Tag: suhendro boroma

Mengapa Harus Om Edo

Om Edo (Foto Ist)

Oleh: Tauhid Arief
Presdir PT Totabuan Cemerlang Press

Suhendro Boroma, atau di Boltim lebih akrab disapa Om Edo atau Papa Aji, adalah satu dari sekian nama yang ikut mendaftar di PDIP sebagai bakal calon Bupati Bolaang Mongondow Timur (Bolmong).

Bagi saya, yang pernah bekerjasama dengan beliau hampir 25 tahun, pencalonannya, saya percaya, bukanlah cerminan sikap ambisius. Pilihan untuk maju dalam kontestasi kali ini, lebih pada keinginannya untuk mengeksplore kemampuan yang dimiliki untuk percepatan pembangunan Boltim.

Kalau dari kacamata rasional berdasar kemampuan dan profesionalitas, Insya Allah, tanpa takabur, tanpa berlebihan, Hendro lah pilihannya.

Namun apakah dia bisa memimpin Boltim 5 tahun ke depan? Tentu tidak semudah itu. Kemampuan seseorang hanya salah satu pendukung dalam variabel persyaratan. Kemampuan sesrorang, juga kadang diabaikan untuk lolos ke step selanjutnya.

Hendro, suami dari Dra Hj Lily Djenaan MSc, masih berstatus bakal calon (Balon). Dia harus melangkah lagi untuk menjadi calon. Dan, pilihan ini, sama sekali bukan lagi domainnya. Ini sudah keputusan politik partai. Keputusan “kolektif-kolegial” yang tentu finishing touch-nya berada pada pimpinan tertinggi partai di Sulawesi Utara.

Artinya, bisa saja keputusan kolektif memilih A, tapi atas dasar kebijakan politis pimpinan, pilihan yang keluar adalah B. Atau bisa sebaliknya, atau juga muncul kesepakatan bulat.

Keputusan politis dalam politik, memang terkadang mengabaikan rasionalitas. Banyak contoh untuk itu. Apalagi, seseorang dimaksud, bukanlah kader. Bayangan dan penilaian luar, kadang bagai langit dan bumi dengan penilaian internal partai. Tapi terkadang juga, penilaian dari luar jadi satu masukan pada keputusan.

Kembali kepada profil Hendro, yang saya kenal sebagai sosok yang low profile, disiplin dan pekeja (pemikir) keras. Dia lahir dan besar dalam proses alamiah, anak desa. Dia memahami persoalan sawah, karena ini adalah bagian hidup dan kehidupannya di masa anak-anak dan remajanya.

Ayah dari seorang anak laki laki, Kurnia Sahrul Fahril —sempat kuliah di IOWA Of University, AS, selama 2,5 tahun dan saat ini kuliah lagi di Universitas Parahyangan, Bandung—, sangat memahami arti kemiskinan, semangat dan perjuangan hidup. Saat masih SMP dan SPG (Sekolah Pendidikan Gutu) menurut cerita teman dan saudaranya di Kotamobagu –saya sempat bertugas 2 tahun di Kotamobagu–, Hendro banyak menghabiskan waktunya menggarap sawah dengan paman pamannya. Bila libur atau pulang sekolah, persawahanlah jadi “tempat bermainnya”.

Jangan heran kalau sampai sekarang saja, ia masih menyempatkan diri menengok sawah. Memahami varietas varietas unggul. Sense pada suasana kampung dan kehidupannya masih melekat. Jagan heran, saat pulang kampung, misalnya, di mobilnya ada pupuk dan obat semprot hama.

Ia memang dikenal mandiri. Apalagi, Ayahnya Ahmadi Boroma -Kepala Desa Togid periode 1965-1970′– berpulang keharibaan-NYA saat Hendro duduk di kelas 2 SMP. Hendro pun hidup dengan pamannya di Kota sampai menyelesaikan SMA.

Beruntung kemauan dan tekad untuk melanjutkan studi di bangku kuliah, tak surut dengan keterbatasan hidupnya. Ilmu sebagai guru (Hendro lulus SPG/ setara SMA) dijadikan dasar kerja sampingan untuk anak anak yang butuh les privat.
Inilah salah satu cara bertahan hidup dan berjuang menyelesaikan Sarjana/ SI di IKIP Manado kemudian melanjutkan S2- nya di Unsrat dengan konsentrasi ilmu statistik.

Kalo pun Hendro bisa meraih karirnya saat ini, itu melalui perjuangan yang tidak sulit. Termasuk tidak gampangnnya perjuangan sang ibu Hj Pingku Paputungan, yang bertahan hidup, dan membesarkan Hendro beserta 11 saudara lainnya.

Begitu juga soal disiplin. Ukuran disiplin Hendro di mata saya, antara lain, soal menjaga kebugaran, makan dan kerja. Setiap pekan, paling tidak, ada tiga kali ia melakukan jogging yang teratur. Teratur disini, adalah, soal waktu. Dimulai dengan jalan kaki, kemudian jalan cepat dan berlari kecil. Semuanya terukur dalam durasi waktu.

Setahu saya juga, Hendro suka berenang. Dulu, sekitar 20 tahun lalu, saat sering menemaninya mandi di kolam renang. Favoritnya, di kolam Sahid Hotel, Teling. Tidak terlalu ramai, tapi kolamnya ideal. Bila dilihat, ia mampu berenang ratusan meter tanpa henti. Memang aaya tidak menghitungnya, berapa kali ia bolak balik. Yang saya tahu, dia berenang gaya bebas tanpa henti, bolak balik, lebih dari satu jam. Ini telaten dilakukannya.

Soal makan begitu juga. Setahu saya, tak ada pantangan makanan karena faktor kesehatan. Kalaupun ada, hanya beberapa jenis makanan saja yang sedari dulu memang tidak disukai. Misalnya ayam dan daging lainnya. Saya juga tidak tahu alasannya. Tapi memang dia sendiri tidak suka. Tak pernah saya melihat dia makan ayam, meskipun kami berada di rumah makan padang. Dia pasti memilih selain itu.

Saya tahu karena saya sering makan dengannya. Bila berada di Ternate, ia sangat lahap makan ikan bakar atau katang kanari saus padang. Namun kalau di suruh memilih, Hendro pasti lebih memilih makan makanan kampung. Ubi atau pisang dengan lauk ikan bakar berpasangan sambal yang tidak terlalu pedas. Makanan inilah favoritnya. Cara makan pun sunnah, tanpa sendok. Begitu pun minum, lebih senang air putih. Tak pernah saya melihatnya minum teh manis atau pun kopi. Ia lebih banyak menghindarinya.

Ia juga disiplin dalam menjaga sholat wajib dan sunnahnya. Pun begitu pula dengan puasa. Puasa Senin Kamis, dilakoninya sejak lama. Juga puasa selang seling, puasa Daud. Sampai sekarang dijalaninya.

Soal kerja, dijalani penuh tanggungjawab. Saya tahu, karena, sejak awal di Manado Post sebagai wartawan (tahun 1992), saat kantor masih di seputaran Tikala, orangnya telaten dan penuh tanggungjawab. Praktis halaman (rubrik) yang menjadi tanggungjawabnya tak pernah melewati deadline.

Hendro, bergabung di Manado Post tahun 1992. Sebelumnya, Hendro adalah volunter di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Manado. Bersama salah salah satu temannya, Frangki Wongkar, yang aaat ini adalah Wakil Bupati Minsel.

Frangky ketika itu, adalah anak muda, sarjana hukum, dan pengacara di LBH, yang ketika itu dikendalikan Herry Mangindaan SH (alm). Lama ia berkutat mendampingi warga yang butuh bantuan hukum secara gratis. Atau, sama sama Hendro melakukan advokasi di lapangan.

Selain advokasi sejumlah persoalan warga yang termarginalkan, Hendro juga memegang jabatan sebagai Sekretaris Walhi (LSM yang peduli soal lingkungan)

Dari voluntir di LBH dan sekrex di Walhi, persoalan persoalan yang ditemui, atau ditangani inilah, kemudian diolah menjadi tulisan opini, yang sering terekspos pada media lokal, khisusnya Manado Post.

Tugas di Walhi dan LBH, mulai ditinggalkan saat Manado Post membuka lowongan untuk posisi wartawan. Nama Hendro pun masuk bersama sejumlah pelamar lainnya. Ada Katamsi Ginano, Ais Kai, Verijanto Madjowa dll. Mereka lolos seleksi administrasi. Selanjutnya; tes wawancara dan tulis. Nama Hendro tidak masuk. Ia tak lolos berkas hanya karena usianya saat itu sudah mendekati 26 tahun. Sementara syarat usia di patok 25 tahun.

Wartawan senior, Asdar Muis, dari koran Fajar Makassar (Jawa Pos Group) yang ditugasi menyeleksi dan menyaring, tak meloloskan nama Hendro.

Beberapa lama kemudian, sekira 2 bulan, disaat wartawan baru sudah turun lapangan, Imawan Mashuri, yang secara defacto adalah pemimpin redaksi, memanggil saya di ruangannya.

Imawan bertanya; “Kamu kenal dengan Suhendro Boroma?”
“Kenal, Mas!” Jawab saya.
“Dia kerja di mana? Bagaimana orangnya?”
“Orangnya baik. Tak banyak bicara. Setahu saya dia beraktivitas di Walhi dan LBH,” ungkap saya. “Ada apa, Mas? Tanya saya.
“Kalo saya nilai juga begitu. Orangnya bijak dan tidak arogan. Saya tahu dari tulisan tulisan di halaman opini. Kamu biaa hubungi, dan ketemu saya,” ujar Imawan Mashuri yang kami panggil “mas” karena saat itu usianya belum 30 tahun dan masih bujang.

Saya pun menghubungi. Setelah itu sudah tidak tahu jelas apa pembicaraan Hendro dan Imawan. Tapi yang pasti, beberapa hari kemudian, ia langsung di dapuk jadi redaktur halaman opini. Posisi orang orang kritis, karena salah satu tugasnya, adalah, menyeleksi layak atau tidaknya tulisan seseorang dimuat di koran. Saya sendiri, ketika itu, mempunyai tugas sebagai redaktur untuk rubrikasi kota. posisi yang sederajat dengan Hendro.

Lama bertanggung jawab pada opini, ia pun diberi tanggungjawab menggawangi, halaman etalase/ halaman depan.

Karirnya terus menanjak, hingga berapa tahun kemudian, ketika kantor sudah berada di kawasan Rike, ia menggantikan posisi Imawan Mashuri, sebagai peminpin redaksi secara defacto. Sedangkan Benny Raintama, Manajer Keuangan, menggantikan posisi Imawan sebagai direksi.

Tahun 2003, saya ditunjuk manajemen menahkodai koran baru di Ternate, namanya Malut Post. Selain sebagai general manager dalam manajemen, tugas lainnya adalah memikul tanggungjawab sebagai pemimpin redaksi sampai 2007.

Sementara di Manado, Manado Post, karir Hendro terus meroket. Menggeser posisi Benny. Ia kembali masuk jajaran direksi, sebagai direktur utama, sekaligus CEO dalam Manado Post Group. Ia berpasangan dengan Urief Hasan, direktur keuangan.

Tak lama, manajemen di Malut Post Ternate diperkuat. Oleh Hendro, saya dipromosikan sebagai presiden direktur, dan bertanggungjawab secara otonom pada dua perusahaan, penerbit dan percetakan. Tugas ini saya jalani sampai sekarang.

Otonom dimaksud, adalah kekuasaan penuh untuk membuat apa saja, demi pertumbuhan perusahaan. Saya diberi kewenangan menata gaji karyawan, termasuk besar kecilnya, insentif dan bonus.

Saya diberi kewenangan penuh, membeli dan menggunakan kendaraan apa saja, sesuai kemampuan perusahaan. Hanya saja, untuk gaji saya, tentu bukan keinginan saya. Semuanya diatur Hendro dan Urief Hasan.

Salery yang saya dapatkan saat itu, lebih dari cukup. melonjak gila gilaan, lebih dari 100 persen. Hendro benar benar melaksanakan reward dan punishment.

Jujur, saya berani bersumpah, selama saya memimpin di koran Ternate, tak sekali pun Hendro menggunakan jabatannya sebagai CEO, melakukan hal hal yang menyimpan untuk kepentingan pribadinya.

Sekarang ini saya memang tidak bekerja lagi bersama Hendro. Ini karena adanya persoalan manajemen di tingkat “dewa”. Kami berpisah secara grup. Saya bersama Urief Hasan berada pada jalur Dahlan Iskan dan Imawan Mashuri, sementara Hendror tetap di jalur Jawa Pos. Artinya keompok jawa pos terbelah dua
Dari situlah, kami berpisah dalam jaringan lantaran situasinal dan kondisional.

Tapi hubungan habluminannas tetap berjalan. Saling bertegur sapa bila ketemu. Intermezo, cerita kabar masing masing. Apalagi, saya tetap menghormatinya sebagai teman dan, mantan pimpinan saya.

Kalau pun saya menulis ini, itu karena hormat saya pada sikapnya saat memimpin kami. Saya salut kepadanya. Sunguh, saya menulis testimoni dengan apa adanya. Menulis untuk sekadar memberi pesan kepada kepada siapa saja yang belum mengenal sosoknya. Yang mana sosok yang saat ini masuk dalam nominasi kandidat calon Bupati Boltim.

Soal karirnya yang terus melejit, bagi aaya, semata mata karena kemampuannya. Saking menonjolnya kemampuan Hendro, ia dipercayakan memimpin grup JPNN (Jawapos News Network). Grup media yang membawahi hampir 150 media cetak yang ada di Indonesia, dan sekitar 50 media TV. Ini luat biasa. Anak Togid Boltim, Sulawesi Utara. Orang pertama di luar Jawa mengendalikan ratusan perusahaan yang berbasis di Surabaya.

Ketika itu, 15 tahun lalu, posisi itu sangat bergengsi. Tugasnya antara lain, mengevaluasi konten, termasuk perusahaan secara keseluruhan, bila ada gejala gejala ‘kurang baik’. Dia bisa merekomendasi perbaikan sekaligus pergantian direksi pada koran koran tersebut.

Karena tugas itulah, waktunya hampir lebih banyak di luar, di atas udara. Ini juga yang membuat jarang berada di Boltim atau turun ke bawah.

Dalam sehari saja, kadang ba smokol di Manado, makang siang di Surabaya, tidur di Riau. Begitupula yang dijalani hampir 15 tahun belakangan.

Meski memiliki jaringan di Jakarta, tapi Hendro sebenarnya lebih suka di Manado. Lebih suka pulang kampung di Togid, atau pulang kampung Istrinya, di Bolmut. Ini dilakukan bila ia ke Manado dan punya waktu luang 1-2 hari.

Terkadang baru semalam di kampung, telepon masuk. Untuk segera berjumpa dengan temannya. Pernah satu ketika, dan ini sudah berlangsung beberapa kali, boss Lion Group, Rusdi Kirana’ menelpon untuk sama sama menjemput pesawat baru pesanan Lion di bandara pabrik pesawat Boeing, di Seatle, AS. Hal yang sama juga dilakukan ke pabrik Airbus di Prancis. Saking dekatnya dengan Rusdi Kirana, Hendro pun ikut mempengaruhi Lion Group berinvestasi di Sulut. Bahkan bila tak ada pertentangan dengan Menteri Perhububgan saat itu, Bandara Sam Ratulangi jadi pusat “penampungan pesawat Wings edisi terbaru”.

Ini hanya salah satu dari banyak jaringan yang bisa dimanfaatkan, saat, nantinya, Insya Allah, bila diamanahkan pimpin Bolmong.

Karena itu, bagi saya, tidak ada keraguan, bila Hendro mencalonkan diri. Tidak ada keraguan saya, ia melakukan tindakan korup. Sebaliknya yang saya bayangkan, banyak hal baru yang muncul di Bolmong, yang mungkin belum dipikirkan daerah lain. Apalagi perjalanan ke semua daerah di Indonesia, telah dijalani. Ini tentu menjadikan kaya khasanah dan wawasan sebagai modal men direct Boltim lebih maju, bermartabat dan sejahtera. Insyaa Allah… Amiin.

Benteng Kokoh Sulawesi Utara

Suhendro Baromo (Foto Ist)

Oleh : Suhendro Boroma, Sekretaris JAJAK Sulut

INSIDEN di Perumahan Agape Tumaluntung, Minut beberapa hari terakhir ini menyita perhatian banyak pihak. TNI-Polri dengan cepat telah memperbaiki kerusakan gedung yang sehari-harinya digunakan warga muslim Perumahan Agape untuk melaksanakan ibadah. Proses hukum sedang dijalankan oleh jajaran Polri, dan berbagai elemen masyarakat, tokoh-tokoh agama, pemerintah dan tokoh-tokoh lintas agama dan budaya menyerukan dan meminta agar semua pihak menahan diri, tetap menjaga kerukunan dan kedamaian di bumi Nyiur Melambai. Warga dan para pemimpin di Perumahan Agape telah bertemu, bermusyawarah dan menelorkan “Deklarasi Damai” Sabtu (1/2) lalu.

Deklarasi Damai tersebut memuat delapan poin. Intinya menolak tindakan radikal, intoleran, menjaga kerukunan dan kedamaian, mengedepankan penegakan hukum, dan berkomitmen menjaga “torang samua basudara”. Perijinan pendirian rumah ibadah agar dilengkapi dan dilakukan sesuai peraturan yang berlaku, dan umat muslim di Perum Agape boleh melaksanakan sholat di musholah yang sudah diperbaiki. Dari dokumen yang beredar, Deklarasi Damai itu ditandatangani oleh tokoh-tokoh yang mewakili umat Kristen, Islam, pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan Forkompida Minut.

Juga disaksikan Gubernur Olly Dondokambey, Kapolda Irjen Sigit Tri Hardjanto, dan jajaran Forkompinda Sulut. Boleh jadi, Deklarasi Damai ini tak memuaskan berbagai pihak. Tetapi, hendaknya semua pihak punya kesepakatan yang sama: menjaga Sulawesi Utara, bumi Nyiur Melambai tetap rukun dan damai. Inilah ‘titik temu’ dan tujuan kita semua. Tidak saja untuk menjaga reputasi Sulut sebagai “percontohan hidup rukun dan damai”. Tapi itulah perintah semua agama yang kita anut, akar kearifan lokal, dan salah satu wujud “kemuliaan budaya” warga Sulut.

Dengan reputasi, kearifan lokal, dan kemuliaan budaya tersebut, Sulut memiliki banyak kepeloporan dan keteladanan tentang toleransi dan hidup berdampingan secara damai. Kampung Jawa Tondano (Jaton), Mesjid Al Muhajirin, Gereja GMIBM Immanuel, dan Pura Puseh satu halaman di Desa Mopuya Selatan, Dumoga, Bolmong, dan paling terakhir Munumen Bukit Kasih di Kanonang, Minahasa, merupakan tiga dari sekian banyak puncak-puncak keteladanan hidup rukun damai langgeng di Sulut.

Ketika terjadi kerusuhan dan konflik horisontal di Ambon, Ternate, Halmahera, dan Poso di tahun 2000-2002, Sulut menjadi “rumah rukun damai” bagi mereka yang menjadi korban konflik. Mereka yang mengungsi ke Sulut pada waktu itu membawa penderitaan, kepedihan, kekelaman, dan semua memori yang bisa menyulut tindakan destruktif. Tetapi, yang luar biasa, semua itu “melebur dalam budaya rukun dan damai” warga Sulut.

Sekadar menyegarkan ingatan, gerakan reformasi 1997-1998 menghasilkan beberapa hal yang monumental: pemilu langsung, kebebasan politik, kebebasan pers, otonomi daerah, dan supermasi sipil dengan tampilnya Polri sebagai penjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Perubahan-perubahan ini dikukuhkan secara kelembagaan (lewat undang-undang dan pembentukan lembaga-lembaganya), tetapi dalam praktiknya memerlukan waktu untuk berjalan efektif. Terjadi krisis kepercayaan terhadap hampir semua lembaga negara: birokrasi, TNI, Polri, MPR, DPR, lembaga-lembaga penegak hukum, dan di saat yang bersamaan lembaga-lembaga negara hasil pemilu 1999 masih tahap konsolidasi. Partai politik yang mulai berkuasa di lembaga eksekutif masih gagap, otonomi daerah baru dimulai, dan birokrasi kehilangan “power dan wibawa” di mata masyarakat. Pada kondisi seperti itu konflik horizontal terjadi di beberapa tempat. Korban konflik Ambon, Ternate, Halmahera dan Poso mengungsi ke Sulut.

Tahun 2000-2003 merupakan ujian yang berat bagi bangsa Indonesia. Di Sulut, banyak pihak yang melakukan berbagai upaya dan kegiatan untuk menjadikan bumi Nyiur Melambai sebagai benteng perdamaian. Teman-teman di Manado Post pada masa itu mencari “akar budaya dan kearifan lokal” yang bisa menjadi perekat masyarakat, sekaligus membuat warga Sulut punya daya tahan yang kuat (resilience) terhadap ancaman konflik horisontal.

Dari upaya inilah, dan didukung tokoh-tokoh pemuda lintas agama, tokoh masyarakat, tokoh budaya, jajaran TNI-Polri, pemerintah, Gubernur AJ Sondakh (alm) mencanangkan Tahun 2002 sebagai Tahun Kasih, dengan tagline Kasih Mengubah Dunia. Jaringan Kerja Kasih (JAJAK) Sulut –LSM yang digerakkan oleh tokoh-tokoh pemuda lintas agama, kemudian dibentuk (ketuanya Pnt Ir Marhany Pua), yang mendedikasikan semua kegiatan dan upayanya untuk membumikan “kasih” dalam kerja-kerja kemunusiaan, perdamaian dan kerukunan di tengah-tengah masyarakat. JAJAK ikut berkontribusi besar dalam memberikan gagasan pembangunan monumen Bukit Kasih di Kanonang, Kawangkoan.

Sudah pasti banyak pihak yang bekerja kongkrit dan berandil besar dalam menjaga Sulut tetap rukun damai di tengah suasana konflik horisontal di masa itu. Sinode GMIM, Keuskupan Manado, GPdI Suluttenggo, KGPM, NU, Muhamadiyah, SI, MUI, BKSAUA, FKUB, dan berbagai elemen pemuda berada di garda terdepan melakukan upaya-upaya optimal untuk menjaga dan mempertahankan Sulut tetap rukun, aman dan damai.

Pendek kata, semua komponen masyarakat di Sulut bersatu padu bak sebuah orkestra dengan aransemen yang indah dan memukau, menunjukkan kepiawaian mempersembahkan “hidup rukun dan damai itu indah.” Itulah yang membuat ujian berat konflik horisontal di Indonesia (kala itu) oleh semua elemen warga Sulut diubah menjadi kesempatan sekaligus medan untuk menunjukkan kepeloporan dan keteladanan hidup berdampingan secara rukun dan damai. Dan kerja-kerja kongkrit untuk hal ini dilakukan dan dikedepankan oleh masyarakat sendiri, bukan dimobilisasi dari atas.

Banyak ahli yang telah meneliti tentang keunggulan kearifan lokal warga Sulut ini. Tiga di antaranya disebutkan di sini. Martin Ramstedt dan Fajar Ilmu Thufail yang menulis buku Kegalauan Identitas: Agama, Etnisitas, dan Kewarganegaraan pada masa Pasca Orde Baru (Grasindo, 2011). Nono SA Sumampouw yang menulis buku Menjadi Manado, Torang Samua Basudara, Sabla Aer dan Pembentukan Identitas Sosial (UGM Press, 2018). Paling awal menelaah tentang kearifan budaya lokal Sulut ini peneliti dari Belanda, Henk Schulte Nordholt dan Gerry van Klinken, yang mengabadikannya dalam buku Politik Lokal Indonesia (Leiden KITLV Press, 2007, Yayasan Obor, 2014). Untuk buku yang terakhir ini khusus untuk bab tentang Memelihara Perdamaian di Minahasa ditulis David Henley, Maria JC Schouten, dan Alex J Ulaen, budayawan Sulut dari Fakultas Sastra Unsrat.
Penelusuran yang lebih jauh dan dalam dilakukan oleh Prof Dr Jan Turang (alm).

Mantan Rektor IKIP/Unima ini merupakan ilmuwan yang intens merumuskan falsafah mapalus dalam budaya Minahasa. Pada seminar tentang “Tahun 2002 Tahun Kasih, Kasih Mengubah Dunia” di awal tahun 2002, Prof Jan Turang secara gamblang menyebutkan “nilai-nilai dan praktik kasih” sudah lama hidup dalam budaya mapalus sebagai local spirit and local wisdom masyarakat Minahasa. “Inti dari Mapalus Way”, kata Prof J Turang, “adalah Kasih.”

Hal yang sama ada dalam masyarakat Sangihe, Mapaluse, dan di Bolmong hidup dan dipraktikkan secara turun temurun Momosad. Dalam makna yang sama, Huyula, dalam masyarakat Gorontalo. Mapalus, mapaluse, momosad, dan huyula ini sudah lama tertanam dan dipraktikkan dalam masyarakat Minahasa, Sangihe, Bolmong, dan Gorontalo. Jauh sebelum kedatangan agama-agama. Mengikuti rumusan Prof J Turang, inti dari nilai-nilai dan praktik mapalus, mapaluse, momosad dan huyula adalah ‘kasih’, maka boleh dikatakan “kasih way” sudah lama hidup dan dipaktikkan dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Minahasa, Sangihe-Talaud, Bolmong dan Gorontalo. “Kasih Way” sudah dijalankan oleh warga Sulut jauh sebelum agama-agama datang.

“Kasih Way” inilah yang merupakan inti kearifan lokal warga Sulut. Itulah yang membuat warga dan daerah ini resilience, berdaya tahan tangguh dari zaman ke zaman dalam menjaga suasana hidup berdampingan secara rukun dan damai. Boleh dikatakan, inilah “jati diri Sulut.” Maka, janganlah jati diri ini direngut, hanya oleh peristiwa di Perum Agape Tumaluntung Minut. Tanpa bermaksud mengecilkan peristiwa tersebut, hendaknya kita kembali pada jati diri Sulut yang sesungguhnya: “Kasih Way”. Apapun perbedaan pendapat, latar belakang suku, agama, ras dan tingkat pendapatan, kita harus senantiasa ingat, “Kasih Way” merupakan warisan para leluhur di Minahasa, Sangihe-Talaud, Bolmong, dan Gorontalo yang terpenting, mulia, membanggakan dan menembus jauh ke masa depan.

Insiden di Perum Agape kita jadikan sebagai ujian yang kian menguatkan dan mengokohkan praktik “Kasih Way.”
Adapun keberadaan rumah ibadah, alangkah baiknya kita jadikan sebagai salah satu perwujudan kualitas hidup berdampingan secara damai. Sebagaimana yang sudah terpampang di Mopuya Selatan. Atau di Panango-Tabilaa, kompleks Kantor Bupati Bolsel yang menyandingkan masjid, gereja, pura dan vihara dalam satu halaman.
Mari kita perkuat, perteguh, perkokoh “Kasih Way” dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam membina kualitas relasi hubungan antar umat beragama di daerah ini. Dengan itu, kita sangat berharap, tidak ada tempat bagi siapapun, terutama pihak-pihak atau pun anasir-anasir dari luar untuk mengganggu ketentraman, kedamaian dan kerukunan di Sulut.

Andai ada mau coba-coba, mari kita ajak, sentuh hati mereka untuk menikmati keindahan hidup rukun dan damai. Jika ada yang ‘memaksa’, jangan kita beri ruang sejengkal pun. Seperti warga Sulut tampilkan dan hadirkan kala menjadi “rumah damai nan indah” di kala menerima pengungsi dari Ambon, Ternate, Halmahera, dan Poso di masa silam.

Bagi Pemkab Minut, Pemrov Sulut, dan TNI-Polri , saat ini jauh power full dibanding saat menghadapi dan mengatasi konflik horisontal pasca orde baru atau awal reformasi. Dengan kondisi itu, kecepatan dan ketepatan menangani masalah agar tidak melebar kemana-mana mestinya berjalan efektif dan tetap sasaran. Paling baik, kondisi power full itu dilakukan dengan mengedepankan modal sosial dan kearifan lokal yang sudah hidup turun-temurun di Sulut: “Kasih Way”. Sebab itulah benteng alamiah yang kokoh bagi warga Nyiur Melambai menjaga dan melanggengkan hidup berdampingan secara rukun dan damai. (***)

Gumalangit, Wowor dan Boroma Bertemu

Rusdy, Rocky Wowor dan Suhendro Boroma (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Jarang ditemui adanya pertemuan di ruang publik antara tiga tokoh penting putra Bolaang Mongondow Timur, akhirnya bisa bertemu. Selasa (7/1/2020), Rocky Wowor, Rusdi Gumalangit dan Suhendro Boroma ditemui di salah satu hotel ternama di kawasan Boulevar, Manado.

Diantaranya, Suhendro Boroma, dikenal sebagai tokoh pers nasional itu sudah nongkrong di lobi semenjak sore. Ia ditemani geng KAHMI Sulut dan Manado. Antara lain, Baso Affandi, Madzabullah Ical Ali, Agus Abdullah, Hairil Paputungan dan lainnya.

”Sedang kongko-kongko bahas program-program KAHMI ke depan,” elak Om Edo, panggilan akrab Dirut Jawa Pos Holding dan Manado Post Grup itu.

Setelah Magrib, muncul Rusdi Gumalangit (RG). Wakil Bupati Boltim aktif itu rupanya memilih nongkrong di hotel tersebut sambil menunggu sang istri yg sedang ada urusan lain.

”Mo ngopi dulu. Pas ujang-ujang bagini to,” kata RG.

Ia kaget sdh ada Om Edo di tempat itu. ”Auw, rupa mujur ini. Bakudapa deng Bos Koran Nasional asal Togid dan Pakar Survei,” canda RG pada Om Edo dan Baso.

Setelah Isa, tiba-tiba muncul Rocky Wowor. Putra Modayag ini rupanya hendak menemui kerabatnya yang nginap di hotel itu.

”Kok bisa ya. Tiga orang Boltim ketemu di sini. Tuhan so ator,” ucap Ketua Fraksi PDIP DPRD Sulut ini, sambil tersenyum lebar.

Ketiganya tampak sumringah. Setelah berurusan dgn kolega masing-masing, ketiganya lantas kumpul semeja. Di pojok. Hanya mereka bertiga. Baso Affandi cs yg menemani Om Edo bahkan ‘menyingkir’ ke meja sebelah.

Memberi kesempatan trio itu diskusi. Penasaran kan? Kira-kira dorang tiga bicara Pilkada Boltim? Atau sekadar kangen-kangenan? Apalagi ketemunya tdk sengaja.

”Kami melepas rindu dan diskusi kecil soal kampung halaman. Tidak ada yang luar biasa,” kelit Om Edo.

”Jarang-jarang ketemu di tempat yg sama. Dan lagi apa salahnya kami diskusi sebagai sesama Putra Boltim,” ucap Rocky yang adal Modayag.

Masih dengan senyum penuh arti. Sedang RG memilih tdk berkomentar lebih. ”Saya jadi pendengar saja,” tukas RG merendah.

Ah, masak sih, tdk nyentil soal Pilkada Boltim? Aaa pasti bo’ong nih. ”Adalah dikit-dikit nyentil Pilkada. Apalagi Pak Hendro dan Pak Rusdi sudah mendaftar untuk ikut Pilbup. Tapi msh diksuso umum. Belum spesifik. Bila kalau diinterpretasi lebih dari itu, ya tidak apa-apa. Kan lagi momentnya. Wajar kalau kami bertiga turut menyentil Pilbup,” beber Rocky.

Putra pengusaha Boltim Robby Wowor dan Olvie Keintjem itu tdk melarang pertemuan tak sengaja itu ditafsir lebih.
Rocky, peraih suara terbanyak ke DPRD Sulut dari Dapil Bolmong Raya, itu lebih dulu beranjak. Ia pamit sekira Pukul 21.30 Wita, karena hendak berkemas utk terbang ikut Rakernas PDIP di Jakarta.
Menyusul kemudian Rusdi, yg sdh dijemput sang istri.

”Saya langsung pulang. Besok (hari ini, red) harus ngantor. Banyak agenda di pemerintahan,” cetus birokrat handal yg kini terjun ke politik itu.

Sementara SB melanjutkan kongko-kongko dengan pengurus KAHMI Sulut dan Manado.

”Biasa aja. Sesama orang kampung bakudapa, pastilah banyak yg dibicarakan,” elak SB.

Seperti diketahui, belakangan SB digadang kuat bakal diusung partai besutan Olly Dondokambey, itu utk bertarung di Pilbup Boltim.

Sebelum pertemuan tak sengaja trio ini, SB juga terciduk mengunjungi kediaman Ketua DPC PDIP Boltim Meydi Lensun di Modayag. Hanya ia tdk merinci apa isi pertemuanya dengan eks Wabup Boltim itu.

”Saya bertahun baru ke rumah Pak Meydi. Karena waktu Natalan belum sempat berkunjung,” kata Om Edo. (*/Redaksi)

Silaturahmi ICMI Sulut, Puluhan Ahli Berkumpul Perkuat Sinergitas

Berlangsungnya silaturahmi ICMI Sulut (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Silaturahmi pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Sulawesi Utara (Sulut), Senin (23/12/2019) di hotel Grand Whiz MTC berjalan penuh keakraban. Setelah penetapan pengurus inti dan pengisian komposisi struktur ICMI Sulut, yang dipimpin Prof DR Sangkertadi selaku Ketua, Dr Hamzah Latief sebagai Sekretaris dan Ir Iskandar A. Modjo, Bendahara mulai melakukan konsolidasi kepengurusan.

Selain saling memperkenalkan diri dalam silaturahmi tersebut. Terdapat banyak masukan dan saran yang berkembang yang menjadikan temu muka para cendekia muslim tersebut berjalan dinamis. Misalnya, ada masukan agar ICMI Sulut tidak saja berkutat dalam tataran gagasan dan program. Tapi bagaimana kumpulan orang-orang hebat tersebut melakukan penguatan pada aspek aktualisasi.

“Kalau berani ICMI Sulut langsung menetapkan program bangun Universitas. Saya siap sumbang 10.000 ribu buku,” kata Reiner Oentoe, memberi usulan.

Tidak hanya itu, ada juga usulan seputar menghadirkan halal center Sulut yang diprakarsai ICMI, karena disamping urgensi keumatan, juga para ahli yang tergabung di ICMI Sulut sangat mumpuni. Banyak program yang sudah berkembang sebagai bahan diskusi. Namun sebagian besar menyepakati perlunya penggarapan database sebagai dasar dalam menjalankan program.

Selanjutnya, menurut Suhendro Boroma bahwa soal kekuatan data bisa dijadikan sumber pendapatan baru dari sinergitas beragam program yang bisa menjadikan ICMI Sulut maju, berkembang dan membumi. DR Jaelani Husein, wakil ketua yang bertindak sebagai moderator langsung menggiring wacana ini untuk selanjutnya dimasukkan dalam bahasan program kerja secepatnya.

Para ahli yang hadir dalam pertemuan (Foto Ist)

Untuk diketahui, Silahturahmi yang dihadiri sekitar 50 ahli baik dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Universitas Negeri Manado (Unima), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, dari unsur perbankan, kalangan profesional pers, dan peneliti dari berbagai lembaga pemerintah itu berlangsung hampir 5 jam. Acara itu juga adalah bagian dari persiapan pemantapan formasi kepengurusan untuk segera diserahkan ke pengurus ICMI pusat dalam kaitan percepatan legitimasi organisasi melalui pelantikan yang kemungkinan berlangsung Januari.

Tambahnya lagi, pengurus pun perlu memantapkan dan mempersiap diri untuk persiapan penyusunan program kerja, termasuk jadwal audensi dengan Gubernur Sulut sebelum waktu pelantikan tersebut. Ketua ICMI Sulut Prof DR Sangkertadi mengaku sangat mengapresiasi kehadiran, sambutan dan masukan yang ada.

“Saya sangat optimis, ICMI Sulut banyak melahirkan hal hal besar ke depan,” ujar Sangkertadi yang juga Wakil Rertor Unsrat ini optimis. (*/Redaksi)

Bertarung di Boltim, Suhendro Boroma Datangi Sekretariat Partai Golkar

Suhendro Boroma saat mendaftar (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Tensi politik di Pemilihan Bupati (Pilbup) Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) tahun 2020 bakal kencang. Betapa tidak, para kompetitor yang bertarung terhitung memiliki basis kekuatan tinggi, lihat saja hadirnya Suhendro Boroma.

Om Edo begitu Suhendro akrab disapa, menyampaikan setelah dirinya kukuh ikut bertarung, ia langsung mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Bahkan, beberapa partai politik besar pun ikut melirik figur yang dikenal dekat dengan rakyat ini.

Buktinya, akhir pekan kemarin Om Edo memenuhi undangan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Senin (9/12/2019) siang, pria yang juga Presedium KAHMI Sulut terpilih ini, penuhi undangan Partai Golkar.

Om Edo didampingi Suardi Hamza, Afandy Basso, tiba di Kantor DPD Partai Golkar di bilangan Jalan Martadinata. Setibanya di kantor partai berlambang pohon beringin itu, figur Om Edo disambut pengurus DPD I Partai Golkar Sulut, Feryando Lamaluta dan Alfian Walintukan.

Selanjutnya, melakukan prosesi pendaftaran sebagai bakal calon Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Usai menyerahkan berkas pendaftaran, Om Edo yang juga menjabat Direktur Utama Jawa Pos Grup, memberikan apresiasi kepada partai Golkar yang telah mengundangnya sebagai salah satu bakal calon Bupati Boltim, yang akan diseleksi menjadi calon untuk bertarung di pesta lima tahunan rakyat Boltim.

“Tentu saya berterima kasih kepada Partai Golkar. Atas kepercayaan ini, dan saya berkomitmen dengan sepenuhnya untuk rakyat Boltim tercinta, saya akan memajukan Boltim tercinta,” tutur Om Edo menutup. (*/Redaksi)

iklan1