Tag: pilkada dki jakarta

Masuk Pusaran Kasus e-KTP, Setnov Bakal Biking Rusak Suara Ahok

Ilustrasi kasus korupsi e-KTP (Foto Ist)

JAKARTA – PilkadaDKI Jakarta masih terus memanas, seperti diketahui Tim Sukses (Timses) AhokDjarot telah disarankan untuk tidak membebaskan Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto, berkampanye untuk pasangan tersebut di putaran kedua Pilgub DKi 2017. Sebab, nama Novanto belakangan sudah terseret dalam kasus korupsi e-KTP.

Direktur Populi Center, Usep S Ahyar, menilai dugaan keterlibatan Novanto tersebut dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap Ahok-Djarot. “Dalam pertarungan di pilkada, masyarakat melihat siapa di belakangnya, siapa pendukungnya. Biasanya juga dilihat apa koruptor atau bukan. Kan ada juga kaidah menyebut, siapa orang itu dilihat dari siapa temannya, siapa pendukungnya,” ujar Usep saat dihubungi, Sabtu (1/4/2017).

Hal ini, lanjut Usep, berlaku bagi pasangan Anies-Sandi yang juga didukung ormas keagamaan banyak dipersepsikan negatif. “(Siapa di belakang calon) tentu pengaruh. Sedangkan Ahok, dalam masalah ini kalau secara tokoh ini (Novanto) akan jadi sorotan juga,” ujarnya.

Usep mengatakan, nama ketua umum Partai Golkar itu memang belum menjadi tersangka dalam kasus merugikan negara Rp 2,3 triliun itu. Namun, kata dia, setidaknya dampak itu akan terasa jika dugaan keterlibatan ini dijadikan bahan kampanye negatif para lawan politiknya. “Ya negative campaign buat menjatuhkan lawan,” ujarnya.

Oleh karena itu, menurut Usep, Timses Ahok-Djarot juga harus mengantisipasi hal ini. Artinya, Golkar sebagai partai pendukung harus tetap bekerja. “Tapi tidak terlalu ditonjolkan orang-orang kayak gitu ya,” ujarnya seperti dikutip dari Merdeka.com.

Novanto diketahui bersama Djarot Saiful Hidayat ikut menghadiri pengajian, Kamis pekan ini. Pengajian ini digelar Partai Golkar Jakarta Selatan. Dalam kesempatan itu, dia juga ikut menyapa dua warga akan diberangkatkan umrah oleh Djarot.

Untuk diketahui, Novanto terseret kasus korupsi e-KTP, setelah namanya disebut 22 kali dalam dakwaan KPK terhadap dua mantan pejabat Kemendagri, Irman dan Sugiharto. Sejumlah saksi di persidangan juga mengonfirmasi peran sentral Setnov dalam penjarahan uang negara secara besar-besaran ini. (*/Rahmat)

Sylviana Murni Warning Politik Uang di DKI Jakarta

Sylviana Murni (Foto Ist)

Sylviana Murni (Foto Ist)

JAKARTA – Komunikasi politik yang cukup dinamis ditunjukkan Calon wakil gubernur DKI, Sylviana Murni, mengatakan, warga Jakarta bisa mengambil uang yang diberikan untuk memilih calon kandidat tertentu dalam Pilkada DKI. Namun, Sylvi meminta warga tidak memilih pemimpin yang melakukan politik uang itu.

“Kalau 15 Februari, ada yang mau ngasih duit biar Rp 1 juta, Rp 5 juta, ambil tuh duit, soal nyoblos hati nurani,” ujarnya.

Hal tersebut disampaikan Sylvi saat memberikan sambutan kepada peserta acara Maulid Nabi di Jalan Regalia di Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (17/1/2017).

Menurut Sylvi, jika pihak yang memberi uang meminta warga untuk mencoblos calon tertentu karena imbalan itu, warga cukup menjawab iya saja.

“Bu, ini kasih uang Rp 5 juta, tetapi coblos saya. (Jawab) iya saja,” ujar Sylvi sebagaimana dilansir dari Kompas.com.

Namun, Sylvi meminta jika warga yakin dirinya dan Agus adalah calon pemimpin amanah, ia meminta dukungan. Ketika selesai kampanye, Sylvi dikonfirmasi apakah ia melihat adanya potensi politik uang sebelum pencoblosan 15 Februari 2017 mendatang.

“Kalaupun ada, itu warning, kalau enggak ada, itu yang kita harapkan,” ujar Sylvi. (*/ST)

Agus Harimurti Yudhoyono Ingin Bangun Jakarta Tanpa Menggusur

Agus Harimurti Yudhoyono (Foto Ist)

Agus Harimurti Yudhoyono (Foto Ist)

JAKARTA – Setelah menonton konser Prilly Latuconsina, di Theather Nusa Indah Balai Kartini, Jakarta Selatan, bersama istri dan anak, Agus Harimurti Yudhoyono menyambangi warga di Semper Timur, Jakarta Utara, Minggu (18/12). Kedatangan ditunggu warga dari pukul 16.30 WIB, sesuai agenda blusukannya, baru tiba sekitar pukul 17.30 WIB.

Sekedar diketahui dalam pantauan Merdeka.com, calon gubernur DKI no urut satu ini langsung dikalungkan bunga warna merah putih. Setelah itu dirinya langsung menaiki panggung dan berikan sambutan untuk pendukungnya.

“Kita ingin hidup layak, membangun Jakarta tanpa menggusur, tanpa menyakiti warganya, pemimpin jangan takut warganya, warganya jangan takut pemimpin,” tuturnya.

Menurut Agus, dalam pidato yang hampir sekitar 30 menit itu mengatakan, kalau pemimpin yang baik harus selalu ada untuk warganya. ”Pemimpin terbaik di tengah-tengah rakyatnya. Mari satukan hati untuk perubahan Jakarta yang semakin baik, maju, aman dan sejahtera,” kata Agus berapi-api.

“Saya doakan supaya bapak ibu sehat walafiat, barokah, semakin luas rejekinya. Tetap semangat kita songsong perubahan untuk Jakarta,” papar Agus saat dilansir dari Merdeka.com, Minggu (18/12/2016).

Setelah itu, saat Agus hendak meninggalkan lokasi untuk blusukan ke tempat berikutnya, Agus disambut dengan yel-yel para pendukungnya. “Agus Sylvi pasti menang. Agus Sylvi siapa yang punya, Agus Sylvi siapa yang punya, yang punya kita semua,” ujar para pendukung. (*/Red)

Ahok Tidak Bermaksud Menghina Al-Qur’an

Ahmad Syafii Maarif (Foto Ist)

Ahmad Syafii Maarif (Foto Ist)

Oleh: Prof Dr Ahmad Syafii Maarif (Mantan Ketua Umum PP Muhammaduyah)

Sekiranya saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, yang menghebohkan itu, substansi tulisan ini semestinya sudah disampaikan saat Karni Ilyas, Presiden Lawyers Club,  mengundang saya pada 11 Oktober 2016 melalui studio Yogyakarta. 

Karena semula audio-visual TVONE dari Yogya beberapa saat tidak berfungsi, sehingga saya tidak sempat mengikuti fatwa MUI yang juga dibacakan dengan penuh emosi malam itu. Baru belakangan saya dapat membaca isi fatwa itu melalui internet. Dalam fatwa itu jelas dituduhkan bahwa Ahok telah menghina al-Qur’an dan menghina ulama dan harus diproses secara hukum.

Tetapi malam itu, akal sehat saya mengatakan bahwa Ahok bukan orang jahat yang kemudian ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan. Yang menghujat saya cukup banyak, yang membela pun tidak kurang. Semua berdasarkan fatwa MUI yang tidak teliti itu. Semestinya lembaga sebagai MUI mestilah menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggung jawab.

Dari berbagai sumber yang dapat ditelusuri via internet, keterangan  lengkap Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016 adalah sebagai berikut: “Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pakai surat al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya…” Perhatikan dengan seksama kutipan ini, apakah memang terdapat penghinaan terhadap al-Qur’an? Hanya otak sakit sajalah yang berkesimpulan demikian.

Apalagi jika sampai menista Langit., jauh dari itu. Perkara dikesankan menghina ulama, saya tidak perlu bicarakan di sini, karena memang dalam sejarah Muslim sering bermunculan ulama jahat, penjilat penguasa dengan fatwa-fatwa murahannya. Pokok masalah di sini adalah pernyataan Ahok di depan publik di sana agar “jangan percaya sama orang…karena dibohongin pakai surat surat al-Maidah 51.”

Ahok sama sekali tidak mengatakan bahwa surat al-Maidah 51 itu bohong. Yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya. Bung Zuhairi Misrawi dalam pembicaraan telepon dengan saya pada 3 Nopember 2016 mengatakan bahwa di beberapa masjid di Jakarta sudah lama dikobarkan semangat agar rakyat tidak memilih Ahok dalam pilkada 2017 karena dilarang oleh ayat di atas.

Bagi saya, apakah Ahok terpilih atau tidak terpilih bukan urusan saya. Itu sepenuhnya urusan para pemilih DKI. Saya tidak akan memasuki perang penafsiran tentang ayat itu. Pusat perhatian tulisan ini adalah bahwa tidak benar Ahok telah menghina al-Qur’an berdasarkan kutipan lengkap keterangannya di Pulau Pramuka di atas. Fatwa gegabah MUI ini ternyata telah berbutut panjang.

Demo 4 Nopember 2016 adalah bentuk kongkretnya. Semoga demo itu akan berlangsung tertib, aman, dan damai. Tetapi jika terjadi insiden yang tidak diinginkan, MUI harus bertanggung jawab, karena gara-gara fatwanya, demo itu digelar. Kelompok garis keras merasa dapat amunisi untuk tujuan duniawinya. Kekerasan telah jadi mata pencarian.

Adapun beberapa politisi yang membonceng fatwa ini, itu bukan untuk mencari kebenaran, tetapi semata-mata untuk mendapatkan keuntungan politik kekuasaan dalam rangka pilkada DKI Februari 2017.  Apakah kita mau mengorbankan kepentingan bangsa dan negara itu akibat fatwa yang tidak cermat itu? Atau apakah seorang Ahok begitu ditakuti di negeri ini, sehingga harus dilawan dengan demo besar-besaran? Jangan jadi manusia dan bangsa kerdil!

Tulisan yang senada dengan ini dapat dicari di internet, seperti ditulis oleh Ahmed Zainul Muttaqien di bawah judul: “Soal Kalimat Ahok,” dan  tiga artikel Zuhairi Misrawi dengan beberapa judul yang saling berkaitan.

 

——–Yogyakarta,  November 2016.

Silaturahmi Bersama Warga Ancol, Anies Dijemput dengan Spanduk Ahok

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Foto Ist)

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Foto Ist)

JAKARTA – Bakal cagub DKI Anies Baswedan menghadiri Peringatan Hari Habitat Internasional dan Penghapusan Kemiskinan Internasional Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) di Jalan Krapu, Ancol, Jakarta Utara.

Anies tiba di lokasi yakni Jalan Krapu RT 08, Ancol sekitar pukul 15.30 WIB, Minggu (23/10/2016), tanpa didampingi oleh pasangannya, Sandiaga Uno. Ia mengenakan pakaian formal dengan kemeja putih dan celana hitam.

Begitu tiba, warga langsung menghampiri Anies dan meminta foto. Usai menyalami dan melayani permintaan foto, Anies pun duduk di tempat yang telah disediakan.

Tak jauh dari tempat duduk Anies, terpampang spanduk berukuran cukup besar dengan tulisan “Gusur Ahok di Putaran Pertama”.

Sejumlah anak kecil menyapa Anies dan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka dengan mengibarkan bendera merah putih berukuran kecil. Begitu anak-anak menyanyi, Anies pun bangkit dari duduknya dan menyanyi bersama mereka hingga lagu usai.

Setelah bernyanyi bersama-sama, Anies menerima aspirasi dari warga. Nampak dengan serius Anies menyimak dan mencatat beberapa hal yang disampaikan oleh perwakilan warga di Jalan Krapu, Ancol tersebut.

Salah seorang warga, Rasbullah menyampaikan aspirasi terkait peraturan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan pengamen di DKI. Ia juga memberikan pesan di hadapan Anies senada dengan spanduk ‘Gusur Ahok’ yang berada di dekat bakal cagub Gerindra dan PKS itu.

“Melihat Perda 8 tahun 2007, teman-teman ingin dagang dengan tenang dan ngamen dengan tenang. Kita bukan orang bodoh dan enggak ngerti apa-apa. Kita punya kreativitas tapi enggak ada yang menyalurkan,” kata Rasbulah.

Spanduk gusur Ahok (Foto Ist)

Spanduk gusur Ahok (Foto Ist)

“Siap gusur Ahok?! Ahok digusur sampai putaran kedua. Gusur dulu! Hidup rakyat!” ujar Rasbulah berapi-api yang disambut dengan tepuk tangan warga saat dilansir Detik.com.

Sementara terkait spanduk tersebut, Anies mengaku tidak menahu. Spanduk tersebut diperkirakan dipasang dari inisiatif warga setempat. Anies pun menolak untuk komentar lebih lanjut. “Di mana ya (Spanduknya)? Oh tanya warga sini aja,” jawab Anies. (*/Faruk)

iklan1