Tag: Rizaldy Pedju

Aplikasi BUNGKUS JO Hadir di Manado, Cukup Belanja dari Rumah

Rizaldy Pedju (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Hadirnya aplikasi yang merupakan buah dari inovasi dan kreativitas putra daerah Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) relatif banyak. Salah satunya adalah melahirkan aplikasi Bungkus Jo. Cukup di ruamh saja, mudah cepat dan murah masyarakat bisa mendapatkan barang dari pasar dengan kualitas unggulan. Hal itu seperti disampaikan Rizaldy Pedju, selaku owner Bungkus Jo, Senin (22/6/2020).

”Kami menyediakan aplikasi Bungkus Jo, Konten aplikasi yang memudahkan masyarakat, bagi masyarakat Kota Manado yang mau ke pasar tapi taku Corona, silahkan gunakan aplikasi Bungkus Jo. Ini sebagai solusi di masa penyebaran pandemi Covid-19,” ujar Rizaldy pada Suluttoday.com, melalui rilis.

Keadaan pandemi saat ini, tambah Rizaldy merupakan hal yang tidak bisa kita hindari, kita dituntut untuk menjaga kesehatan dan hendak di anjurkan untuk tidak bepergian, keluar rumah. Namun tetap kita harus memenuhi kebutuhan pokok kita di rumah, untuk memenuhi hal tersebut mau tidak mau kita harus keluar rumah. Namun kali ini, ada cara memudahkan kita berbelanja di pasar tanpa harus ke pasar untuk membeli bahan pokok kebutuhan sehari-hari kita sekeluarga.

”Hadir dalam bentuk Aplikasi Android Bungkus Jo kini hadir untuk masyarakat Manado. Meskipun telah ada pesaing yang lebih dulu menawarkan jasa belanja kebutuhan pokok dengan menggunakan Aplikasi, Namun Bungkus Jo optimis bahwa aplikasi ini mampu menjangkau kebutuhan masyarakat Manado dengan Mudah, Cepat dan Murah,” kata Rizaldy yang juga jebolan aktivis HMI Cabang Manado ini.

Menurut Rizaldy dari aplikasi Bungkus Jo yakni Mudah, Cepat dan Murah. Pihaknya bekerjasama dengan pedangan di pasar tradisional yakni di Pasar Bersehati Manado, sehingga bahan-bahannya fresh. Penyedia bahan juga berusaha menjaga kebersihan bahan yang dipesan. Selain itu, ide hadirnya aplikasi Bungkus Jo, beranjak dari prihatin mereka akan keadaan ekonomi lokal khususnya bagi para pedagang pasar tradisional yang mengalami penurunan penjualan mereka.

”Karena keadaan pandemi sekarang, namun sebenarnya mereka menilai bahwa kebutuhan sehari-hari orang manado tetap ada, jadi aplikasi Bungkus Jo menghubungkan antara masyarakat dan Pasar dalam genggaman (handphone). Kami beroperasi setiap hari mulai dari jam 07.00 wita pagi sampai dengan 17.00 wita sore hari, Produk Bungkus Jo tersedia dengan lengkap sesuai dengan bahan yang ada di pasar-pasar, karena sumber bahan kami dari pasar dengan jenis sayur-sayuran, beras, ikan, daging, telur, rempah-rempah, bumbu dapur, buah dan produk kemasan. Tanpa Minimal Transaksi, Ongkos Kirim sangat murah mulai dari 10 ribuan serta banyak pilihan metode pembayaran,” tutur Rizaldy.

Dosen IAIN Manado ini juga menjelaskan cara menggunakan aplikasi Bungkus Jo. Bahwa sangat mudah, dengan mendownload aplikasinya melalui Play Store ketik Bungkus Jo, kemudian di Install, daftar dengan menggunakan No Hp/No Whatsapp pilih bahan belanjaan masukan dalam Cart klik Pesan sekarang. Setelah itu, pengguna akan diarahkan untuk melengkapi alamat dan memilih metode pembayaran lalu kirim pesanan.

”Pengguna akan mendapatkan pemberitahuan dari pesanan yang dilakukan, dan selanjutnya langsung dihubungi oleh Customer Service dari Bungkus Jo. Dengan hadirnya aplikasi jasa Bungkus Jo harapan dari Owner sendiri, semoga hadirnya aplikasi jasa Bungkus Jo, mampu menjadi solusi bagi masyarakat yang sekarang menghadapi pandemi,” ucap Rizaldy.

(*/Bung Amas)

Pengajian KAHMI Manado, Benih Radikalisme Ada di Semua Agama

Berlangsungnya pengajian (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Wacana radikalisme yang disuarakan pemerintah menuai kontroversi. Muncul dugaan ini proxy negara untuk alihkan masalah. Namun ada juga mengakui radikalisme itu fakta. Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Manado coba merajut gagasan para aktivis dalam diakusi Pengajian Inklusive bertema Proxy Radikalisme Fiksi atau Fakta.

Waktu dua jam tidak cukup rasanya bagi puluhan aktivis muda untuk menemukan titik temu tentang radikalisme fiksi atau fakta. Diskusi yang diramu KAHMI Manado di sebuah warung kopi 69, Perkamil, Jumat (8/11/2019) sore melahirkan dua pandangan berbeda. Malah Pemantik dialog Anis Toma MAg mengakui radikalisme ini proxy. Bisa hanya fiksi dan bisa menjadi fakta.

”Saya pun tidak berani menyimpulkan apakah radikalisme ini sengaja diciptakan oleh kelompok tertentu atau memang negara melihat ada gejala radikalisme di tengah warga,” kata Kepsek MIN 2 Manado ini.

Selaku moderator Rizaldy Pedju MH memberikan kesempatan kepada Presidium KAHMI Manado, Idham Malewa dalam memberikan penjelasan terkait kegiatan tersebut. Kata Idam, radikalisme menjadi boming di mana-mana. Makin masif di era pemerintahan Jokowi jilid 2. Melalui Menkopolhukam dan menteri agama.

”Pengajian bulanan ini adalah kerinduan bagi Alumni HMI Kota Manado guna menjalin silaturahmi dan peka terhadap tema kontekstual. KAHMI mampu menjawab tantangan sebagai agen of changes yang progresif,” tutur Idham yang juga Alumnus Fakultas Ekonomi Unsrat Manado.

Selain itu, jurnalis senior ini menegasikan agenda tradisi intelektual tak ada kaitan dengan Muswil KAHMI Sulut dan agenda politik 2020. Rizaldy mengantar diskusi dengan sedikit mengurai definisi radikal (radiks).

”Isu radikalisme di Indonesia mulai mengundang keresahan. Isu ini terus berkembang dan dianggap gerakan yang dapat merenggangkan integritas bangsa dan bernegara,” jelas dosen muda IAIN Manado.

Pengajian perdana KAHMI Manado setelah istirahat selama setahun lebih, dihadiri puluhan aktivis muda. Di antaranya Sekretaris PPP Sulut Agus Abdullah, Wakil Ketua KNPI Sulut Iswadi Amali, Wakil Ketua Pemuda Muslimin Sulut Fadly Kasim, Ketua BM PAN Sulut Faisal ‘Bang Toyib’ Salim, Sek BM PAN Gilang Ramadhan, Ketua Tidar Sulut Syarif Darea, Sekum PAN Manado/KAHMI Minut Ronal Salahuddin.

Hadir pula Aktivis Muhammadiyah Jeffry Alibasyah, Komisioner Bawaslu Kota Bitung Zulkifli Densi, Hadi, Ketua Bawaslu Boltim Haryanto, Ketua Prisma Sulut Dr Mardhan Umar, Wakil Dekan Tarbiyah IAIN Manado Dr Feiby Ismail dan para aktivis Suling Manado.

Dari KAHMI ada Anggota Presidium KAHMI Manado Fadilab Polontalo dan dr Zainal Ginsu, Sekum KAHMI Manado Mazhabullah Ali serta Ketum HMI Manado Iman Karim dan pengurus HMI Manado lainnya. Anis membuka dialog dengan menegaskan makna radikal sesungguhnya. Radikal secara etimologi adalah hal secara mendasar (principle). Radikalisme perlu dipandang dari 2 kacamata yang berbeda. Radikal positif dan serta radikal negative.

”Radikal Positif maksudnya adalah secara mendasar kita pegang sebagai suatu prinsip hidup kita, misalnya terkait keyakinan (iman), nasionalis dan hal-hal prinsip lain terkait kemanusiaan. Sedangkan negatif maksudnya prinsip kita yang paling benar dan prinsip orang lain salah atau dalam Islam kita bisa katakan mudah mengkafir-kafirkan orang yang berbeda madzab atau aliran dengan kita,” tutur mantan Ketua Komisariat IAIN Manado ini.

Anis menyentil mengangkat sejarah dalam di zaman sahabat nabi telah ada peristiwa yang melatarbelakangi kelompok yang melahirkan gerakan radikal. Misalnya peristiwa lahirnya kelompok Khawarij , antara kelompok Muawiyah dan Ali bin AbiThalib.

Khawarij merupakan suatu kelompok/aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang kemudian keluar dan meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim), dalam perang Shiffin pada tahun 37 h/648 M dengan kelompok Muawiyah bin Abu Sufyan persengketaan khalifah.

”Ada juga Peristiwa 11 September 2001 di Amerika mengakibatkan runtuhnya Gedung WTC oleh kelompok Al-Qaeda dipimpin oleh Osama Bin Laden. Dari sini lahir stereotip bahwa Islam identik dengan radikal sehingga label itu menyebar yang akhirnya lahirnIslamophobia,” tandasnya.

Anis mengatakan ada 4 Faktor benih radikalisme. Faktor Ekonomi, Politik, Psikologi dan Pendidikan. Diantaranya faktor ini bisa jadi faktor utama suatu individu atau kelompokmenjadi radikal. Terkait Radikalisme itu Fakta atau Fiksi, kata Anis fakta yang menerangkan tentang bahaya laten radikalisme.

”Kita tidak bisa menutup mata adanya fakta kelompok radikal di Indonesia, namun disisi lain adanyasuatu grand desain bahwa umat islam sebagai lakon opera yang dimainkan aktor intelektual global yang hendakmengembangkan isu Islamophobia juga adalah suatu faktatersendiri, yang mengiring bahwa tumbuh suburnyaRadikalisme di Indonesia adalah suatu fiksi belaka,” ucapnya tegas. (*/Redaksi)

iklan1