Tag: pasiak

PKS Manado Gelar FGD, Konkritkan Poros Koalisi Umat untuk Pilwako Manado

Foto bersama usai FGD (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Kristalisasi gagasan terkait penyatuan parpol berbasis konstituen dan ideologi Islam di Kota Manado intens dilakukan. Berawal dari pemikiran konsolidasi keumatan melalui pembentukan Sekretariat Bersama (Sekber) yang terdiri atas DPD PAN Manado, PKS dan DPC PPP Kota Manado, Minggu (1/12/2019) dikonkritkan. Melalui Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Manado, para tokoh umat diundang, bersama bakal calon Wali Kota dan bakal calon Wakil Wali Kota Manado 2020.

Beberapa forumulasi dilahirkan. Kemudian, sejumlah tokoh yang menyambut baik rencana yang dilakukan tiga partai politik tersebut. Selaku Ketua PKS, Hasan Syafi’i, menyampaikan harapannya terkait pembentukan koalisi keumatan. Menurutnya yang juga diaminkan Ketua PAN Manado, Boby Daud dan juga Ketua Partai Persatuan Pembangunan Manado, Madzhabullah Ali konsolidasi kekuatan umat Islam di Manado menjadi keharusan.

”Kekuatan pemilih kita sangat besar. Tapi sering tidak solid dalam tiap momentum politik, kali ini kita harus kompak. Mari wujudkan koalisi keumatan. Kami menggagas Sekber dengan harapan didukung penuh rekan-rekan pimpinan Ormas muslim, kalau kita perkuat potensi yang ada pasti mampu memenangkan calon pemimpin dari umat muslim Manado,” ujar Syafi’i, sambil menambahkan pihaknya pun merancang strategi dan mengkanal kepentingan umat secara universal.

Ketua PKS Manado, Hasan Syafi’i (FOTO Suluttoday.com)

Sejumlah tokoh umat yang menjadi narasumber dan juga bakal calon Wali Kota bersama bakal calon Wawali Manado yang hadir adalah Dr Taufiq Pasiak, Ulyas Taha, Abid Takalamingan, Faisal Salim dan juga pembanding dalam FGD tersebut adalah Baso Affandi.

”Garis besarnya kita semua akan saling legowo. Jika takdir maka diantara kita-kita ini akan ada yang menjadi pemimpin. Saya mendorong gerakan kebersamaan dibangun, terus lahirkan kolaborasi. Siapapun yang akan didorong menjadi calon Wali Kota dan calon Wakil Wali Kota Manado 2020 kita harus saling ikhlas, mendukung untuk kemajuan bersama,” kata Taufiq Pasiak sebagai salah satu narasumber.

Suasana FGD di hotel Sahid Kawanua Manado (FOTO Suluttoday.com)

Hadir pula Syarifudin Saafa, Ketua DPW PKS Sulawesi Utara, juga anggota DPRD Manado. Ada pula anggota DPRD Manado dokter Suyantor Yusuf. Para tokoh muda pimpinan Ormas Islam Sulawesi Utara dan jurnalis pun ikut hadir. Kegiatan FGD ini dimoderatori Sekretaris DPD KNPI Manado, Bung Amas Mahmud. Untuk diketahui, FGD bertempat di Hotel Kawanua, pusat Kota 45 Manado. (*/Redaksi)

AGAMA DAN BUNUH DIRI

DR dr Taufiq Pasiak bersama Prof Quraish Shihab pada saat menjadi narasumber pada suatau acara (Foto Ist)

Oleh Taufiq Pasiak

(Dosen Unsrat Manado dan Penulis Buku)

Apakah agama berperanan dalam mencegah bunuh diri? Sejumlah riset yang direview dari banyak lokasi di seluruh dunia menemukan fakta bahwa agama berkontribusi dalam batas batas tertentu.

Sebagai informasi: Bunuh diri (suicide) memiliki 3 bentuk: 1) pikiran bunuh diri (ideation), 2) usage bunuh diri alias coba-coba (attempt) dan 3) melakukan bunuh diri (completion).

Sebagai informasi: Dimensi dimensi agama meliputi 1) pemahaman dan keyakinan kita akan ajaran agama (dimensi doktrin), 2) ritual atau kegiatan yang kita lakukan untuk mengoperasionalkan keyakinan itu (dimensi ritual atau partisipasi), dan 3) keterlibatan atau keikutsertaan kita dalam kegiatan kegiatan keagamaan (dimensi afiliasi).

Sejumlah riset menemukan bahwa afilisasi agama tidak selalu melindungi seseorang dari PIKIRAN (ideation) bunuh diri, tetapi melindungi dari USAHA/PERCOBAAN (attempt) bunuh diri. Keterlibatan (afilisasi) keagamaan ini pun bergantung pada budaya dan agama tertentu. Aspek budaya dimana sesearan tinggal dan agama apa yang dianut sangat memengaruhi percobaan bunuh diri.

Usaha konsultasi keagamaan tidak melindungi seseorang dari PIKIRAN bunuh diri, tetapi melindungi PERCOBAAN dan BUNUH DIRI. (***)

Makanya, aktiflah dalam kegiatan keagamaan. Lebur bersama jamaah/jemaat. lakukan kegiatan bersama.

Jangan cuma khotbah/ceramah di facebook. wkwkwkkwkwk

Jang tarukira kasiang.

Pagibae jo samua.

MajuBu.

_______

Catatan: Tulisan singkat ini disadur dari akun Facebook milik Taufiq Pasiak.

Peristiwa Pembakaran Manusia di Bekasi, Pasiak: Wujud Ketidakmampuan Masyarakat

DR. Dr. H. Taufiq Pasiak, M.Pd.I.,M.Kes (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Perkembangan kehidupan ini tidak pernah liput dari konflik, insiden dan berbagai tindakan membahayakan yang merugikan antara sesama manusia. Seperti belum lama ini peristiwa pembakaran manusia yang terjadi di Bekasi, Provinsi Jawa Barat (Jabar) karena diduga mencuri amplifier Masjid, hal ini pun menjadi perhatian publik, salah satunya DR. Dr. H. Taufiq Pasiak, M.Pd.I.,M.Kes akademisi dan penulis buku asal Sulawesi Utara (Sulut) angkat bicara.

Senin (7/8/2017), menurut Pasiak, tindakan ‘menghakimi’ yang dilakukan masyarakat tersebut sangat tidak terpuji dan melanggar aturan di Negara Indonesia tercinta. Dikatakan Pasiak yang biasa menjadi narasumber di forum-forum nasional itu bahwa praktek ‘kanibal’ yang mengedepankan kekerasan dipertunjukkan kelompok masyarakat adalah nyata-nyata melawan hukum dan ini merupakan penyakit ditengah masyarakat.

”Tanggapan saya terkait kasus pembakaran manusia di Bekasi : 1) Mengecam dan mengutuk tindakan ini dan meminta aparat agar mengusut dengan cepat dan tepat. Ini suatu preseden buruk. 2) kegiatan main hakim sendiri adalah tanda buruk dalam suatu kondisi sosial. Menunjukkan brutalitas dan ketidakmampuan masyarakat mengendalikan diri. 3) Ada hubungan antara brutalitas ini dengan pelbagai perangkat hukum di sekitar kita, 4) patologi masyarakat ini harus cepat diantisipasi oleh pelbagai pihak. Pemerintah, akademisi dan komponen masyarakat yang berwenang,” ujar Pasiak, Dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado yang juga salah Ketua Majelis Pertimbangan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dan Tokoh Muslim Sulawesi Utara ini tegas. (Amas)

Presidium KAHMI Manado Kecam Aksi Pemboman Gereja

Yahya Pasiak (Foto Ist)

Yahya Pasiak (Foto Ist)

MANADO – Peristiwa yang mengancam kerukunan dan kenyamanan di tengah masyarakat, mengundang perhatian serius pemerintah di Republik Indonesia (RI). Seperti yang diberitakan media massa, Presiden Joko Widodo juga langsung angkat bicara menyangkut pemboman rumah ibadah, tak seperti Jokowi sapaan akrab Presiden RI merespon polemik Ahok yang diduga menistakan agama Islam.

Tepatnya, Minggu (13/11/2016) dimana terjadi pelemparan bom molotov di depan Gereja Oikumene di Jalan Dr Ciptomangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan, Samarinda, Kalimantan Timur mendapat tanggapan sekaligus kecamatan Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kota Manado.

Menurut Ketua Presidium KAHMI Manado, Yahya Pasiak insiden pemboman di halaman Gereja Oikumene di Semarang itu wajib dituntaskan pemerintah melalui lembaga penegak hukum. Bahkan, Pasiak meminta agar pelaku pemboman dihukum seberat-beratnya sesuai aturan yang berlaku.

”KAHMI Manado mendorong agar diproses hukum secara tuntas terkait kasus pemboman Gereja Oikumene di Samarinda ini. Tidak hanya itu, kami juga mengecam praktek-praktek yang merusak kerukunan dan nilai-nilai kemanusiaan seperti yang terjadi di Samarinda tersebut. Pihak kepolisian kita mendukung untuk diusut secara cepat kasus yang telah memakan korban ini, agar tidak lagi membias ke publik lainnya yang berdampak lebih luas, dan berakibat mengancam keutuhan NKRI,” ujar Pasiak, Senin (14/11/2016). (Amas)

Taufik Pasiak dan Pitres Sombowadile ‘Telanjangi’ Apa Itu Radikalisme

Taufik Pasiak dan Pitres Sombowadile, selaku narasumber (Foto Suluttoday.com)

Taufik Pasiak dan Pitres Sombowadile, selaku narasumber (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Membahas tema ‘Menangkal Radikalisme dan Mencegah Isu SARA pada Setiap Kejadian Perkelahian Antar Pemuda di Sulawesi Utara’, Dr dr Taufik Pasiak dan Pitres Sombowadile mengungkap tentang perlunya masyarakat melawan radikalisme. Bagi Taufik radikalisme agama merupakan hal yang riskan dan hal tersebut berpanguruh karena adanya pemahaman sempit umat beragama terhadap agama yang dianutnya.

”Radikalisme agama terjadi karena penganutnya memahami agama dengan tafsiran simbolik dan parsial saja. Harusnya agama menjadi pendamai, agama itu menyadarkan ummatnya, bukan menyuruh ummatnya berbuat jahat. Kalau mau mewujudkan perdamain, mari kita ubah dialog menjadi tindakan konkrit melalui kerja sama. Radikalisme itu hadir karena salah tafsir terhadap agama,” ujar Pasiak, Rabu (6/4/2016).

Sementara itu, Pitres Sombowadile yang tampil sebagai narasumber dengan kapasitas selaku budayawan menegaskan bahwa nilai-nilai agama secara utuh itu baik. Kekeliruan orang beragama dengan berbuat ‘brutal’, menurutnya merupakan sebuah potret yang perlu ditinggalkan, sehingga dengan demikian peran budaya dan kearifan perlu dimunculkan. Masyarakat atau penganut agama harus mengetahui sejarah budayanya masing-masing agar tidak terjadi friksi sosial.

”Permasalahan munculnya tindakan radikalisme yang melahirkan isu SARA ini bukan suatu potret budaya yang dipertahankan. Memang secara global, sejarah bangsa ini terlahir dari konflik dan kekacauan ketimbang perdamaian, namun perlunya kita penganut agama masing-masing mampu mengaktualisasikan nilai-nilai agama dengan budaya yang manusiawi. Pluralisme agama harus mampu disatukan dalam tindakan, untuk itu melawan radikalisme yaitu harus dengan komitmen kemanusiaan dan perdamaian, meningkatkan toleransi umat beragama. Nah menurut saya Radikalisme ini lahir bukan tanpa kepentingan tertentu, sehingga perlu memang dibendung secara bersama,” ucap Sombowadile.

Dialog Publik yang dilaksanakan Jurnalis Online Manado (JAROD), dan Forum Peduli Nusantara (FPN) Sulawesi Utara ini dilaksanakan Rabu (6/4/2016) bertempat di Hotel Aston Manado. Yang dihadiri sejumlah aktivis mahasiswa, para pekerja pers, serta para aktivis gereja dan aktivis masjid. Dialog ini juga menghadirkan Vecky Karto, pengurus Pemuda Sinode GMIM, selaku Narasumber. Untuk diketahui, saat berita ini dimuat Dialog sementara berlangsung. (Amas)

iklan1