Tag: sehan landjar

Koalisi CEP-SSL di Sulut, Tanda Warning Bagi Petahana

Menguatnya CEP SSL (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Petahana Olly Dondokambey, SE, yang akan bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Utara (Sulut), harus meningkatkan kewaspadaannya. OD begitu Gubernur Sulut saat ini akrab disapa berpotensi merubah skenario politiknya. Bila Sehan Salim Landjar (SSL) bersekukuh menjadi calon Wakil Gubernur Sulut mendampingi Cristiyani Eugenia Paruntu (CEP). Kekuatan representasi wilayah, identitas suku agama dan antar golongan juga masih kental dalam praktek politik kita di daerah ini. Hal tersebut turut menguatkan posisi CEP-SSL.

Irisan dan perpaduan kekuatan CEP yang adalah Bupati Minahasa Selatan 2 periode ditambah SSL, Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) memberi isyarat kuat bahwa CEP-SSL menjadi kompetitor kuat OD-SK. Pilihan yang boleh juga diambil OD yakni menggantikan Steven Kandouw (SK) sebagai calon Wakil Gubernur mendampinya. Probabilitas itu dapat menyumbangkan pengaruh besar dalam sisi elektoral. Pada konteks kemasan isu demokrasi akomodatif, CEP-SSL lebih diuntungkan.

Gambaran lain betapa berpengaruhnya bangunan koalisi ECP-SSL atau Golkar-PAN terbaca dengan belum keluarnya SK rekomendasi dari DPP PDI Perjuangan di Kabupaten Boltim. Potensinya, berpeluang anak tersayang SSL yakni Amalia Landjar menjadi pertimbangan untuk didukung PDI Perjuangan. Selain popularitas dan elektabilitas Ketua DPD KNPI Boltim (Amalia) juga ditopang bargaining politik SSL membuat Olly Dondokambey harus berfikir keras untuk menang di Pilkada Serentak 2020.

CEP-SSL juga mewakili isu-isu gender yang strategis dijual ke konstituen. Tidak hanya itu, CEP yang perempuan memiliki kans merubah ‘mitos’ politik bahwa perempuan di Sulut belum pernah atau tak akan menjadi Gubernur sama sekali. Iklim politik yang terbangun menempatkan CEP dalam pusaran tantangan yang tidak mudah. Selanjutnya juga pada tahapan berikut memberi peluang pada CEP guna melakukan pembaharuan di daerah nyiur melambai tercintai.

Kedatangan SSL mendampingi CEP memberi akselerasi kepada CEP untuk meraih kerinduan warga Sulut tentang Gubernur Sulut perempuan. Belum lagi kesadaran berpolitik kita di daerah yang yang terhadap politik diskriminasi. Menurut pandangan umumnya, politik adalah soal kesetaraan dan keadilan. Kepemimpinan publik di era demokrasi bukan saja layak ditempati kaum laki-laki. Melainkan, perempuan seperti CEP punya peluang yang sama menjadi Gubernur seperti laki-laki.

Kombinasi kekuatan Minahasa tambah Bolmong Raya dan Gorontalo, di tambah membuat power CEP-SSL beberapa tingkat lebih tinggi levelnya ketimbang OD-SK. Perang isu terkait hal tersebut memang tak bisa diabaikan. Lain soalnya tentang saling membentur-benturkan isu SARA, konteks yang dijelaskan ini bukan pada ranah itu. Melainkan menyemangati dan menghidupkan sentimen primordial yang positif konstruktif. Bukan mengajak pemilih untuk saling berkonflik kepentingan.

Lebih dari itu, CEP-SSL menjadi solusi dalam menarik kekusutan dan ketimpangan struktur sosial yang selama ini begitu dieksploitasi secara sektarian dalam praktek politik. Semangat positif, saling mengajak dan mendukung antara sesama, baik itu sesama internal suku, agama ras dan antara golongan diperlukan dalam konsolidasi demokrasi. Jangan membawahnya dalam ruang pertentangan yang memicu konflik.

Politik simbolik memang bukan hal baru lagi saat ini. Justru simbolisasi politik itulah yang sering dipangkas magknanya, sehingga lebih ditafsir secara negatif dan destruktif. Lantas aktualisasinya di lapangan menjadi bencana bagi persatuan dan kesatuan nasional, padahal tidak seperti itu harusnya. Sentimen politik simbolik atau politik identitas, keterwakilan wilayah dan sebagainya ditata rapi, dimaksudkan meningkatkan kesadaran kolektif. Saling memberi kesejukan, menguatkan agar lebih mudah dalam kerja-kerja sosial, meningkatkan cita-cita bersama secara berkelanjutan. Itu poinnya.

Jangan menarik atau merendahkan, mendistorsi politik simbolik dalam penjara pikiran yang kotor dan culas. Politik simbolik harus dipandangan dalam perspektif yang membangun, positif. Karena semua kehidupan ini simbolik (berlabel), sebagai penanda. Sehingga kita tidak dapat lepas dari makna-makna simbolik tersebut. CEP-SSL berada diposisi strategis menarik, menjembatani semua komunitas-komunitas masyarakat untuk hidup rukum, damai, saling menghormati, tanpa saling mendiskreditkan antara sesama masyarakat.

Tak ada masyarakat di daerah ini yang nanti merasa berada dalam level nomor 2 atau nomor 3 dan seterusnya. Tapi keberadaannya secara sosial adalah sama, setara. Itu sebabnya, OD punya kesempatan menimbang ulang keberadaan SK. Boleh jadi OD mengambil Wakilnya dari kalangan agamawan atau politisi, bisa juga Ketua MUI Sulut, Ketua NU Sulut, Ketua Sinode GMIM, Ketua Syarikat Islam, atau Andrei Angouw dari kalangan politisi pengusaha. Pilihan berada di tangan OD, dirinya harus berfikir matang dan selektif dalam menghadapi CEP-SSL.

Elemen urgen yang perlu diperhitungkan lagi OD yakni CEP-SSL punya rekam jejak memimpin yang teruji. Mereka berdua sukses membangun daerahnya masing-masing selama 2 periode, punya basis dukungan yang luas juga spesifik (pendukung militant). CEP dan SSL menjadi miniatur keberagaman di Sulut. Selebihnya, CEP maupun SSL Ketua parpol di tingkat Provinsi yang punya pasukan di tiap Kabupaten/Kota. Untuk memobilisasi kekuatan, bagi mereka berdua hal yang kecil dilakukan. Koalisi CEP-SSL bagai alarm pengingat terhadap OD.

CEP dan SSL (Foto Istimewa)

Mengingatkan OD dalam keyakinan politiknya bahwa harus melanjutkan bersama SK atau mengocok ulang posisi SK. Boleh dibilang ini pergumulan politik bagi OD selama karir politiknya yang sukses dibangun. Salah memilih Wakilnya, maka bersiaplah OD menjemput kekalahan. Peta politik yang tersaji, sebagiannya masih samar-samar membuat OD harus komprehensif melakukan pertimbangan dari bacaan situasi di lapangan. CEP-SSL dua sosok politisi yang handal, politisi senior yang berwawasan nasionalis, saling melengkapi kekuatan kelemahan.

Quo vadis Olly Dondokambey?

Selepas Partai Golkar dan PAN mengeluarkan rekomendasi terhadap CEP-SSL, Olly Dondokambey harus selamatkan posisinya agar menang di pertarungan Pilgub Sulut, Rabu 9 Desember 2020 mendatang. Bukan ‘kaleng-kaleng’ rival Olly kali ini cukup menghawatirkan. Akan mengancam kemenangannya sebagai Gubernur Sulut 2 periode. Konstalasi politik seperti ini membuat OD dilema dan terhimpit. Politisi kawakan ini butuh kekuatan solid dan siap bertarung, jangan sampai ada yang menggembosi kekuatannya dari dalam.

Peluang dan tantangan OD yaitu dalam membaca ulang data-data survey potensi kemenangan dirinya. Dalam politik ada presisi dan probabilitas kekuatan yang harus diperhitungkan para politisi, OD tentu teliti membaca hal-hal tersebut. Ketika teliti dan cermat tentunya dirinya tidak asal-asalan mengambil keputusan. Yang bermain di benak OD adalah dirinya harus menang. Dari kekuatan personal, OD cukup kuat, harus ditambah dengan keberadaan calon Wakil Gubernur yang menjadi nilai tambah bagi dirinya. Ketika faktor itu diabaikan, maka Pilkada Serentak di musim pandemic COVID-19 akan menjadi mimpi buruk kelak bagi OD. Alhasil sepanjang sejarahnya memulai berpolitik, kali ini OD meleset meraih target. Ketenangan OD kini diuji dengan hadirnya CEP-SSL.

Peluang lain yang harus dihadirkan OD selain mengganti SK yaitu melahirkan opsi poros koalisi baru. Ketika Pilgub Sulut melahirkan 4 pasangan calon, maka OD berpeluang menang. Konstalasinya malah alot dan tidak menguntungkan OD, jika terjadi head to head OD-SK vs CEP-SSL. Berarti tugas OD adalah melahirkan calon boneka untuk meramaikan kontestasi Pilgub Sulut. Atau OD perlu lagi membangun sekutu yang kuat dalam game politik kali ini.

Selain menambah personil orang-orang yang solid dan punya dukungan massa luas. Punya trust di masyarakat, OD juga membutuhkan petarung andal yang mampu menjadi pemecah ombak bagi CEP-SSL. Sejauh ini belum ada hal tersebut. OD baru dikelilingi ‘para pembisik’ yang kurang taringnya di masyarakat bawah. Bahkan sebagian mereka pengaruhnya padam di tingkat masyarakat akar rumput. Soliditas tim yang kemudian perlu diperkuat lagi OD jika betul-betul mau bertarung melawan CEP-SSL. Ketika kontestan Pilgub menjadi 4 paslon, maka peluang OD lebih terbuka.

Tukar tambah kekuatan menjadi perlu dan mendesak dilakukan OD saat ini. Pengalaman akurasi hitungan politik OD memang diakui politik, disinilah kembali OD diuji kematangannya. Belum lagi faksi politik SHS yang membawa gerbong para ‘purnawirawan’. Ada GSVL, JWS, E2L, dan sederet nama politisi popular lainnya mengambil peran. Jatung politik itu ada pada kepentingan, bagaimana mengaturnya agar tidak menyeret atau menghancurkan politisi itu sendiri. Termasuk mengatur detak dan iramanya agar memudahkan politisi untuk meraih kemenangan.

OD sebagai petahana dan juga Ketua DPD PDI Perjuangan Sulut perlu analisis yang tajam dalam menentukan bangunan koalisi di Pilkada Kabupaten/Kota. Ketika lengah dan tidak cermat membaca peta kekuatan politik, maka OD kalah. Posisi Pilkada Manado juga menjadi salah satu indikator yang mengantar kemenangan OD. Hitungan kompensasi atau konsesi politik memang bisa dipakai dalam membangun logika koalisi, tapi sudah lebih waspada lagi karena OD kini mendapat lawan tanding yang sepadan.

Jurus ‘’Mabuk’’ Sehan Landjar di Pilkada Sulut

CEP dan SSL (Foto Istimewa).jpg

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Sehan Landjar yang akrab disapa Eyang atau Sehan Salim Landjar, SH (SSL), merupakan politisi handal dari Sulawesi Utara. Selain dijuluki singa podium, kelakar politik dan manuvernya ‘minta ampun’, lincah. Tak perlu diragukan lagi rekam jejak politisi senior yang satu ini. Nah, bagaimana dengan move politik yang dilakukan Eyang di Pilkada Serentak 2020?. Tentu banyak pihak menunggu kejutannya.

Untuk skala Pilgub Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Eyang mulai terlihat ‘bermain’ dengan CEP (Christiany Eugenia Paruntu) Bupati Minahasa Selatan (Minsel) dua periode, dan juga Ketua DPD Partai Golkar Sulut, tentu targetnya yaitu berduet di Pilgub Sulut sebagai calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur bukan bermotif lain. Bertepatan dengan posisi Eyang yang juga Bupati Bolaang Mongodow Timur (Boltim) dua periode sekaligus Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN), membuat Eyang begitu diperhitungkan di atas panggung politik.

Eyang memang gesit, dan sempat viral saat pandemic COVID-19. Kurang elok kalau politisi kawakan ini dituduh nebeng momentum. Ada satu istilah yang identik dengan Eyang ketika bercakap politik, ia dikenal sebagai penggagas jurus politik ‘menangkap angina dengan keranjang’. Agresif dan kadang sukar diterka mainannya. Eyang mulai membuka jurus ‘mabuk’. Dapat dianalisa, yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana agar tidak tertinggal atau ditinggalkan dalam momentum Pilkada Serentak.

Dirinya harus dapat manfaat dari pesta politik 2020 ini. Terlebih Eyang harus kerja keras untuk mengamankan anaknya Amalia Landjar di Pilkada Boltim. Tergolong politisi penuh ceria gembira memang Eyang dikenal, tapi kebanyakan hitung-hitungan politiknya akurat. Politisi yang merangkak dari bawah dan matang ini rupanya masih punya obsesi mewariskan kepemimpinan di Boltim kepada anaknya.

Terendus Eyang turut menjadi penentu dalam mewarnai peta dan konstalasi politik di Sulut, ada 3 (tiga) skenario pasangan di Pemilihan Gubernur (Pilgub) dan target Kotak Kosong di Boltim, Eyang sebagai pelopornya. Target tersebut jika benar-benar diterapkan Eyang, berarti menambah ‘puji-pujian’ pendukungnya terhadap Eyang. Tapi memang tidak mudah, karena Eyang berada dalam pusaran kepentingan yang bisa membawa resiko dirinya dianggap sebagai penghianat diakhir permainan kelak. Reputasi Eyang bisa jadi dipertanyakan politisi sejawatnya, atau oleh publik.

Sebab diketahui, Eyang bukan ‘ular minya’. Apalagi derajatnya sebagai politisi senior mengharuskan dirinya menempatkan diri sedemikian rupa agar tegak lurus menjadi teladan bagi publik. Bagi yang mengenal Eyang tidak lagi terkejut dengan kata-kata meyakinkan yang dilantunkannya dalam bicara. Baik di rumah-rumah kopi, tempat main catur, meja makan sampai ruang diskusi formal Eyang memang konsisten kalau bicara kepentingan bersama. Namun dalam implementasinya, tergantung kita memandang dan mengukurnya masing-masing.

Selain itu terkuak juga Eyang akan bermain jurus mabuk dengan menerapkan komitmen politik ‘tiga kaki’. Eyang disebut akan maju sebagai calon Wakil Gubernur hanya semata-mata melahirkan pembagian kekuatan politik (competitor) menjadi 3 pasang calon. Rupanya by order, apakah Eyang ‘selingkuh’ kepentingan dengan PDI Perjuangan?. Hanya dirinya dan Tuhan yang tau itu. Kita sekedar merangkaikan informasi dan merelevansikan gerakan politisi pemberani ini.

Menghindari head to head di Pilgub, maka Eyang harus maju mendampingi CEP. Bila head to head, petahana Olly Dondokambey tentu kelabakan menghadapi VAP. Misi yang yang diduga kuat dilakukan Eyang yaitu PDI Perjuangan di Boltim harus berada dalam rangkulannya. Artinya kemenangan awal Pilbup Boltim telah mampu diraih Eyang dengan membangun komitmen politik agar PDI Perjuangan memberikan Surat Keputusan (SK) rekomendasi dukungan kepada anak tersayangnya Amalia.

Tidak main-main Eyang coba mengikuti gaya berpolitik Bupati Minahasa Tenggara (Mitra) James Sumendap yang melawan ‘Kotak Kosong’. Berarti CEP benarkah terjebak dan termakan strategi jitu dari Eyang?. Bisa benar, bisa juga tidak. Beredar kabar Eyang sempat menebar ‘terror’ kepada DPP PAN, jika keinginannya tidak diikuti, maka Eyang akan mundur dari PAN. Politisi vokal yang satu ini mau melakukan barter kepentingan. Sederhananya DPD PAN di Kabupaten/Kota yang ada di Sulut harus tertib mengikuti kemauannya.

Terutama aktivis parpol dan aktivis pergerakan masyarakat, tentu mengetahui kedekatan Eyang dengan James Sumendap. Keakraban mereka akan bermuara pada penyamaan sikap dalam membangun komunikasi-komunikasi politik. Skema Amalia Landjar melawan Kotak Kosong bisa terjadi di Boltim. Santer juga terdengar isu Eyang mendapat mahar politik dari CEP, karena Eyang dianggap punya popularitas, telah viral belum lama ini sehingga menjadi rebutan para politisi.

Eyang dianggap mampu menarik lumbung suara BMR (Bolaang Mongondow Raya). Padahal, kalau dilacak tidak sepenuhnya akurat anggapan tersebut. Dapat dikatakan politisi PAN yang satu ini mulai berhasil memainkan perannya di Pilkada Sulut, secara apik dan santun Eyang bermain lihai. Target melahirkan 3 paslon di Pilgub Sulut tengah dimainkannya, hal itu tentu tidak gratis secara politik. Eyang sudah tentu mendapat berkah dan manfaat.

Ketum DPP PAN, CEP dan SSL (Foto Istimewa)

Terlebih permainan Eyang penuh resiko yang besar. Beberapa sumber akurat orang dekat Eyang menyebutkan bahwa Eyang maju di Pilgub untuk kalah. Atau dalam istilah Aktivis Muslim Sulut (AMS) disebut ‘kalah tapi untung (menang)’. Benarkah CEP, Golkar dan DPP PAN terkecoh dengan jurus mabuk Eyang?. Kita nantikan saja realitas politik setelah ini. Tidak dapat disangkal, Eyang maksimal memanfaatkan keviralan tersebut. Sampai-sampai CEP mengaguminya, siap menjadikan Eyang sebagai calon Gubernur mendampinginya.

Tentu keberhasilan penetrasi politik yang mulai nampak dilakukan Eyang melahirkan kepuasan tersendiri bagi dirinya. Eyang, begitu santai, murah senyum tapi ‘berbahaya’. Terpotret pula gelagat politik Bupati Boltim 2 periode itu semata-mata berjuang untuk kepentingan dirinya dan keluarga, barulah kepentingan banyak pihak diperjuangkan. Tipikal politisi yang melanggengkan dan menjadi budak dari politik dinasti. Putra pertama Eyang yakni Fuad Landjar juga kini menjadi Ketua DPRD Kabupaten Boltim periode 2019 – 2024, dan juga istrinya bernama Nursiwin Dunggio, menjadi Anggota DPRD Provinsi Sulut periode 2019 – 2024. Tidak mudah peran yang dimainkan Eyang.

Dan akhirnya semua bisa berpotensi terjebak dan terkecoh dengan jurus mabuk yang dipentaskan Eyang. Politisi senior yang piawai berpolitik ini punya kelebihan membaca tanda-tanda kemenangan dalam politik. Eyang mengerti betul betapa beratnya melawan petahana Olly DondokambeySteven Kandouw (ODSK), sehingga pada kontestasi kali ini Eyang pasrah. Kemudian siap berada dalam barisan menangkan ODSK. Manuver Eyang perlu dibaca secara komprehensif, boleh saja ini bagian dari cara Eyang memperkuat ODSK, agar ODSK menang di Pilgub Sulut, Eyang harus bersama CEP. Dalam peran itulah Eyang diuntungkan secara berlimpah. Kompensasi politik untuk anaknya tercinta tidak murahan, anak Eyang (Amalia) harus mendapat dukungan dari PDI Perjuangan di Pilkada Boltim 2020, itu upayanya. Pantaslah gerak politik Eyang dicurigai saat ini.

Membaca Nalar “Hulodu” yang Sedang Viral

Nizam Halla (Foto Istimewa)

Oleh : Nizam Halla, Sekretaris eLPERISAI

Kata “hulodu” atau dungu dalam KBBI bisa di artikan sangat tumpul otaknya, tidak cerdas; bebal, atau bodoh. RG misalnya, memakai kosa kata tersebut untuk menggambarkan seseorang yang menjawab pertanyaan tanpa berpikir dan bertindak sistimatis. Bisa dikata RG adalah ikon naratif diksi ini. Dalam ciutannya RG malah menyebut, “dungu adalah kata terhormat untuk memantik nalar kaum delusionis-fanatis”. Belakangan kosa kata ini kembali ramai di gunakan oleh para tokoh yg mengktirisi kebijakan penguasa.

Bupati Boltim, Sehan Landjar, geram pada tumpang tindihnya aturan antar kementrian hingga menyebut mensos dengan kata “bodoh” atau KG yang menyebut seremonial PSBB yang dilakukan di tengah keramaian oleh gubernur gorontalo adalah “kluster hulodu”. Setidaknya “menurut seorang kawan” tulis beliau. Menyoal diksi yg di gunakan KG dalam tulisan PSBB “hulodu”, sontak mendapat tangapan berfariasi dari berbagai pihak di gorontalo, entah oleh para “pakar gestur”, politisi, hingga sosiolog.

Namun terlepas dari kontroversi yang menyertai tulisan tersebut, sebetulnya “sangkaan” mereka hanya mengkonfirmasi ketidakpahamannya pada narasi yang di bangun KG dalam konten tersebut. Beberapa tulisan “counter balik” terkesan nyinyir dan cenderung emosional menanggapi tulisan yg sebetulnya lumrah dalam kaidah-kaidah kritik.

Kosa kata “hulodu” (bodoh) sebetulnya pernah di gunakan oleh para pejabat tinggi negeri ini, sebut saja yasonna laoly (mantan kemenkumham) , yang menyebut seorang artis sekaligus aktivis dian sastro sebagai “orang bodoh” saat mengkritik sejumlah pasal “kontroversi” dalam RKUHP, apakah dian sastro yang jebolan fakultas sastra UI itu bodoh dalam kaidah umum.? Tentu maksud pak yasona tidak seperti itu.

Terlepas dari bagaimana pakar linguistik mendefinisikan kata ini, namun sebagian masyarakat tidak memahami kata Dungu/Bodoh/Hulodu seperti apa yang dibawa oleh kaum intelektual, bagi mereka terlepas dari apapun pengertiannya dan pesan apa yg dibawa, sebagian masyarakat masih menggangap bahwa makna peyoratif dalam kata tersebut belum bergeser pada arti sesungguhnya.

Jika tulisan KG di anggap sebagai bentuk “perundungan” maka benarlah apa yg di katakan RG, bahwa dungu (hulodu) adalah cara berpikir dan bertindak yg tidak sistimatis. Maka sesungguhnya diksi dipakai oleh KG adalah cara “efektif” memantik nalar kaum delusi-fanatis. [**]

SEHAN dan JAMES, Dua Kepala Daerah Fenomenal di Sulawesi Utara

Sehan Landjar dan James Sumendap (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Tiap generasi punya karakter sendiri. Termasuk dalam hal model kepemimpinan yang berbeda-beda. Di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang Gubernurnya dipimpin Olly Dondokambey, SE dikenal memiliki style yang tenang. Kali ini di penghujung tahun 2019, tepatnya Selasa (31/12/2019) redaksi Suluttoday.com tertarik untuk memotret sepenggal kisah dua sosok Kepala Daerah fenomenal di Sulut. Mereka adalah Sehan Landjar, SH dan James Sumendap, SH.

Sehan adalah Bupati Bolaang Mangondouw Timur (Boltim) dan James sebagai Bupati Minahasa Tenggara (Mitra). Rekam jejak mereka sebagai politisi memang tak perlu diragukan lagi, memakan asam garam, suka duka dan gempuran gelombang yang dilewati. Sejumlah orang dekat mereka menginformasikan bahwa dua Bupati fenomenal di Sulut ini punya kesamaan yakni memiliki sikap ceplas-ceplos. Keduanya sering menggunakan satire politik, dan kritik yang pedas demi memperjuangkan nasib masyarakat.

Tidak menghamba pada kedudukan. Tidak mau menjadi pemimpin yang mengkultuskan diri sendiri, mereka meyakini pemimpin itulah pelayan. Sedikit dari banyaknya Kepala Daerah di Sulut, tidak dengan maksud mendiskreditkan yang lain, yang punya cara pandang politik seperti mereka berdua. Sehan misalnya, dikenal sehabis mengabdi di Boltim, sering meluangkan datang ke kawasan Jalan Roda Manado.

Bersilaturahmi dengan masyarakat akar rumput, di kawasan yang dikenal DPRD Tingkat 3 ini Eyang sapaan akrab Sehan sering bermain catur. Tampil secara sederhana tidak seperti pajabat publik umumnya. Eyang terlibat percakapan dan canda tawa tanpa sekat dengan masyarakat lapis bawah, makan pisang goreng bersama dan minum kopi setengah ala Jalan Roda Manado. Hampir luput dari pantauan, kalau ternyata sosok Kepala Daerah yang satu ini begitu populis. Bicara apa adanya, tak mau berbasa-basi.

Keberanian keluar dari tardisi ”gila hormat” ternyata juga dimiliki Bung James. Bupati Mitra dua periode yang dijuluki sang Gladiator ini juga tidak mau terkungkung dengan kemewahan kekuasaan. Politisi yang juga singa podium ini bicara blak-blakan soal konsepsi kerakyatan dan itu semua diwujudkannya melalui program pro rakyat. Berupa program membuka akses jalan di Mitra menjadi lebih baik, menggelontorkan anggara yang cukup fantastis untuk bantuan duka. Memberi penghargaan yang besar kepada para birokrat struktural di Mitra.

Seperti data yang dihimpun, untuk tahun 2017 dana sekitar Rp 7,6 miliar dialokasikan untuk dana duka. Dan tahun 2018 besarannya ditambah, menjadi Rp 9 miliar. Sehingga per orang yang meninggal dunia di Mitra mendapatkan 7.000.000 (tujuh juta rupiah), perhatian yang serius berpihak pada masyarakat ditunjukkan James. Dalam kontes dana duka di Sulut, Kabupaten Mitra paling teratas nomilanya.

Untuk urusan program pemerintah yang berpihak pada masyarakat sendiri juga tengah dijalankan Bupati Sehan. Bupati Boltim dua periode ini malah memecahkan mitos khususnya di Sulut. Pasalnya Bupati yang dikenal vokal ini mendesain program rumah gratis yang telah dijalankannya. Sekitar 3.000 (tiga ribu) rumah di siapkan pemerintah daerah Boltim dibawah kepemimpinan Sehan Landjar. Politisi yang murah senyum ini menyebutkan bahwa pemimpin harus menyenangkan masyarakat.

Apa rahasianya, sehingga kedua Kepala Daerah ini terlihat ”berbahaya” dalam praktek dan konsep mereka?. Ternyata apa yang dilakukan bukan tanpa alasan. Sehan Salim Lanjdar nama lengkap politisi PAN ini saat ditemui media menyebutkan, hakikat kepemimpinan yaitu kesederhanaan. Menjadi pemimpin itu abdi bagi masyarakat. Tak boleh mensakralkan jabatan, Sehat menilai kepemimpinan juga sebagai sebuah seni.

‘’Bagi saya pemimpin itu abdi masyarakat. Tentu kita bekerja untuk kemaslahatan masyarakat, kita bukan bos, kita pelayan. Artinya apa?, ya harus mengikuti kemauan masyarakat. Seperti contoh, kita memenuhi kebutuhan masyarakat. Di Boltim saya telah menyediakan rumah gratis bagis masyarakat. Lahan disediakan Pemda, bagi masyarakat yang membutuhkan juga saya perintahkan jajaran untuk serahkan fasilitas itu kepada publik yang membutuhkan,’’ kata Sehan, Selasa (31/12/2019).

Substansinya pemimpin bagi Sehat yaitu bertanggung jawab kepada masyarakat yang dipimpinnya. Pempin harus mampu memisahkan perannya disaat berada di kantor dan di luar kantor, sehingga ia tidak terjebak dengan penghormatan-penghormatan yang bersifat tidak substansi. Sehat menyederhanakan kepemimpinan dalam sebuah bentuk ketundukan.

‘’Kan sederhana saja menjadi pemimpin ini, yakni bagaimana kita berikrar siap jiwa raga dipertaruhkan melayani publik. Sudah berkomitmen, maka konsekuensinya kita menjalankan itu. Dengan penuh kesadaran tinggi dan kecintaan, pemimpin harus bertanggung jawab terhadap masyarakatnya. Jangan jadi pemimpin yang pengecut, atau pikun dengan ikrarnya. Pemimpin bagi saya adalah ketundukan, bukan menonjolkan otoritas kekuasaan,’’ ujar Sehan.

James Sumendap dan Sehan Landjar (Foto Ist)

Di tempat terpisah, Bung James dalam beberapa kesempatan menyampaikan politik sebagai sarana pengabdian. Menurutnya nilai tertinggi kemanusiaan ialah bermanfaat bagi kepentingan banyak orang, hal itu ditunjukkan sejak menjadi mahasiswa. Sering melakukan demonstrasi membela masyarakat, sampai menjadi anggota DPRD Provinsi Sulut pun Bung James tak gentar melawan kebijakan yang pro kapitalis.

‘’Bagi saya politik punya takdirnya sendiri. Kita berpolitik ini berarti kita memilih jalan pengabdian. Politik bukanlah sarana untuk menjadi kaya raya, gagah-gagahan atau agar membuat kita dipandang terhormat. Tapi lebih dari itu yaitu kontribusi nyata kita bekerja kepada masyarakat. Kalau menjadi politisi dan tidak mau berkorban dan bersuara demi masyarakat, maka silahkan pensiun dini saja dari gelanggang politik,’’ tutur Sumendap dan membahkan bahwa pemimpin harus bersandar pada ajaran cinta kasih.

Bupati James juga menyebutkan pemimpin tidak perlu memamerkan kesombongan. Kegilaan terhadap jabatan yang membuat seorang pemimpin mabuk atas pujian, bagi James merupakan salah kapra pemimpin tersebut terhadap amanah yang diberikan Tuhan kepadanya. Politisi yang dikenal gesit ini menyebut kedaulatan rakyat yang diberikan kepada Kepala Daerah perlu diuji dan dibuktikan dengan kerja nyata.

Suluttoday.com juga menelusuri jejak dan kiprah kedua politisi ini memang diawali dari bawah. Sehan sendiri selain Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sulawesi Utara, juga menjadi Koordinator Forum Komunikasi Nasional Percepatan Pembentukan Calon Daerah Otonom Baru (Fornas CDOB). Tak kalah juga, sosok James dikenal sebagai mantan aktivis jalanan yang dibesarkan dari organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manado.

Kini selain menjabat Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Mitra, juga dipercayakan sebagai Ketua Persatuan Alumni GMNI Sulut. Hal fenomenal lain dari dua pemimpin jebolan fakultas Hukum ini adalah keberaniannya mengungkap dan melawan secara terbuka atas arogansi atau cara-cara diskriminasi yang dipertontonkan. Antara Sehan dan James, pluralisme, kesantunan, nasionalisme relegius, serta kejujuran tergambar. James dan Sehan adalah singa podium, orator yang ulung di daerah Nyiur Melambai ini.

Atas nama masyarakat mereka siap berjuang mati-matian. Melalui track record mereka telah menjawab itu. Bahwa sebagai politisi James dan Sehan memiliki karakter tersendiri, sulit untuk ditekan. Tapi, jika bicara tentang kemanusiaan dan keadilan kepada masyarakat, mereka berdua selalu berada di beranda terdepan. Tentu masih banyak hal menonjol yang perlu diapresiasi lainnya yang belum sempat diringkas, terpotret dalam catatan akhir tahun 2019 ini. Sekiranya, kiprah dan dedikasi yang diberikan kepada masyarakat dapat terwarisi bagi Kepala Daerah lainnya di Sulut. Paling tidak, dalam hal kecil tentang kesederhanaan.

Kedua tokoh politik yang menginspirasi pembaca ini tentu punya banyak cerita, karya dan sikap yang masih tercecer, belum sempat didokumentasi dalam catatan kali ini. Kedepan, Insya Allah di tahun 2020 masih ada ulasan yang lebih multi perspektif karena didukung data komprehensif. Redaksi Suluttoday.com memproyeksikan dari gelora spirit yang dilakukan dua Kepala Daerah ini akan menginspirasi generasi yang akan datang untuk tegak lurus pada prinsip-prinsip kepemimpinan yang substansial.

Dalam hal menyederhanakan kebijakan dan mentaktisi hal yang berbelit-belit, rumit, Sehan maupun James nyaris tak ada bedanya. Mereka sama-sama kokoh, berprinsip, tegak lurus dalam pelayanan publik. Berani memangkas pelayanan birokrasi yang menyusahkan masyarakat. Bahkan, demi masyarakat mereka rela membuat kebijakan yang kontroversial. Ada resistensi publik, semua itu mereka jawab dan hadapi secara terbuka sampai masyarakat memahami. Kemudian ikut mendukung program yang diluncurkan pemerintah daerah tersebut. (*/Amas)

PAN Manado Jagokan Ayub dan Faisal Salim di Pilwako 2020

Boby Daud (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Minggu (1/12/2019) dalam rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Partai Amanat Nasional (PAN) Sulawesi Utara (Sulut) dihadapan Ketua DPW PAN Sulut, Sehan Ladjar, bertempat di Swiss Belhotel Manado, Ketua DPD PAN Manado, Boby Daud melaporkan sejumlah program dan capaian politik yang diraih PAN Manado.

Tidak hanya itu, Boby juga menyampaikan sikap dan langkah yang mulai dilakukan PAN Manado berupa pembentukan Tim Pilkada untuk menjaring calon Wali Kota dan calon Wakil Wali Kota Manado 2020. Saat menyampaikan laporan, Boby menuturkan dua nama yang adalah kader PAN. Mereka dipersiapkan menjadi calon Wakil Wali Kota Manado, yakni Ayub Ali Albugis dan Faisal Salim.

‘’Kita sudah mengkonsolidasikan kekuatan. Bahkan di Pilwako Manado 2020, PAN Manado akan memainkan peran penting untuk meningkatkan bargaining politiknya. Salah satunya PAN Manado siap mendukung kadernya untuk maju di Pilwako Manado. Ada dua kader PAN yang siap untuk maju di pilwako yaitu Ayub Albugis dan Faisal Salim,’’ kata Boby yang juga anggota DPRD Kota Manado ini.

Faisal Salim (FOTO Suluttoday.com)

Tidak hanya itu, apresiasi dan dukungan terhadap kader juga mencuat. Disampaikan juga dalam kesempatan yang sama juga oleh Ketua DPW PAN Sulut yang memberikan restu kepada Faisal Salim yang juga Ketua BM PAN Manado untuk terus melakukan konsolidasi politik. Sehan memberikan apresiasi terhadap Ketua BM PAN Manado karena dengan konsolidasi yang dilakukannya membuktikan bahwa PAN sangat siap menghadapi pertarungan Pilkada kali ini. (*/Redaksi)

iklan1