Tag: strategi politik

POLITIK KEHADIRAN; Membaca Dengan Ragam Epistemic

Bustamin Wahid (Foto Suluttoday.com)

Bustamin Wahid (Foto Suluttoday.com)

Oleh: Bustamin Wahid

(Direktur Riset Pasifik Resources Indonesia)

Jika rasa suka & sikap memilih sudah aku berikan kepada sesorang. Maka sesungguhnya realitas orang itu adalah realitas diriku Narasi ini lahir dari kegelisahan dan skeptisisme yang terus terselimuti, pengaruh ini tidak membuat subjek berhenti dalam pelukan kekalahan dan terus berjuang. Peristiwa dan monetum politik harus menegasakan nilai dan sikap deontologisme sebagai partisipasi literal dalam memboboti dan mempertegas kedewasaan politik modern. Alam ini menjadi dimensi penting dalam terus melangsungkan peristiwa besar politik di Indonesia, apa lagi rutinitas politik yang sangat padat dan banyak menguras mental, energy dan meteri dalam pilkada serentak. Pilkada serentak dilaksanakan membutukan banyak publik yang terlibat baik itu publik sakral, kulutr dan hukum.

Tak hanya itu kelompok bosisme lokal menjadi peran utama yang bukan menjadi rahasia umum, kelompok ini hadir dalam menentukan kemenangan dan keberhasilan tiap-tiap kandidat. Skeptisime ini kemudian mengilhami bebrapa tema untuk dianalisis dan mengartikulasi episode politik, cukup terbantuhkan sajina kajian yang tawarkan Aksin Wijaya dalam bukunya yang berjudul: satu islam ragam epistimolgoi, konsekwensi pemikiran yang disajikan oleh Mehdi Ha’iri Yajdi, tentang ilmu huduri (prinsi-prinsip epistimologi dalam filsafat islam).

Jelasa dengan dasar dan basis epistemology menyajikan tentang pentinggnya kehadiran sebagai bentuk dari sikap dan kesadaran empirisme, untuk mempertegasakan adanya dimensi kehadiran empirisme kehadiran pengetahuan melalui kehadiran adalah kesadaran empirisme akal subjek akan pengindraan dan perasaanya. Tidak membahas konten politik tetpi kepentingan menjadi bahan analisi berbasisi epistemi untuk memperkaya wacana dan dinamila literal dalam dunia politik. Konten pengetahuan kehadiran ini menjadi penting dalam pilihan politik, banyak sikap politik yang digambarkan adanya partisipasi.

Baiknya dengan kekuatan metodologi menawarkan model analisis prefensi politik (kesukaan, kencenderungan, tidak suka), sebagai bentuk analisis peristiwa dan sikap publik dalam memberikan keputusan politik. Kelangusngan ini penting untuk memahami arikulasi publik dalam pemahaman yang paling muda seklipun, secara sosiologis dan politik humanis. Publik mengharapkan aksi politik kehadiran untuk mengisi waktu senggang politik sebelum mereka “publik” berkuputusan, sikap kecenderungan ini dilegitimasi dengan interaksi dan komunikasi yang muda dan simpel untuk menumbukan kemseraan elit politik, tentu ini menjadi sikap yang humanis dalam membijaki sebuah fenomena politik.

Sikap politik kehadiran melampau realitas kelas dan berada pada posisi universalitas, jangan salah kadang kita lihat politisi menciptakan relitas berdampingan dengan tukang sampa, tukang ojek, dipasar tradisonal, berada di gubuk orang miskin, berada dikendaraan umum, berada ditempat bencana, berada di ruang ilmia, dan masi banyak lagi keberadaannya politik kehadiran. Blusukan kandidat atau door to door campaign satu model strategi politik dalam uapaya merebut suara publik.

Hasrat suka dan memilih itu sesungguhnya bagian dari kesmipulan tertinggi dalam legegitimasi pengindraan dan kesadaran epirisme, dan tidak terlepas dari substani akal sehat untuk berkeputusan. Politik kehadiran ini selalu menjadikan alternatif yang baik dalam mendampingi keluh kesah publik untuk sama-sama menyelesaikan tanpa merugikan gagasan dan kepentingan orang lain.

Catatan berpolitik kehadiran, tidak menajdi hal awal dan desain model politik 21 tetapi menjadi. Pembuktina ilmia dalam berdemokrasi diamerikan pun menjadikan politik kehadiran dengan dasar factor keterpilihan orang karna modal sosial atau dalam pemanfatan modal sosial menajdi modal politik. Cukup kuat untuk pertimbangan pilihan karna pengaruh sosial cultural di pelopori dari Lazerfeld, Berelson, Gaudet (Colombia Model). Colombia Model mempertegas ini dengan kekuatan metadata dengan melakukan survey pemilihan presiden amerika 1940. Temuan ini politik kehadiran menjadi keistimewaan untuk merebut hati publik.

Politik kehadiran…? Dirindukan bukan sekedar kepentingan dan kemudahan dalam proses mengenali tetapi bisa menjadi hal yang lebih dalam kontek filosofi. Pengindraan menjadi bentuk model dan bagi dari pada dasar dan sumber epistemology, jadi sikap politik selelu relefansi dengan apa yang harus dijadikan pilihan.

Kehadiran status eksistensi rasa suka dan memilih tidak perlu mendapat bantuan untuk melegitimasi sikap suka dan memilih. Sosok pemilih yang lahir dari dari kesadaran kehadiran dan landasan epistimologi yang kuat dalam menilai dan memilah sosok pemimpin tidak muda dan tidak akan gampang menggantingkan pilihan dan rasa suka itu dengan instrumen material sekali pun “money politial”. Politikku, politik anda, politik kita…!, kata-kata ini menjadi gambaran keinginan bersar dalam berdemokrasi atau ditasfsir lain bahwa politik dan demokrasi menjadi pilihan utama dalam sistem kenegaraan kita, diberikan kekebasaan penuh dalam bersikap dan menentukan pilihan.

Sikap bijakan diberikan ruang yang demokratis, pasti melanggengkan dengan politik kehadiran yang tidak sekedar alam akal, empirisme sebagi dasar untuk menentukan sikap politik. Ada kekuatan intuisi sebagai bagian dan model untuk melegitimasi kesempurnaan alam kesadaran dan putusan politik. Putusan politik tidak terlepas dari kehadiran politik dengan dasar epistemic. Terutama pendekatan Wittgeintein, untuk menganalisis epistem pengetahuan sebagai kesadaran kehadiran tentang kata suka, sikap ini sudah menenjukan sikap memilih kepada seorang kandidita.

Analisis ini tidak serta merta ideal dalam konten politik karena sesungguhnya pragmatism politik dengan dasar paradigma meteril, yang selalu menjadi antitesis untuk merubah kesadarn ini. Ansi politik dalam waktu diyakini bahwa,dunia politik setiap menit bisa berubah jika ada sebab akibat, hukum ini melegitimasi sebuah nialai material sebagai perubahan kebijakan. Jika posisi filsosofis yang amat penting dibumikan sebagai mendewasakan dan mengidealkan sistem politik kita.

Ada simpul sosial atau bisa modal sosial dijadikan kekuatan. Kekuatan modal sosial ini serius dibicarakan dan bagian dari pada model politik kekiniaan, dasar itu memberikan ketegasan pemikiran dengan kepercayaa, nilai dan jejaring ini semua bisa dimanfatkan sebagi elemen kekuatan jika membutukan pengakuan dan kehadiran. Basis politik harus dijaga dasar epistemology bukan sekedar perkara muda tetapi harus dirawat dengan menkaji berulang-ulang kali, radik dan menggelora . Klimaks dari analisis ini sangat sederhana dan muda dibicrakan sebagai membumikan politik kehadiran. Anda hadir maka kami berkeputusan.[***]

INDONESIA KITA DI PAGI HARI

Ilustrasi calon Independen kebebasan berdemokrasi di Indonesia (Foto Ist)

Ilustrasi calon Independen kebebasan berdemokrasi di Indonesia (Foto Ist)

Saudaraku, sudah cukup lama demokrasi berlangsung di tempat kita, tentang kita, namun tanpa kita. Kata demokrasi jadi mantra suci yang terus diwiridkan, tapi rakyat kebanyakan sebagai sang demos terus dipinggirkan. Kenyataan sesungguhnya bukanlah demokrasi bagi rakyat, melainkan rakyat diperuntukkan bagi demokrasi.

Ada banyak sebab para pemimpim berkhianat. Politik pemerintahan bolehjadi diperbudak kekuatan adidaya hingga negara tak mampu mengambil kebijakan secara leluasa untuk mengelola urusan sendiri. Tingginya biaya politik bisa juga membuat pemimpin terpilih lebih melayani kepentingan pemodal, dengan mengorbankan kepentingan umum. Tekanan pada popularitas, ketimbang kualitas, melahirkan pemimpin yang miskin visi dan kompetensi.

Masalah ditutupi dengan manipulasi pencitraan, bukan dengan jawaban nyata. Kesulitan, ketidakmelekan dan kejenuhan rakyat berpolitik membuat partisipasi demokrasi berhenti di bilik pencoblosan. Setelah itu, para pemimpin dibiarkan bertindak sesuka hati tanpa pengawasan. Politik adalah dimensi manusia secara keseluruhan. Bila pemimpin terpilih masih melayani kepentingan (karier) pribadi ketimbang kepentingan umum, maka sesungguhnya mereka adalah pembunuh dara dingin yg tega menikam jiwa politik. Tak ada musuh bersama yang lebih buruk dari itu. Bagi para pengkhianat publik dan republik hanya ada satu kata: lawan…

Catatan: YL, Makrifat Pagi

iklan1