Tag: pilkada dki jakarta

Prabowo Ingatkan, Kampanye Santun Tidak Gunakan Isu SARA

Prabowo Subianto (Foto Ist)

Prabowo Subianto (Foto Ist)

JAKARTA – Soal Pilkada DKI Jakarta 2017, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subiantor berharap tidak ada isu SARA yang dimainkan selama Pilkada.

Dikatakannya bahwa pihaknya sudah mengarahkan jajaran pendukungnya agar tidak menggunakan isu negatif dan SARA.

“Anda mungkin dengar kami sudah beri pengarahan bahwa jajaran kami tidak boleh pakai masalah-masalah negatif,” ujar Prabowo, di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, di Jalan RM Harsono, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (11/10/2016) malam.

Ditambahkannya, Prabowo meminta pihak lain untuk tidak menggunakan isu SARA. Pihaknya akan mengedepankan hal yang positif dalam kampanye pilkada mendatang.

“Yang penting bagi kita, kampanye kita harus sopan, adiluhung, terhormat,” ujar Prabowo.

Probowo pun mengatakan bahwa masyarakat sudah cerdas dan tidak dapat dibodohi dengan isu SARA. Namun, kadang ada pihak yang menggunakan isu tersebut untuk kepentingan pribadi.

“Jangan menghina agama lain dan jangan sembunyi. Masalahnya kan begitu, kadang sembunyi dibalik isu-isu yang tidak jelas. Saya kira rakyat kita tidak sebodoh yang diperkirakan berbagai kekuatan,” ujar Prabowo. (*/Faruk)

Refleksi Politik, PKS dan Kebesaran Hati Sandiaga Uno

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Foto Ist)

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Foto Ist)

Mengamati peristiwa politik di tiga hari belakang ini saya menyaksikan betapa drama kehidupan terjadi terkait penetapan calon Gubernur dan pasangan untuk memimpin Derah Khusus Ibukota Jakarta. Pada kesempatan ini saya tidak akan menelisik dari sisi politik, namun peristiwa ini lebih menarik apabila di analisa dari sisi budaya. Mengamati sikap dan perilaku orang politik dari sisi pergeseran budaya ditingkahi oleh berbagai kepentingan sungguh terkadang terjadi hal hal tidak terduga. Sorotan tertuju pada pengumuman calon gubernur dari Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera.

Pengamatan ini tentu tanpa mengabaikan dua pasangan calon dari partai lain yang telah ditetapkan. Justru pada proses keputusan yang memang berlangsung lama dan penuh kehati hati an dari Gerindra dan PKS terdapat nuansa kebangsaan seperti yang diamanatkan Pancasila. Nuansa cinta tanah air dan cinta kepada Jakarta sebagai etalase kehidupan nasional menjadi pertimbangan utama dalam menetapkan pasangan pemimpin Jakarta. Berangkat dari pemikiran bahwa Jakarta harus menjadi lebih baik dan nyaman maka tentu dibutuhkan pimpinan daerah yang memiliki kapasitas dan integritas manusiawi. Keputusan Gerindra dan PKS saya nilai lebih kepada kebersamaan dan rasa tegang rasa yang sangat dalam.

Bolehlah saya simpulkan disini bahwa semua itu bisa terwujud berawal dari kebesaran hati dari Bapak Prabowo dan Bapak Sohibul Iman, Negarawan Probowo Subianto mengatakan “Dan untuk itu kami setelah proses berembuk yang cukup panjang menetapkan mencalonkan saudara Anies Rasyid Baswedan sebagai calon gubernur Daerah Khusus Ibu Kota untuk masa bakti 2017-2022. Beliau bukan kader Partai Gerindra, bukan pula kader PKS, tapi Gerindra dan PKS tidak memandang harus dari partai, kita cari yang kami pandang terbaik yang bisa kita persembahkan kepada rakyat Ibu Kota dan saudara Sandiaga Salahuddin Uno sebagai calon wakil gubernur Daerah Khusus Ibu Kota untuk periode 2017-2022,” Tidak mudah berbuat sesuatu ketika harus mengorbankan kepentingan pribadi.

Sikap Pak Prabowo menunjukkan jiwa ke negarawanan itu melekat pada diri beliau. Kebesaran hati kedua belah pihak itu bila di diskripsikan adalah kesediaan dan kerelaan Sandiaga Uno untuk menyisihkan kepentingan pribadi. . Berbulan bulan lalu Sandiaga sudah di canangkan menjadi Calon Gubernur dari Partai Gerindra. Beliau sudah bergerak kesegala arah di wilayah Jakarta memperkenalkan diri kepada rakyat Jakarta. Namun dengan kebesar hati luar biasa Sandiaga Uno ikhlas mendamping Anies Baswedan (hanya) sebagai calon Wakil Gubernur. Diperlukan satu kepribadian yang kuat agar bisa bisa bersikap seperti ini. Sandiaga Uno mampu berbuat demikian tentu karena kepribadian yang terbentuk dari keluarga yang sangat religius.

Saya mengamati sikap Sandiaga Uno memang sangat santun dan bersahaja ketika menyapa dan berkomunikasi denga warga Jakarta. Sesuatu yang jelas tidak di buat buat untuk menarik simpati rakyat. Awal Baik Setelah pengumunan calon gubernur dan wakil, saya perhatikan sikap Sandiaga Uno sangat luar biasa. Tidak nampak sedikitpun rasa kecewa, wajahnya tetap bersinar tersenyum dan sangat akrab dengan Anies Baswedan. Sikap kebersamaan ini serta kekompakan yang di bentuk dari hati yang jernih dalam kandungan niat semata mewakafkan diri untuk jakarta. Inilah harapan warga Jakarta yang nanti akan di buktikan pada proses perhitungan suara.

Kebesaran hati itu juga terlihat dari Partai Keadilan Sejahtera. Beberapa minggu lalu PKS telah menetapkan salah seorang kadernya sebagai Wakil Gubernur mendampingi Sandiaga Uno. Namun mengingat kepentingan yang lebih besar maka PKS bersedia berkorban tidak menempatkan seorangpun kader untuk dicalonkan sebagai pucuk pimpinan kepala daerah Jakarta. Sekali lagi sikap ini tentu selaras dengan visi dan misi partai yang menjunjung tinggi moral untuk kesejahteraan rakyat.

Mudah-mudah an sikap rendah hati dan sikap penuh toleransi untuk kepentingan membangun Jakarta menjadi kota yang sejuk menjadi bonus untuk selanjutnya mampu berbuat yang lebih baik. Biasanya sesuatu yang di mulai dengan hati yang tulus dan baik dalam ikatan niat tulus maka semuaproses pilkada akan di mudahkan dalam naungan Redha Allah SWT. (***)

 

 

Penulis: Thamrin Dahlan

Salah Langkah, Selain Dikepung Ahok Diprediksi Bakal ”Tamat”

Gubernur Ahok (Foto Ist)

Gubernur Ahok (Foto Ist)

JAKARTA – Patut diperhitungkan Ahok, dimana kali ini tujuh partai politik memutuskan untuk membentuk koalisi kekeluargaan mencari sosok yang tepat melawan bakal calon incumbent Basuki T Purnama (Ahok) di Pilgub DKI 2017. Mereka adalah PDIP, Gerindra, Demokrat, PAN, PKB, PKS dan PPP.

Pelaksana tugas ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta, Bambang Dwi Hartono memiliki pandangan, Ahok sebagai bakal calon incumbent belum tentu bisa maju Pilgub DKI. Menurut dia, bisa saja partai pendukung Ahok seperti Golkar, NasDem dan Hanura berubah pikiran.

“Maju enggak? Sudah ada kepastian belum? Ini nanti tergantung sama tiga partai politik yang sudah dukung,” ujar Bambang usai menghadiri deklarasi koalisi di Pilgub DKI 2017, Jakarta, Senin (8/8/2016) yang dilansir dari Merdeka.com.

Bambang mengatakan, bisa saja tiga partai pendukung Ahok merubah haluan ikut koalisi kebersamaan. Dengan demikian kursi minimal ikut Pilgub DKI buat Ahok tidak memenuhi syarat di KPUD DKI. Sementara pendaftaran melalui jalur independen sudah ditutup.

“Kalau satu partai ikut kami, bagaimana? Untuk DKI Jakarta ini kan butuh 22 kursi,” ucapnya. (*/Ikhy)

Pemetaan Peta Kekuatan Politik Pilgub DKI Jakarta Ahok Vs Risma

Ahok vs Risma (Foto Ist)

Ahok vs Risma (Foto Ist)

JAKARTA – Pihak-pihak yang ingin mendongkel Risma di Surabaya sedang menyusup ke Jakarta saat ini. Ada empat tim yang disusupkan masuk dan bekerja sama dengan warga dan politisi setempat. Keempat tim ini sedang bereaksi secara elegan. Mereka hadir di tengah-tengah warga dan mengatasnamakan warga Jakarta untuk berkoak-koak bahwa Risma sangat dibutuhkan oleh warga Jakarta. Tim satu terus-menerus menggaungkan infromasi bahwa warga Jakarta sudah mempersiapkan sebuah sambutan hebat untuk menyambut kedatangan Risma.

Tim kedua, sedang menggalang dukungan pro Risma dari berbagai lini. Tim ketiga sedang bereaksi di media dan terus menerus mem- blow-up informasi bahwa begitu banyak pihak yang menginginkan Risma maju bersaing melawan Ahok. Dan tim keempat, adalah tim destroyer, yang mencoba melancarkan kampanye pelemahan Ahok. Dalam tim keempat ini, masuk Masinton Pasaribu, yang terus berkoar bahwa kambing yang dibedakin pun akan menang melawan Ahok.

Jelas dan amat jelas bahwa mereka yang sangat ngebet merebut dan mendikte posisi Risma adalah para anggota DPRD Surabaya yang gagal mewujudkan tol di tengah kota, wakil wali kota Surabaya, Wisnu Sakti Buana, yang sekian lama merindukan posisi Risma dan Ketua DPP PDIP pemenangan Pemilu Bambang DH yang dulu gagal menjadi Gubernur Jatim yang juga orang dekat Wisnu. Tujuan jangka panjangnya adalah menguasai kursi gubernur Jawa Timur pada Pilkada 2018 mendatang. Risma jelas tahu skenario pencokelan dirinya. Itulah sebabnya dia berulang kali menegaskan bahwa dia tidak akan meninggalkan rakyat Surabaya. Dia sudah berkomitmen penuh di Surabaya.

Berita bahwa Risma telah minta maaf kepada rakyat Surabaya, adalah plintiran media. Risma juga tahu bahwa pada last minute, Mega akan mengusung Ahok untuk menjadikan negeri ini jauh lebih baik. Ahok di Jakarta, Risma di Surabaya, Jokowi di RI-1, Tito di Polri, dan Ganjar di Jateng. Klop sudah, sebuah tim super era PDIP. Kalau Mega sampai sekarang belum memutuskan pilihan, itu karena dia ingin tahu sejauh mana air liur orang-orang rakus yang ingin mencokel Risma keluar meleleh. Ibarat makanan, mereka sedang mencium aroma sedapnya kekuasaan. Di samping itu, Mega juga ingin tahu sinetron plus skenario rakus para lawan Ahok yang sangat ngebet mendongkel Ahok dari posisinya.

Mega jelas sabar dan tertawa-tawa melihat situasi panas menjelang Pilkada DKI. Mega juga tersenyum kecut melihat usaha Yusril dan Rizal Ramli yang juga ngebet memimpin ibu kota. Tenang bro, toh tidak ada salahnya jika Mega menjatuhkan pilihan pada detik terakhir, atau satu menit sebelum KPUD menutup pendaftaran. Tujuannya adalah membiarkan hawa panas bercampur tensi tinggi lebih mendidih melanda kota Jakarta dan Surabaya. Nantinya kalau Mega sudah mengusung Ahok, maka tensi politik langsung turun drastis. Keputusan final dan kartu truf untuk memilih siapa calon yang diusung PDIP ada di tangan Mega dan tak ada yang mampu menggugat dan mengubahnya. Mega juga berencana memainkan Golkar yang merasa dirinya sudah menang dengan menelingkung PDIP.

Istilahnya, Mega sedang mengambil ancang-ancang membuat penipu jadi tertipu dan terlihat mati kutu pada akhirnya. Mega akan membuat Golkar mati kutu pada akhirnya. Bagi warga Jakarta, pada situasi sekarang ini, Ahok masih is the best. Ahok adalah sosok yang paling cocok meenduduki kursi panas DKI Jakarta ketimbang Risma. Dan Mega plus Jokowi amat paham itu. Baik Mega maupun Jokowi, paham bahwa Ahok adalah orang yang tepat memimpin ibu kota dan bukan Risma.

Ahok yang ‘bajingan’ lebih cocok di Jakarta ketimbang Risma yang santun. Sebagaimana Sutiyoso berulang kali mengatakan bahwa Jakarta adalah kota buas yang dipenuhi binatang buas, maka butuh sosok yang memiliki kebuasan super untuk menangani ibu kota. Bahkan Letnan Jenderal Sutiyoso pun yang menjabat Gubernur DKI selama sepuluh tahun, tidak mampu membenahi kota Jakarta dari preman liar, PKL liar, pemukiman liar, begal APBD, korupsi berjamaah dan seterusnya.

Hal yang sama terjadi di jaman Fauzi Bowo, jebolan Doktor lulusan Jerman, juga tidak berdaya membenahi kota Jakarta yang dikendalikan FPI jaman itu. Baik Sutiyoso dan Fauzi Bowo dalam lima belas tahun terakhir, terpaksa melakukan politik win-win solution plus politik damai untuk mengakomodasi berbagai kepentingan berbagai pihak di Jakarta. Lalu mengapa sosok jenderal sekaliber Sutiyoso dan Doktor Fauzi Bowo (Foke) gagal membenahi Jakarta di jamannya? Jawabannya terletak pada tingkat kegilaan dan kebajingan mereka. Sutiyoso dan Foke jelas tidak memiliki kegilaan yang dimiliki Ahok.

Ahok yang lulusan lokal dan double minoritas memiliki tingkat kegilaan dan ‘kebajingan’ super dalam membenani Jakarta. Dan itulah yang dibutuhkan di Jakarta, sebuah kegilaan super. Mengapa? Di Jakarta, tempat berkumpulnya mantan jenderal, mantan menteri, ketua partai, para poitisi busuk, para konglamerat kaya semacam Aguan, pada Bandar Narkoba yang juga melibatkan oknum polisi dan TNI (tulisan Haris Azhar), para ketua lembaga dan institusi, peradilan dan lembaga audit semacam BPK.

Kepentingan-kepentingan raksasa bercampur-baur di Jakarta. Kasus-kasus di jaman Ahok seperti anggaran fiktif 12 triliun, bus transjakarta yang berkarat, pembelian lahan sendiri di Cengkareng, suap reklamasi, rekayasa kasus Sumber Waras, adalah contoh-contoh kebuasan peta politik dan korupsi di Jakarta. Risma benar. Ia pemimpin bagus, santun dan elegan. Namun di Jakarta, kesantunan akan tenggelam di tengah kebuasan Jakarta. Ketika Risma di Surabaya digoyang oleh DPRD, Risma pun terpaksa berderai air matanya.

Lewat sebuah televisi swasta kala itu, Risma curhat sambil meneteskan air mata bahwa dia sudah tidak sanggup menahan tekanan sebagai wali kota dan berencana mundur dari posisinya. Dan kalau bukan karena dukungan masif rakyat Surabaya dan campur tangannya Mega, nasib Risma di Surabata mungkin kini tinggal cerita. Ibarat seekor domba atau keledai, jika Risma datang memimpin Jakarta yang dipenuhi singa dan Harimau, maka Risma dengan cepat menjadi santapan empuk.

Seorang Ahok dengan tingkat kebuasan bagaikan banteng raksasa yang luka pun terus-menerus melawan para singa dan harimau buas tanpa henti. Para lawan Ahok dengan cara keroyok, terus menyerang Ahok. Namun Ahok terus berlatih, terus sigap mengayunkan tanduknya menyerang para Singa dan Harimau itu plus terus mengubah strategi. Hal itu untuk memperdayai skenario Fadli Zon, Fahri Hamzah, Lulung, Masinton Pasaribu, Junimart Girsang, Adian Napitupulu, Taufik dan teman-temannya. Pada awalnya Ahok sengaja memilih jalur independen dan terus-menerus komitmen pada Teman Ahok.

Tujuannya adalah agar seluruh kekuatan lawan mengarah pada cara menjegal Ahok lewat KPU dan UU Pilkada. Ahok pun terus bersandiwara dan berpura-pura bahwa 100% maju lewat jalur independen. Dan ketika seluruh kekuatan dan strategi lawan tertumpah pada jalur indenden termasuk mengamandemen UU Pilkada, maka dengan cerdik Ahok tanpa berdosa, meninggalkan jalur independen. Jelas Teman Ahok tidak kecewa, karena begitulah politik.

Setiap saat anda harus berani mengubah strategi. Ketika Ahok meninggalkan jalur independen, lawan pun pontang-panting. Padahal Lulung terus-menerus memancing Ahok agar terus maju lewat independen yang sudah dipasang perangkapnyaitu. Bahkan Lulung sesumbar bahwa ia rela memotong kupingnya jika Ahok berani maju via jalur independen. Demikian juga politisi Gerinda, Habiburokhman, rela terjun di Monas jika KTP pendukung Ahok mencapai satu juta. Energi lawan jelas terlanjur habis dipusatkan di jalur independen, dan pada saat yang tepat, dengan enteng Ahok mengelabui lawannya.

Kini Ahok, sudah resmi maju dari jalur Parpol yang diusung tiga parpol yakni Nasdem, Hanura dan Golkar. Pertanyaannya adalah apakah Ahok merasa yakin dengan tiga parpol itu? Jelas tidak. Ahok tetap waspada dan menyiapkan skenario jitu lain. Ahok paham bahwa jika tiba-tiba salah satu dari Parpol itu mundur maka nasibnya langsung tamat. Tetapi Ahok bukanlah politisi kemarin sore. Lalu apa yang dilakukan Ahok? Ahok sekali lagi sedang memainkan politik tingkat tingginya. Ketika energi lawan kembali dipusatkan untuk membujuk salah satu partai pendukung Ahok agar mencabut dukungannya kepada Ahok, maka Ahok sudah punya kartu trufnya. Ahok paham bahwa Mega sangat mencintainya.

Pada last minute nantinya atau satu menit sebelum KPU menutup pendaftaran, Ahok akan melamar secara resmi ke PDIP. Dan pada saat itu, dengan segera Mega menugaskan Ahok untuk maju lewat PDIP. Klop sudah, Ahok melamar PDIP dan Mega mengusungnya, lawan gigit jari. Jika PDIP mengusung Ahok plus Nasdem, Golkar dan Hanura, praktis Pilkada telah selesai. Itulah sebabnya Ahok terus mengatakan bahwa dia menunggu PDIP dan membiarkan PDIP memilih wakilnya termasuk Djarot.

Nah, ketika pada akhirnya nanti Ahok akan melamar ke PDIP, maka pada saat itu energi lawan yang terpusat untuk membujuk ketiga partai pendukungnya, menjadi habis. Itulah taktik Ahok, yang selangkah lebih maju dari strategi lawan-lawannya. Dan sebagai seorang politisi kutu loncat, Ahok tidak sulit melamar ke PDIP pada last minute nantinya demi menjaga wibawa Mega. Faktor Jokowi juga turut meyakinkan Mega untuk tetap memilih Ahok. Jelas Jokowi tetap menginginkan Ahok untuk menjaga kontinuitas pembenahan ibu kota. Dan itu juga jelas diamini oleh Mega. Sementara itu bagi warga Jakarta, sosok Ahok telah terbukti paling memimpin ibu kota.

Warga Jakarta masih menginginkan Ahok memimpin ibu kota lima tahun ke depan. Sepanjang ibu kota masih dipenuhi makhluk buas, maka sosok keras dan gaya ‘bajingan’ Ahoklah yang paling dibutuhkan. Sementara itu pada saatnya, mungkin sepuluh tahun lagi, ketika ibu kota sudah setertib dan setara dengan kota-kota di negara Barat, maka sosok santun ala Risma dan Sandiaga Unolah yang paling pas di Jakarta. Mari serumput teh lemon dulu untuk menyaksikan kisruh politik selanjutnya.

 

Asaaro Lahagu.

Sandiaga, Ahok dan Risma Siapa Pemenang

Ahok, Sandiaga dan Risma (Foto Ist)

Ahok, Sandiaga dan Risma (Foto Ist)

JAKARTA – Bukan soal elektabilitas. Ini soal kekuatan partai di belakang mereka. Digelar tanggal 15 Februari 2017. Pemilihan gubernur Jakarta tinggal 195 hari lagi. Itu tanggal pencoblosan. Masih jauh? Sesungguhnya tidak. Lihatlah penanggalan pemilihan gubernur berikut ini.

Semua pasangan calon sudah harus ditetapkan tanggal 22 Oktober 2016. Tidak akan ada perubahan lagi sesudah itu. Dan semua pasangan diberi kesempatan untuk mendaftarkan diri tanggal tanggal 19 September hingga 21. Cuma tiga hari.

Itu artinya semenjak hari ini, hanya tersisa 49 hari bagi mereka untuk mendaftar. Dikurangi sembilan hari libur, waktu mereka tersisa hanya 40 hari. Pendek sekali.

Waktu sependek itu tentu saja susah bagi nama-nama baru, terutama bagi mereka yang menempuh jalur independen. Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) mematok tanggal 7 Agustus sebagai batas akhir penyerahan syarat dukungan. Jadi, ya, tinggal empat hari lagi.

Dari pergerakan politik yang tersiar selama ini, tampaknya jalur perorangan ini sonder kandidat. Semua lewat partai politik. Dan baru dua atau tiga nama, yang terang disebutkan partai politik selama ini. Itu pun belum tentu final. Lobi-lobi politik masih berderu hingga pendaftaran.

Tiga nama yang disebutkan itu adalah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang adalah kandidat incumbent, Tri Rismaharini yang kini menjadi wali kota Surabaya dan Sandiaga Uno, seorang pengusaha muda cum politisi muda.

Apakah ketiganya akan melaju ke meja pendaftaran? Jawabannya sangat bergantung pada seberapa besar modal partai yang mereka bawa atau yang membawa mereka.

Mari kita lihat hitung-hitungan berikut ini.

Demi mengusung pasangan bakal calon gubernur, dibutuhkan sedikitnya 22 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. Ini syaratnya. Kursi di Kebun Sirih alamat kantor dewan itu sejumlah 106. Artinya, sebanyak-banyaknya hanya akan ada empat pasangan.
Mari melihat ‘kursi-kursi’ itu. Partai apa yang paling banyak dan seberapa kuat kaki mereka di ibukota. Lalu, setidaknya sejauh pagi ini, siapa kandidat yang mereka usung.

Seberapa besar peluang sang kandidat bisa lolos ke meja pendaftaran, lalu melaju ke kotak suara.

Ahok

Dari semua kandidat, barangkali Ahoklah yang sudah bersiap sedari lama. Meski sukses mendulang satu juta Kartu Tanda Penduduk (KTP), belakangan Ahok maju lewat jalur partai politik. Pilihan yang membuat sejumlah anggota Teman Ahok mengancam membuang KTP dukungan.

Salah satu yang mengusung Ahok adalah Golongan Karya atau Golkar, yang usianya mungkin lebih tua dari Anda. Partai yang sudah malang melintang di republik ini, berdiri tahun 1964.

Si beringin yang kini dinakhodai Setya Novanto itu, menduduki sembilan kursi di Kebun Sirih. Kursi sejumlah itu diraup setelah mesin partai itu mendulang 376.221 suara pada pemilihan umum.

Partai politik yang juga mengusung mantan Bupati Belitung Timur adalah Hanura, yang dibesut Jenderal (purn) Wiranto, yang pekan lalu didapuk Presiden Joko Widodo menjadi Menkopolhukam. Partai ini menduduki 10 kursi di Kebun Sirih.

Jalan Ahok kian lempeng oleh Nasdem, partai yang didirikan Surya Paloh. Partai ini meraih lima kursi di dewan perwakilan DKI.

Sebelum dua partai yang disebutkan di atas, Nasdem malah lebih awal mendapuk Ahok.

Bermodal Golkar dan dua partai lain yang pendirinya juga mantan petinggi Beringin itu Wiranto dan Surya Paloh sebelumnya adalah tokoh Golkar Ahok dipastikan bisa datang ke meja pendaftaran. Tiga partai itu menduduki 24 kursi di Kebun Sirih.

Di luar kekuatan tiga partai itu, hingga kini Ahok masih melakukan lobi-lobi politik dengan PDI Perjuangan. Jumat pekan lalu, Ahok sempat satu mobil dengan Megawati Soekarnoputri, Presiden Joko Widodo, Puan Maharani dan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Dari rumah Megawati di Teuku Umar mereka melaju ke Rapat Pimpinan Partai Golkar di Istora Senayan.

Meski kepada media massa, Ahok menuturkan sepanjang perjalanan mereka hanya cerita lucu-lucuan belaka, sejumlah kalangan menafsirkan perjalanan ini sebagai sinyal partai berlambang Banteng itu bakal mengusung Ahok. Penjelasan Ahok soal satu mobil itu, bisa dibaca di sini http://bit.ly/2aA0DdY

Jika benar PDI Perjuangan mengusung, maka Ahok akan datang ke meja pendaftaran dengan kekuatan 52 kursi di Dewan Perwakilan DKI. PDI Perjuangan sendiri menduduki 28 kursi. Dengan kursi sejumlah itu, dia diusung hampir 50 persen kekuatan kursi di dewan.

Tri Rismaharini

Walikota Surabaya ini sudah lama dijagokan untuk melaju ke Jakarta. Tenggelam timbul dari radar politik ibukota, lantaran ramai pula diberitakan bahwa Risma menolak tawaran itu. Penolakan itu bahkan sudah pula disampaikan kepada Megawati, dengan cara yang terang benderang.

Saat menghadiri rapat Dewan Pertimbangan Presiden di Jakarta, Kamis 10 Maret 2016, kepada media massa Risma memastikan, “Jadi saya yang menghadap Ibu. Mungkin satu bulan yang lalu. Waktu itu saya sampaikan, Bu, saya mendapat amanah di Surabaya. Dan saya mohon, saya tidak dicalonkan menjadi gubernur, baik di Jawa Timur maupun DKI.”

Sesudah penjelasan Maret lalu itu, nama Risma di bursa DKI agak tenggelam, lalu mencuat lagi berhari belakangan dengan intensitas dan kekuatan yang cukup impresif.

Sejumlah kelompok warga, di sejumlah wilayah di Jakarta, menggelar deklarasi dukungan terhadap Risma. Lihatlah yang terjadi Minggu, 26 Juni 2016. Ratusan warga di Tanah Merah Jakarta Utara menggelar acara deklarasi mendukung Risma.

Lalu lihat yang terjadi di Jatinegara Jakarta Timur, sehari sesudah Tanah Merah itu. Warga menggelar deklarasi dukungan untuk Risma. Di tempat itu mereka memasang spanduk, “Ahok Tukang Gusur Rakyat, Jokowi jangan dukung musuh rakyat.”

Deklarasi yang sama juga berlangsung di sejumlah tempat. Semua mendukung Risma maju merebut kursi gubernur DKI.

Lalu apa kata para petinggi PDI Perjuangan, partai di mana Risma bernaung? Wakil Ketua Badan Pemilihan Umum partai itu, Gembong Warsono, menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi kader menolak penugasan yang diberikan Ketua Umum Megawati, apalagi jika sudah diputuskan partai. “Tidak ada alasan Ibu Risma menolak penugasan partai,” tegas Gembong, Senin 4 Juli 2016.

Gembong menguraikan bahwa partainya menempuh dua jalur bagi para kader untuk maju di Pilkada. Jalur Penjaringan dan jalur penugasan. Risma bisa dibawa ke Jakarta lewat jalur kedua. Penugasan.

Jika benar diboyong ke Jakarta, dengan siapa pun dia berpasangan, Risma bisa langsung melaju ke meja pendaftaran. PDI Perjuangan menduduki 28 kursi di Kebun Sirih, dan menjadi satu-satunya partai yang bisa mengusung calon sendiri, mulus, sonder koalisi.

Jumlah kursi sebanyak itu diperoleh setelah partai itu meraup 1.231.843 suara pada pemilihan umum dua tahun lalu.

Sandiaga Uno

Partai Gerindra akhirnya resmi mengusung Sandiaga Uno. Nama pengusaha muda itu diputuskan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) partai itu di Hambalang Bogor, Jumat pekan lalu. Dia menyisihkan dua nama lain Yursil Ihza Mahendra dan Sjafrie Sjamsoeddin, yang juga masuk bursa partai besutan Prabowo Subianto itu.

Dengan kekuatan 15 kursi Gerindra di Kebun Sirih, Sandiaga harus mencari partai lain demi melaju ke meja pendaftaran. Salah satu yang agak terang adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang massa akar rumputnya dikenal sangat solid.

Dua hari setelah ditetapkan Gerindra, Minggu 31 Juni 2016, Sandiaga menuturkan bahwa koalisi itu bukan lagi di pelupuk mata tapi sudah pasti, Alhamdulillah, hari ini mendapat kabar gembira. PKS memutuskan mendukung Sandiaga Uno.

Berbekal kabar gembira itu, Sandiaga bisa melenggang ke meja pendaftaran. Dengan tambahan tambahan 11 kursi dari PKS, Sandiaga sudah bermodal 26 kursi.

Kekuatan Partai Lain

Ini yang belum terang benar. Sejumlah partai lain yang juga punya kekuatan yang bertenaga di Kebon Sirih. Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang punya massa kuat di ibukota, misalnya, memiliki 10 kursi.

Partai Demokrat, besutan Susilo Bambang Yudhoyono, juga menduduki 10 kursi, PKB meraih 6 kursi dan PAN 2 kursi. Apakah partai-partai ini mengusung calon lain atau bergabung dengan kekuatan yang sudah ada? Kepastian baru difinal. Meja pendaftaran.

Ketua DPW PPP DKI Jakarta Abraham Lunggana menegaskan bahwa mereka akan berkoalisi dengan partai manapun untuk melawan Ahok. Lulung mengatakan, kemungkinan koalisi gemuk masih cukup besar, meski Gerindra telah mendapuk Sandiaga. “Misalnya, Sandiaga sama calon PDIP. Sandiaga jadi wakil, kan bisa juga.”

Selain tiga nama itu, calon lain yang juga santer disebutkan adalah Yusril Ihza Mahendra dan belakangan Mantan Menko Maritim Rizal Ramli. Yusril sudah lama menyiapkan diri. Rizal baru diberitakan dua tiga hari belakangan.

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Selasa kemarin menggelar konferensi pers meminta Rizal maju ke Pilkada DKI. Sejauh ini Rizal cuma menjawab singkat, “Belum kepikiran.”

Ketua DPD Hanura DKI Jakarta Mohamad Sangaji alias Ongen berharap pihak PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu untuk bersama-sama mendukung Jakarta lebih baik. “Oleh karena itu saya harap kemesraan dengan PDIP bisa segera terjadi,” kata Ongen di Kantor DPD PDI-P DKI, Jakarta Selatan, Senin (1/8).

Sementara PPP tidak ada niatan untuk mendukung Ahok pesaing Sandiaga. Besar kemungkinan PPP akan mendukung pengusaha muda tersebut.

Ketua DPW PPP DKI Jakarta Abraham Lunggana akan berkoalisi dengan partai mana pun untuk melawan Ahok. Lulung mengatakan, kemungkinan koalisi gemuk masih cukup besar. Walaupun Partai Gerindra telah menunjuk Sandiaga Uno sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dalam Pilkada DKI. “Misalnya Sandiaga sama calon (dari) PDIP, dan Sandiaga jadi wakil, kan bisa juga,” katanya saat dihubungi Minggu (31/7).

Sedangkan PDI-P belum menentukan sikap secara resmi hingga hari ini. Tarik ulur antara memilih Ahok atau mengusung calon sendiri masih dilakukan. Bahkan ketua umum PDI-P Megawati Soekarnoputri masih pilih-pilih untuk mengusung calon gubernur DKI.

Bahkan santer terdengar disebut Risma telah ditunjuk sebagai calon gubernur DKI dari PDI-P. Namun wali kota surabaya ini enggan dan memilih surabaya tempat pengabdiannya. Tetapi jika pun Risma maju dengan kendaraan PDI-P dia dapat melenggang secara leluasa dicalonkan hanya satu partai.

Sebab perolehan kursi PDI-P di DPRD sudah mencukupi untuk mengusung calon gubernur DKI tanpa berkoalisi. Dari data KPU, PDI-P memiliki 28 kursi dengan perolehan suara 1.231.843 suara. (*/Redaksi)

iklan1