Tag: pdi perjuangan

DPC PDI Perjuangan Manado Serahkan KTA Kepada Kalangan Profesional

Ketua Richard Sualang saat memberikan arahan (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Ekspansi upaya perekrutan kader terus lakukan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Kota Manado. Dibawah kepemimpinan Richard Sualang, sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Manado, parpol berlambang moncong putih ini terus ”menanduk”, mengalami progres luas biasa.

Sebagaimana awalnya di DPRD Kota Manado, hanya mendapatkan posisi sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Manado, kini mampu meraih prestasi, merebut posisi Ketua DPRD Manado dan berhasil menggeser Partai Demokrat. Tergambar dalam komposisi dan jumlah anggota DPRD Kota Manado, dari total 40 anggota DPRD, PDI Perjuangan mampu meraih 10 kursi.

Proses penyerahan KTA PDI Perjuangan (Foto Ist)

Prestasi politik tersebut tak membuat Sualang berpuas diri. Senin (20/1/2020), mantan Wakil Ketua DPRD Kota Manado itu malah fokus melakukan pergerakan keluar. Pihaknya menggelar komunikasi politik, merekrut kader nasionalis agar bersama-sama masuk menjadi kader PDI Perjuangan. Langkah itu terbukti dengan dibagikannya Kartau Tanda Anggota (KTA) PDI Perjuangan kepada beberapa pihak.

”Puji Tuhan dengan lancar kita melakukan penyerahan KTA PDI Perjuangan kepada kawan-kawan dari kalangan profesional chef/juru masak, barista dan lain-lain. Selamat Berjuang bersama di Rumah Besar Kaum Nasionalis. Merdeka,” kata anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara ini di Akun Facebooknya. (*/Am)

Di Rumkop K8 Sario, Balon Wawali Manado Suarakan Pentingnya Sinergitas

Abid Takalamingan saat memaparkan visi membangun Manado (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Politisi senior Sulawesi Utara (Sulut), Abid Takalamingan, S.Sos.,MH, Senin (13/1/2020) menggelar NGEBID (Ngobrol Bareng Abid), di Rumah Kopi (Rumkop) K8 Sario Kota Manado. Abid yang digadang maju dalam Pilwako Manado 2020 ini menyampaikan beberapa pemikirannya tentang pembangunan Kota Manado. Menurut Abid kompleksitas masalah di Manado memerlukan pemimpin yang berwawasan luas, punya pengalaman dan memiliki niat baik membangun Kota Manado.

“Dalam mematerilkan pembangunan, maka diperlukan sosok pemimpin yang mapan dan matang. Konteks Manado hari ini memang tak luput dari ragam masalah, itu sebabnya kedepan harus ada pemimpin Kota yakni Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado yang mampu melakukan terobosan. Saya menilai Manado sebagai Kota Jasa, perlu melakukan akselerasi pembangunan. Pemimpinnya harus seiring-sejalan, tentang pemberdayaan dan partisipasi publik wajib ditingkatkan,” kata Abid yang mendaftar sebagai bakal calon (Balon) Wakil Wali Kota Manado dari PDI Perjuangan ini.

Selain itu, Abid yang juga aktivis muda Sulut itu mengurai soal esensi pembangunan daerah yang harus berimbang. Mantan anggota DPRD Sulut ini juga menyentil terkait konsistensi pemimpin dalam pembangunan. Selain itu, guna menakar proses pembangunan yang universal, maka pemimpin itu harus berbiasa dari menjalankan komitmen-komitmen kecil.

Suasana berlangsungnya NGEBID (Foto Suluttoday.com)

“Perlu sinergis dalam pembangunan di Manado dan Sulut. Bahwa Manado adalah bagian dari Sulawesi Utara relas pembangunannya mesti sejalan dan harmoni dalam deru kemajuan. Tentu lebih optimal pembangunan di Kota Manado bila pemimpinnya betul-betul selaras dengan program pemerintah Provinsi Sulut. Sebab pembangunan itu bersifat terintegrasi, jangan sampai kelihatan abnormal sinergitas yang dilakukan. Kan semua perubahan memerlukan komitmen pemimpin, disinilah kuncinya,” ujar Abid mantan Ketua DPW PKS Sulut pertama ini tegas.

Balon Wawali Manado, Abid saat menyapa masyarakat Manado (Foto Suluttoday.com)

Untuk diketahui, NGEBID kali ini dihadiri Staf Khusus Gubernur Sulut, Olden Kansil, mantan Panglima Brigade Masjid Sulut, Mursjid Laidja, Ketua PRD Sulut Jim R Tindi, dan Fiksiwan Sulut, Reiner Ointoe, pengurus SI Manado, Bung Bua. Hadir pula pimpinan Ormas, jurnalis, aktivis perempuan dan tokoh masyarakat lainnya. (*/Redaksi)

Mursjid Laidja saat memberikan pandangan (Foto Suluttoday.com)

SEHAN dan JAMES, Dua Kepala Daerah Fenomenal di Sulawesi Utara

Sehan Landjar dan James Sumendap (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Tiap generasi punya karakter sendiri. Termasuk dalam hal model kepemimpinan yang berbeda-beda. Di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang Gubernurnya dipimpin Olly Dondokambey, SE dikenal memiliki style yang tenang. Kali ini di penghujung tahun 2019, tepatnya Selasa (31/12/2019) redaksi Suluttoday.com tertarik untuk memotret sepenggal kisah dua sosok Kepala Daerah fenomenal di Sulut. Mereka adalah Sehan Landjar, SH dan James Sumendap, SH.

Sehan adalah Bupati Bolaang Mangondouw Timur (Boltim) dan James sebagai Bupati Minahasa Tenggara (Mitra). Rekam jejak mereka sebagai politisi memang tak perlu diragukan lagi, memakan asam garam, suka duka dan gempuran gelombang yang dilewati. Sejumlah orang dekat mereka menginformasikan bahwa dua Bupati fenomenal di Sulut ini punya kesamaan yakni memiliki sikap ceplas-ceplos. Keduanya sering menggunakan satire politik, dan kritik yang pedas demi memperjuangkan nasib masyarakat.

Tidak menghamba pada kedudukan. Tidak mau menjadi pemimpin yang mengkultuskan diri sendiri, mereka meyakini pemimpin itulah pelayan. Sedikit dari banyaknya Kepala Daerah di Sulut, tidak dengan maksud mendiskreditkan yang lain, yang punya cara pandang politik seperti mereka berdua. Sehan misalnya, dikenal sehabis mengabdi di Boltim, sering meluangkan datang ke kawasan Jalan Roda Manado.

Bersilaturahmi dengan masyarakat akar rumput, di kawasan yang dikenal DPRD Tingkat 3 ini Eyang sapaan akrab Sehan sering bermain catur. Tampil secara sederhana tidak seperti pajabat publik umumnya. Eyang terlibat percakapan dan canda tawa tanpa sekat dengan masyarakat lapis bawah, makan pisang goreng bersama dan minum kopi setengah ala Jalan Roda Manado. Hampir luput dari pantauan, kalau ternyata sosok Kepala Daerah yang satu ini begitu populis. Bicara apa adanya, tak mau berbasa-basi.

Keberanian keluar dari tardisi ”gila hormat” ternyata juga dimiliki Bung James. Bupati Mitra dua periode yang dijuluki sang Gladiator ini juga tidak mau terkungkung dengan kemewahan kekuasaan. Politisi yang juga singa podium ini bicara blak-blakan soal konsepsi kerakyatan dan itu semua diwujudkannya melalui program pro rakyat. Berupa program membuka akses jalan di Mitra menjadi lebih baik, menggelontorkan anggara yang cukup fantastis untuk bantuan duka. Memberi penghargaan yang besar kepada para birokrat struktural di Mitra.

Seperti data yang dihimpun, untuk tahun 2017 dana sekitar Rp 7,6 miliar dialokasikan untuk dana duka. Dan tahun 2018 besarannya ditambah, menjadi Rp 9 miliar. Sehingga per orang yang meninggal dunia di Mitra mendapatkan 7.000.000 (tujuh juta rupiah), perhatian yang serius berpihak pada masyarakat ditunjukkan James. Dalam kontes dana duka di Sulut, Kabupaten Mitra paling teratas nomilanya.

Untuk urusan program pemerintah yang berpihak pada masyarakat sendiri juga tengah dijalankan Bupati Sehan. Bupati Boltim dua periode ini malah memecahkan mitos khususnya di Sulut. Pasalnya Bupati yang dikenal vokal ini mendesain program rumah gratis yang telah dijalankannya. Sekitar 3.000 (tiga ribu) rumah di siapkan pemerintah daerah Boltim dibawah kepemimpinan Sehan Landjar. Politisi yang murah senyum ini menyebutkan bahwa pemimpin harus menyenangkan masyarakat.

Apa rahasianya, sehingga kedua Kepala Daerah ini terlihat ”berbahaya” dalam praktek dan konsep mereka?. Ternyata apa yang dilakukan bukan tanpa alasan. Sehan Salim Lanjdar nama lengkap politisi PAN ini saat ditemui media menyebutkan, hakikat kepemimpinan yaitu kesederhanaan. Menjadi pemimpin itu abdi bagi masyarakat. Tak boleh mensakralkan jabatan, Sehat menilai kepemimpinan juga sebagai sebuah seni.

‘’Bagi saya pemimpin itu abdi masyarakat. Tentu kita bekerja untuk kemaslahatan masyarakat, kita bukan bos, kita pelayan. Artinya apa?, ya harus mengikuti kemauan masyarakat. Seperti contoh, kita memenuhi kebutuhan masyarakat. Di Boltim saya telah menyediakan rumah gratis bagis masyarakat. Lahan disediakan Pemda, bagi masyarakat yang membutuhkan juga saya perintahkan jajaran untuk serahkan fasilitas itu kepada publik yang membutuhkan,’’ kata Sehan, Selasa (31/12/2019).

Substansinya pemimpin bagi Sehat yaitu bertanggung jawab kepada masyarakat yang dipimpinnya. Pempin harus mampu memisahkan perannya disaat berada di kantor dan di luar kantor, sehingga ia tidak terjebak dengan penghormatan-penghormatan yang bersifat tidak substansi. Sehat menyederhanakan kepemimpinan dalam sebuah bentuk ketundukan.

‘’Kan sederhana saja menjadi pemimpin ini, yakni bagaimana kita berikrar siap jiwa raga dipertaruhkan melayani publik. Sudah berkomitmen, maka konsekuensinya kita menjalankan itu. Dengan penuh kesadaran tinggi dan kecintaan, pemimpin harus bertanggung jawab terhadap masyarakatnya. Jangan jadi pemimpin yang pengecut, atau pikun dengan ikrarnya. Pemimpin bagi saya adalah ketundukan, bukan menonjolkan otoritas kekuasaan,’’ ujar Sehan.

James Sumendap dan Sehan Landjar (Foto Ist)

Di tempat terpisah, Bung James dalam beberapa kesempatan menyampaikan politik sebagai sarana pengabdian. Menurutnya nilai tertinggi kemanusiaan ialah bermanfaat bagi kepentingan banyak orang, hal itu ditunjukkan sejak menjadi mahasiswa. Sering melakukan demonstrasi membela masyarakat, sampai menjadi anggota DPRD Provinsi Sulut pun Bung James tak gentar melawan kebijakan yang pro kapitalis.

‘’Bagi saya politik punya takdirnya sendiri. Kita berpolitik ini berarti kita memilih jalan pengabdian. Politik bukanlah sarana untuk menjadi kaya raya, gagah-gagahan atau agar membuat kita dipandang terhormat. Tapi lebih dari itu yaitu kontribusi nyata kita bekerja kepada masyarakat. Kalau menjadi politisi dan tidak mau berkorban dan bersuara demi masyarakat, maka silahkan pensiun dini saja dari gelanggang politik,’’ tutur Sumendap dan membahkan bahwa pemimpin harus bersandar pada ajaran cinta kasih.

Bupati James juga menyebutkan pemimpin tidak perlu memamerkan kesombongan. Kegilaan terhadap jabatan yang membuat seorang pemimpin mabuk atas pujian, bagi James merupakan salah kapra pemimpin tersebut terhadap amanah yang diberikan Tuhan kepadanya. Politisi yang dikenal gesit ini menyebut kedaulatan rakyat yang diberikan kepada Kepala Daerah perlu diuji dan dibuktikan dengan kerja nyata.

Suluttoday.com juga menelusuri jejak dan kiprah kedua politisi ini memang diawali dari bawah. Sehan sendiri selain Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sulawesi Utara, juga menjadi Koordinator Forum Komunikasi Nasional Percepatan Pembentukan Calon Daerah Otonom Baru (Fornas CDOB). Tak kalah juga, sosok James dikenal sebagai mantan aktivis jalanan yang dibesarkan dari organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manado.

Kini selain menjabat Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Mitra, juga dipercayakan sebagai Ketua Persatuan Alumni GMNI Sulut. Hal fenomenal lain dari dua pemimpin jebolan fakultas Hukum ini adalah keberaniannya mengungkap dan melawan secara terbuka atas arogansi atau cara-cara diskriminasi yang dipertontonkan. Antara Sehan dan James, pluralisme, kesantunan, nasionalisme relegius, serta kejujuran tergambar. James dan Sehan adalah singa podium, orator yang ulung di daerah Nyiur Melambai ini.

Atas nama masyarakat mereka siap berjuang mati-matian. Melalui track record mereka telah menjawab itu. Bahwa sebagai politisi James dan Sehan memiliki karakter tersendiri, sulit untuk ditekan. Tapi, jika bicara tentang kemanusiaan dan keadilan kepada masyarakat, mereka berdua selalu berada di beranda terdepan. Tentu masih banyak hal menonjol yang perlu diapresiasi lainnya yang belum sempat diringkas, terpotret dalam catatan akhir tahun 2019 ini. Sekiranya, kiprah dan dedikasi yang diberikan kepada masyarakat dapat terwarisi bagi Kepala Daerah lainnya di Sulut. Paling tidak, dalam hal kecil tentang kesederhanaan.

Kedua tokoh politik yang menginspirasi pembaca ini tentu punya banyak cerita, karya dan sikap yang masih tercecer, belum sempat didokumentasi dalam catatan kali ini. Kedepan, Insya Allah di tahun 2020 masih ada ulasan yang lebih multi perspektif karena didukung data komprehensif. Redaksi Suluttoday.com memproyeksikan dari gelora spirit yang dilakukan dua Kepala Daerah ini akan menginspirasi generasi yang akan datang untuk tegak lurus pada prinsip-prinsip kepemimpinan yang substansial.

Dalam hal menyederhanakan kebijakan dan mentaktisi hal yang berbelit-belit, rumit, Sehan maupun James nyaris tak ada bedanya. Mereka sama-sama kokoh, berprinsip, tegak lurus dalam pelayanan publik. Berani memangkas pelayanan birokrasi yang menyusahkan masyarakat. Bahkan, demi masyarakat mereka rela membuat kebijakan yang kontroversial. Ada resistensi publik, semua itu mereka jawab dan hadapi secara terbuka sampai masyarakat memahami. Kemudian ikut mendukung program yang diluncurkan pemerintah daerah tersebut. (*/Amas)

Manuver SBY Bajak Emil, Biking Rival Politik Ketar-Ketir

Foto bersama Prabowo, SBY dan Hatta Rajasa (Foto Ist)

JAKARTA, Suluttoday.com – Melalui manuver politik, yaitu berupa pembajakan kader partai lain kembali dilakukan Ketua Umum Partai Demokrat, ini tak lain merupakan strategi pemenangan politik. Terbaru adalah Emil Dardak, Bupati Trenggalek kader PDI Perjuangan, yang dibajak oleh partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut untuk mendampingi Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim 2018.

Pengamat politik LIPI Siti Zuhro menilai pembajakan Emil oleh SBY ini membuktikan Partai Demokrat kekurangan kader untuk berlaga di PIlgub Jatim 2018.

“Tentu Demokrat krisis kader,” kata Siti saat dihubungi, Minggu (26/11/2017).

Menurut Siti, pembajakan Emil oleh SBY adalah bentuk pragmatisme politik dengan menambal sulam calon dalam pilkada.

Tambal sulam ini targetnya cuma menang,” kata Siti.

Seharusnya, kata Siti, partai konsisten menjalankan proses kaderisasi yang benar dengan mekanisme dan alur berjenjang yang telah ditetapkan.

“Kalau ini (pembajakan) konsistensinya untuk merebut kekuasaan,” kata Siti seperti dilansir dari Merdeka.com.

Soal pemecatan Emil oleh PDI Perjuangan, Siti menilai itu merupakan hal yang wajar. “Tentu (lompat-lompat partai) itu tidak etis dalam berpolitik. Tidak boleh dan tidak seharusnya,” ujarnya.

Seperti diketahui, Khofifah-Emil resmi diusung Partai Demokrat setelah keduanya bertemu dengan Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pasangan ini akan bertarung dengan pasangan calon yang diusung PDI Perjuangan dan PKB, Saifullah Yusuf dan Azwar Anas. (*/TimST)

PDI-P Tomohon Bantu Korban Banjir

Caroll Senduk ketika menyerahkan bantuan (Foto Suluttoday.com)

TOMOHON – Kepedulian dilakukan jajaran Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan (PDI-P) Kota Tomohon terhadap masyarakat terdampak banjir bandang di kawasan Tomohon Selatan dengan memberikan bantuan. Menurut Ketua DPC PDI-Perjuangan Kota Tomohon Caroll JA Senduk SH bahwa bantuan kemanusiaan ini menjadi wujud kepedulian terhadap mereka yang terkena musibah.

“Sebab, jiwa gotong royong dengan ikut membantu pada sesama yang membutuhkan, apalagi terkait dengan bencana telah menjadi komitmen bagi PDI-Perjuangan. Karena itu, pemberian bantuan bagi korban banjir ini kami lakukan sebagai wujud kepedulian,” ungkap Senduk.

Senada dengannya, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tomohon Harun Lullulangi mengatakan gerakan moral ini menyatakan komitmen kepedulian bagi masyarakat.

“Pemberian bantuan ini semata sebagai ungkapan rasa kemanusiaan dari segenap potensi PDI Perjuangan pada korban bencana banjir. Karena itu sudah menjadi bagian dari komitmen terhadap pemberian perhatian pada masyarakat yang membutuhkan,” kata Lullulangi. (Stevy)

iklan1