau formatif. Semua ideologi dalam tinjauan filsafat kritik memiliki potensi lapuk dan rapuh selain tentu bisa reflektif dan konstruktif.

Sebagaimana prediksi Bell, akhir dari komunisme tak sepenuhnya benar karna terbukti komunisme sebagai ideologi kelak punya cadangan ruh (spiritisisme) untuk bangkit kembali seperti diungkapkan Slavoj Zizek “diberkahi” dengan adanya pandemi covid19(baca: Pandemic: The World Shakes Covid 19, 2020). Terlepas sejauh apa kebangkitan ideologi komunisme itu berlangsung untuk menafikan prediksi “akhir” (the end) dari Bell, keadaan aktual kita hari ini sangat relevan untuk mentransvaluasi Pancasila di tengah pandemi covid19.

Karena itu, pamali terhadap ideologi adalah kenaifan yang bisa merancukan ulang tradisi dan sejarah kenegaraan dan kebangsaan kita yang sudah dirapalkan oleh ideologisasi Pancasila itu sendiri. Sejak Pancasila ditetapkan sebagai ideologi bangsa dan negara, refleksi kritis dan koreksi terus saja berlangsung. Apakah karna setiap ideologi mengandung kefanaan nilai dan utopis, Pancasila pun tak luput dari transvaluasi itu, terutama menyangkut butir-butir ide fundamen: Ketuhanan, Keadilan dan Kesejahteraan. Bukankah pandemi covid19 itu sendiri merangsek ketiga tatanan ide itu? Dirgahayu Pancasila.

iklan1