Tag: pdip

Mendaftar di PDIP, Abid Takalamingan Makin Bulat Bertarung di Pilwako Manado

Abid Takalamingan saat mendaftar di Sekretariat PDIP Sulut (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Menjadi hari yang bersejarah bagi sejumlah figur, Sabtu (7/12/2019) yang secara politik mendapatkan kesempatan diundang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Termasuk Abid Takalamingan, S.Sos.,MH politisi senior ini mengambil kesempatan untuk menjadi bakal calon Wakil Wali Kota Manado untuk tahun 2020.

Abid sendiri telah digadang-gadang warga Manado agar bertarung di Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado. Namanya muncul dibursa calon Wakil Wali Kota Manado, ramai mendapat dukungan dan cukup diperbincangkan. Popularitas Abid yang juga mantan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini memang tak perlu diragukan lagi.

Saat diwawancarai usai mendaftar di Sekretariat PDIP Sulut, Abid menyampaikan hasil bacaannya terhadap kekuatan PDIP di Sulut. Abid terlihat realistis memetakkan posisi PDIP, komitmen kader dalam berjuang dan sumber daya politik yang ada. Bagi Abid, dirinya mengambil keputusan bulat untuk mendaftarkan diri sebagai bakal calon Wakil Wali Kota Manado dengan tanpa paksaan atau bujukan dari siapapun.

Abid saat mendengarkan arahan dari Tim Penjaringan Pilkada PDIP Sulut (FOTO Ist)

‘’Saya melihat aura kemenangan PDIP Sulut dan PDIP Manado begitu kencang. Tergambar, dalam analisis saya berdasarkan keaktifan serta konsistensi kader-kader PDIP untuk menang, apalagi dipimpin Pak Olly Dondokambey, maka kekuatan politik mereka makin kuat. Dari berbagai pertimbangan, maka saya memutuskan fokus mencalonkan diri sebagai bakal calon dari PDIP untuk bertarung di Pilwako Manado 2020,’’ ujar Abid.

Sahabat karib Fahri Hamzah itu menilai kepemimpinan politik dari sosok Olly Dondokambey juga ikut mendrive PDIP sehingga lebih mudah meraih kemenangan dalam momentum Pilkada 2020. Abid menilai kemajemukan PDIP menjadi nilai tawar tersendiri dalam proses berdemokrasi, itu sebabnya ia tertarik untuk mengambil bagian di Pilwako Manado melalui PDIP.

Para bakal calon Wali Kota dan Wawali Manado saat mendaftar di PDIP (FOTO Ist)

‘’Saya melihat kekuatan PDIP selain partai besar dan pemenang Pemilu, juga karena mereka memiliki kader-kader partai yang loyal. Setelah banyak bergaul dengan kader-kader PDIP, pemikiran dan pemahaman saya pun justru jadi moderat secara politik. Secara sosial itu cocok di Kota Manado yang masyarakatnya majemuk. Pluralitas berpolitik PDIP juga sangat sejalan dengan kompleksitas kebutuhan masyarakat,’’ kata Abid menutup.

Sekedar diketahui, Abid sebelumnya pernah diundang Partai Golongan Karya (Golkar), tapi ia tidak menghadiri undangan tersebut. Kemudian, setelah PDIP yang mengundang baru dihadirinya. Keseriusan Abid untuk menunjukkan konsistensi terhadap PDIP ini memberikan gambaran keteladanan bahwa tokoh muslim Sulut yang satu ini cukup loyal secara politik terhadap PDIP. Tidak mau mendua seperti bakal calon Wakil Wali Kota Manado lainnya.(*/Redaksi)

Imba-Altje Jebakan Ataukah Penanda Kemenangan PDIP di Pilwako Manado?

Olly Dondokambey, Ketua DPD PDIP Sulut (FOTO Ist)

(Sebuah Analisis Jelang Pilwako Manado)

RAGAM prestasi politik diukir Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Olly Dondokambey. Dalam politik, prestasi sewaktu-waktu bisa berubah menjadi bencana. Artinya, tidak konstan praktek politik itu. Capaian positif, boleh beralih menjadi proses degradasi. Tidak mudah mempertahankan kekuasaan atau sesuatu yang diperoleh dalam politik. Meraih cita-cita kadang tidak sulit didapat. Namun mempertahankannya yang membutuhkan kerja ekstra.

Fakta tersebut sudah banyak kita temukan. Tumbangnya para politisi yang menjadi petahana dalam rebutan kursi kekuasaan politik. Seperti itu pula, lahirnya politisi instan. Yang ditakar dengan istilah politisi abal-abal. Mereka yang baru bergabung dalam kancah perpolitikan, politisi pemula dapat mengalahkan para politisi kawakan. Itulah realitas politik. Relatif berjarak antara imajinasi politik, ekspektasi dan aktualisasinya dilapangan.

Tentu banyak pihak berfikir optimis, sedikit merasa superior ketika membaca keberhasilan PDIP Sulawesi Utara saat ini. Tapi patut diingat, jangan menjadi euforia. Singkatnya, PDIP untuk Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado 2020 harus jernih dan inklusif membaca peta politik. Agar tidak kalah kesekian kalinya, maka teori perpaduan perlu diterapkan. Silahkan, simulasi pasangan calon Wali Kota dan calon Wakil Wali Kota dilakukan secara kompatibel.

Menjalankan fatsune politik. Mewujudkan politik kerukunan. Kemudian yang tak kalah pentingnya, PDIP yang diketahui juga punya stratak handal dan mengetahui peta jalan berpolitik, jangan kecolongan. Mengerti kultur masyarakat Manado, kecenderungan dan minat politik, PDIP harus bergerak cepat. Evaluasi kekalahan terdahulu. Ketika berani mengambil resiko, kemudian berfikir keras meramu potensi agar menang di Pilwako 2020. Indikatornya, tentu pada penentuan pasangan calon.

PDIP juga perlu melakukan shifting paradigm atau perubahan paradigma. Dari gaya berpolitik yang terkesan tertutup, oligarki, menuju ke capaian-capaian yang lebih menantang, terbuka dan demokratis. Sejatinya harus ada progres yang perlu diambil PDIP. Mengutamakan kader untuk meningkatkan grade partai itu penting. Amat perlu juga diperhatikan ialah bagaimana mengkombinasikan kekuatan. Faktor segmentasi pemilih yang bersifat suku, agama, ras dan antar golongan jangan diabaikan.

Isu politik identitas rasanya perlu dibaca tuntas PDIP. Sebab umumnya dalam kompetisi politik, pengaruh partai tidak terlalu dominan. Melainkan pengaruh figur, ketokohan atau personal dari politisi yang diusung. Jika isu sensitif dikelola dengan matang, melalui strategi kapitalisasi politik, maka bisa membahayakan kemenangan PDIP.

Ketika lengah, tak mampu membendung isu-isu yang menarik kepekaan dan simpati publik. konsekuensinya, partai politik atau kompetitor politik dengan mudah dikalahkan. Apalagi, efek Pilpres juga masih mewariskan kekuatan politik representatif. Pemilih Manado kalau dikategorisasi, Joko Widodo dan Prabowo Subianto akan mudah dilakukan mapping.

Varian isu dan pengelompokkan tokoh itu harus dideteksi. Maksudnya apa?, agar partai politik dapat membedah kekuatan dan kelemahannya terlebih dahulu. Lantas parpol itu dengan sedikit agak mudah mengatur kemenangan. Melalui instrument membaca peluang, dan meminimalisir datangnya ancaman. Sederhananya, PDIP perlu merefleksikan lagi keberagaman yang dinamis di Manado dengan mengikat rapat kerukunan itu dalam politik representatif.

Demokrasi kita yang menampilkan citra politik simbolik, tidak boleh abaikan. Dalam gambar besar koalisi, jika Jimmy Rimba Rogi mengambil kader muslim sebagai calon Wakil Wali Kota Manado, maka PDIP jangan kalah langkah. Mekanisme demokrasi kita mengharuskan adanya sistem paket, bukan sistem pemilihan tunggal, makanya perlu ‘perkawinan’ politik yang kuat.

Menengok sejenak perjalanan politik PDIP di Manado, sudah beberapa kali mengalami kekalahan. Kelemahannya tentu selain pada ‘amunisi perang’ yaitu pada figur yang diusung. Calon Wali Kota dan calon Wakil Wali Kota tidak mengakomodasi kepentingan gerbong komunitas masyarakat tertentu. Pengalaman berharga itu, tentu membuat PDIP tidak mau lagi mengulangi kekalahan.

Warga Manado umumnya penasaran dan menunggu kejutan PDIP. Bagaimana pun itu, poros politik PDIP tak lain adalah pemenang di parlemen. Terbukti dengan Ketua DPRD Kota Manado dari PDIP, memiliki jumlah kursi terbanyak di DPRD Manado. Bila Olly Dondokambey terjebak bahaya laten politik dinasti, maka akan muncul antipati publik terhadapnya. Tentu itu mencaji ancaman terhadap posisinya, kerana Pilwako Manado juga bersamaan dengan Pilgub Sulut 2020.

Pada hitung-hitungan politik rasional, tentunya Olly tidak mau membuat blunder. Tak mau menggali kuburan sendiri untuk mengubur nasib politiknya. Kondisi seperti itu mengajak Olly selaku pimpinan PDIP Sulut agar selektif menjaring pasangan calon kepala daerah. Bukan sekedar mengandalkan financial sebagai amunisi politik, melainkan figuritas, program dan tokoh yang diusung. Komponen itu menjadi penentu kemenangan. Konstalasi politik di Pilwako begitu kompleks, sebelumnya telah mematahkan bahwa uang bukanlah satu-satunya faktor determinan kemenangan politik. Melainkan ada variabel lain. Ada akumulasi nilai yang berkonsekuensi.

Jangan bergembira berlebihan dengan kemenangan, karena bisa menyeret PDIP pada kekalahan. Mengutip pemikiran Sun Tzu yang mengatakan seni tertinggai perang adalah bagaimana menaklukkan musuh tanpa pertempuran. Jenderal dari Tiongkok, ahli strategi milter dan juga filosof itu berpesan bahwa jika mau menang aktor politik atau gerilyawan harus mengenali dirinya. Tau siapa musuhnya, disitulah kunci kemenangan. Selain takdir yang ditentukan Tuhan.

Bahkan Sun Tzu menyarankan harusnya para petarung itu tampak lemah ketika anda kuat dan kuat ketika anda lemah. Posisi politik PDIP untuk Kota Manado berada diatas saat ini, karena bisa mengusung calon sendiri, tanpa berkoalisi pun. Apakah PDIP Manado punya obsesi ‘mengunci’ lawan dengan memborong semua rekomendasi parpol seperti yang dilakukan James Sumendap Ketua DPC PDIP Minahasa Tenggara beberapa waktu lalu?.

Semua tergantung strategi. Dalam perespektif politik itu sah-sah saja, tapi mengganggu nafas dan pertumbuhan demokrasi. Karena akan melanggengkan kesewenang-wenangan dan sentralistik. Kebebasan disatu sisi akhirnya tersandera. Demokrasi kita dibajak kelompok elit berduit, kelompok yang mengendalikan kekuasaan, dan realitas tersebut kebanyakan tidak disukai masyarakat. Hindarilah praktek ‘memborong’ rekomendasi dukungan seperti itu.

Akan menjadi paradoks ditengah masyarakat. Hal itu tidak menyuburkan budaya demokrasi kita. Pilwako yang sepatutnya membangkitkan kebersamaan, memamerkan kegembiraan, malah tereduksi dengan arogansi sektoral. Alur itu akan membuat partai politik dijauhi masyarakat. Tumbuhkan edukasi dan literasi politik seharusnya, banyak merangkul, bukan memukul. Watak berpolitik anti kritik dihindari.

Apapun argumennya, kita tidak lagi menerapkan politik pintu terbuka. Seperti politik yang diterapkan kaum kolonial liberal di Indonesia. Karena Indonesia saat ini pemerintahannya mengurusi soal pemerintahan yang mencakup universal. Termasuk penataan logistik atau urusan ekonomi. Sehingga semua partai habis-habisan bertarung di Pilkada tentunya. PDIP harus keluar dari tumpuannya yang biasa, ia harus menjadi lebih luar biasa dan hebat.

Langkah menuju itu adalah dengan mengambil Wakil Wali Kota yang punya basis massa jelas. Dapat mewakili etnis, agama, kekuatan politik dan kelompok masyarakat tertentu. Ketika itu yang dilakukan, maka PDIP Manado akan mudah meraih kemenangan di Pilwako Manado 2020. Karena posisi Olly dengan beban politik yang tidak sedikit juga sedikit riskan bila tak serius mengatur strategi.

Terbangunnya citra bahwa Olly yang juga Gubernur Sulut ini begitu melekat dengan label penganut politik dinasti. Stigma ini juga dapat menjadi penanda yang bisa melemahkan Olly. Eksistensi keluarga Dondokambey secara nyata mulai tersebar diposisi-posisi inti pemerintahan. Ada Dondokambey yang menjadi aanggota DPR RI, Wakil Bupati, ada Ketua DPRD, dan posisi lain yang belum terlacak. Secara konstitusional tidak masalah sebetulnya. Hanya saja sering dikait-kaitkan dengan etika politik.

Lalu isu yang kurang merugikan lainnya ialah PDIP dianggap sebagai partai politik yang anti Islam. Kemudian dianggap mengutamakan politik pragmatis. Intervensi kekuasaan dan politik transaksional menjadi sampah yang merusak tatanan praktek politik kita akhirnya. Masih ada waktu merubahnya. Jangan giring masyarakat pada cara berpolitik yang pragmatis. Itu sangatlah destruktif terhadap demokrasi.

Upaya membuat framing Imba-Altje Dondokambey untuk paslon Pilwako Manado 2020 sebetulnya patut dicurigai. Skeptisisme berpolitik kadang diperlukan. Karena tidak semua pujian menguatkan, dan tidak semua hinaan atau kritik dilandasi kebencian. Jika benar paket Imba-Altje dipatenkan, maka potensi kekalahan PDIP di Manado akan terulang. Harusnya Olly jeli membaca ini, menata ulang situasi dan ritme politik. Jangan sampai Olly terjaring skenario penjebakan nantinya. [**]

 

——————————————

Penulis : Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Manado

Siap Bertarung di Manado, Ini Amunisi James Sumendap

Bupati James Sumendap, SH (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang dikenal sebagai sosok petarung di Sulawesi Utara (Sulut) dialah James Sumendap, SH. Menjelang Pilkada Manado 2020, figur yang tergolong fenomenal ini menyampaikan kesiapannya bertarung di Manado.

Sosok pemimpin yang tegas, blak-blakan namun selalu punya hitungan matang dalam politik ini tidak tangan kosong bertarung di Pilkada Manado. Jebolan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini menyebutkan dengan siapapun kompetitornya di Manado akan dihadapi dengan penuh kesiapan.

”Selaku politisi, saya sudah siap bertarung di Manado. Apalagi, bila nanti diperintahkan pimpinan partai agar maju di Pilkada Manado. Saya punya rumus dan strategi yang tepat untuk bertarung. Dan dengan siapapun akan saya lawan. Saya tidak pernah sedikitpun menghitung, atau takut dengan suber daya lawan politik,” ujar Bung JS sapaan akrab James yang juga Bupati Minahasa Tenggara (Mitra) Provinsi Sulawesi Utara ini.

Bupati yang suksesnya menjalankan sejumlah program sosial dan memberikan bantuan santunan duka dengan nominal fantastis itu mengatakan ada jurus andalan yang akan dilakukannya di Manado. Bagi James kepekaan politisi, kepandaian membaca kondisi kebutuhan pemilih menjadi sangat penting. Dirinya akan perang total membawa sejumlah program populis untuk warga Manado.

Program Bung James for Manado (FOTO Ist)

”Amunisi politik saya ialah program unggulan. Ya, tentu program yang pro rakyat. Saya mengakui masyarakat Manado itu begitu realistis dan rasional. Mereka tak bisa dihargai dengan uang. Politik transaksional, tidak berlaku di Manado. Itu sebabnya, saya akan perang habis-habisan dengan program di Pilkada Manado 2020 mendatang. Sekuat apapun rival politik saya, pasti saya hadapi dengan adu program. Program ini sudah saya buktikan di Kabupaten Minahasa Tenggara,” tutur Bung James tegas. (*/BungAmas)

JEAN SUMILAT, Legislator ‘Moncong Putih’ Konsisten Jalankan 3 Fungsi Dewan

Jean Sumilat (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Setelah melalui proses pelantikan sebagai wakil rakyat Kota Manado, Jean Sumilat politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Kota Manado ini menyampaikan komitmennya selalu membela kepentingan masyarakat. Anggota DPRD Manado yang akrab dengan sejumlah awak media itu menuturkan akan menjalankan fungsinya secara baik dan maksimal.

”Saya sudah berkomitmen sejak memutuskan menjadi politisi. Bahwa ketika nanti rakyat percayakan dan memilih menjadi anggota DPRD, saya akan menjalankan fungsi sebaik-baiknya. Tentunya, fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan akan saya jalankan secara optimal,” ujar Jean saat diwawancarai Suluttoday.com, Senin (2/9/2019).

Selain itu, politisi ‘moncong putih’ yang murah senyum itu menyampaikan sejumlah prinsip yang akan terus dijaganya. Bagi Jean, seorang politisi merupakan pekerja bagi rakyat, pihak yang telah secara sadar dan terbuka mengabdikan diri bagi banyak orang sehingga dirinya akan terus berbuat demi konstituennya serta masyarakat Manado umumnya.

Jean bersama sejumlah legislator PDIP Manado saat suasana pelantikan (FOTO Ist)

”Inspirasi saya dalam berpolitik dan saya jadikan sebagai mentor adalah Pak Gubernur Olly Dondokambey sering mengatakan bahwa jagalah integritas, loyalitas, rajin, kemudian tanggung jawab, dengan otomatis segala yang kita harapkan dalam hidup akan terwujud. Lakukan dan kerjakan hal-hal yang benar, seperti yang diajarkan dalam Agama yang kita yakini. Kemudian, atas semua niat baik itu saya telah bersedia mengabdikan diri bagi masyarakat,” tutur anggota DPRD Manado dari Dapil Sario-Malalayang ini tegas. (*/BungAmas)

PRABOWO-PUAN DI 2024

Tulisan, DR Ferry Daud Liando dimuat Koran Harian Manado (FOTO Suluttoday.com)

DR Ferry Daud Liando

(Dosen FISPOL Unsrat)

Beragam spekulasi banyak pengamat terkait pertemuan Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri dan Parabowo Subianto pekan lalu. Ada yang menyambut positif karena berkaitan dengan rekonsiliasi lanjutan pasca pertemuan Prabowo dengan Joko Widodo yang belum berdampak pada keikhlasan menerima hasil Pilpres oleh sebagian kelompok. Sehingga polarisasi belum sepenuhnya teratasi. Ada juga yang berpandangan bahwa pertemuan dua sosok yang pernah berpasangan sebagai capres dan cawapres pada pemilu 2004 itu sebagai upaya penjajakan Gerindra untuk bergabung dengan gerbong pemerintahan.

Spekulasi itu dikait-kaitkan dengan deklarasi Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh terhadap Gubernur DKI Jakarta Anis Bawedan sebagai calon Presiden tahun 2024 nanti. Deklarasi itu dinilai sebagai bentuk reaksi atas kekecewaan karena jika Gerindra bergabung maka jatah menteri akan berkurang. Ada juga spekulasi pertemuan itu sebagai upaya PDIP mencari sekutu baru akibat memburuknya hubungan PDIP dengan tim koalisinya seperti PKB, Golkar, PPP dan Nasdem.

Selama ini elit-elit 4 parpol ini sering bertemu tanpa dihadiri perwakilan dari PDIP. Bisa saja semua anggapan itu benar, namun saya memiliki pandangan lain. Partai politik itu selalu dicirikan dengan kekuasaan. Mulai dari cita-cita kekuasan bagi para pendirinya, cara untuk mendapatkan, bagaimana kekuasaan itu dijalankan dan kemudian akhirnya ingin merebut kekuasaan itu kembali.

PDIP memang pernah berkuasa, ketika Megawati sebagai Wakil Presiden menggantikan Presiden Abdurahman Wahid alias Gus Dur yang diberhentikan MPR. Tentu target Megawati bersama PDIP tidak sekedar merebut kembali kekuasaan itu namun ada potensi Megawati ingin mengukir sejarah baru. Jika seorang presiden kemudian anaknya juga menjadi Presiden, tentu bukan peristiwa yang langka. Karena kondisi demikian sudah terjadi di sejumlah negara.

Seperti keluarga Bush di Amerika Serikat dan keluarga Gandhi di India. Namun jika Presiden turun ke anaknya lalu Kemudian sampai ke cucunya, tentu merupakan sebuah pristiwa langka di dunia. Jika asumsi ini benar, tentu di 2024 belum waktunya PDIP dan Megawati memaksakan anakannya Puan Maharani tampil sebagai calon Presiden. Hingga kini, Puan belum melekat nama besar sehebat ibunya yang pernah disimbolkan sebagai sosok pro demokrasi di penghujung kekuasaan orde baru.

Sehingga kekuatan elektoralnya masih perlu diasah dan masih membutuhkan waktu yang panjang. Tentu Megawati dan PDIP perlu mempersiapkan strategi sebelum pertandingan itu benar-benar dimulai. Peluang yang paling memungkinkan bagi Puan adalah menjajaki posisi wakil Presiden pada Pilpres mendatang. Tahun 2024, PDIP masih akan menjadi partai yang paling diincar para elit yang hendak berkompetisi. Syarat pencalonan kala itu akan menggunakan hasil pemilu tahun 2019 jika pemilu masih menggunakan UU pemilu yang digunakan tahun ini.

Pemilu tahun ini menempatkan PDIP sebagai pemenang dan tinggal butuh sejumlah kursi sebagai syarat parpol untuk bisa mengusung capres dan cawapres yakni 20 persen kursi jumlah anggota DPR hasil pemilu. Nama-nama elit parpol lain yang tergabung dalam koalisi pendukung Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, belum ada satupun yang dianggap menonjol dalam percakapan publik.

Maka tak ada pilihan lain bagi Megawati untuk kemungkinan akan melirik Prabowo Subianto sebagai capres PDIP pada 2024 nanti. Benar kata orang bijak bahwa dalam politik tidak kawan dan juga tidak ada lawan. Sekalipun pihak lain adalah musuh, namun sepanjang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri maka kelak musuh itu bisa dipandang sebagai kawan sejati. Dalam teori perang, Musuh dari musuh adalah kawan. Jika berkalkulasi, pasca Joko Widodo, belum ada satu elitpun yang bisa disetarakan dengannya selain Prabowo Subianto.

Pada pemilu 2019, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat 44,50 persen total suara sah nasional, atau 68.650.239 suara, sebuah pencapaian yang sangat bagus. Satu-satunya yang bisa menghambat Prabowo pada kompetisi Pilpres 2024 adalah soal usia. Saat itu Prabowo sudah memasuki usia 72 tahun, tentu bukan muda lagi. Namun di sejumlah negara, menjadi pemimipin negara, usia tidak menjadi hambatan.

Di negeri tetangga Malaysia, Mahathir Muhamad terpilih sebagai perdana menteri lewat pemilu pada usia 92 tahun. Pemilu 2020 di Amerika Serikat, Donald Trump sepertinya akan berhadapan dengan lawan berat. Trump akan ditantang Joe Biden, mantan Wapresnya Barack Obama. Jika terpilih Joe akan berusia 77 tahun. Selain itu ada juga Robert Gabriel Mugabe Presiden Zimbabwe yang berusia 94 tahun.

Belajar pengalaman dari negara lain, tentu bisa mendukung pencalonan Prabowo. Jika paket Prabowo dan Puan ternyata benar akan terjadi, maka pada Pilpres tahun 2029, merupakan puncak kematangan Puan. Jika PDIP berhasil mengantarkan Puan sebagai Presiden, maka trah 3 generasi kekuasaan keluarga Soekarno, akan tercatat dalam sejarah, bukan hanya di Indonesia tetapi sejara di seantero dunia. [***]

iklan1