Tag: robert a dahl

Seleksi Kepemimpinan Daerah, Pilkada dan Semangat ‘Sitou Timou Tumou Tou’

Prof DR Sam Ratulangi (Foto Ist)

Sitou Timou Tumou Tou’ yang merupakan konsep atau falsafah hidup masyarakat tanah Minahasa, dinilai selalu relevan sepanjang zaman. Kalimat inspiratif itu terlahir dari kearifan lokal dimana masyarakat saat itu tumbuh. ‘Sitou Timou Tumou Tou’, artinya ‘manusia memanusiakan sesama manusia’. Kemudian, kenapa perlu kita menyoal politik pada tulisan kali ini, hal itu beralasan karena sebagai ikhtiar politik, dimana pada tahun 2018 di Provinsi Sulawesi Utara sendiri terdapat kontestasi Kepala Daerah.

Sekitar dua Kabupaten di Minahasa yang menggelar Pilkada, diantaranya; di Kabupaten Minahasa dan Minahasa Tenggara. Fenomena politik faksi dan friksi kini mulai terbaca benih-benihnya, walau sekali lagi inilah model serta apresiasi kita dalam berdemokrasi. Toh, pada akhirnya semua pemegang hak suara menyampaikan dalihnya untuk mempertanggungjawabkan secara sosial pilihan politiknya itu.

Sekedar belajar dari proses Pilkada yang notabenenya sebagai ajang seleksi kepemimpinan di daerah, banyak referensi kita telah lewatkan sebenarnya, sehingga seyogyanya dari Pilkada ke Pilkada selanjutnya melahirkan sebuah progress. Harapan tersebut, bukan sekedar harapan kosong, namun dibutuhkan komitmen konkrit dalam mewujudkan perubahan itu sendiri. Prof Dr Sam Ratulangi sebagai pencetus slogan ‘Sitou Timou Tumou Tou’ telah berhasil meletakkan Minahasa pada posisi yang begitu diperhitungkan karena gagasan besar ini.

Secara teoritis, hakikat politik itu mewujudkan kesejahteraan rakyat dan membuat rakyat yang dipimpin bahagia, bukan sekedar perebutan kekuasaan tanpa akhir. Walau sering kali mengalami bias saat praktek politik dan perebutan kekuasaan itu sedang berjalan, hakikat politik merupakan tujuan mulia yang patut direorientasikan dari para aktor politik ‘pemburu kekuasaan’.

Sebagai gagasan ‘penyangga’ dan sekaligus pengigat bagi publik bahwa betapa banyak peninggalan sejarah di Negeri ini yang baik-baik, layak ditiru, bukan direduksi, apalagi dilucuti. Semisal, tentang narasi atau esensi dari kata-kata seperti Sitou Timou Tumou Tou, yang begitu universal maknanya. Kenapa penting kita membaca kembali, mendiskusikan atau mengingat kembali Sitou Timou Tumou Tou?.

Melalui spirit ini pula, para politisi kandidat Kepala Daerah dapat berfikir inklusif, tidak brutal saat kampanye hingga melupakan warisan sejarah, kearifan lokal dan nilai-nilai luhur yang ditinggalkan para pendahulu Negeri ini. Sudah otomatis ‘indah pada waktunya’, jika para politisi menjadi penyejuk, menjadi duta-duta Pilkada yang damai, sampai tiba masanya dari sekian calon terseleksi Kepala Daerah yang betul-betul konsisten berpihak pada rakyat dan menghargai urgensi sejarah daerah, serta sejarah bangsa Indonesia.

Selain itu, pengertian politik menurut Robert A. Dahl adalah seni memerintah dan mengatur masyarakat manusia. Ini bukan dijadikan benturan sejarah, persilangan atau pertentangan lainnya dalam kemasan isu-isu kampanye politik yang menjatuhkan. Melainkan, menjadi penyemangat untuk melahirkan keutuhan, masyarakat (konstituen) diadu untuk berlomba-lomba menjaga kebersamaan, saling menghargai, meski dalam konteks tertentu adalah rival politik.

Para akademisi, jurnalis, kader partai politik, simpatisan calon Kepala Daerah, kalangan professional lainnya dan pemangku kepentingan juga diminta menjadi agen yang bertugas memproduksi pandangan-pandangan tercerahkan. Pendidikan politik dikedepankan, hindari saling menjatuhkan, peristiwa politik yang tidak mendidik yang pernah dipertontonkan di daerah lain di Indonesia ini, dan itu merusak kerukunan, maka jangan sedikitpun diadopsi.

Kita meniru kebaikan-kebaikan besar, maupun kebaikan sekecil apapun di dunia ini, selama itu baik layaklah kita tiru. Namun bila politik hanya membawa rusuh, gaduh dan mengganggu solidaritas masyarkat, itu adalah lawan kita bersama. Isu sektoral yang gagal mengakomodasi kepentingan kebanyakan orang, patut dirubah dengan pola rekayasa pilihan, hijrah dari yang biasanya memilih figur karena memberikan uang, ke memilih calon pemimpin yang berkomitmen mewujudkan kepentingan publik.

Catatan kecil ini sekedar menjadi penambah nutrisi dalam kita berdemokrasi, tak lebih. Karena kerinduan kita sama sebagai anak bangsa yang menghendaki pemimpin itu menjadi teladan, bukan sekedar menjadi seperti senter klas. Pemimpin itu dasarnya saja, tau merancang, menjalankan apa yang dirancangnya, berjanji, lalu merealisasikan apa yang dibicarakannya. Mereka yang menjadi role model bagi orang-orang disekitarnya, dan bisa menjalankan tugas sosialnya, bukan menjadi ‘boneka’.

Perseturuan melalui politik gerbong rasanya sulit untuk diakhiri dalam membaca trend politik modern, mesti begitu yang namanya politik memang tak ada yang abadi. Kepentingan menjadi daya tarik luar biasa, sehingga tidak ada yang abadi didalamnya. Muncul blok politik (oposisi), tak lama lagi akan berubah menjadi kompromi politik (koalisi), semua motivasinya rata-rata sama yakni mengamankan kepentingan.

Kita berharap kekuatan filosifis dari makna ‘Manusia Memanusiakan Manusia’ menjadi nilai transformasi yang tiap detik menyemangati para politisi kita agar berfikir jangka panjang. Berfikir tentang pentingnya regenerasi kepemimpinan yang berkualitas, bukan yang abal-abal dan mengandalkan kekuasaan atau kekuatan uang semata. Bila itu yang dilakukan politisi, maka pekerjaan mendorong pendidikan politik yang sering dilakukan para pengamat politik dan konsultan politik, tidak berat lagi.

Karena jujur saja cukup berantakan pembagian tugas dari para pengurus partai politik dalam melakukan pendidikan politik kepada rakyat. Semua cenderung mengharapkan yang instan saja, saling berharap itu masih menjadi mentalitas kita dalam membenahi ruang politik yang penuh pragmatisme dan pembodohan terstruktur ini. Semoga di tahun 2018 ini kompetisi politik di Minahasa dan Minahasa Tenggara lebih maju, serta membawa manfaat bagi masyarakat.

Lebih komprehensifnya, gagasan Sam Ratulangi tentang Sitou Tiour Tumou Tou dominan diartikan pada rekonstruksi paradigma pendidikan (kalau tidak salah). Aspek pendidikan yang menjadi perhatian serius Sam Ratulangi disaat itu. Tapi, bagi penulis spirit ini parlu ditarik dan dijangkitkan pada para aktor-aktor politik kita bahwa pentingnya berfikir besar, hidup untuk menghidupkan orang lain itu sangatlah penting. [***]

 

 

Catatan Redaksi Suluttoday.com

iklan1