Tag: richard nasionalis

Tentang Bung Richard Sualang dan Nasionalisme

Richard Sualang bersama kader PDI Perjuangan Kota Manado (Foto Ist)

Tak mau menyeret politik dalam isu-isu sektarian. Track recordnya dikenal sebagai politisi yang nasionalis. Keberaniannya memangkas kebiasaan politik sentimentil membuatnya mendapat tempat yang proporsional dan istimewa di hati masyarakat. Seperti itulah gambaran seorang dr. Richard Sualang. Politisi yang terlahir dari partai politik besutan Megawati Seokarno Putri itu begitu memulaiakan masyarakat.

Ia tak mau membenturkan atau mengaduk-aduk kepentingan politik untuk tujuan menang sendiri. Baginya kepentingan kolektif diatas segalanya. Menjadi pemimpin, dikatakannya harus berani menutup diri dari prasangka dan curiga kepada masyarakat. Bung Richard juga menyadari pentingnya kritik publik dihidupkan.

Menurutnya pejabat publik tak boleh menyimbat aspirasi, bahkan kritik publik. Karena kritik baginya menambah amunisi, vitamin dan kekuatan bagi pejabat publik dalam mewujudkan kepentingan masyarakat. Ia tak mau berkamuflase dengan perjuangan politik. Bung Richard menilai politisi harus total memahami, menjaga dan memperjuangkan nilai-nilai nasionalisme.

Kesadaran tentang nasionalisme yang mulai redup, macet, mulai ditinggalkan masyarakat juga menjadi tantangan yang menurutnya harus diantisipasi. Tidak hanya itu, diperlukannya solusi. Membangkitkan kesadaran nasionalisme dari bawah. Lalu kesadaran itu dijangkitkan, mewabah ke elit politik dan pemerintah (pejabat publik). Agar terlahir harmonisasi.

Pembangunan berkelanjutan dengan mudah diaktualisasikan. Pembangunan daerah, dalam beberapa argumennya harus selaras dengan konteks pembangunan Nasional. Tak boleh ada ketimpangan pembangunan, hal itu yang selalu diingat-ingatkan Bung Richard. Terwarisi dari mendiang Ayahnya, Freddy Harry Sualang yang dikenal sebagai ideolog, pejuang PDI Perjuangan Sulawesi Utara.

Ayah dari Bung Richard dijuluki sebagai sang Nasionalis tulen yang berjuang diawal-awal kejayaan PDI Perjuangan di daerah Nyiur Melambai ini. Darah perjuangan, sikap konsistensi itu terwarisi kepadanya. Catatan sejarah dilontar sejumlah kawan sejawat Alm. Freddy tentang sikap kenegarawan beliau. Dalam pergaulan sosial dan interaksi selaku politisi ia banyak membesarkan para aktivis, mendidik kaum marhaenis, melahirkan banyak kader politisi handal dan pecinta Soekarno.

Sebagai orang tua, di zamannnya Freddy menjabat Wakil Gubernur Sulawesi Utara sejak 2000 – 2010, tapi tidak memanjakan anaknya. Politisi senior yang satu ini tidak menggunakan politik dinasti dalam pendekatan membesarkan anaknya Bung Richard. Malah anaknya disuruh belajar. Alhasil, Bung Richard memulai berpartai politik di PDI Perjuangan dari bawah, pada tingkat Kelurahan. Sebuah pelajaran yang luar biasa. Patut ditiru para politisi lainnya.

Nama besar Ayahnya tidak membuat Bung Richard berproses dengan cara instan. Riyawatnya sebagai seorang politisi nasionalis terbaca jelas dalam keakraban keluarga dengan semua tokoh politik tak membedakan latar belakang suku agama maupun golongan. Interaksi yang terbuka dan majemuk itulah yang membuat Bung Richard terbentuk, tumbuh besar menjadi politisi berdarah nasionalis tulen. Belum lagi jenjang pendidikan kepartaian terus diikutinya. Segudang pengalamannya sebagai politisi nasionalis menjadi kekayaan, keunggulan dan potensi baginya dipercayakan masyarakat. Semisal, menjadi Wali Kota Manado tentu ia layak.

Sosok Bung Richard bukanlah politisi sektarian. Dia bukan tipe politisi yang memanfaatkan mimbar-mimbar rumah ibadah sebagai panggung untuk mendapatkan suara. Dikenal sebagai politisi kalem, murah senyum, ia bukan politisi pemburu suara electoral dengan memanfaatkan isu-isu sentimen keagamaan. Berpengalaman hidup dengan suasana kebudayaan yang beragam, membuat Bung Richard tumbuh menjadi politisi yang berwawasan nasionalis. Menghormati orang lain dan sangat toleran.

Bahkan menurutnya, politisi tak boleh menjadi pendengki. Apalagi politisi terlibat atau menjadi agen aktif yang ikut-ikutan memprovokasi masyarakat sehingga terlibat dalam kondisi disorder. Hal edukatif dan bersifat mengajak terus dilakukan Bung Richard dalam mewujudkan pembangunan. Seperti saat menjadi Wakil Ketua DPRD Kota Manado, ia tak henti memberi dukungan terhadap pembangunan di Kota Manado, sembari terlibat dalam memberi usul dan mengingatkan pemerintah daerah.

Menjadi politisi, disebut Bung Richard tak boleh seperti orang yang gangguan kepribadian (personality disorder). Yang pandai menyalahkan orang lain, tanpa bercermin atas kekurangan dirinya. Pengalaman PDI Perjuangan sebagai partai oposisi dan kini berkuasa, kata Bung Richard, menambah kesempurnaan parpol yang membesarkannya tersebut. Peran kontrol dan keseimbangan terus dilakukannya selaku wakil rakyat Sulawesi Utara, percikan pikirannya sebagai politisi yang teruji, ia mengargai yang nama kritik dan masukan.

Bagi politisi muda energik ini, pembangunan memerlukan kritik kontruktif. Tak segan-segan, ia menyampaikan tentang keteladanan politik dari mentor politiknya Olly Dondokambey yang juga Gubernur Sulawesi Utara tentang kepemimpinan adalah teladan. Ucapan dan sikap Olly selaku politisi senior dijadikannya sebagai insiprasi dalam melakukan kerja-kerja kerakyatan. Sosok Olly sebagai pemimpin yang negarawan, selalu mengayomi kader, kawan maupun lawannya. Hal itulah yang memacu Bung Richard untuk terus mematangkan dirinya sebagai politisi.

Spirit nasionalisme yang ditunjukkan Olly bagi Bung Richard patut ditiru. Dalam soal pemimpin yang nasionalis, ia mengatakan kepribadian Olly tidak perlu diragukan lagi. Sebagai tokoh politik nasional, pemikiran dan pergerakannya selalu sejalan dengan semangat membumikan dan memperkuat nasionalisme. Bung Richard mengatakan nasionalisme Indonesia sebagai sarana mengintegrasikan Negara yang tak boleh ditawar-tawar lagi. Ketaatan terhadap Negara disimbolkan dengan sikap nasionalisme yang utuh, dimana nasionalisme Indonesia adalah harga mati bagi dirinya.

Bung Richard memang hadir belakangan, di tengah-tengah nasionalisme dibumikan. Nasionalisme direvitalisasi, menjadi jiwa masyarakat Indonesia. Walau begitu, kesadaran menegakkan nasionalisme tak pernah pudar, tak ketinggalan, dan selalu digemakkannya. Menghidupkan, memulihkan rasa nasionalisme yang dicabik-cabik dengan beragam gerakan radikalisme, terorisme dan makar. Merawat dan mewujudkan nasionalisme menjadi tanggung jawabnya sebagai politisi PDI Perjuangan.

Ditambah lagi, Bung Richard yang tumbuh dari keluarga Marhaen, pecinta Soekarno. Pertumbuhan nasionalisme dalam lingkup keluarga yang membentuknya, kemudian interaksi dan proses belajar yang ulet membuatnya terbentuk sebagai politisi nasionalis sejati. Bung Richard selektif, tidak pernah terjebak dengan stigmatisasi dan klaim saling melemahkan. Baginya, nasionalisme itu diamalkan dalam tindakan nyata. Bukan didebatkan, atau menjadi entitas untuk dipermasalahkan.

Gagasan sosio-nasionalisme Soekarno juga diikuti dan coba secara maksimal diterapkan Bung Richard. Seperti dikehatui, nasionalisme merupakan suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama. Dalam mewujudkan kepentingan nasional. Selain itu, nasionalisme juga adalah sebagai pengejawantahan dari rasa ingin mempertahankan negara, baik dari gangguan internal maupun eksternal.

 

 

Oleh : Amas Mahmud
Jurnalis dan Sekretaris DPD KNPI Manado
iklan1