Tag: ssl

Koalisi CEP-SSL di Sulut, Tanda Warning Bagi Petahana

Menguatnya CEP SSL (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Petahana Olly Dondokambey, SE, yang akan bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Utara (Sulut), harus meningkatkan kewaspadaannya. OD begitu Gubernur Sulut saat ini akrab disapa berpotensi merubah skenario politiknya. Bila Sehan Salim Landjar (SSL) bersekukuh menjadi calon Wakil Gubernur Sulut mendampingi Cristiyani Eugenia Paruntu (CEP). Kekuatan representasi wilayah, identitas suku agama dan antar golongan juga masih kental dalam praktek politik kita di daerah ini. Hal tersebut turut menguatkan posisi CEP-SSL.

Irisan dan perpaduan kekuatan CEP yang adalah Bupati Minahasa Selatan 2 periode ditambah SSL, Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) memberi isyarat kuat bahwa CEP-SSL menjadi kompetitor kuat OD-SK. Pilihan yang boleh juga diambil OD yakni menggantikan Steven Kandouw (SK) sebagai calon Wakil Gubernur mendampinya. Probabilitas itu dapat menyumbangkan pengaruh besar dalam sisi elektoral. Pada konteks kemasan isu demokrasi akomodatif, CEP-SSL lebih diuntungkan.

Gambaran lain betapa berpengaruhnya bangunan koalisi ECP-SSL atau Golkar-PAN terbaca dengan belum keluarnya SK rekomendasi dari DPP PDI Perjuangan di Kabupaten Boltim. Potensinya, berpeluang anak tersayang SSL yakni Amalia Landjar menjadi pertimbangan untuk didukung PDI Perjuangan. Selain popularitas dan elektabilitas Ketua DPD KNPI Boltim (Amalia) juga ditopang bargaining politik SSL membuat Olly Dondokambey harus berfikir keras untuk menang di Pilkada Serentak 2020.

CEP-SSL juga mewakili isu-isu gender yang strategis dijual ke konstituen. Tidak hanya itu, CEP yang perempuan memiliki kans merubah ‘mitos’ politik bahwa perempuan di Sulut belum pernah atau tak akan menjadi Gubernur sama sekali. Iklim politik yang terbangun menempatkan CEP dalam pusaran tantangan yang tidak mudah. Selanjutnya juga pada tahapan berikut memberi peluang pada CEP guna melakukan pembaharuan di daerah nyiur melambai tercintai.

Kedatangan SSL mendampingi CEP memberi akselerasi kepada CEP untuk meraih kerinduan warga Sulut tentang Gubernur Sulut perempuan. Belum lagi kesadaran berpolitik kita di daerah yang yang terhadap politik diskriminasi. Menurut pandangan umumnya, politik adalah soal kesetaraan dan keadilan. Kepemimpinan publik di era demokrasi bukan saja layak ditempati kaum laki-laki. Melainkan, perempuan seperti CEP punya peluang yang sama menjadi Gubernur seperti laki-laki.

Kombinasi kekuatan Minahasa tambah Bolmong Raya dan Gorontalo, di tambah membuat power CEP-SSL beberapa tingkat lebih tinggi levelnya ketimbang OD-SK. Perang isu terkait hal tersebut memang tak bisa diabaikan. Lain soalnya tentang saling membentur-benturkan isu SARA, konteks yang dijelaskan ini bukan pada ranah itu. Melainkan menyemangati dan menghidupkan sentimen primordial yang positif konstruktif. Bukan mengajak pemilih untuk saling berkonflik kepentingan.

Lebih dari itu, CEP-SSL menjadi solusi dalam menarik kekusutan dan ketimpangan struktur sosial yang selama ini begitu dieksploitasi secara sektarian dalam praktek politik. Semangat positif, saling mengajak dan mendukung antara sesama, baik itu sesama internal suku, agama ras dan antara golongan diperlukan dalam konsolidasi demokrasi. Jangan membawahnya dalam ruang pertentangan yang memicu konflik.

Politik simbolik memang bukan hal baru lagi saat ini. Justru simbolisasi politik itulah yang sering dipangkas magknanya, sehingga lebih ditafsir secara negatif dan destruktif. Lantas aktualisasinya di lapangan menjadi bencana bagi persatuan dan kesatuan nasional, padahal tidak seperti itu harusnya. Sentimen politik simbolik atau politik identitas, keterwakilan wilayah dan sebagainya ditata rapi, dimaksudkan meningkatkan kesadaran kolektif. Saling memberi kesejukan, menguatkan agar lebih mudah dalam kerja-kerja sosial, meningkatkan cita-cita bersama secara berkelanjutan. Itu poinnya.

Jangan menarik atau merendahkan, mendistorsi politik simbolik dalam penjara pikiran yang kotor dan culas. Politik simbolik harus dipandangan dalam perspektif yang membangun, positif. Karena semua kehidupan ini simbolik (berlabel), sebagai penanda. Sehingga kita tidak dapat lepas dari makna-makna simbolik tersebut. CEP-SSL berada diposisi strategis menarik, menjembatani semua komunitas-komunitas masyarakat untuk hidup rukum, damai, saling menghormati, tanpa saling mendiskreditkan antara sesama masyarakat.

Tak ada masyarakat di daerah ini yang nanti merasa berada dalam level nomor 2 atau nomor 3 dan seterusnya. Tapi keberadaannya secara sosial adalah sama, setara. Itu sebabnya, OD punya kesempatan menimbang ulang keberadaan SK. Boleh jadi OD mengambil Wakilnya dari kalangan agamawan atau politisi, bisa juga Ketua MUI Sulut, Ketua NU Sulut, Ketua Sinode GMIM, Ketua Syarikat Islam, atau Andrei Angouw dari kalangan politisi pengusaha. Pilihan berada di tangan OD, dirinya harus berfikir matang dan selektif dalam menghadapi CEP-SSL.

Elemen urgen yang perlu diperhitungkan lagi OD yakni CEP-SSL punya rekam jejak memimpin yang teruji. Mereka berdua sukses membangun daerahnya masing-masing selama 2 periode, punya basis dukungan yang luas juga spesifik (pendukung militant). CEP dan SSL menjadi miniatur keberagaman di Sulut. Selebihnya, CEP maupun SSL Ketua parpol di tingkat Provinsi yang punya pasukan di tiap Kabupaten/Kota. Untuk memobilisasi kekuatan, bagi mereka berdua hal yang kecil dilakukan. Koalisi CEP-SSL bagai alarm pengingat terhadap OD.

CEP dan SSL (Foto Istimewa)

Mengingatkan OD dalam keyakinan politiknya bahwa harus melanjutkan bersama SK atau mengocok ulang posisi SK. Boleh dibilang ini pergumulan politik bagi OD selama karir politiknya yang sukses dibangun. Salah memilih Wakilnya, maka bersiaplah OD menjemput kekalahan. Peta politik yang tersaji, sebagiannya masih samar-samar membuat OD harus komprehensif melakukan pertimbangan dari bacaan situasi di lapangan. CEP-SSL dua sosok politisi yang handal, politisi senior yang berwawasan nasionalis, saling melengkapi kekuatan kelemahan.

Quo vadis Olly Dondokambey?

Selepas Partai Golkar dan PAN mengeluarkan rekomendasi terhadap CEP-SSL, Olly Dondokambey harus selamatkan posisinya agar menang di pertarungan Pilgub Sulut, Rabu 9 Desember 2020 mendatang. Bukan ‘kaleng-kaleng’ rival Olly kali ini cukup menghawatirkan. Akan mengancam kemenangannya sebagai Gubernur Sulut 2 periode. Konstalasi politik seperti ini membuat OD dilema dan terhimpit. Politisi kawakan ini butuh kekuatan solid dan siap bertarung, jangan sampai ada yang menggembosi kekuatannya dari dalam.

Peluang dan tantangan OD yaitu dalam membaca ulang data-data survey potensi kemenangan dirinya. Dalam politik ada presisi dan probabilitas kekuatan yang harus diperhitungkan para politisi, OD tentu teliti membaca hal-hal tersebut. Ketika teliti dan cermat tentunya dirinya tidak asal-asalan mengambil keputusan. Yang bermain di benak OD adalah dirinya harus menang. Dari kekuatan personal, OD cukup kuat, harus ditambah dengan keberadaan calon Wakil Gubernur yang menjadi nilai tambah bagi dirinya. Ketika faktor itu diabaikan, maka Pilkada Serentak di musim pandemic COVID-19 akan menjadi mimpi buruk kelak bagi OD. Alhasil sepanjang sejarahnya memulai berpolitik, kali ini OD meleset meraih target. Ketenangan OD kini diuji dengan hadirnya CEP-SSL.

Peluang lain yang harus dihadirkan OD selain mengganti SK yaitu melahirkan opsi poros koalisi baru. Ketika Pilgub Sulut melahirkan 4 pasangan calon, maka OD berpeluang menang. Konstalasinya malah alot dan tidak menguntungkan OD, jika terjadi head to head OD-SK vs CEP-SSL. Berarti tugas OD adalah melahirkan calon boneka untuk meramaikan kontestasi Pilgub Sulut. Atau OD perlu lagi membangun sekutu yang kuat dalam game politik kali ini.

Selain menambah personil orang-orang yang solid dan punya dukungan massa luas. Punya trust di masyarakat, OD juga membutuhkan petarung andal yang mampu menjadi pemecah ombak bagi CEP-SSL. Sejauh ini belum ada hal tersebut. OD baru dikelilingi ‘para pembisik’ yang kurang taringnya di masyarakat bawah. Bahkan sebagian mereka pengaruhnya padam di tingkat masyarakat akar rumput. Soliditas tim yang kemudian perlu diperkuat lagi OD jika betul-betul mau bertarung melawan CEP-SSL. Ketika kontestan Pilgub menjadi 4 paslon, maka peluang OD lebih terbuka.

Tukar tambah kekuatan menjadi perlu dan mendesak dilakukan OD saat ini. Pengalaman akurasi hitungan politik OD memang diakui politik, disinilah kembali OD diuji kematangannya. Belum lagi faksi politik SHS yang membawa gerbong para ‘purnawirawan’. Ada GSVL, JWS, E2L, dan sederet nama politisi popular lainnya mengambil peran. Jatung politik itu ada pada kepentingan, bagaimana mengaturnya agar tidak menyeret atau menghancurkan politisi itu sendiri. Termasuk mengatur detak dan iramanya agar memudahkan politisi untuk meraih kemenangan.

OD sebagai petahana dan juga Ketua DPD PDI Perjuangan Sulut perlu analisis yang tajam dalam menentukan bangunan koalisi di Pilkada Kabupaten/Kota. Ketika lengah dan tidak cermat membaca peta kekuatan politik, maka OD kalah. Posisi Pilkada Manado juga menjadi salah satu indikator yang mengantar kemenangan OD. Hitungan kompensasi atau konsesi politik memang bisa dipakai dalam membangun logika koalisi, tapi sudah lebih waspada lagi karena OD kini mendapat lawan tanding yang sepadan.

iklan1