Tag: reiner ointoe

HOMODEMIC

Ilustrasi, homodemic (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan 

Pierre Bordieu (1930-2002) adalah sosiolog dan intelektual kondang asal Perancis yang pemikirannya telah mengubah paradigma “new antrophology” sebagai sains sosial. Atau, sekurang-kurang ia mendedahkan bahwa apa disebut “new sapiens” itu: “eternal life is one of the most soughtafter social priveleges.” Definisi “new sapiens” sebagai habitat (baca: habitus) baru itu mengundang hasrat immortalitas dan immobilitas seperti¬†yang disodorkan begitu saja oleh eskalasi “eksidensialisme” pandemi corona dewasa ini.

Selain itu filsafat sosial Bordieu dengan telak telah memprediksikan bahwa “new sapiens” itu — sebelumnya ia juluki “Homo Academicus” — akan menghadapi iklim kehidupan baru “hiperrealitas.” Tak ayal, hiperrealitas terbukti dengan kasat ketika seluruh instalasi dan etalase planet kita dihadapkan pada tiga kondisi yang jauh berubah.

Antara realitas sosial tentang modalitas (baca:’sumber kehidupan material), modus (baca: sumber aktivitas hidup) dan habitus (baca: sumber mentalitas/spiritual) yang harus diekspresikan pada ranah(realitas sosial) dengan serentak dan tak terduga telah dikoreksi secara total oleh “kosmologi pandemik” (baca: Covid-19). Karena itu, modus dan habitus pada hasrat immortalitas (eternal life) sebagai karsa dan daya utama sains serta immobilitas (penjarakan sosial) dalam menafsir dua gagasan mutakhir Bordieu ini, sungguh sangat paradoks akibat hentakan pandemik.

Meski Bordieu luput untuk menjelaskan itu dalam “teori praksis”, tugas pandemi yang secara positivifisme justru hendak menegasikan kefanaan kita (mortalitas) demi keabadian (immortalitas) harus direkatkan dengan menunda bahkan menghentikan kelesatan (atau dlm istilah Paul Virilio: dromologi) kita mengejar sumber-sumber immortalitas itu sendiri.

Bukankah untuk mencegah eskalasi patogen pembunuh (corona) biogenetik kita,seluruh kontak dan koneksi harus diberlakukan pembatasan jarak (sosial) dalam skala besar dan masif. Istilah teknisnya: lockdown dan karantina atau bagi terdampak harus diisolasi. Perspektif pemikiran Bordieu ini meski tidak bertolak dari kasus pandemik virus corona, cara kerja membiak pada inangnya bahkan bermultiplikasi bak “screenshot” di dunia hiperrealitas.

Betapa daya hancur virus di dunia hiperrealitas lebih dari apa yang dibayangkan selama ini. Walhasil, menilik dan melirik pada filsafat sosial ala pandemik, pemikiran Bordieu ini hendak merealisasi secara tepat makhluk sosial “baru” yang bisa saya sebut: HOMODEMIC. Persis apa? EcceHomo, lihat nama-nama atau spesies-spesies baru lainnya: OTG, ODP, PDP, APD.

IDEOLOGI DAN PANDEMI

Reiner Emyot Ointoe (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Pada tahun 1960, Daniel Bell (1919-2011), sosiolog dari Universitas Cambridge menghebohkan dunia akademi dan politik dengan terbit bukunya: Akhir Ideologi (The End of Ideologi: On The Exhaustion of Political Ideas in The Fifties). Tentu saja, prediksi akademis-filosofis ini menghentak karna dengan pendekatan sains politik meramalkan kejatuhan ideologi komunisme yang sudah hampir lebih dari 100 tahun mendemami negara-negara penganut, terutama Rusia (Eropa) dan Cina (Asia).

Bahkan terbukti, pada 1990 prediksi Bell ikut meruntuhkan komunisme di seluruh Eropa Timur seperti yang ditulis oleh Zbigniew Brzezinski, penasehat Presiden Jimmy Carter dalam “The Grand Failure.” Akhir sebuah ideologi tentu bukan malapetaka bagi peradaban umat manusia sebagaimana dibuktikan oleh sejarah bencana pandemi. Lantas, apa hubungan antara ideologi dan pandemi untuk melakukan apa yang ditawarkan oleh filsuf Friedrich Nietzsche dalam mempercepat jatuhnya perubahan sebagai “transvaluasi nilai” (umwertung aller wertung).

Dalam tatanan perubahan segala nilai, ideologi dan pandemi sama-sama memiliki elan vitalitas untuk mengoreksi nilai-nilai apa yang tidak relevan dalam menapaki jalannya perubahan sebagai keniscayaan sejarah. Dalam artikata, ideologi dan pandemi sama-sama menghasilkan pergerakan. Tak jadi soal, apakah arah pergerakan itu brutal atau formatif. Semua ideologi dalam tinjauan filsafat kritik memiliki potensi lapuk dan rapuh selain tentu bisa reflektif dan konstruktif.

Sebagaimana prediksi Bell, akhir dari komunisme tak sepenuhnya benar karna terbukti komunisme sebagai ideologi kelak punya cadangan ruh (spiritisisme) untuk bangkit kembali seperti diungkapkan Slavoj Zizek “diberkahi” dengan adanya pandemi covid19(baca: Pandemic: The World Shakes Covid 19, 2020). Terlepas sejauh apa kebangkitan ideologi komunisme itu berlangsung untuk menafikan prediksi “akhir” (the end) dari Bell, keadaan aktual kita hari ini sangat relevan untuk mentransvaluasi Pancasila di tengah pandemi covid19.

Karena itu, pamali terhadap ideologi adalah kenaifan yang bisa merancukan ulang tradisi dan sejarah kenegaraan dan kebangsaan kita yang sudah dirapalkan oleh ideologisasi Pancasila itu sendiri. Sejak Pancasila ditetapkan sebagai ideologi bangsa dan negara, refleksi kritis dan koreksi terus saja berlangsung. Apakah karna setiap ideologi mengandung kefanaan nilai dan utopis, Pancasila pun tak luput dari transvaluasi itu, terutama menyangkut butir-butir ide fundamen: Ketuhanan, Keadilan dan Kesejahteraan. Bukankah pandemi covid19 itu sendiri merangsek ketiga tatanan ide itu? Dirgahayu Pancasila.

KEBUDAYAAN DAN PANDEMI

Reiner Emyot Ointoe (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Situs virtual telah melawaskan informasi dan pengetahuan atas banyak hal yang terjadi. Belum sepekan, seorang kolumnis menulis literasi pandemi atas respon komunitas lokal. Meski memaknai “kasus” itu dari perspektif pengetahuan umum, kolumnis itu tanpa sadar telah meletakkan pengetahuan umumnya pada respon kasus pandemi yang lebih bernalar kultur lokal. Karna itu, respon itu saya sebut sebagai sebuah tafsir epistemologi budaya yang menyesatkan (fallacy).

Sejauh ini, saya sudah menduga, pandemi global ini akan direspon bahkan diresepsi oleh publik dengan asumsi-asumsi kultural setempat. Pandemi apapun — sejak blackdeath hingga corona — selalu memunculkan respon dan reaksi kebudayaan yang oleh Marvin Harris dikategorikan untuk menjawab misteri “elan vitae” bagi teka-teki kebudayaan (riddles) itu sendiri.

Sebuah kesesatan atau penyesatan atas teka-teki kebudayaan seperti pada kasus pandemi, lazimnya dalam respon dan reaksi kebudayaan yang massif akan berujung pada tindakan adaptif atau kontradiktif. Ringkasnya, antara kebudayaan dan pandemi(baca: penyakit) tidak seluruh terapi medik(tradisional maupun modern) akan sama tertangani ataupun ditangani.

Karena itu, Ivan Illich pernah menawarkan terapik vernakuler atas segala penyakit massif dengan mempertimbangan psikologi-kebudayaan masyarakat yang terdampak. Terapi medik modern yang dikritik oleh Illich antara lainnya munculnya rasa ketergantungan (iatrogenik) atas semua “resep” paten pelbagai penyakit. Illich menyebut pendekatannya itu sebagai “medical nemesis” (baca: limits to medicine) seperti mengingatkan kita atas penyakit massif lama yang diderita oleh masyarakat Thebes (Yunani Kuno) dengan istilah “hubris.”

Lebih daripada teror pandemi, hubris bersumber dari patologi nalar kita atas “tubuh kebudayaan” antroposentris. Akhirulkalam, hubungan penyakit apapun (baca: pandemi) dengan kebudayaan dapat menunjukkan sejauh apa kapasitas dan kapabilitas kita sebagai sapiens. Makhluk, dengan evolusi baru mencapai lebih dari dua milenial dengan populasi menakjubkan tujuh miliar spesies.

SPIRITUAL SCIENCE

Reiner Ointoe (Foto Ist)

Lebih dari seratus tahun dekade sains nyaris tak mengubah opisisi biner (binary oppotition) antara sains (science) dan agama (religion) yang hingga kini mustahil dipertemukan.

Kebenaran sains berbasis data dan empirisme sering dituduh untuk menghujat basis metafisika agama. Setidaknya, antara sainstis dan teolog belum bisa didamaikan di atas dua kepentingan yang berbeda bahkan bersebrangan. Karnanya, jasa para sainstis untuk mendamaikan mereka selalu menjadi perhatian yg menyita banyak hal untuk diperdebatkan.

Sebagai seorang ahli komputerisasi dan penulis kondang di New York Time, Gregg Braden telah memprakarsai kajian dan penulisan titik temu antara sains dan spiritualitas. Upaya untuk menghindari diri dari agama formal sebagai pemegang mandat kebenaran semesta, Gregg menawarkan sintesa sains spiritual.

Formalitas agama dalam menempatkan kleim kebenaran (truth claim) pada dirinya sendiri sedang digeser oleh usaha “pengilmiahan” agama sebagai fenomena spiritual yang terintegrasi dlm “the wholeness”. Jasa Gregg ini tk terjadi begitu saja. Jauh sebelum ia menuliskan sains spiritualnya ini, Frithoj Capra (fisikawan asal Austria) di tahun 70-an telah mengajukan usahanya untuk mengkaji secara fisika fenomena-fenomena eksakta dlm mistisisme.

Bukunya “The Tao of Physics”(1975) adalah salah satu sintesis dlm sains spiritual yg kemudian terus dikembangkan antara lain Micheal Talbot, Paul Davis hingga Gregg Braden sendiri. Apa dasar dan alasan untuk mempertemukan kebenaran universal yang dikleim keduanya secara mati-matian bahkan sering disertai konflik dan kontraproduktif.

Walhasil, usaha para sainstis mengingatkan kita pada debat filosofis atas “usaha dilema manusia rasional” yang selalu diyakini oleh para sainstis. Untuk menyederhanajan sintesis-sintesis ini, Braden khusus dari kedua bukunya yg baru saja dialihbahasakan ini, bisa dikategorikan sebagai “jalan tengah” dalam mengevaluasi hasil-hasil keduanya selama lebih dari seratus tahun terakhir ini.

Antara sains dan sains spiritual tak ada yang harus didamaikan, meski salah satunya lebih mencari jalan damai eskatologis dan yang satunya lagi kategoris seperti yg dikemukan oleh Immanuel Kant (1724-1804) sebagai “das Ding an sich” atau masing-masing kebenaran itu terdapat pd dirinya sendiri. Atau, ulas Braden dgn mengutip pendapat fisikawan pendobrak, John Wheeler, “jika kau belum menemukan sesuatu yang aneh sepanjang hari, itu artinya harimu tak bermakna apa-apa.” (dikutip dlm versi online “Science & Spirit).

Pun pada yg aneh-aneh, kita dibuat terpukau oleh “hal-hal aneh” (kwaidan) sebagai kisah dan studi yg diungkapkan oleh Lafcadio Hearn pada kebudayaan Jepang pada awal abad ke-20.

Metapolitik “4+” Menakar Takdir

Bang Reiner bersama beberapa Kepala Daerah (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Sebuah relasi apapun akan menunjukkan tanda-tanda suatu peristiwa yang merekatkan kita dengan yg lain. Kalimat ini yg disarikan dari sebuah buku ahli fisika eko-spiritual, Fritjof Capra (The Web of Life,1996). Dengan itu pula, saya menakar relasi saya sebagai “tanda semesta” yang bisa menunjukkan kualitas dan kualifikasi seorang yang ditakdirkan jadi pemimpin. Meski ada teori yang mengklasifikasikan tiap-tiap pemimpin berdasar model dan karakternya, tidak dgn sendirinya teori itu menggambarkan seluruh kepribadiaannya(personality = topeng).

Dengan kata lain, topeng pemimpin itu dibaca dari seberapa dlm mereka menunjukkan apa yg disebut Martha C. Nussbaum sebagai “competing of capabilities.” Untuk keempat pemimpin plus ini (+SK), saya telah menaruh apresiasi terhadap mereka, baik personal maupun institusional, sebagai sikap untuk mengungkapkan “kompetisi & kapabilitas” mereka masing-masing.

Secara semiotik, mula-mula saya membaca slogan atau tagar yg mereka utarakan: OD(Kepemimpinan adalah Teladan), CEP (Profesional & Spiritual), VAP (Diberkati untuk Memberkati), GSVL (Cerdas & Kota Doa). Narasi-narasi ini begitu “hemat” kosakata dn secara sosio-linguistik mengandung aforisme ajakan ke dalam situasi yang lebih psikologis. Jika disamaratakan tergambar mereka semua didasarkan atas modal spiritualitas masing-masing.

Meski dalam beberapa kesempatan saya pernah berdialog dengan mereka, rata-rata menyimpan potensi spiritualitas yang disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi berbagai tantangan mereka sebagai pemimpin. Tapi, untuk VAP, potensi itu terlampau lugas dan lugu ia kesankan. Saya tak tahu apakah karna dia sdh mengecap pendidikan teologi dan sdh diberi gelar Dr (HC) bidang teologi. Semua itu tak jadi urgen dan penting mengingat masyarakat yg mereka pimpin sangat majemuk, baik internal maupun eksternal.

Karena itu, saya lebih menyukai untuk mengejar kedalaman slogan (Kepemimpinan itu adalah Teladan). Selain lebih universal praksis etiknya, memimpin itu menjadi perintah bagi siapa saja. Setidaknya, memimpin diri sendiri atau keluarga.

Universalisme kepemimpinan sejatinya akan dihadapi oleh siapapun. Tapi, untuk jadi teladan dan diteladani, urusannya tidak sesederhana itu. Keteladanan itu hrs diekspresikan bukan pada semua level dan hierarki. Keteladanan pada keluarga tentu akan brbeda dengan yg diterapkan pada level birokrasi dan kalangan profesional. Bahkan akan lebih menentang diejawantahkan pada pelbagai komunitas yang jamak.

Untuk itu, saya masih menemukan kendala obyektif untuk mengevaluasi secara obyektif dan komprehensif bahwa memimpin dengan keteladanan itu membutuhkan instrumen-instrumen material dan immaterial yang sarat dgn lingkungan yang memadai. Misalnya, apakah hasil-hasil WTP itu bisa disigi dari perspektif keteladanan administrasif atau birokratisasi? Ringkasnya, pada keempat pemimpin plus ini, masyarakat tk membutuhkan sejauh mana slogan itu praksis dan aplikatif karna mereka tak punya alat ukur sistemik, obyektif dan ilmiah.

Mereka vis a vis rakyat hanya butuh kehadiran anda untuk bisa berdialog dari hati ke hati agar psikologi keteladanan itu bisa mereka resapkan langsung persis ketika Sukarno setengah abad silam berdialog di sawah dengan petani bernama: Marhaen. Sejak itu, Sukarno — terlepas tersungkur oleh “konspirasi politik” — menunjukkan keteladanannya pada rakyat belaka. Kelak, muncul istilah “berdikari”, gotong-royong, penyambung lidah rakyat, trisakti, nawaswara, manipol-usdek, dekrit dan lain-lain.

Istilah-istilah ini hendak menunjukkan sebuah keteladanan “arus bawah” untuk menenggang “arus atas (elitis) yang sejauh ini terlampau jauh dari proksimitas dan intimitas seluruh rakyat yang akan memilih mereka kelak. Meski tampak klise, adagium ini masih sangat relevan: Vox Populi Vox Dei. Homo Emeritus, Manusia bakal pensiun. Tapi, Homo Deus, akan terus berjaya hingga akhir dunia.

iklan1