Tag: richard sualang

AA-RS Menguat Dicalonkan PDI Perjuangan untuk Pilwako Manado

Andrei Angouw dan Richard Sualang (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Kalkulasi politik masyarakat berlahan mulai membuka tabir, dimana terkait sikap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) saat kontestasi Pilwako Manado, Rabu 9 Desemeber 2020. Senin (24/8/2020) beredar informasi akurat terkait figur yang diusung partai berlambang banteng moncong putih ini. Beberapa kader menyebutkan kecenderungan DPP PDI Perjuangan untuk Pilwako Manado akan mengusung Andrei Angouw (AA) dan Richard Sualang (RS).

”Doakan agar kader partai yang diusung. Selaku kader tentu kami berharap figur yang direkomendasikan atau dikeluarkan Surat Keputusan (SK) yakni mereka yang merupakan kader asli PDI Perjuangan. Tentu hal itu akan menjadi kebanggaan kami, bahwa produk kader serta proses kaderisasi di PDI Perjuangan Kota Manado sedang berjalan aktif. Kita punya stok kader unggulan. Bagi kami yang layak dimajukan adalah AA-RS. Kami yakin duet AA-RS akan membuat PDI Perjuangan berjaya di Kota Manado. Untuk SK dari DPP kami dapat info akan terbit dalam Minggu ini,” kata sumber resmi Suluttoday.com, salah satu pengurus DPC PDI Perjuangan Kota Manado yang meminta namanya tak disebutkan dalam pemberitaan, Senin (24/8/2020).

Di tempat terpisah, Tommy Turangan, SH pemerhati politik Sulawesi Utara (Sulut) menilai tentang lahirnya kandidat dari internal parpol bertanda proses demokrasi di parpol tertentu berjalan normal. Jebolan Unsrat Manado itu menyebut parpol apapun itu ketika memberi ruang yang representatif kepada kader-kadernya menjadi penanda bahwa mekanisme, eksistensi dan nilai perjuangan parpol tersebut bertumbuh dengan produktif.

”Pilkada atau Pilwako yang mengkompetisikan kader partai politik (parpol) ini langkah maju dalam berdemokrasi. Sarana kita menjalani kontestasi demokrasi yang pintu masuknya melalui instrumen parpol mesti memberi keleluasaan atau penghargaan kepada kader parpol untuk berkompetisi dalam tiap memontum politik. Parpol yang lebih melirik orang diluar parpolnya, menandakan parpol itu sedang mengalami krisis kader. Sekelas PDI Perjuangan memang sangat layak mengusung kadernya sendiri,” tutur Tommy tegas.

Selain itu, beredarnya desain baliho yang menampilkan foto Andrei Angouw dan Richard Sualang dengan bertuliskan AARS, kemudian ada slogan saatnya bersinergi mulai meramaikan dunia media sosial. Hal itu pun memicu tanggapan netizen yang mulai berkesimpulan bahwa PDI Perjuangan akan serius menggarap kekuatan AA-RS di Pilwako Manado 2020.

(*/Bung Amas)

BUNG RICHARD: Peristiwa Kudatuli Menjadi Tonggak Sejarah

Richard Sualang (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Kota Manado, dr. Richard Sualang dalam perayaan Peristiwa Kudatuli, 27 Juli 1996 menggambarkan betapa momentum itu sangat bersejarah bagi partai berlambang Banteng Moncong Putih. Tidak hanya itu, Richard menyebut catatan dalam lembar kesejarahan Indonesia juga tertulis rapi.

Peristiwa 27 Juli 1996, disebut sebagai Peristiwa Kudatuli yang merupakan akronim dari kerusuhan dua puluh tuju Juli atau Peristiwa Sabtu Kelabu dikatakannya karena memang kejadian tersebut terjadi pada hari Sabtu. Sejak itu pula mentalitas, spirit dan daya juang kader-kader PDI Perjuangan makin kokoh. Bertambah kecintaannya terhadap partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum saat ini.

”Ini adalah peristiwa pengambilalihan secara paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri. Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi, Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan. Begitu berkesan dan menjadi titik tolak bagi kebangkitan PDI Perjuangan,” kata Richard, saat diwawancarai Suluttoday.com, Selasa (28/7/2020).

Tambah Richard yang juga Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara dan pernah beberapa periode menjadi anggota DPRD Kota Manado, Wakil Ketua DPRD Kota Manado itu mengatakan bahwa Peristiwa Kudatuli menandai lahirnya kebebasan berdemokrasi di Indonesia. Semacam gerbang pembuka atas terkungkungnya nafas dan kran kebebasan di Indonesia.

”Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah dimulainya gerakan reformasi di tanah air. Doa kami bagi para pejuang partai yang gugur dalam peristiwa tersebut. Merdeka,” ujar Bung Richard begitu Richard Sualang akrab disapa.

(*/Bung Amas)

RICHARD SUALANG Kunci Kemenangan PDI Perjuangan di Manado

dr. Richard Sualang (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

DARI beberapa unsur pendonor kemenangan suara, posisi dr. Richard Sualang, Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Kota Manado berada pada bentangan strategis. Ayahnya pelopor, mobilisator dan pendiri PDI Perjuangan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Kader Banteng Moncong Putih yang dikala itu begitu dekat dengan Ibu Megawati Soekarnoputri Ketua Umum PDI Perjuangan dikenal sebagai singa podium yang santun. Aliran darah ‘merah’ PDI Perjuangan memang mengalir deras kepada sosok Richard Sualang.

Ayahnya tercinta punya jasa besar, berkontribusi mengembangkan dan membesarkan PDI Perjuangan di bumi Nyiur Melambai ini. Mantan Wakil Gubernur Sulut beberapa periode, potret seorang putra Minahasa yang patriot dan nasionalis. Tapi, Richard rupanya tidak mengharapkan semua itu didapatnya dengan instan. Dia enggan berpangku, melainkan turun memulai bekerja sebagai petugas partai di PDI Perjuangan di Kota Manado, dari Kelurahan, Kecamatan sampai saat ini memimpin PDI Perjuangan Manado.

Kata Soekarno, Bapak Marhaenis, pendiri Republik Indonesia, Presiden Indonesia pertama yang adalah Ayah tercinta Ketum Megawati, bahwa ‘JAS MERAH’ (Jangan Sekali-kali melupakan sejarah). Atau yang diartikan sejarawan Rushdy Hoesein, ‘JAS MERAH’ dalam judul pidato Bung Karno, sapaan akrab Soekarno, memiliki arti ‘Djangan sekali-kali meninggalkan sedjarah’. Inti dari pesan tersebut memiliki impresi, terselip pelajaran penting tentang menghormati, menghidupkan legacy leluhur atau para pendahulu.

Baik dalam interaksi politik, ekonomi maupun sosial dan budaya. Sejarah mencatat dengan indahnya bagaimana peran seorang Freddy Harry Sualang memajukan PDI Perjuangan disaat jaya-jayanya Orde Baru. Tidak mudah melewati gelombang dan otoritarianisme pemerintah waktu itu. Bagaimana kuatnya pengaruh ABG (ABRI, Birokrat dan Golkar). Mendiang Freddy H. Sualang begitu teguh pendiriannya, tampi tegar, punya nyali besar, progresif, orator ulung dan optimis bahwa PDI Perjuangan akan besar di Sulut.

Dalam jejak karirnya, beliau merupakan seorang politisi Parkindo. Setelahnya menjadi kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dimana waktu itu Parkindo dan 4 (empat) partai lain seperti Partai Katholik, Partai IPKI, Partai Murba dan PNI melakukan fusi atau penggabungan yang dideklarasi 10 Januari 1974. Tanpa money politic dan dukungan kekuasaan, mendiang Freddy menjadi Anggota DPRD Minahasa dalam Pemilu 1987 dan 1992.

Sejak 1998 beliau menjabat Ketua DPD PDI Perjuangan, sampai tahun 2010 dibawah kepemimpinan Megawati sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan. Mendiang Freddy Sualang dikenal sangat menghormati senior partainya. Tidak mudah melewati konflik di PDI Perjuangan Sulut, dimana Freddy Sualang saat itu berada dalam faksi PDI Perjuangan, bersama Megawati. Lalu berlawanan dengan kawan-kawannya di kelompok Surjadi, PDI.

Nilai-nilai keteladanan itu diikuti anaknya tersayang Richard Sualang. Kisah loyalitas Freddy Sualang juga digambarkan Drs. Markus Wauran, Anggota DPR RI pada era 1980-an. Menurut Markus Wauran, sosok Freddy begitu menghormati guru politiknya yakni Sabam Sirait. Sikap setia dan tidak menghianati komitmen ditunjukkan mendiang Freddy dalam pergaulannya. Ia tak rayu atas rayuan, tak akan goyah atas godaan, tidak pernah mau karena kepentingan sesaat beliau mengabaikan komitmen kebersamaan. Itulah sepenggal pelajaran yang tentu tengah tertanam, terpatri kuat dalam ingatan dan darah daging Richard Sualang yang juga Penatua (Pnt).

Seperti yang dilakukan Richard sebagai politisi muda, dirinya tampil penuh energi positif. Pandangan nasionalisme diucapkan dan dicontohkannya dalam tindakan konkrit. Takhirnya kita banyak menjumpai warga di Manado para aktivis muslim yang begitu sayang, peduli dan menghormati keluarga Sualang. Termasuk Richard Sualang yang kini menjabat Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Beberapa perjumpaan penulis dengan masyarakat pedagang, kalangan buruh, warga yang hidupnya biasa-biasa, mereka mengakui akan mendukung Richard Sualang. Mereka yang beragama Islam, mengaku tidak akan melupakan kebaikan-kebaikan mendiang Freddy Sualang.

Tidak mudah menjadi politisi yang dicintai semua kalangan masyarakat. Menjadi politisi rendah hati, menghargai orang lain juga tidak mudah. Butuh adaptasi kebiasaan yang lama, bisa bersifat turun-temurun. Richard terlahir dari DNA itu, selain keluarga yang pernah menjadi penguasa di Sulut. Dirinya berkesempatan diajarkan langsung Ayahnya untuk menghormati senior, menghormati dan membantu orang lain. Siapapun itu, tanpa membedakan agama.

Richard di pusaran Pilwako Manado 2020 merupakan kunci kemenangan PDI Perjuangan. Bila elit PDI Perjuangan terburu-buru, tidak cermat membaca situasi politik di lapangan dan kesejarahan daerah ini secara utuh, maka akan salah merekomendasikan kadernya melalui Surat Keputusan (SK) nantinya dalam hajatan pertarungan Pilwako Manado. Tantangan bagi PDI Perjuangan di Manado adalah belum pernah menjadi Kepala Daerah beberapa tahun terakhir.

Itu sebabnya, semacam ‘pagar’, mitos dan barang baru yang harus mampu diterobos dengan menggunakan energi yang cukup kuat. Bila saja elit PDI Perjuangan lebih menilai uang (finansial) sebagai pembeda untuk diusung ke pertarungan Pilwako Manado, maka resikonya PDI Perjuangan akan kalah di Kota Manado. Seperti membaca risalah sejarah, para elit parpol di pusat harus membacanya secara tuntas. Jangan sepenggal-sepenggal, dimana tak ada sejarahnya selain ‘etnis Minahasa, Gorontalo, Nustar,’ yang memimpin Kota Manado.

Apalagi mereka yang terindikasi warga naturalisasi. Yakinlah, akan ada bencana politik yang melahirkan isu maha dahsyat ketika PDI Perjuangan salah memberikan SK. Kesederhaan Richard Sualang begitu membuat banyak simpati berdatangan kepadanya, dan juga kepada PDI Perjuangan di daerah ini. Potret politisi idola yang satu ini tidak sombong seperti politisi-politisi lainnya. Santun dan rendah hati, seperti itulah Richard Sualang yang terekam diingatan warga Kota Manado.

Di internal mesin partai PDI Perjuangan pun, terdengar percakapan malu-malu dan sembunyi-sembunyi, mereka kebanyakan menginginkan Richard Sualang sebagai calon Wali Kota Manado. Selain itu, Richard Sualang punya gagasan yang kuat dan otentik. Masyarakat Manado juga tau betul, mengenali Richard sebagai kader PDI Perjuangan tulen, tanpa berpindah ke lain hati. Bila politisi lain sibuk ganti ‘warna’ Richard tetap fokus membesarkan PDI Perjuangan. Richard juga berpegang teguh pada prinsip gotong royong dalam membesarkan PDI Perjuangan, alhasil di DPRD Kota Manado saat Richard menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Manado telah berhasil merebut posisi Ketua DPRD Kota Manado.

MOR, RS/AA, JPAR dan IMBA dalam Pusaran Pilwako Manado

MOR, RS, AA, JPAR dan IMBA (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak di musim pandemi, 9 Desember 2020 akan berlangsung tensi politik yang sedikit berbeda. Selain anjuran pemerintah untuk tetap melakukan social distancing dan menghindari kerumunan, penyelenggara Pilkada pun bergerak tidak seramai dahulu. Kini segala tahapan dilakukan atas prinsip menjunjung tinggi protokol COVID-19. Pada entitas lain, loby-loby politik dan bargaining kepentingan tetaplah tumbuh.

Agenda demokrasi memang tidak pernah sunyi dalam konteksnya barter kepentingan dan adu kuat. Di Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado sejumlah nama mulai terpublikasi di media massa. Diantaranya, ada Mor Dominus Bastiaan (MOR), Jelyeta Paulina Amelia Runtuwene (JPAR), Jimmy Rimba Rogi (IMBA) dan Richard Sualang (RS)/Andrei Angouw (AA). Masing-masing mereka tampil sebagai kontestan calon Wali Kota Manado, jika skema koalisi berjalan normal tak ada kejutan politik, maka pasangan calon Wali Kota Manado memungkinkan 4 (empat) pasang calon.

Walau pun dari sisi kekuatan bila dibedah, bisa menjadi relatif, debatebel dan saling klaim. Mor dikabarkan berpasangan dengan HJP (Hanny Joost Pajouw), meski belum memegang SK (Surat Keputusan) dari partai politik, MOR-HJP sudah optimis mendapatkan dukungan dari Partai Demokrat. Tentu bukan tanpa alasan, mereka para politisi senior dan ada pula akademisi senior yang rekam jejaknya patut diperhitungkan.

JPAR yang santer dibicarakan telah berduet dengan Harley AB Mangindaan (HABM) mulai membentuk poros koalisi. JPAR-HABM mengidentifikasi diri secara politik bahwa akan didukung Partai NasDem sebagai saldo awal koalisi. Beberapa parpol lain sedang mereka garap. IMBA yang adalah mantan Wali Kota Manado ini dipasang-pasangkan dengan sejumlah bakal calon Wakil Wali Kota Manado, ada nama Boby Daud, dr. Makmun Djafara dari PAN. Ada pula nama Lily Binti dan Ruby Rumpesak yang digadang mendampingi IMBA.

Selanjutnya faksi politik yang diprediksi kuat adalah Andrei. Politisi pengusaha ini dinilai layak berpasangan dengan Richard Sualang, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Manado yang juga Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Andrei juga disebut-sebut sedang digodong bersama Asiano Gemmy Kawatu, birokrat senior yang kini menjabat posisi Asisten Administrasi Umum Pemprov Sulut. Politik memang punya logikanya sendiri, kadang dipandang tidak logis untuk kepentingan representasi kepentingan, tapi dalam kacamata politik dinilai sepadan dan layak, maka jadi logislah semua itu.

Relatifisme dalam politik memang begitu terbuka. Kemungkinan peta politik berubah atas hal-hal tertentu juga sering kita jumpai dalam pertempuran politik. Sebut saja salah satu contohnya, sosok Richard Sualang dinilai pantas menjadi calon Wali Kota Manado, tapi dalam kacamata perkawinan kepentingan bila tidak selaras, tidak seiring sejalan, maka kepantasan hanya akan menjadi harapan yang bercokol dalam pikiran.

Praktek di lapangan mengatakan lain. Itulah unik dan menjadi seni dalam politik, tidak semua hal ideal dalam amatan kita, ideal pula dalam kacamata politik. Politik juga soal dominasi dan daya tawar, politisi harus memiliki itu. Tidak sekedar kemampuan basis dukungan yang luas, ketersukaan publik, kepercayaan orang banyak terhadapnya. Lebih dari itu, politisi diminta untuk mampu mengkompromikan kepentingannya dengan kepentingan para pemburu kepentingan lainnya. Harus ada nilai jual, bukan sekedar modal sosial.

Diperkirakan terkait perang isu di Pilwako Manado kali ini juga ramai. Rebutan simpati dari konstituen pasti dilakukan masing-masing paslon kandidat Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado. Jualan isu potensial adalah masih soal isu-isu klasik, seperti politik identitas. Kampanye politik materialisme, isu sektarian juga akan diselundupkan dalam kampanye-kampanye informal. Rumah ibadah tidak tergadai, tapi akan menjadi komoditi politik yang strategis.

Menerima atau tidak, kita sudah memasuki Pilkada yang mentradisikan media daring (virtual) sebagai sarana komunikasi publik. Kita mulai masuk di rimba gelap pertarungan isu di media sosial, sampai di ruang-ruang terbuka. Kampanye hitam (black campaign), hoax dan pembunuhan karakter (character assassination) menjadi santapan publik yang akan disodorkan masing-masing tim pemenang untuk melemahkan lawan tandingnya. MOR, JPAR, IMBA dan RS/AA merupakan potret generasi terbaik di yang akan bertarung dalam ruang demokrasi di Manado.

Dalam level kandidat, tentu isu-isu produktif yang dibangun dan dipelihara. Tema politik penuh kerukunan, kebersamaan, persaudaraan dan kemajuan yang dibicarakan. Sama-sama membawa gagasan besar (grand narasi) dalam pembangunan, tak mungkin mereka melepaskan ‘peluru hampa’ dalam pertarungan Pilwako Manado. Artinya, sumber daya telah disiapkan, visi dan misi mereka tentu berkualitas. Tidak asal-asalan, apalagi abal-abal.

Turun pada level tim pemenang yang menerapkan marketing politik, biasanya segala cara dan strategi politik dipakai. MOR, JPAR, IMBA dan RS/AA, merupakan pemimpin yang berfikir ke masa depan, orang-orang berhasil yang kini kita menjadikan mereka sebagai panutan dalam politik. Tidak mudah berada dalam capaian tersebut. Kita menahan diri dulu, menanti apa gerangan kejutan yang diberikan mereka dalam penentuan koalisi. Selamat menggelorakan demokrasi dengan isu-isu dan tema yang konstruktif.

Politik itu bicara soal keterwakilan. Tentu keterwakilan kepentingan kelompok, serta masyarakat pada umumnya. Deretan nama-nama itu akan memberi legacy tentang kelayakan mereka sebagai pemimpin rakyat, bukan pemimpin golongan agama tertentu. Memang politik representasi telah mengakar dalam pandangan hidup masyarakat kita, sehingga untuk kepentingan elektoral sukar rasanya dihindari jika ada masyarakat yang menentukan pilihannya berdasaran emosi tertentu.

Demokrasi kita telah memberi ruang itu, ruang kebebasan memilih. Masyarakat bebas menentukan calon pemimpinnya disaat Pemilu atau Pilkada. Kembali ke masyarakat apakah mereka mau mengedepankan kepentingan jangka pendek maupun yang jangka panjang. Karena proses sayembara memilih pemimpin untuk situasi Kota Manado saat ini adalah melalui instrument partai politik. Bagi jalur independen (non parpol) sudah selesai waktunya dalam proses pendaftaran. Sehingga parpol punya peran begitu besar dalam menyajikan pilihan-pilihan calon pemimpin kepada masyarakat.

Deretan nama lain yang muncul dan santer dibicarakan masyarakat untuk meramaikan bursa calon Wali Kota Manado, belakangan yakni Sonya Selviana Kembuan (SSK), Johanis Victor Mailangkay (JVM), Rio Permana Mandagi (RPM). Belum terhitung line up bakal calon Wakil Wali Kota Manado yang cukup banyak menampilkan politisi-politisi ternama di Manado. Panggung politik di tahun 2020 ini kita berharap lebih berkualitas lagi dibanding tahun tahun sebelumnya. Kita kompak mendorong edukasi politik dibangun, agar masyarakat tidak tersesat, tidak dibohongi para politisi yang tidak punya niat mulia membangun daerah dengan praktek politik penuh hasutan dan destruktif.

Pada segmentasi lain konstalasi politik di Manado dipastikan makin kompetitif dan penuh warna manakala IMBA berpeluang lolos menjadi kontestan di Pilwako Manado. Figur yang masih punya massa pendukung militan ini akan memaksimalkan kekuatan guna meraih kemenangan. Memang tantangan IMBA hanya satu, yakni peluang akan terjegal karena statusnya yang dalam tafsir hukum masih ada pro kontra.

Lonceng Demokrasi Dibunyikan, PAHAM, MDB-HJP, Manado Hebat Saling Takluk

Rebutan kekuasaan, ilustrasi (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Ritme politik memang sukar diprediksi. Berubahnya tak tergantung ruang dan waktu. Bahkan tiap saat bisa memungkinkan konstalasi politik itu berubah. Di Kota Manado, dalam momentum Pilkada Serentak, 9 Desember 2020 nuansa politik cukup bergairah. Tentu penyebabnya, selain pertarungan Pilwako nantinya akan didominasi kekuatan para politisi senior, juga karena resource politik yang akan bermain. Benturan kepentingan berupa bargaining tentu tidak lepas dari komunikasi-komunikasi politik yang terjalin.

Ada kompromi politik, ada pula konflik kepentingan (konflic of interest). Friksi dalam politik memang selalu ada, ia bagai satu koin mata uang yang kedua sisinya saling melengkapi. Umumnya kita mengenal friksi tersebut dengan istilah dinamika demokrasi. Saat dibuat simulasi, berdasarkan data sementara dari konstalasi Pilwako Manado, mulai teridentifikasi peta kekuatan gerbong politik, baik dari proses menggarap koalisi sampai menentukan rival. Politik memang mengenal yang namanya lompatan yang tak terduga (quantum political leap), hal itu sering kali sulit terdeteksi para ahli, pengamat dan lembaga survey kebanyakan.

Beragam slogan mulai diviralkan, tentu tujuannya sebagai pemberi tanda politik. Brand dan jargon politik diusung, sebagai bagian dari cara ‘menjual’ produk politik. Agar figur yang diperjuangkan dikenal masyarakat, popular, diketahui gagasan-gagasan perjuangannya, dan seterusnya kepentingan memudahkan kemenangan. Kaitan politik elektoral memang harus betul-betul dimanfaatkan para politisi, jangan kalah metode atau strategi. Termasuk membingkai diri agar dikenali publik. Sekarang sebagai pembuka, mulai ramai tarung singkatan dan jargon, diataranya MDB-HJP (Mor Dominus Bastiaan-Hanny Joost Pajouw) yang akrab diidentikkan dengan ‘Manado Diberkati dan Harapan Jadi Pasti’, PAHAM (Paula Amelia-Harley Alfredo Mangindaan).

Begitu pun dari PDI Perjuangan ada simbol atau slogan Hebat. Di Pilwako Manado kita mengenal istilah dengan insial RS (Richard Sualang), maju beRSama untuk Manado. AA (Andrei Angouw). IMBA ‘bale for Manado’ (Jimmy Rimba Rogi) yang dijagokan Partai Golkar. Setelahnya ada nama SSK (Sonya Selviana Kembuan) membawa semangat ‘Harapan Baru Manado’. Tentu para konsultan mereka akan berfikir keras untuk menarik perhatian masyarakat, mengatur kekuatan agar menang dalam pertarungan.

Pertarungan Pilwako Manado kali ini merupakan pertarungan sengit PDI Perjuangan, Partai NasDem, Partai Demokrat dan Partai Golkar. Mereka secara institusi akan berusaha keras memenangkan kompetisi di Pilwako 2020 ini. Peluangnya hanya dua, bisa saling mengawinkan kepentingan dan bisa juga saling berebut kepentingan. Koalisi dan oposisi akan terjadi, maka cara tempur dilapangan ialah dengan berkompromi kepentingan atau berkonfrontasi. Dalam politik

Jika diperas lagi, maka akan muncul kurang lebih tiga pasangan calon di Pilwako Manado 2020. Berarti dari banyaknya partai politik, ada sebagian yang harus rela bergabung membentuk geng politik. Melakukan tawar-menawar kepentingan di dalam tubuh koalisi politik tertentu, begitu rumus kemenangannya. Tentu semua pengurus dan kader parpol tak mau ketinggal kesempatan dan melepas momentum politik ini lepas tanpa ada ‘keuntungan politik’ yang didapat.

Dari motivasi itu, dapat dipastikan perkawinan (koalisi) akan dibangun. Menang atau kalah itu urusan siasat politik masing-masing pihak yang berkompetisi, selain takdir Tuhan. Selain itu, kesiapan sumber daya perang juga menjadi trigger untuk meraih kemenangan politik. Komponen meraih menang itu tidak mudah, para kompetitor juga harus punya cadangan dan stok amunisi yang cukup agar kemenangan dapat diatur. Seperti kata Sun Tzu, ketika politisi yang memiliki kekuatan lebih dari musuh, tak mengapa menggempur musuhnya. Beda situasinya, jika ia berada pada posisi kekuatan seimbang, maka perlu ada trik pecah-belah kekuatan musuh.

Mengendalikan atau memobilisasi birokrasi bukan hal mudah. Hal ini memang menjadi barang mewah bagi para politisi, terutama modal mainannya petahana. Padahal disisi lain, birokrat itu sebagian besarnya masuk kategori pemilih rasional. Bukan kelompok massa mengambang (floating mass), artinya dari segi kemandirian menjatuhkan pilihan kepada figur yang mereka pilih begitu bebas bergantung pada mereka. Hanya saja ruang intrevensi terhadap mereka sering dilakukan, terutama birokrat karir yang memiliki jabatan struktural.

Terekam sampai detik ini, belum ada parpol yang mengeluarkan Surat Keputusan (SK) dukungan untuk calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado. Isu yang berkeliaran di media massa juga menjadi bagian penting untuk para dilirik DPP parpol. Karena mengejar survey popularitas dan elektabilitas, mestinya para kandidat ramai-ramai bekerja memberi diri pada masyarakat. Sebab bagi lembaga survey benaran, yang dikonfirmasi adalah pada masyarakat. Kecuali lembaga survey abal-abal yang mengarang hasil surveynya.

Dari kecenderungan itu, mengharuskan kandidat bergegas menawarkan program, memperkenalkan ide-idenya kepada masyarakat. Berkontribusi merupakan salah satu sarana efektif agar publik figur itu diingat dan dikenal masyarakat. Semua skenario politik, anggap saja masih tahapan simulasi. Semua tahapan pembicaraan politik untuk Pilwako Manado kali ini belum final, masih bergulir. Sehingga menjadi penting mereka yang berkepentingan cermat membaca situasi yang ada.

Peluang menang ada di pundak MDBHJP, juga berada dan bersama PAHAM. Seperti itu pula peluang yang setara berada pada RS-AA, SSK dan IMBA. Terlebih situasi sekarang KPU belum membuka pendaftaran bagi parpol secara resmi untuk mendaftarkan calonnya masing-masing. Perebutan kepentingan yang dilakukan tentu untuk kepentingan bersama masyarakat. Jadi fatal, manakala dari para calon kurang jeli membaca kekuatan pasangannya untuk akad. Taaruf politik jangan dilewatkan para politisi, harus dioptimalkan agar tidak ‘cerai’ diperjalanan. Atau agar tidak kalah dalam pertarungan, tapi saling melengkapi kekuatan kelak.

Dalam politik kita juga mengenal percakapan tentang presis dan probabilitas terjadinya error. Berdasarkan pengalaman banyak pihak yang telah merancang matang strateginya, namun sering kali gagal dalam implementasinya. Para konseptor, konsultan dan tim kerja dalam Pilkada juga kadang menemukan kekalahan karena bekerja hanya dengan tujuan menggugurkan kewajibannya, tapi tidak menyatu, tidak punya rasa yang sama dengan kandidat yang diusungnya. Visi yang diperjuangkan kandidat tidak dimengerti orang-orang sekitar, juga memicu kegagalan dalam kerja politik.

Sebagai cermin politik, kompetisi di Pilwako Manado ini sering dipakai diksinya sebagai tarung kewibawaan dan harga diri politik. PDI Perjuangan santer disebut-sebut akan bertarung habis-habis untuk memenangkan Pilwako Manado. Dimana sebelumnya PDI Perjuangan telah memengkan Pilgub, tapi Manado jatuh di tangan Partai Demokrat saat itu. Target ‘Manado Hebat’ (istilah yang identik dengan PDI Perjuangan) harus diraih, tapi posisi bertahan GS Vicky Lumentut yang kini telah bergabung di Partai NasDem juga pengaruhnya tak bisa dikucilkan. GS Vicky Lumentut tentu akan mempertahankan ‘prestasi’ politiknya itu.

Begitu pula dengan Wakil Wali Kota Manado saat ini, Mor Dominus Bastiaan, kader terbaik dan loyal di Partai Demokrat. Juga pasti tidak tinggal diam, secara kelembagaan tiap parpol pasti punya obsesi untuk terus berkuasa. Artinya, keberadaan Mor tak boleh dinafikkan akan mendulang kekuatan dukungan luas di masyarakat. Varian kekuatan ini akan saling beririsan, muaranya sudah pasti pada perebutan kemenangan di Manado. Adu kuat diperlihatkan untuk menang di Pilwako Manado 2020.

iklan1