Tag: reiner ointoe

BINCANG LITERASI, Wien Muldian Bangkitkan Semangat Warga Sulut

Foto bersama usai Bincang Literasi (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Perkumpulan Literasi Sulawesi Utara (Sulut), Selasa (4/12/2018) menggelar Bincang Literasi yang bertempat di ruang sidang Paripurna kantor DPRD Kota Manado. Kegiatan ini diprakarsai guna melahirkan generasi Sulut yang unggul, dan memiliki minat literasi yang tinggi. Tak hanya itu, Bincang Literasi ini menghadirkan Wien Muldian dari Perkumpulan Literasi Indonesia.

Menurut Muldian selaku narasumber utama bahwa pentingnya mengasah semangat literasi. Selain itu, untuk konteks meningkatkan imajinasi sangatlah positif dilakukan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sadar akan pentingnya membaca dan menulis. Dari gerakan literasi, lanjut Muldian akan melahirkan peradaban yang berkualitas.

”Tentunya dari imajinasilah melahirkan opini yang nantinya memunculkan aksi. Dari aksi positif tersebut terimplementasi dalam rentetan peristiwa yang menghasilkan capaian baru. Capaian yang menggerakkan banyak orang adalah titik tolak majunya kebudayaan. Selanjutnya, kesemua itu menggunakan bahasa sebagai teks literasi yang menciptakan konteks dan Konten,” kata Muldian.

Ditambahkannya lagi, melalui proses dan perilaku memahami pengetahuan sekaligus pembelajaran sepanjang hayat, insan manusia harus fokus pada fenomena yang dimungkinkan oleh teknologi. Bukan pada teknologinya itu sendiri, menjadi penting dalam pembelajaran dan mengelola pengetahuan di abad ke-21.

Lebih jauh ditambahkan Faradila Bachmid, selaku Ketua Perkumpulan Literasi Sulut menyampaikan tentang literasi bukan semata baca dan tulis. Namun lebih dari itu literasi menjadi daya dorong agar setiap manusia memiliki kecakapan hidup yang mumpuni, sehingga tidak akan tergerus sumber daya manusia yang semakin banyak hadir di Indonesia.

Sementara itu, Fiksiwan Reiner Ointoe menambahkan dalam kesempatan pidato literasinya menyebutkan gerakan budaya juga membutuhkan dukungan serius di tengah kompleksitas patologi warga ‘tuna budaya’ di seantero jagat. Reiner memaparkan sejumlah realitas tentang kasus-kasus berita hoax hingga boikot media pada Aksi Reuni 212.

”Tuna budaya tidak hanya soal tuna aksara dan tuna-tuna lainnya. Tapi, telah meluas pada seluruh tata dan tatanan realitas, meminjam istilah sosiolog Peter L. Berger ‘Construction of Reality’. Bahkan, kanopi suci (sacred canopy) pun tak kebal pada patologi tuna budaya ini. Maka, literasi hanya satu upaya atau jalan untuk memerangi segala penyakit tuna yang diistilahkan filsuf sosial Erich Fromm, disinyalir sebagai insane society (masyarakat sakit),” ujar Reiner. (*/Redaksi)

Untuk Kemanusiaan Persaudaraan, MUI Sulut Gelar Diskusi dan Musikalisasi Puisi

Ketua MUI Sulut saat sambutan dan membuka acara diskusi (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Kepedulian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) terhadap kerukunan, merawat kebersamaan ditengah masyarakat terus ditunjukkan. Selasa (11/9/2018), MUI Sulut melaksanakan kegiatan Diskusi dan Musikalisasi Puisi, yang mengambil tema: ‘Sastra Suluk untuk Kemanusiaan dan Persaudaraan’.

Kegiatan tersebut secara resmi dibuka Ketua Umum MUI Sulut, KH Abdul Wahab Abdul Gafur dan bertempat di Wale Kaleosan jalan Camar Atas Malendeng Kota Manado. Gafur berpesan bahwa jelang Pemilu 2019 memang masyarakat perlu diakrabkan dengan kegiatan-kegiatan konstruktif yang erat kaitannya dengan pemahaman agama dan tidak terus-menerus bicara soal politik.

”Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kita merawat pikiran-pikiran yang membangun, positif untuk keutuhan bangsa dan negara. MUI Sulawesi Utara sebagai bagian dari motor penggerak perubahan di daerah itu akan aktif mengambil bagian, menjaga kerukunan, kebersamaan demi keutuhan Indonesia tercinta. Kita juga berharap masyarakat tidak ‘berbenturan’ dengan isu-isu politik yang berdampak membuat retak solidaritas sosial kita,” ujar Gafur dalam sambutannya.

Menariknya, sebelum masuk pada sesi dialog penyelenggara kegiatan yang dipromotori DR Taufiq Pasiak yang juga pengurus MUI Sulut menampilkan para seniman bertalenta, mereka adalah Taufik Bilfaqih, Jamal Rahman, duta Baca Sulut Fadila Bachmid. Sedangkan yang ditampilkan sebagai narasumber Reiner Omyet Ointoe, Kamajaya Alkatuuk, dan Valentino Lumowa.

Para peserta diskusi (FOTO Suluttoday.com)

Masing-masing pembicara menyoal seputar pentingnya memahami mistik, sejarahnya, keunggulan sesi, sastra, efek ‘rajam’ atas liar atau tak terkendalinya sastrawan membaca puisi, serta ‘sisi lain’ dari puisi yang selalu kekal. Sebagai budayawan senior Reiner menyebutkan bahwa kritik sastra juga diperlukan dalam memelihara seni dan pengetahuan sastrawi. Bahkan, dalam konteks kekinian menurut Reiner spirit puisi setidaknya dapat ‘melembutkan’ ketegangan publik akibat hiruk-pikuk politik praktis.

”Begitu universalnya sastra, budaya dan seni yang telah kita jejaki. Sisi-sisi kemanusiaan yang kita angkat dari kajian sastra atau seni membuat kehidupan sosial masyarakat yang ‘ngotot-ngototan’ menjadi enjoy, penuh kekeluargaan, kelembutan dan intelektualitas. Itu sebabnya, puisi begitu diperlukan, masih banyak dalil lainnya yang menjadi basis argumen kita untuk memelihara puisi,” kata Reiner.

Diakhir diskusi, sebagai tuan rumah DR Taufiq Pasiak menyampaikan kalau Padepokan yang dikelolanya itu akan melakukan diskusi dan pengembangan-pengembangan pengetahuan secara berkala. Dirancang untuk menjadi semacam central serta kebangkitan ilmu pengetahuan dari Sulut.

Pementasan puisi (FOTO Suluttoday.com)

”Terima kasih atas atensi berbagai pihak, para tokoh yang hadir dalam kegiatan ini. Tentunya, saya perlu menitipkan terutama kepada adik-adik mahasiswa dan aktivis pemuda agar tidak menyia-nyiakan masa mudanya. Artinya, masih banyak kesempatan untuk belajar, karena jangan sampai suatu saat kalian menyesal karena tidak mau belajar. Kita akan melakukan kegiatan-kegiatan diskusi di Padepokan ini secara berkala, kiranya para senior-senior yang ada dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pengembangan pengetahuan, ini juga cara kita membina generasi yang berperadaban,” tutur Pasiak yang juga dosen Unsrat Manado ini.

Untuk diketahui, yang hadir pada kegiatan ini diantaranya Keua Umum MUI Sulut KH Abdul Wahab Abdul Gafur, Rektor IAIN Manado, Sekretaris Umum NU Sulut, Wakil Ketua MUI Sulut H. Ulyas Taha, Ketua Aisiyah Sulut, Ketua BHBI Sulut, Hi Syahrul Poli, FORHATI, KOHATI, Komsioner KPU Sulut Lanny Ointoe, Sekretaris Wilayah Pemuda Muslimin Indonesia Provinsi Sulut.

Hadir pula Ketua KPU Boltim Jamal Rahman, pimpinan Bawaslu Manado Taufik Bilfaqih, Ketua AMSI Sulut, Danwil Brigade Masjid BKPRMI Sulut, Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulut bersama Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Sulut, Sekretaris DPD KNPI Manado, Ketua Umum HMI Cabang Manado dan sejumlah aktivis muda lainnya. Selain itu, diskusi ini dipandu Syafril Parasana sebagai moderator. (*/Redaksi)

PSN Perisai Putih Sulut Gelar Buka Puasa bersama dan Rapat Persiapan Musprov

Bang Reiner Ointoe saat memimpin rapat (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Organisasi Perguruan Silat Nasional (PSN) Perisai Putih Wilayah Sulawesi Utara (Sulut), Senin (21/5/2018) menggelar rapat pembentukan panitia Musyawarah Provinsi (Musprov) yang dirangkaikan dengan Buka Puasa Bersama bertempat di New Regal’s Coffee & Resto kawasan Megamas Kota Manado.

Rapat diarahkan langsung Ketua Wilayah PSN Perisai Putih Sulut, Reinet Omyet Ointoe dan dipandu Sekretrataris Wilayah Noho Poiyo, Ointoe menginstruksikan agar DPD melakukan konsolidasi jelang Muswil agar pelaksanaan Musprov dalam waktu dekat ini dapat berjalan sesuai aturan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

‘’Berdasarkan penyampaian Dewan Pengurus Pusat (DPP), maka diperlukan adanya Musprov segabagai bagian dari regenerasi organisasi. Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah PSN Perisai Putih Sulawesi Utara pada pertemuan kali ini akan memutuskan siapa yang menjadi panitia pelaksana dan panitia pengarah,’’ tutur Ointoe.

Rapat berlangsung di rumah kopi Regal Megamas (FOTO Suluttoday.com)

Lanjut Ointoe menyampaikan hasil rapat tersebut yakni menetapkan nama-nama sebagai berikut: Ketua panitia pelaksana Abu Hasan Syafi’i, Sekretaris Asri Rasjid, dan Bendahara Awin Halid. Kemudian, sebagai panitai pengarah, Ketua Noho Poiyo, Sekretaris Ramdan Maliki, anggota Amas Mahmud, Wahidin Magau, Syaiful Kasim.

Selain itu, Ointoe menitipkan catatan penting rapat bahwa perlu dikonsolidasikan lagi 9 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PSN Perisai Putih se-Sulawesi Utara. Tidak hanya itu, bagi para calon Ketua Perisai Putih Sulut diwajibkan memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) sebagai anggota organisasi ini. Syarat tersebut sebagai bagian prosedur dan tertib keanggotaan. (*/Redaksi)

Reiner: Pemaparan Dr Lusiana Terkait ‘Integritas’ Tubuh Perempuan Begitu Runut

Dr Lusiana Margareth Tijow dan buku karyanya (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Melalui bedah buku yang dilaksanakan, Jumat (22/12/2017), bertempat di Kedai Koffie Shaad, edisi spesial Hari Ibu, Dr Lusiana Margareth Tijow, SH.,MH sebagai penulis buku berjudul ‘Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Korban Janji Kawin’ diberikan kesempatan untuk mengulas tentang tema: ‘Perempuan Menggugat Atas Integritas Tubuh Dirinya Tidak Terpenuhinya Janji Kawin’.

Dalam bedah buku yang dihadiri sejumlah aktivis pemuda, pegiat literasi, budayawan, cendekiawan yang ada di Kota Manado tersebut, Drs Reiner Omyet Ointoe selaku budayawan memberikan resensinya terhadap apa yang dipaparkan Dr Lusiana yang pada kesempatan tersebut tampil sebagai pembedah buku.

”Pemaparan Dr. Lusiana Margareth Tijow SH, MH sangat memberi perspektif yang baru bagi perlindungan hukum terkait “integritas” tubuh perempuan dalam aspek fisik-psikis. Problematik misogini dalam dominasi budaya patriarki akan membuka celah yang selama ini menjadi kabut dalam pelbagai kasus diskriminasi gender. Kekuatan pemikiran tentang kasus-kasus “kekerasan seksual” yang berbaju “janji kawin” menjadi pintu “legalitas” penghancuran “privatesphere” integrasi tubuh perempuan dlm pelbagai aspek yang melindunginya,” ujar Reiner.

Reiner yang juga penulis buku aktif itu juga menyentil bahwa tubuh perempuan dilindungi oleh undang-undang, sehingga dapat menghindarkan perempuan dari perbuatan-perbuatan kekerasan yang menyalahi HAM. Menurutnya Dr Lusiana begitu memahami betul apa yang diulasnya dalam beda buku tersebut.

”Memakai istilah Bergerian, “sacred canopy” yang saya plesetkan jadi “tudung suci” dalam tubuh perempuan memiliki fondasi hukum yang dapat membela dirinya dari penghancuran yang disengaja oleh dominasi budaya patriarki. Meski pikiran ini berangkat filsafat hukum positivisme — sebuah pandangan hukum yg lebih mengedepankan ide bukti-bukti dan uji material secara obyektif — ulasan Dr. Lusiana (cum laude S3) sangat jernih, runtut dan ideal untuk dipahami. Sebab, di lingkungan keluarga ipar kami, penghancuran “integritas tubuh perempuan dlm janji kawin” terjadi,” tutur Reiner juga diketahui sebagai salah satu pemilik perpustakaan pribadi terbesar di Sulawesi Utara ini.

Reiner Omyet Ointoe (Foto Suluttoday.com)

Lanjut disampaikannya, dilakukan oleh seorang lelaki dan hingga kini masih menyisakan trauma bagi perilaku perempuan korban yang jadi ponakan kami. Makasi atas pencerahannya dan kepada pakar IT Salahudin Olii MIT, kerelaan membawa Dr. Lusiana —- yang sedikit mengeluh kuatnya budaya dominasi patriarki dan diskriminasi gender di Gorontalo cukup menyulitkan ilmunya untuk dipraktekkan dgn banyaknya kasus-kasus terkait dengan ilmunya — ke kedai Shaad tempat aktivitas intelektual dengan SWTs dijadikan locus genius alternatif. Meski di ruang yang sangat terbatas, kesediaan tiap narasumber menjadi pemantik gairah belajar dan berilmu dari berbagai disiplin yang ada dan terus berkembang. Moga apresiasi ini menjadi “pahala” yang tak berkesudahan. (*/Amas)

REINER OINTOE Beberkan Kriteria Ormas yang Layak Menjadi Pioner

Drs Reiner Omyet Ointoe (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Memang kini bukan eranya generasi muda untuk saling berkompetisi saja, namun lebih dari itu harus melakukan perpaduan gerakan atau ‘menyatukan’ potensi dalam sebuah kombinasi gerakan yang solid. Untuk mengformulasi gerakan Organisasi Masyarakat (Ormas) yang berpihak pada rakyat dan mendorong adanya pembangunan, Drs Reiner Omyet Ointoe, budayawan dan aktivis senior yang hadir dalam Forum Diskusi Ormas, LSM dan Organisasi Kepemudaan memberikan sejumlah resep untuk itu.

Menurut Bung Reiner, Ormas perlu menjadi pioner (terdepan), untuk menuju pada gerakan tersebut maka diperlukan fondasi atau dasar-dasar gerakan yang kuat yakni pentingnya membangun karakter (character building). Sehingga demikian, bila kaum muda dan aktivis Ormas telah memegang teguh apa yang disebut character building, maka aktivitas Ormas untuk melakukan pembangunan di daerah ini tidak akan melenceng dan mengarah pada kekuatan pembangunan.

”Dalam bergerak hari ini, berbagai Ormas dan Organisasi Kepemudaan punya rumusan gerak yang sering kali berbeda. Namun, yang penting diperhatikan ialah character building, inilah yang menjadi fondasi untuk menguatkan orientasi pembangunan di daerah yang kita cintai ini. Apalagi, Ormas merupakan garda terdepan pembangunan, sehingga untuk menjadi pioner diperlukan penguatan karakter,” ujar Reiner saat tampil sebagai narasumber di Hotel Aston Manado, Rabu (22/11/2017).

Sekedar diketahui yang hadir dalam kegiatan ini diantaranya, Ketua LAKRI Sulawesi Utara, Moning Mamengko, S.IP, Sekretaris LMI Manado, Maxi Malonda, Sekretaris DPD KNPI Manado, Amas Mahmud, Ketua Umum HMI Cabang Manado, Ian Daulasi, pengurus GPII Sulawesi Utara, tokoh aktivis yang juga pengurus KNPI Sulawesi Utara, Djoko Sutrisno, Sekretaris HMI Cabang Manado, Nazar, serta para Lurah se-Kota Manado. (*/TimST)

iklan1