Tag: Sulawesi utara

Kepemimpinan Adalah Teladan, Sebuah Perspektif Humanis

Bung Amas (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Manado

Dalam buku literatur kepemimpinan secara teoritis menawarkan bermacam cara. Bagaimana trik menjadi pemimpin yang ideal, pemimpin idola, dan pemimpin teladan yang diharapkan rakyat. Jika kita merujuk pada teori perencanaan yang diajukan George R. Terry, maka akan ditemukan Planning, Organizing, Actuating dan Controlling atau yang akrab kita sebut POAC. Berarti seorang pemimpin harus punya modal, diantaranya mengerti tentang cara merencanakan, mengorganisir, menjalankan, dan mampu mengendalikan apa yang dilaksanakan.

Kalau menyimak pemahaman dasar itu, cukup mudah. Namun, kebanyakan pemimpin-pemimpin kita mengalami kesulitan dalam tataran implementasi. Bagaimana tidak, karena dalam praket kepemimpinan acap kali diperhadapkan dengan irisan kepentingan yang plural. Keberagaman kepentingan inilah yang menyebabkan pemimpin gagal mengelola kekuasaan. Sehingga akhirnya pemimpin itu menjadi kehilangan legitimasi dan mendapatkan yang namanya distrust.

Kemudian, kenapa tema besar dalam tulisan ini adalah ”pemimpin itu teladan”?. Berarti ada pertanyaan yang nanti berkembang, bahwa jangan-jangan ada pemimpin kita saat ini yang tidak menjadi teladan.¬† Padahal betapa mulianya pemimpin, mereka sebagai panutan atau role model. Beberapa spanduk berukuran besar dipasang di depan jalan umum yang bertuliskan ”Kepemimpinan Adalah Teladan”, menggelitik saya ikut sumbang pikiran. Saya setuju tentang narasi besar itu.

Perlu di bumikan, jangan sekedar menjadi pajangan. Bukan pula gaya-gayaan, melainkan dapat dijalankan ungkapan tersebut oleh mereka yang kini menjadi pemimpin kita. Selanjutnya, roda kepemimpinan itu bergantian, tidak berhenti pada satu generasi saja. Artinya, dalam rangka edukasi publik, maka perlu para pemimpin itu merawat akal sehat publik dengan tindakannya. Pemimpin harus hadir sekaligus menjadi inspirasi bagi rakyat. Spanduk yang disebarkan di beberapa lokasi strategis di Manado itu, menurut saya adalah upaya literasi politik. Perlu kita beri apresiasi, sosialisasi untuk membangun kesadaran publik yang baik telah dilakukan.

Seperti kata Ki Hajar Dewantara bahwa pemimpin itu perlu bersikap bijaksana dan profetik. Ketika di depan ia memberi contoh, di tengah memberi semangat. Lalu, bila ia berada di belakang, maka pemimpin tersebut harus mampu memberi pengaruh. Di pentas Pilkada Serentak 2020, warga Sulawesi Utara tentu merindukan pemimpin paripurna. Setidaknya, pemimpin yang tidak munafik, jika berani berjanji, akan ia tunaikan janji tersebut.

Tapak langkap pembangunan yang dibuat Gubernur Olly Dondokambey, dan para Gubernur-Gubernur terdahulu meninggalkan jejak yang luar biasa. Konsep pembangunan berkelanjutan, mengajarkan kita generasi hari ini untuk bersyukur, mengakui, memberi apresiasi dan menaruh hormat kepada mereka. Atas kontribusi, karya dan kesungguhan mengabdi, membuat Sulawesi Utara sampai saat ini mengalami kemajuan pesat. Dalam seleksi kepemimpinan daerah di Pilkada Serentak 2020, rakyat perlu pula merefleksikan pilihan-pilihan politiknya.

Karena pemimpin tidak sekadar menciptakan pengikut. Melainkan menciptakan lebih banyak pemimpin. Kerinduan untuk terlahirnya regenerasi kepemimpinan yang hebat dan berkualitas itulah yang dinanti, sehingga rakyat patut diingatkan agar selektif. Berpijak pada pesan yang ada dalam spanduk ”Kepemimpinan Adalah Teladan”, berarti diperlukan revolusi kesadaran, kejujuran dan keberanian dalam memilih di Pilkada 23 September 2020 kelak. Semua rakyat diberikan penghargaan yang sama atas nama demokrasi, di TPS nanti tiap mereka yang wajib pilih punya satu suara per orang.

Tak membedakan, baik Guru Besar, buruh, politisi, broker, birokret, petani, rakyat termarginal, keluarga pejabat. Kalangan borjuis dan miskin papah, pun punya hak suara yang sama dalam berdemokrasi. Maka dengan itu, jangan disia-siakan hak memilih tersebut. Ketika kita membaca probabilitas kemunculan pemimpin teladan, umumnya mereka terlahir dari bawah. Tidak instan, sosok pemimpin teladan itu mereka yang biasanya terbentuk dari kesulitan-kesulitan hidup.

Pemimpin teladan yaitu mereka yang juga sudah tuntas sejak dari dirinya. Tidak terpenjara pada penguasaan, kontrol dan intervensi orang lain. Yang ditakutinya hanyalah Allah SWT. Mereka tumbuh dengan kemandirian, kejernihan pikirannya, keikhlasan, memahami adab, tidak gila dengan pujian dan penghargaan. Pemimpin teladan itu tak mau banyak mengobral janji, ia sadar diri. Tau apa yang menjadi kemampuannya, bicara sekedarnya, kemudian lebih banyak bekerja.

Seperti itu pula, pemimpin teladan itu mereka takut mengambil sesuatu yang bukan haknya. Tidak berlaku zalim kepada orang lain, tidak pendendam. Menjauh dari korupsi tentunya, ia tumbuh subur dengan tradisi saling menghargai. Mengerti sosiokultural rakyat, tidak jumawa. Pemimpin yang berkarakter, dalam ucapan dan perbuatannya melahirkan pelajaran yang ditiru rakyat. Mereka bertindak mengintegrasikan rakyat, punya kepekaan sosial. Bukan mendiskriminasi rakyat atau menjadi sumber konflik di tengah rakyat. Pemimpin teladan itu, ketika ia tiada rakyat mengingatnya. Mendoakannya tiap saat. Pemimpin teladan berarti ia yang selalu menjadi problem solving.

Dalam perspektif humanis, pemimpin teladan yakni mereka yang menghargai hak-hak dasar rakyat. Mereka yang memiliki komitmen terhadap perjuangan kemanusiaan. Menegakkan keadilan, memerangi kemungkaran, membawa rakyat pada kesejahteraan. Tidak membudayakan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), potret pemimpin yang bertindak atas keputusan-keputusan rasional. Mendahulukan kepentingan kolektif, mengabaikan kepentingan personal dirinya dalam urusan kepemimpinan publik. Dan menjadi pemimpin yang ramah, bukan pemarah.

Semarak HUT Senator Djafar Alkatiri, Akademisi Unsrat Ucapkan Ini

Djafar Alkatiri dan Mahyudin Damis (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Menyukuri nikmat Allah SWT karena ketambahan usia, Dr. Ir. H. Djafar Alkatiri, M.M.,M.Pd.I, Senator asal Sulawesi Utara (Sulut), Jumat (3/1/2020) menggelar syukuran. Djafar mengundang para sahabat karib, para tokoh masyarakat, politisi dan akademisi untuk hadir dalam acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 Senator Djafar.

Kegiatan penuh kekeluargaan itu dilaksanakan di Kelurahan Maasing Tuminting Manado, kediaman pribadi Djafar. Kesempatan yang istimewa itu mendapat komentar positif dari akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Drs. Mahyudin Damis, M.Hum. Dosen FISPOL Unsrat ini menilai peran strategis Djafar patut mendapat dukungan publik.

“Saya sangat senang melihat gerakan Senator Djafar Alkatiri mampu menghadirkan para bakal calon Wali Kota dan Wawali Manado dalam acara HUTnya ke 50, yang penuh canda dan tawa. Tak sia-sia ia menjadi kader PPP sekian puluh tahun. Spirit Persatuan ini amat sangat tampak tetap melekat dalam dirinya,” ujar Damis.

Ditambahkan Damis, menyampaikan simpatiknya terhadap sosok politisi yang satu ini. Apa yang dilakukan Djafar, kata Damis sebagai suatu kemewahan dalam hal interaksi sosial dan konsistensinya selaku publik figur.

“Semoga spirit persatuan ini memang sebagai salah satu faktor yang menghantarkan dia ke posisi tingkat nasional meski kini ia tak gunakan kenderaan parpol. Tak salah ia mengangkat tema HUTtnya : “Bersatu kita bisa”. Berharap ka Dja memelihara spirit itu sepanjang masa,” tutur Damis. (*/Redaksi)

Reiner Ointoe: Barakallahu Fii Umrik Senator Djafar Alkatiri

Reiner Ointoe dan Djafar Alkatiri (Foto Ist)

Oleh : Reiner Ointoe, penulis buku

SENATOR Vita Brevis. Hidup kian surut ke depan. Ibarat banjir, ia bisa tinggal residu-residu yang baik atau berbahaya. Sejarah para senator dari zaman Kaisar Augustus dikenal sebagai Gaius Octavian pada abad ke-23 SM. Kaisar yang sangat diktator. Sebagai bekas senator, Octavian sangat paham hidup dlm negeri yang mula-mula ditemukan oleh Plato sebagai embrio republik (res public).

Tiap senator harus seorang republikan. Seorang yang merumuskan dan menata urusan atau aturan(res) publik. Meski dalam sistem republik kita, para senator sebagai wakil publik di DPD RI (dipilih langsung oleh publik), mereka tak mengatur langsung urusan publik. Mereka lebih sebagai etalase politik bagi semua kebijakan publik yg diatur oleh parlemen (DPR RI) sebagai mandat rakyat yg presidensial. Karena itu, tak ada tatanegara di dunia manapun menyerupai negara kesatuan RI kita.

Aneh. Ajib bin binongkol. Lepas dari segala kemaruk dalam tatanegara kita yang diimbuhi dengan rupa-rupa lembaga superbody yg lemah body-nys seperti KPK, Ombusman, KIP, KPI, Komnas HAM,Anak,Perempuan — sebentar lagi LGBT — dengan populasi penduduk lebih dari 200 juta jiwa di 34 propinsi dan lebih dari 400 kabupaten-kota hanya diurus oleh tak lebih 1000 orang parlemen plus senator.

Dibantu oleh kurang lebih empat juta ASN plus 600 ribu TNI & Polri. Walhasil, negara kita adalah negara gemuk dengan kekayaan alam. Namun, kerontang dalam masalah gizi (stunting nutrition), kaum papah (lebih dari 25%), pengangguran (di atas 10%) dan penuh pekerja sukarela dan sangat aktif — profesional intelektual, hackers hingga buzzer — di medsos sebagai “netizens planeter lebih dari 15% (users).

Sinopsis sebagai “khotbah jumat” ini didedikasikan pada Milad saudaraku Senator Ir. Djafar Alkatiri MPdi. Kau sudah dipilih oleh lebih dari 150.000 warga se-Sulut tanpa sepeserpun uang yang kau sangukan. Jika kau berikan sangu itu untuk memilihmu sebesar Rp. 50.000/pemilih, itu setara kau menguras kocekmu sebesar Rp.750.000.000. Jika itu berupa hutang berbunga, tiap reses berbandrol Rp. 250.000.000, baru akan ditunai bagi sepertiga pemilihmu dan itu mustahil. Karna tak satupun yang kau tahu telah memilihmu.

Itulah misteri mandat keterwakilanmu sebagai senator untuk semua orang. Sebagai yuniorku, inilah hadiah miladmu dari saya. Hanya sebuah refleksi atas amanah umat manusia se-Sulut. Sebagai seorang intelektual yang dibekali master dlm ilmu “pendidikan agama” sufistik, tentu kau tahu persis apa “hikmah & amanah” atas kehidupan fana ini.

Barakallahu fii umrik Senator Djafar Alkatiri. (**)

Sambut Tahun Baru, PHBI Manado Ajak Umat Islam Doa dan Zikir Bersama

H. Amir Liputo, dan logo PHBI Manado (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com РPanitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Manado dalam mengakhiri tahun 2019, mengajak umat Islam agar melakukan kegiatan religius. Sperti disampaikan Ketua PHBI Manado, H. Amir Liputo, SH bahwa lebih baik umat Islam melaksanakan Doa dan Zikir di Mesjid-Mesjid. Kegiatan kolosal atau massal tentu lebih bermanfaat, yang diharapkan berdampak positif secara luas pada warga Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), tidak hanya di Kota Manado.

”Dalam rangka menyambut Tahun Baru 2020 di Manado dan sekitarnya kami mengajak diadakan Doa dan Zikir bersama bagi umat Islam. Kegiatan dilaksanakan di Mesjid terdekat dimana umat Islam berdomisili. Dengan harapan semoga Sulawesi Utara, kemudian Manado khususnya aman terkendali. Warganya sejahtera, selalu dalam lindungan yang maha kuasa,” kata Liputo yang juga anggota DPRD Provinsi Sulut dua periode ini.

Tambah Liputo yang adalah kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengajak masyaraka agar tidak boros dalam perayaan malam Tahun Baru. Melainkan memanfaatkan waktu untuk bermunajat kepada Allah SWT. Liputo juga berharap agar di Tahun 2020, keakraban dan persaudaraan masyarakat Sulut makin terus dikuatkan. Masyarakat dihindarkan dari konflik atau perpecahan.

”Mari kita sambut tahun 2020 dengan penuh rasa syukur dan terus menjaga persaudaraan sesama umat bangsa dan Negara. Sekaligus PHBI Manado menghimbau kita semua agar menjauhi perbuatan keriminal, terutama generasi muda kiranya dapat mengikuti Doa dan Zikir Bersama di Masjid terdekat sebagaimana jadwal yang dilampirkan PHBI Manado,” ujar Liputo, Senin (30/12/2019).

Berdasarkan list dari sejumlah Masjid yang dihimpun PHBI Manado, bahwa akan dilaksanakan kegiatan di malam tanggal 1 Januari 2020, seperti disampaikan Amir Liputo, juga diantaranya sebagai berikut:

1. Mesjid Ar Rahmah Banjer 2.Mesjid Nurul Huda Ketang Baru 3. Awwal Fathul Mubin Kampung Islam 4. Ath Thohirin Banjer 5. Mesjid Nur Almuhajirin Desa Kalasey Jaga 1 mandolang Minahasa 6.masjid Rabbani GPI 7. Mesjid Al Ikhwan Sospol Mahawu, 8. Mesjid Assolihin Kampung Merdeka 9.Mesjid Al Hijrah-Kombos 10. Mushallah Al Faiz Malendeng, 11. Masjid Al ikhlas Lanudal Mapanget, 12. Mesjid Al Amanah Malendeng, 13. Mesjid Al haq perum Permata.

14. Mesjid Al Gufron Titiwungen 15. Mesjid Al Ihsan Dendengan, 16.Mesjid Al Mufidz Ternate Tanjung 17. Mesjid Sabilal Muhtadin Buha. 18. Mesjid kyai arsyad thawil Komo Luar, 19. Mesjid Hidayatullah Aspol Sario 20. Masjid At-Taqwa perkamil 21. Mesjid Al Muhajirin Koltem Kalawat Minut 22. Mesjid Al Muhsiniin Kalawat 23.mesjid nurul yakin Sario Tumpaan depan Mantos 3, 24. Mesjid Al Munawar Tuminting 25. Al Aziz Griya 1, Desa Mapanget, Minut.

26. Masjid AlIkhlas Wonasa Karame 27.mesjid al mawaddah taas 28.Mesjid fastabiqul khaerat, Kota Bitung, Candi Bitung Barat 29. Masjid Nurut taqwa Desa Sea 30. masjid baitul makmur kel.kampung jawa. 31. Masjid alhikmah kel sumalangka 32. Mesjid Jami Ponegoro Airmadidi 33. Mesjid As-Salam Pajak Wale Manguni 34. Masjid Al Amin Dendal 35.mesjid al huda terminal Kota Bitung.

36. Mesjid Al Mujahidin warukapas 37. Mesjid Al fattah Bengkol 38. Mesjid baitul makmur katon minahasa 39. Mesjid Al falah sindulang 40. Masjid Al-Jihad Teling bawah 41. Mesjid Nurut Taqwa Sea 42. Mesjid Attaqwa Kabupaten Sangihe 43. Mesjid Al Muhajirin Jln Sea. 44. Al Muhajirin Malalayang 1, 45. Mesjid at Taubah Manembo nembo Bitung. Sampai malam ini, para pengurus Masjid masih ada yang melaporkan kegiatan yang dilaksanakan tersebut. (*/Amas)

ICMI dan Kuburan Intelektualisme

Reiner Emyot Ointoe (Foto Ist)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Budayawan dan tokoh ICMI Sulut

Menjelang datangnya ajal rezim Orde Baru (1998), aktivis kampus Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang di paruh tengah tahun 90-an menggelar hajat diskusi soal peranan intelektual kampus vis a vis intelektual muslim — ketika itu pengaruh gerakan intelektual pelecut Revolusi Islam di Iran dgn tokohnya Ali Shariati (1933-1977) lagi gencar dengan gerakannya “raushanfikr” — sedang dilanda malaise yang beredar di sekitar pusat-pusat kegiatan intelektual: Kampus Perguruan Tinggi Negeri.

Terutama, berlakunya kontrol ketat dan keras rezim Orde Baru pada “kebebasan mimbar akademis” dan berlakunya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kehidupan Kampus) era Mendikbud Daud Jusuf dan berlanjut pada Nugroho Notosusanto dengan “Wawasan Almamater”. Walhasil, kampus sebagai pusat aktivitas kecendekiawanan dipaku dlm kotak birokrasi kampus. Karna itu, inisiatif aktivis cendekiawan kampus Unibraw mengundang Menristek Prof. Dr. Ir. B.J. Habibie (kelak, Presiden RI ketiga) ke kampus untuk bicara “kebebasan kaum cendekiawan.”

Ringkas cerita, sejak itu tercetus pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia(ICMI) yg kelak akan memberi ruang “formal” bagi ide-ide cendekiawan untuk bisa diwujudnyatakan. Akhirnya, ICMI awal setelah memilih BJ. Habibie menjadi ketuanya yg pertama, justru mempercepat runtuhnya rezim pengendali cendekiawan. Dengan demikian, refleksi atas bangkitnya kembali ICMI secara organisasional seperti merehabilitasi “kuburan intelektual” yg nyaris lebih dari 20 tahun tenggelam dlm gempita politik sejak Ketuanya menjadi Presiden RI ketiga tidak lebih dari 543 hari kekuasaannya.

Meski dia telah meletakkan fondasi bagi kebebasan cendekiawan dan demokrasi, ICMI sebagai organ yg pernah dipimpinnya tenggelam bersama “kejatuhannya.” Karna itu, membangkitkan kembali gerakan cendekiawan muslim seperti ICMI bisa dianggap sebagai klenengan yang mengenaskan. Meski demikian, saya masih menaruh harapan agar “kuburan” ini yg harus diaktifkan adalah spiritnya, ruh intelektualnya yg tidak fana.

Sejatinya, organ intelektual ini menghidupkan kembali cadangan imunnya: ide-ide/gagasan dan daya kritis. Tanpa ini, kebangkitan kaum cendekiawan apapun dan dari manapun hanya akan dipandang sebagai artefak kencana atau pualam bagi semangatnya yg luput dari jatiwahananya: rasionalitas. [**]

iklan1