Tag: pilkada serentak 2020

Menakar Rencana Penundaan Pilkada, Ini Pandangan Dosen Ilmu Politik Unsrat

Burhanudin Niode (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Ekspektasi para praktisi politik, pemerhati demokrasi dan juga para ahli ilmuan politik terus disampaikan. Ragam pandangan yang multi perspektif soal rencana penundaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020. Diantaranya disampaikan, DR. Burhanudin Niode, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISPOL) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) ini menyarankan agar penundaan Pilkada dilakukan, dengan mengusulkan argumentasi dan pertimbangan.

“Sebaiknya pelaksanaan pilkada ditunda tetapi penundaannya tidak terlalu lama, antara Mater atau April 2021. Terlalu lama akan memberikan konsekuensi pendanaan baik bagi penyelenggara maupun para calon. Dari sisi pemilih juga akan bertambah sebagai konsekuensi dari mereka berumur 17 tahun,” kata Niode yang juga menilai gelombang penyebaran Virus Corona (Covid-19) mengharuskan publik mengutamakan keselamatan manusia.

Akademisi yang dikenal murah senyum itu menambahkan bahwa kalkulasi lintas dimensional amat diperlukan dalam kondisi saat ini. Termasuk rentang waktu dimana akan terjadi transisi kepemimpinan di daerah yang akan melakukan agenda Pilkada Serentak 2020.

“Konsekuensi lainnya, aspek pemerintahan. Akan adanya Pelaksana Tugas Kepala Daerah di beberapa daerah, karena masa jabatan Kepala Daerah yang akan berakhir sebelum Pilkada. Tentang calon, akan memberikan peluang untuk lebih mensosialisasikan sekaligus mengimplementasi program sosial-kemasyarakatan, khususnya bidang kesehatan,” tutur Niode, pengajar di Program Studi Ilmu Politik FISPOL Unsrat ini, Selasa (14/4/2020).

Melalui pertimbangan yang matang dari semua pihak yang berkepentingan untuk pelaksanaan Pilkada akan melahirkan garansi adanya kualitas Pilkada mendatang. Bagi para bakal Calon Kepala Daerah pun akan memiliki cukup waktu dalam berkampanye memperkenalkan narasi-narasi politiknya kepada masyarakat luas dengan memanfaatkan waktu yang dinilainya representatif dan mendadak.

“Sehinngga keberhasilan program dari para calon juga akan menjadi salah satu referensi dari pemilih. Disamping itu, memberikan kesempatan kepada memperkuat jaringan politik calon. Intinya bahwa, penundaan dapat mempengaruhi konstalasi politik lokal,” tukas Niode saat diwawancara di Manado.

(*/Bung Amas)

MOR DOMINUS BASTIAAN Dalam Siklus Kepemimpinan

Mor Dominus Bastiaan (Foto Istimewa)

PEMIMPIN yang dikenal kalem, murah senyum dan akrab dengan masyarakat, dialah Mor Dominus Bastiaan, Wakil Wali Kota Manado. Selasa 17 Maret 2020 hari ini, sosok politisi humble itu genap berusia 46 Tahun. Usia yang terbilang produktif, bukan lagi milenial, namun tidak tergolong kolonial. Di usia 46 Tahun menandakan MDB singkatan dari nama panjang Mor, tidak sedikit mengoleksi pengalaman sebagai politisi. Jatuh bangun, tentu dirasakannya.

Pria yang lahir di Manado tanggal 17 Maret 1974 itu memiliki karir politik berkilau. Pernah terpilih sebagai anggota DPRD Kota Manado masa periode 2004-2009. Kemudian periode berikutnya, 2009-2014 ia kembali diberi amanah sebagai wakil rakyat dan menjabat Wakil Ketua DPRD Kota Manado. Menariknya, saat kiprahnya menanjak, di Pemilu 2014 Mor milih tidak bertarung sebagai Caleg. Menariknya, Mor dipinang GS Vicky Lumentut, menjadi calon Wakil Wali Kota Manado dan akhirnya terpilih.

Kondisi tersebut bukan berarti semua impian atau cita-cita Mor membangun Kota Manado terpenuhi seluruhnya. Sembari membaca eskalasi politik jelang Pilkada Serentak 2020, dimana Kota Manado juga akan menggelar hajatan Pilwako, tentu kehadiran Mor untuk tampil di bursa Calon Wali Kota Manado dinantikan. Menginjak usia 46 Tahun tentu Mor diharapkan publik untuk makin arif dalam menyikapi dinamika politik. Warga tentu berharap politisi blak-blakan ini tampil menjadi pemimpin yang tegas.

Di tengah ekspektasi dan realitasi sosial di Kota Manado, Mor yang juga Bendahara DPD Partai Demokrat Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini memiliki narasi besar membangun ‘Kota Tinutuan’ ini agar makin berkembang. Jika kita tengok beberapa spanduk yang terpasang, Mor Bastiaan rupanya merindukan suasana Kota Manado menjadi benar-benar rukun. Predikat Manado sebagai Kota Paling Toleran yang disematkan Setara Institut menurut Mor perlu dihidupkan, dibumikan, menjadi gaya hidup masyarakat. Kerukunan bukan sekedar dipertontonkan.

Apalagi dipentaskan hanya sekedar pameran kebudayaan yang berkepentingan politik. Namun lebih dari itu, rukun dan damai, saling menjaga, toleran serta saling menghormati menjadi cerminan dari kesantunan yang terlahir dari kesadaran kolektif masyarakat. Semua menghidupkan sikap toleran, bukan slogan semata. Tidak sekedar dalam bentuk himbauan, atau tontonan melalui iven festival terbuka, melainkan harus paten terpatri dalam kebudayaan masyarakat. Terbangun tradisi positif yang diciptakan melalui perilaku saling mengasihi, itulah toleransi sesungguhnya. Mor Bastiaan berharap Manado di berhati, sehingga damai dan sejahtera menyertai warganya.

Memacu prestasi menurut Mor bukan sekedar mengejar penghargaan dan pujian. Melainkan membangun kebiasaan baik, disiplin dan kerja keras penuh integritas yang ditunjukkan bagi seorang politisi. Pemimpin yang disebutnya harus menjadi pelayan publik. Tidak rakus, tidak melakukan praktek tercela, pikun terhadap aspirasi masyarakat atau berperilaku koruptif. Mereka yang berani, tegas dan santun, siap menerima segala konsekuensi sebagai pemimpin yang berpihak pada kepentingan keberagaman. Bukan berpihak dan diskriminasi terhadap masyarakat.

Tidak hanya itu, Mor begitu rutin menyampaikan tentang optimisme dan perbuatan baik. Baginya, semua optimisme, niat baik dan usaha untuk kebaikan bersama akan berbuah baik. Selain itu, pemimpin juga merupakan duta yang menjadi teladan, pelopor, inspirasi dan pilar pembangunan. Masyarakat yang masih mengalami beban ketergantungan (dependency ratio) secara ekonomi, harus diberikan kebijakan yang berpihak membantu ekonomi mereka agar tidak terpuruk. Itulah termasuk visi besar yang rupanya akan diperjuangkan Mor, ketika nanti menjadi Wali Kota Manado. Tidak main-main memang memikul beban dan tanggung jawab sebagai pemimpin.

Publik tentu berharap di usia 46 Tahun yang juga menjadi nomor keberuntungan Valentino Rossi, pembalap terkenal dunia, bukan hal kebetulan semata. Tapi keberuntungan tersebut bisa didapati Mor disaat Pilwako Manado 2020. Seorang juara dunia empat kelas yang berbeda diraih Rossi, sebuah capaian yang luar biasa. Mor juga dalam beberapa percakapan dan sambutan resmi menyampaikan tentang pentingnya menciptakan kesamaan (equality) di tengah masyarakat.

Mor juga prihatin dan cemas melihat kekerasan, serta kemiskinan yang terbuka di masyarakat. Dalam buku Kekerasan dan Kapitalisme yang ditulis Jamil Salmi menyebut bahwa akumulasi modal berbanding lurus dengan akumulasi kekerasan. Perbudakan, rasisme, perang, kelaparan dan kejahatan yang terungkap. Jamil menyodorkan hasil analisis bahwa kekerasan yang merebak sekarang bukanlah akibat dari kecelakaan sejarah, penyimpangan yang tidak terduga, atau kebetulan belaka.

Artinya bahwa kekerasan merupakan buah langsung dari sistem kapitalisme. Soal siklus kekerasan dan memangkas atau membenahi pangkalnya cukup diketahui Mor, ia memiliki konsep konsolidasi yang berbasis integrasi. Kedepan di Kota Manado kemajuan dan perolehan yang didapati pemerintah saat ini, dapat terus dimajukan. Kemudian, hal-hal program yang belum direalisasikan, dapat diseriusi. Keberpihakan kebijakan kepada masyarakat marginal kiranya penting dilakukan.

Terkait bidang sosial dan ekonomi, pemerintah daerah Kota Manado tentu telah punya indikator keberhasilannya. Ada peta jalan sebagai acuan pemerintah dalam melakukan kerja perbaikan kesejahteraan, solidaritas masyarakat. Sehingga menjauhkan masyarakat dari kondisi yang rawan dan sensitif atas terlahirnya konflik sosial. Menjawab itu semua, maka sumber daya manusia yang unggul menjadi komponen pentingnya. Jangan pernah menciptakan diparitas lagi di masyarakat.

Kita berharap Mor Bastiaan menjadi figur yang lebih peka terhadap kepentingan masyarakat. Lahir dari gelombang keluhan dan kerinduan masyarakat. Mor hadir memberi warna dalam siklus kepemimpinan di Kota Manado yang perkembangannya menanjak, membaik dan maju dalam menggenjot pembangunan. Kehadiran pemimpin yang dirindukan di Kota Manado pada Pilkada Serentak 2020 secara politik tidak mudah kita takar. Keunggulan dan kerja konkrit dari Mor saat ini yang akan menjadi obat, vitamin, magnet dan bargaining bagi pemilih untuk memilih dirinya.

Mor secara serius membingkai kerinduannya atas persatuan pada ungkapan atau diksi ”mari torang baku-baku bae”. Kalimat yang berarti ajakan untuk masyarakat mengedepankan sikap solidaritas, hidup bersama senasib sepenanggungan. Semangat yang dibalut atas sikap yang baik, jauh dari pertengkaran dan konflik. Saling kecam serta menjegal antara satu dengan yang lain, hal itulah yang dihindari Mor. Guna mewujudkan peradaban demokrasi yang berkualitas, kuncinya yaitu hidup rukun dan damai melalui ”mari torang baku-baku bae”.

 

—————————————————————

Oleh : Bung Amas, Jurnalis dan Alumni FISPOL Unsrat

RICHARD SUALANG: Berbeda Itu Kawan

Ajakan ODSK (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Tidak semua politisi memikirkan tentang keutuhan demokrasi. Kita dapat menyaksikan itu dari diksi, kampanye maupun praktek-praktek merusak demokrasi dilakukan. Berbeda dengan watak seperti itu, dr Richard Sualang, Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Kota Manado malah memberikan edukasi politik kepada masyarakat Manado saat menatap agenda Pilkada Serentak 2020.

Richard yang saat ini sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) itu mengajak masyarakat luas, tidak hanya konstituennya untuk berpolitik dengan penuh kegembiraan. Menurut Richard berbeda dalam pilihan dan sikap politik itu hal biasa dalam konteks berdemokrasi, ia bahkan menyebut pebedaan sebagai suatu bagian dari perkawanan.

”Berbeda itu kawan. Jangan saling bermusuhan, jangan saling menebar hoax untuk meraih kemenangan. Kita harus dewasa berpolitik, berkomitmen memperkuat demokrasi dengan sikap tatak rama. Baik politisi dan masyarakat sama-sama saling merangkul. Kemudian, tetap tenang dan mendukung pemerintah ODSK untuk warga Sulawesi Utara,” ujar Richard, Jumat (28/2/2020) saat diwawancarai Suluttoday.com.

Politisi yang juga terlahir proses sebagai aktivis mahasiswa itu menyampaikan jika semua masyarakat melakukan praktek politik dengan kesantunan, maka langkah awal melakukan perubahan akan berjalan baik. Richard tak mau terjebak pada pemahaman politik yang parsial. Politisi yang dikenal berwawasan nasionalis itu mengajak agar masyarakat terlihat aktif menyukseskan Pilkada Serentak 2020, termasuk memilih pemimpin yang hebat dan punya visi menyatukan masyarakat.

”Mari kita bangun narasi politik yang menyejukkan masyarakat. Perkuat kerukunan, jaga kebersamaan. Pembangunan di daerah ini akan berjalan lancar dan sukses manakala diawali dengan proses berdemokrasi yang penuh dengan pikiran positif. Kebersamaan itu perlu ditamakan, jangan memahami politik secara sempit. Terutama kita-kita yang notabenenya politisi, ayo rangkul serta ajari masyarakat untuk berpolitik santun, kita sukseskan Pilwako Manado dan Pilkada Serentak 2020 di Sulawesi Utara. Jangan lupa pilih pemimpin yang telah teruji, bersatu kita maju dan menang. Kita pilih pemimpin hebat,” kata Richard yang juga digadang-gadang maju sebagai calon Wali Kota Manado ini.

Richard juga mengingatkan agar sesama politisi jangan saling memukul, melainkan saling merangkul. Baik politisi yang searah kepentingan politik, maupun yang beroposisi, bagi Richard kontestasi politik mestinya dimaknai sebagai proses berkawan. Tak ada lawan dalam politik, melainkan hanya kawan. Sehingga pentingnya sama-sama saling menguatkan untuk mewujudkan pembangunan. (*/Amas)

Siap Perang Total, Ini Sikap ODC untuk Pilwako Manado

Olly Dondokambey dan Ferry Keintjem (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Selain intens turun mengamankan basis massa dan konsolidasi dalam rangka menang di Pilwako Manado, 23 September 2020, Olly Dondokambey Center (ODC) Manado juga menyiapkan strategi yang matang. Hal itu sebagaimana disampaikan Ferry Keintjem, SE Ketua ODC Kota Manado, Kamis (27/2/2020). Menurut Keintjem untuk memenangkan Pilwako Manado tentu pihaknya akan bekerja total dan sungguh-sungguh.

”Kami siap perang total untuk menang di Pilwako Manado 2020. ODC Kota Manado sedang giat-giatnya turun ke lapangan, sosialisasi, merawat basis pendukung dan akan meningkatkan konsolidasi tentunya. Prinsip kerja bersama, kompak serta satu komando akan kita jalankan. Kerja-kerja politik tentu sebagaimana perintah Ketua Dewan Pembina, Pak Olly Dondokambey yaitu bersatu kita maju dan menang, dengan soliditas bekerja politik, sportif dan menghormati nilai-nilai demokrasi,” ujar Keintjem.

Sementara itu, soal beredarnya informasi tentang dukungan ODC terhadap salah satu bakal calon dari PDI Perjuangan yang akan diperjuangkan untuk mendapatkan rekomendasi mendapat bantahan Ketua ODC Manado. Menurut Keintjem pihaknya menunggu keputusan final dan arahan Olly, apa yang diputusakan PDI Perjuangan pihaknya berkewajiban berjuang memenangkan.

”ODC Manado siap perang total. Untuk sementara kita tidak berpihak ke bakal calon tertentu yang sekarang mereka-mereka adalah kader terbaik dan aset PDI Perjuangan. ODC Manado akan menunggu perintah Pak Olly Dondokambey, siapa yang diputuskan kita akan berjuang mati-matian memenangkannya. Pilwako Manado harus dimenangkan PDI Perjuangan, kita berjuang full 100 % sesuai arahan dari Pembina ODC,” ujar Keintjem tegas.

Sekedar diketahui, baik Richard Sualang, Aaltje Dondokambey, Andrei Anggow, James Sumendap maupun Robby Dondokambey, serta kader terbaik PDI Perjuangan lainnya yang diputuskan menjadi calon Wali Kota Manado, ODC Manado siap memenangkannya. Semua keputusan yang akan dilakukan ODC bulat bergantu pada Olly Dondokambey. (*/Amas)

Bung Richard, Peradaban Demokrasi, dan Pilkada Serentak 2020

dr Richard Sualang (Foto Istimewa)

ORIENTASI politik bukan pada usaha merebut kekuasaan. Tapi lebih dari itu, adalah mensejahterakan masyarakat. Realitas hari ini yang tersaji, tidak sedikit politisi kita disibukkan dengan kepentingan sesaat. Mereka fokus pada interest jangka pendek seperti perebutaan kekuasaan, lalu menutup mata, atau mengabaikan kepentingan publik. Aspirasi masyarakat ditanggapi mereka dengan sekedar memenuhi ketentuan prosedural, menunaikan tanggung jawab karena telah dipilih.

Tidak lebih, pada wilayah merasa senasip dan sepenanggungan dengan masyarakat. Politisi, utamanya mereka yang menjadi wakil rakyat belum memahami sepenuhnya keberadaan dan posisi mereka. Alhasil, seperti yang pernah dibahas Antonio Gramsci, terlahirlah perang posisi. Masyarakat yang menjadi pemberi kedaulatan demokrasi malah dimanfaatkan, sehingga kemudian masyarakat berperang atau beroposisi dengan politisi. Di titik inilah hegemoni politik terbangun.

Politisi yang sederhana seperti Bung Richard menilai ruang dialog perlu dihidupkan. Minimkan dominasi berlebihan, kemudian lahirkan kerja bersama. Demokrasi yang meletakkan masyarakat sebagai bagian tertinggi perlu mendapat perhatian serius. Nilai demokrasi jangan dipahami dengan tafsir terbatas, melainkan interpretasi yang universal dan juga terbuka. Demokrasi membawa agenda kesejahteraan, bukan memiskinkan masyarakat. Itulah cita-cita suci demokrasi yang perlu dimaterilkan.

Situasi tarung persepsi politik kini selalu menyeret perhatian politisi. Hingga membuat politisi terbawa arus benturan kepentingan. Waktu dan energi mereka tersita pada dinamika yang tidak substansial. Mestinya politisi itu sadar posisi. Ia harus memperjuangkan kepentingan masyarakat, tanpa mengajukan dalil apapun. Di Provinsi Sulawesi Utara dan Kota Manado khususnya, politisi populis juga masih ada. Tidak boleh juga kita melakukan generalisasi, bahwa semua politisi mis-realitas. Kehadiran politisi yang peduli pada keperluan dan kebutuhan masyarakat umumnya dapat dicirikan dari cara mereka berkomunikasi, menempatkan diri ditengah masyarakat dan mengawal, bekerja maksimal jika menjadi wakil rakyat.

Tiga tugas pokok politisi sebagai wakil rakyat yaitu membuat undang-undang, membahas atau memberikan persetujuan terkait anggaran dan mengawasi undang-undang tersebut. Jika tiga hal itu dijalankan secara konsisten, maka kemuliaan wakil rakyat akan dapat dipertanggung jawabkan. Mereka layak dipilih. Dijadikan panutan oleh masyarakat. Jangan menjadi wakil rakyat yang tertular penyakit 4D (Datang, Duduk, Diam dan Duit). Melainkan, jadilah wakil rakyat yang produktif, progresif, aktif menyuarakan aspirasi masyarakat. Tidak menjadi masa bodoh.

Diantara politisi yang mempunya kepedulian terhadap masyarakat adalah Richard Sualang. Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara itu tidak mau menjadi politisi yang sesat. Menurutnya sebagai politisi, tugas suci yang harus dilakukan yaitu mengabdikan diri kepada masyarakat. Selain menginternalisasi tiga tugas penting tersebut, Bung Richard juga terlibat di depan sebagai agen yang ikut memperkuat spesi integrasi kebangsaan. Baginya politisi itu menyatu penyatu, bukan pemecah kerukunan masyarakat.

Indahnya Peradaban Demokrasi

Peradaban demokrasi haruslah dikonstruksi. Upaya ke arahan itu dipelopori para politisi, tentu politisi yang berwawasan nasionalis. Politisi yang rindu dan mempunyai akal sehat, mereka yang memimpikan kemajuan bersama. Peradaban demokrasi tidak akan termanifestasi, bila politisi diam. Atau pula bertindak merusak tatanan nilai demokrasi, menampilkan peran saling menjatuhkan. Investasi membangun peradaban yaitu dasarnya kasih sayang, dari situlah muncul kejujuran, keadilan, egaliter, saling menghormati, kemanusiaan akan lahir, sehingga bertumbuhlah kemakmuran masyarakat.

Dari sejumlah hal menarik dalam diskursus politik, rupanya tantangan politisi yakni menghidupkan kembali kesadaran konstruktif. Teridentifikasi yang melemahkan nilai demokrasi juga tak lain hadir dari kontribusi para politisi. Mereka yang memelihara politik pragmatis transaksional atau politisi yang malas mikir, malas baca buku, lalu mudah termakan isu-isu sentimental, propaganda dan hanya memikirkan diri sendiri. Harusnya politisi memberi teladan. Menenangkan, menjadi cahaya penunjuk arah dan melalui perilakunya terpancarlah kebijaksanaan.

Tidak tepat jika politisi menjadi pemantik keresahan di tengah masyarakat, sebagaimana disampaikan Bung Richard. Atas dasar melahirkan ketenangan itu, ia merekomendasikan pandangan revitalisasi demokrasi dalam istilah mengikat peradaban demokrasi yang sejuk. Demokrasi itu menjadi jembatan, pintu masuk dan wadah yang mempersatukan masyarakat dari beragam kepentingan atau perbedaan. Jangan menjadi politisi yang meresahkan masyarakat, perilaku toleran dan kompromi itu telah berhasil ditunjukkan Bung Richard.

Menurutnya politis bertugas sebagai jarum dan benang. Bukan seperti gunting yang memisahkan. Politisi perlu memperkuat soliditas, bukan melemahkan, apalagi membelah, menciptakan polarisasi. Formulasi itulah yang efektif menjadi pegangan politisi dalam mengupayakan sebuah proses pembangunan yang komprehensif. Baginya satu musuh dalam politik terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit. Selaku mahluk sosial, manusia harus menjaga kekerabatan, relasi sosialnya dimantapkan.

Jika ada politisi yang akrab dengan pertengkaran dan konfrontasi, kata Bung Richard capaiannya sebagai politisi patut diragukan. Karena politisi negarawan tidak pernah mengenal dendam, musuh, permusuhan abadi. Disebutnya cermin diri politisi itu ada pada adaptasi sosial, pergaulannya yang luas, sejauhmana ia bertahan hidup, dan fleksibel dalam mengkomunikasikan kepentingan politiknya. Politisi tidak mengenal musuh abadi. Sehingga dalam Pilkada Serentak 2020, kompetisi demokrasi perlu dilandasi dengan semangat kebersamaan dan sportifitas.

Richard saat mengikuti kegiatan PDI Perjuangan (Foto Istimewa)

Politisi perlu punya keberanian berdialog. Melalui dialog pula, tambah Bung Richard semua problem dan kepentingan dapat dibuatkan kanal sebagai solusi. Melalui komunikasi politik semua politisi akan belajar dewasa berpolitik dan menghormati antar sesama. Demokrasi akan tumbuh subur bila disuplay dengan dialog yang bermutu. Bukan konfrontasi kepentingan terus-menerus, tanpa henti. Belum lagi percakapan publik didesain untuk menjadi panggung atau lapak yang representative bagi semua golongan masyarakat, cara tersebut lebih bersifat mengedukasi, dan tentunya sangat tepat.

Era Demokrasi Digital, Dimana Politisi?

Setelah diskusi dengan Bung Richard yang juga Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Kota Manado, tergambar tentang gagasan besar dalam soal politisi di era demokrasi digital dimaknai Bung Richard secara baik. Selaku politisi ia memberi distingsi atau batasan terkait peran politisi di ruang media sosial. Bahwa politisi wajib menjadi corong kebaikan saat menggunakan media sosial. Pengetahuan, pengalaman dan pikiran-pikiran bernas dari politisi jangan dibuat mangkark, tapi disalurkan.

Demikianlah era demokrasi digital, bila terlambat beradaptasi dengan percepatan informasi dan ilmu pengetahuan, maka kita ketinggalan. Segala pergerakan menjadi deras di era ini, demokrasi mendapatkan peluang, sekaligus tantangan. Politisi juga tak boleh menyepi dari ramainya hiruk-pukuk dunia digital sekarang ini. Silahkan menjadi penyejuk, pemberi pencerahan. Menjadi politisi tidak boleh alergi dengan perbedaan pandangan, kritik, hinaan dan juga sanjungan. Semua itu menjadi satu paket dalam pelajaran demokrasi politik di tahan air Indonesia.

Kemudian ada tata caranya menghadapi semua itu sebagai politisi. Jangan emosional, santun dan menunjukkan level sebagai politisi negarawan, bukan politisi anak bawang yang abal-abal. Melalui dialektika yang dewasa, bermartabat di raung sosial media, maka simpati publik juga mengalir. Dukungan masyarakat menjadi kuat, walau bukan keharusan seorang politisi hendaknya menjadi penganut atau budak di era digitalisasi. Politisi ikut membagikan sampah-sampah peradaban. Memposting atau melakukan share terhadap informasi yang berpotensi memicu kekacauan di masyarakat, hindarilah hal-hal tersebut. Berusahalah menjadi politisi santun, tidak reaktif, tidak pula menjadi tukang menghakimi orang lain.

Membendung arus informasi yang gencar memang memerlukan kiat-kiat. Bukan asal melontok, asal melawan dan melakukan konter isu dengan cara-cara saling menebarkan kecaman. Lebih dari itu, politisi harus memberi solusi yang menyejukkan. Hadir mematikan api yang menyala-nyala kencang, bukan sebagai pemacu, ikut membesar-besarkan masalah. Jadilah politisi yang memancarkan kasih sayang.

Politisi harus mempertegas diri di era demokrasi digital ini, tentu sebagai agen yang aktif. Ia aktif melakukan pencerahan politik, minimalnya tidak gaptek. Selain itu, politisi perlu mengikuti informasi, tidak terlambat menyesuaikan akselerasi pembangunan di sektor digitalisasi. Melalui penyesuaian itu, politisi kita tidak ketinggalan. Ada problem yang bersifat jangka panjang juga bisa mampu diatasi atau diantisipasi politisi kita kedepannya.

 

________________________

Oleh : Amas Mahmud, S.IP, Jurnalis dan Sekretaris DPD KNPI Manado
iklan1