Tag: PKS

Di Rumkop K8 Sario, Balon Wawali Manado Suarakan Pentingnya Sinergitas

Abid Takalamingan saat memaparkan visi membangun Manado (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Politisi senior Sulawesi Utara (Sulut), Abid Takalamingan, S.Sos.,MH, Senin (13/1/2020) menggelar NGEBID (Ngobrol Bareng Abid), di Rumah Kopi (Rumkop) K8 Sario Kota Manado. Abid yang digadang maju dalam Pilwako Manado 2020 ini menyampaikan beberapa pemikirannya tentang pembangunan Kota Manado. Menurut Abid kompleksitas masalah di Manado memerlukan pemimpin yang berwawasan luas, punya pengalaman dan memiliki niat baik membangun Kota Manado.

“Dalam mematerilkan pembangunan, maka diperlukan sosok pemimpin yang mapan dan matang. Konteks Manado hari ini memang tak luput dari ragam masalah, itu sebabnya kedepan harus ada pemimpin Kota yakni Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado yang mampu melakukan terobosan. Saya menilai Manado sebagai Kota Jasa, perlu melakukan akselerasi pembangunan. Pemimpinnya harus seiring-sejalan, tentang pemberdayaan dan partisipasi publik wajib ditingkatkan,” kata Abid yang mendaftar sebagai bakal calon (Balon) Wakil Wali Kota Manado dari PDI Perjuangan ini.

Selain itu, Abid yang juga aktivis muda Sulut itu mengurai soal esensi pembangunan daerah yang harus berimbang. Mantan anggota DPRD Sulut ini juga menyentil terkait konsistensi pemimpin dalam pembangunan. Selain itu, guna menakar proses pembangunan yang universal, maka pemimpin itu harus berbiasa dari menjalankan komitmen-komitmen kecil.

Suasana berlangsungnya NGEBID (Foto Suluttoday.com)

“Perlu sinergis dalam pembangunan di Manado dan Sulut. Bahwa Manado adalah bagian dari Sulawesi Utara relas pembangunannya mesti sejalan dan harmoni dalam deru kemajuan. Tentu lebih optimal pembangunan di Kota Manado bila pemimpinnya betul-betul selaras dengan program pemerintah Provinsi Sulut. Sebab pembangunan itu bersifat terintegrasi, jangan sampai kelihatan abnormal sinergitas yang dilakukan. Kan semua perubahan memerlukan komitmen pemimpin, disinilah kuncinya,” ujar Abid mantan Ketua DPW PKS Sulut pertama ini tegas.

Balon Wawali Manado, Abid saat menyapa masyarakat Manado (Foto Suluttoday.com)

Untuk diketahui, NGEBID kali ini dihadiri Staf Khusus Gubernur Sulut, Olden Kansil, mantan Panglima Brigade Masjid Sulut, Mursjid Laidja, Ketua PRD Sulut Jim R Tindi, dan Fiksiwan Sulut, Reiner Ointoe, pengurus SI Manado, Bung Bua. Hadir pula pimpinan Ormas, jurnalis, aktivis perempuan dan tokoh masyarakat lainnya. (*/Redaksi)

Mursjid Laidja saat memberikan pandangan (Foto Suluttoday.com)

Dapat Nomor 8 Lagi, SAAFA: PKS Optimis Mengalami Lompatan Politik Kedua

Syarifudin Saafa dan logo PKS serta Nomor Urut (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Pencabutan Nomor Urut Partai Politik (Parpol) telah usai, berbagai euforia terlihat dieskpresikan para kader masing-masing parpol. Berbeda dengan yang lain, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kembali seperti memperoleh momentum yang sama, pasalnya saat pengundian Nomor Urut PKS kembali memperoleh Nomor 8 seperti di tahun 2009 silam.

Menurut Syarifudin Saafa, ST.,MM Ketua DPW PKS Sulawesi Utara (Sulut) perolehan Nomor Urut 8 mengisyaratkan bahwa PKS akan mengalami lompatan kuantum (quantum leap). PKS, kata Saafa yang juga anggota DPRD Kota Manado itu mengaku optimis akan kembali mengalami kejayaannya dan dapat meraih target politiknya secara Nasional.

”Alhamdulillah, PKS mendapatkan nomor 8. Mengingatkan kami akan memori PKS mengalami lompatan dalam jagat politik Indonesia. Dimana tahun 2009 nomor partai adalah nomor 8. Insya Allah tahun 2019 ini, akan menjadi momentum PKS yang mengalami lompatan kedua dan mudah mudahan akan menjadi partai dengan capaian minimal 12% kursi nasional,” ujar Saafa.

Selain itu, Saafa juga menyampaikan pantun sebagai berikut; ‘Cantik Selendang Putri Melayu, Menata bunga di atas nampan, Kalau ingin Indonesia maju, Pilih saja nomor delapan’. (*/Redaksi)

Alhamdulillah, Melaju PKS Sulawesi Utara Lolos Verifikasi Faktual

Ketua DPW PKS Sulawesi Utara, Syarifudin Saafa (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Kegembiraan sekaligus menjadi capain yang membanggakan bagi kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Dimana, DPW PKS Sulut yang dipimpin Syarifudin Saafa, ST ini berhasil membawa DPD PKS Kabupaten/Kota se-Sulut untuk lolos verifikasi faktual di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

”Tentunya, dengan lolosnya verifikasi faktual di PKS di tingkat Kabupaten/Kota se-Sulawesi Utara, menjadi sebuah kebanggan bahwa inilah wujud kerja tim. Kami bergembira dengan terus menunjukkan kerja keras memajukan PKS di Sulut, hari ini dan kedepannya,” kata Saafa sembari menyampaikan ucapan Syukur Alhamdulillah.

Saafa juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh kader PKS dan pengurus yang telah bekerja bahu-membahu tanpa kenal lelah, bekerja siang, malam demi meloloskan PKS di KPU. Saafa menyebutkan hasil yang diperoleh kini, dimana PKS di Sulut telah lolos hingga mencapai 100%.

”Alhamdulillah, kita telah mencapai target 100%. PKS Sulut sudah siap take off, dan insya Allah di tahun politik ini PKS akan terbang menggapai impian rakyat. Oleh karna itu, bagi putra-putri terbaik Sulawesi Utara yang ingin berkarir dan mengabdi di dunia legislatif, silahkan datang di kantor PKS. Kita berkomitmen memberikan ruang dan terbuk bagi semua pihak,” ujar Saafa yang juga anggota DPRD Kota Manado dua periode ini. (*/Maikel)

Pilgub DKI Jakarta, Prabowo Temui SBY

Prabowo Subianto dan SBY (Foto Ist)

JAKARTA – Calon wakil gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno mengatakan rencana koalisi antara Partai Gerindra dan Partai Demokrat langsung di putaran dua ditangani oleh pimpinan Partai Prabowo Subianto. Saat ini Prabowo tengah menunggu kabar dari Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mengadakan pertemuan keduanya.

“Pak Prabowo lagi menunggu waktu dari Pak SBY. Setelah jadwal memungkinkan akan dilakukan pertemuan,” ujar Sandiaga di Jakarta Timur, Senin (27/2/2017).

Lebih lanjut Sandiaga menuturkan, pertemuan dengan pimpinan partai lain langsung ditangani oleh para Sekjen dari Partai Gerindra dan PKS. Komunikasi koalisi Partai Gerindra dan PKS pun menjalin komunikasi yang baik dengan 3 parpol lainnya yakni PKB, PPP dan PAN.

“Dengan ketua parpol lain ditangani oleh Sekjen Gerindra dan Sekjen PKS. Sampai saat ini sudah berjalan,” ujar Sandiaga.

Lebih lanjut Sandiaga mengaku baik Partai Gerindra maupun PKS telah melihat peluang adanya sinergi yang terbangun dengan partai pendukung Agus Sylvi. Karenanya sesuai arahan Prabowo, PKS dan Gerindra memilih jemput bola untuk memenangkan pasangan Anies Sandi di putaran kedua 19 April mendatang.

“Kami diberi tahu oleh Pak Prabowo bahwa kita akan jemput bola. Kita akan inisiatif untuk menghubungi agar aspirasi (pendukung) Agus Sylvi bisa terwakili nanti,” ungkap Sandiaga.

Sandiaga memastikan di putaran kedua Anies Sandi bisa menghadirkan solusi untuk berbagai masalah yang dihadapi warga Jakarta. Juga bisa menarik perhatian pendukung Agus Sylvi untuk merapatkan barisan mendukung pasangan nomor urut 3.

“Pada putaran kedua Anies Sandi bisa hadirkan solusi bagi masalah dihadapi warga Jakarta dan menarik harapan pendukung Agus Sylvi,” pungkasnya. (*/ST)

Politik Pasca 411 dan 212, SBY Seperti Sendiri Dikeroyok

Demo 212 belum lama ini (Foto Ist)

Demo 212 belum lama ini (Foto Ist)

Oleh: Erizal

Peta politik berubah cepat. Pasca demo 411, Presiden Jokowi dibuat kalang kabut. Organ-organ negara, dibuat siaga satu dan harus dipastikan. Seperti ada musuh yang hendak menyerang. Siapa itu? Itulah yang tidak terjawab. Demo 411 berlanjut ke 212, dan nyatanya, jauh lebih besar.

Hubungan Jokowi dan Prabowo, semakin mesra. Sebelum dan sesudah demo 411, terjalin komunikasi dan kesepakatan, untuk saling menjaga. Sinyal koalisikah? Bukan mustahil! Tak ada yang abadi dalam politik, kecuali kepentingan. Kubu-kubuan pasca pilpres, benar-benar berakhir.

Hitung-hitungan kursi DPR, belum cukup. Hitung-hitungan massa juga diperlukan. Siapa yang punya massa, juga perlu diidentifikasi. Bila massa, bertemu dengan tokoh yang kharismatik dan kuat, itu bahaya. Apapun bisa terjadi. Sudah betul, Jokowi merapat ke Prabowo dan Prabowo buka peluang. Apapun, Prabowo masih menjadi antitesis Jokowi. Belum ada yang menggantikan.

Apalagi Prabowo masih satu mata uang dengan PKS. PKS, tercatat punya jaringan massa yang besar dan solid. Belum ada yang menandingi. PKS juga masih terikat dengan Prabowo. Tak salah, PKS yang paling pertama dihubungi setelah bertemu Jokowi. Dan PKS, manut-manut saja.

Pasca pergantian rezim, PKS sebetulnya sudah mau mengubah haluan. Tapi, seperti malu-malu kucing. Istilah oposisi loyal adalah sinyal. Termasuk, pemecatan Fahri Hamzah. PKS ingin lebih soft. Mantan pejabat dari PKS, juga ingin tenang. Tidak mau diuber-uber, karena ulah Fahri. Fahri melawan. Ini juga memusingkan. Memenangkannya paling efektif pakai kekuasaan, belajar dari konflik Golkar dan PPP. Malah, PPP makin rumit kini, sudah diaduk-aduk kayak buat tempe.

Tapi, sayang, Jokowi tak menangkap sinyal itu. Semua dapat jatah, kecuali PKS-Gerindra. Seolah-olah memang sengaja ditempatkan di luar. Keduanya paling getol dan fundamental waktu pilpres. Mengakomodir semuanya juga mustahil. Demo 411 dan 212 seperti mengubah segalanya.

Demo 411 dan 212, benar-benar di luar perkiraan. Puluhan ribu, ternyata mencapai jutaan. Orang-orang kayak hendak tawaf dan wukuf di Istana dan Monas. Belum termasuk yang demo di daerah-daerah dan berhalangan hadir. Kebayang bila bergabung? Prabowo termasuk PKS, secara resmi tak turun demo 411. Kebayang jika mengatakan ikut demo? Sendi-sendi pemerintahan bisa ngilu-ngilu dan goyang. Demo 411 dan 212 ditunggangi, bukan isapan jempol. Ini PR tak selesai.

Koalisi Prabowo, Jokowi, dan PKS, sangat menjanjikan. Apakah hanya tentatif, atau akan permanen? Tentu, harus dibuktikan, dengan masuk ke kabinet. Artinya, harus ada reshuffle. Tapi, dalam waktu dekat, rasanya belum. Masih terlalu telanjang, dan bisa memunculkan masalah baru.

Selain itu, bisa menjadi sekoci baru buat Jokowi, di pilkada DKI Jakarta, jika Ahok benar-benar karam. Mustahil, Jokowi memihak Agus-Sylvi. Dugaan Anies-Sandi sebagai calon titipan Istana sejak awal, makin terang. Itu ancaman serius buat Agus-Sylvi. Perang bubat, tak terhindari.

Sejak awal, tembakannya ke SBY. Tak hanya demo 411, tapi apapun, seolah-olah, terkait khusus dengan SBY. Kematian Munir, SBY juga. Listrik mangkrak, SBY juga. Malah, bebasnya Antasari, SBY juga. Malangnya SBY, semuanya mengarah ke dia. Dia seperti sendiri, dikeroyok, dari berbagai arah. Tak salah SBY emosional dan seperti curhat. Awalnya memang, pilkada DKI.

Kemunculan Agus Harimurti Yudhoyono, diluar perkiraan. SBY, seperti bangkit kembali. Sambutannya luar biasa. Dielu-elukan kaum muda sebagai pemilih terbesar. Tak hanya PDIP dan Jokowi, termasuk Prabowo pun, mungkin kecolongan. Ternyata, SBY tak sekadar mencari lawan buat gubernur DKI, tapi sekaligus mencari lawan buat pilpres. Puzzle politik mesti disusun ulang.

Mestinya tak harus berkaitan dengan pilkada DKI. Tapi, karena terkait dengan Ahok, dan Ahok salah seorang calon gubernur di pilkada DKI, dan demo 411 dan 212 itu merupakan reaksi dari ulah Ahok, sehingga semua kait-mengkait. Ahok telah menyentuh, hal paling sensitif dalam bernegara. Kata Ratna Sarumpaet saat 411, Ahok ini ketelingsut karena kesombongannya sendiri.

Bagaimana PAN, PPP, dan PKB sebagai mitra koalisi Demokrat di pilkada DKI? Apakah juga akan ikut membayar utang? Artinya, dikeluarkan dari barisan parpol pendukung pemerintah. Masih terlalu panjang. Tapi, bagaimanapun, ketiga parpol ini, juga pernah bermitra dengan SBY. Malah, dua periode. Artinya, politik pasca 411 dan 212, makin seru. Ketua DPR RI saja berganti.

Sementara PDIP, Golkar, Hanura, dan NasDem, bersepakat tak akan mencabut dukungan terhadap Ahok, apapun yang akan terjadi. Ahok tidak bakal dibiarkan sendirian. Artinya, tuahnya belum habis. Mungkin dia masih memegang, beberapa kunci. Jika tidak, sudah lama dikarungkan. Tapi, tetap saja, politik tidak linier. Mustahil, partai mau menumpang biduk yang mau tenggelam.

Kayaknya parpol-parpol belum khawatir kehilangan basis massa pasca demo 411 dan 212. Malah Gerindra dan PKS pun kayak berani bermanuver buat memberi sinyal-sinyal masuk dalam koalisi pemerintahan. Jadi siapa yang paling menuai laba secara politik, pasca demo 411 dan 212, bisa dilihat ke depan? Bisa saja umat yang bersuara, politisi yang meraup untung besar. Ter-la-lu. (***)

iklan1