Tag: Sulawesi utara

Pilkada Sulut dan Bahaya Laten Politik Dinasti

Bung Amas Mahmud (FOTO Suluttoday.com)

Mata rantai politik dinasti memang sukar dibendung. Politik dinasti yaitu politik yang menggunakan pendekatan keluarga. Relasi kekerabatan yang diutamakan dalam kebijakan politik. Secara demokrasi wajar saja. Dari sisi etika dan keterbukaan demokrasi, rasanya sedikit terganggu. Betapa masih banya politisi yang secara kualitas dan integritas lebih layak, tapi dikalahkan dominasi politik keluarga.

Kenapa politik dinasti ini masih tumbuh subur di Sulawesi Utara misalnya?, karena salah satu elemen yang menguatkannya ialah pemikiran politisi yang menganut mazhab ini memupuk bertumbuhnya politik dinasti. Praktek infiltrasi yang dilakukan berupa meloloskan keluarganya karena dirinya berada didalam kekuasaan.

Amat penting dari kehidupan politik dinasti yang makin tumbuh karena ada oknum politisi yang menjabat posisi penting di partai politik dan juga dipemerintahan, punya kekuasaan, lalu merekrut keluarganya masuk dalam urusan politik. Hasilnya, kadang kala ada pemaksaan kondisi. Sering juga kita temukan politisi yang secara pengalaman, kemampuan intelektual minus, manajemen berorganisasi tidak ada, tapi dipaksakan.

Konsekuensinya, lahirlah kepemimpinan politik yang mudah didikte dan rapuh. Berseliwerannya figur-figur pemimpin yang instan, minim pengalaman. Sementara para politisi yang mengawali karirnya dari bahwah tidak mendapatkan akses yang semestinya. Mereka para pemikir partai politik, organisator, ideologi partai politik, senior-senior, hanya bisa mengantri dibelakang. Mudah terpicu konflik kepentingan. Walau begitu, resistensi atau perang terbuka terhadap politik dinasti jarang muncul secara fulgar.

Deretan regenerasi di partai politik pun akhirnya kacau-balau. Dinasti politik memang memberikan dampak membahayakan terhadap demokrasi kita yang menghendaki adanya demokrasi substansi. Politisi yang tidak kredibel ditarik masuk dan mendapatkan posisi strategis. Lambat-laun pendekatan ini mengeliminir para kader-kader parpol yang loyal, kader parpol yang selama ini menjadi petarung.

Mereka kader parpol yang diandalkan hanya sekedar menjadi followers. Dunia kompetisi menjadi terbalik. Mereka yang minim prestasi diberikan penghargaan. Lalu yang punya banyak koleksi prestasi, apalagi kritis dan tidak toleran bicara tentang hal-hal kebaikan, namun cenderung melawan sistem yang dibangun, akan dimusuhi dan teralienasi. Politisi garis lurus dibantai, dimarginalkan.

Panggung politik hanya didominasi mereka politisi yang malas mikir. Politisi yang jarang mengisi waktunya membaca buku, berdialektika dengan dunia luar. Disinilah takaran politik menjadi menurun kualitasnya. Masuknya politik dinasti seperti melahirkan ‘penjajahan budaya’ bagi para politisi yang kerabatnya tidak berada dalam pucuk kekuasaan. Mereka meski hebat, tapi tidak akan diperhitungkan.

Diberikan posisi secara struktural dibawah. Para politisi pemuja, tebal muka, pandai manuver bermunculan. Dan boleh jadi bagai jamur dimusim hujan, penjilat yang akan melingkari para penganut politik dinasti dalam menjalankan misinya makin meningkat eskalasinya. Pertemanan politik menjadi hanya sekedar situasional. Mereka saling membutuhkan dalam pengamanan kepentingan tertentu saja. Selebihnya tidak ada. Yang kental malah saling sikut, saling sikat dan fitnah dilancarkan untuk mempertahankan posisi masing-masing.

Politik dinasti di Pilkada 2020 akan mewarnai realitas politik kita di Sulawesi Utara. Kita mulai mendengar ada anak dari pimpinan partai politik yang dipersiapkan bertarung di Kabupaten/Kota. Ada Bapaknya yang memasang kuda-kuda bertarung di Pemilihan Gubernur. Ada pula kaka beradik saling memperkuat politik keluarga. Kakak atau adiknya bertarung di kompetisi Gubernur, adik atau kakaknya juga diplot untuk bertarung di papan satu ataupun papan dua di Pilkada Kabupaten/Kota. Bahaya laten politik dinasti telah nampak di depan mata kita. Luar biasa memang menggurita dan akan melumpuhkan demokrasi.

Seolah-olah di daerah ini stok kepemimpinan kita telah habis. Sehingga kemudian, posisi dan siklus kepemimpinan hanya berkutat disitu-situ saja. Tersekat pada keluarga tertentu. Kekuatan politik dinasti sering menggunakan indikator kemampuan financial. Bukan soal isi kepala, kemampuan leadership dan pengalaman yang diukur. Malah isi tas, atau saldo rekening, kekayaan materi, berapa banyak duit yang disiapkan. Pilkada menjadi bergeser nilainya. Bukan lagi uji atau persaingan mendapatkan pemimpin yang bermartabat, serta pemimpin berkualitas tinggi. Melainkan kontestasi gaya-gayaan, dan perang kewibawaan keluarga.

Yang terbaca adalah kontestasi bagi para pemilik modal. Sungguh menyedihkan. Bagi politisi atau akademisi yang kaya akan pengalaman secara punya konsep pembangunan daerah jika tidak punya model uang, tidak diperhitungkan sama sekali. Jalan paling efektif dan produktif dari munculnya kepemimpinan instan itu salah satunya dari model-model politik dinasti. Alhasil tidak laku politisi bicara hal-hal idel dan berintegritas.

Masyarakat pun disajikan pilihan yang lebih realistis dan pragmatis. Selera pemilih bukan lagi pada rancangan besar pembangunan yang konseptual dan rasional, melainkan lebih pada tataran pragmatisme politik. Siapa yang lebih punya amunisi keuangan, mau membagi-bagi bagi uang secara rapi, itulah yang akan dipilih. Walau tidak semua, paling tidak ini potret yang meresahkan bagi demokrasi kita.

Sekiranya, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sulawesi Utara dan Kabupaten/Kota mendeteksi ini sebagai ancaman demokrasi yang serius. Targetnya segera menghentikan praktek-praktek bagi-bagi uang dalam Pilkada. Bukan lagi dengan istilah meminimalisir praktek tercela itu, melainkan menghentikan secara total. Jangan ada kompromi atau tebang pilih atas praktek politik uang. Sejatinya politik dinasti tidak menyuburkan demokrasi. Kebanyakannya hanya membawa mudharat bagi demokrasi.

Sebab ada kesan kepemimpinan dipaksakan disana. Dari banyak teori manajemen kepemimpinan, kita memetik beberapa pikiran berkaitan dengan cara melahirkan pemimpin unggul ialah dengan proses panjang. Kepemimpinan itu dipersiapkan. Selain takdir Allah, umumnya para pemimpin yang matang itu mereka tidak instan. Berkarir dari bawah, tidak ujuk-ujuk jadi pemimpin. Sehingga saat memimpin mereka tau menjawab kebutuhan masyarakat yang dipimpinannya dan tau kerja kolektif.

Politik dinasti ini merupakan bahaya laten bagi demokrasi. Jangan dianggap biasa saja, karena praktek itu melahirkan oligarki kekuasaan. Sirkulasi politik menjadi bergerak diare sempit. Demokrasi yang diberi anugerah dari oleh dan untuk rakyat menjadi tarsandera. Menjadi terbalik bahkan, dari dari mereka dan akan kembali pada mereka. Dampaknya kemiskinan merajalela, kesejahteraan dan kekayaan dimonopoli elit. Masyarakat miskin makin miskin dan dimiskinkan. [**]

 

 

________________________

Penulis : Bung Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Manado

Masyarakat Sulut Diminta Wadpada Demam Babi Afrika

Simulasi pencegahan ASF (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Ancaman African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika harus menjadi perhatian serius semua pihak terkait di Sulawesi Utara, meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus babi mati akibat virus tersebut di daerah ini.

Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani Agus Sunanto mengatakan, ada beberapa alasan yang menyababkan seluruh komponen masyarakat di Bumi Nyiur Melambai harus mewaspadainya. Pertama, Sulut berbatasan langsung dengan Filipina. Negara tetangga di utara Indonesia ini telah ditemukan sejumlah kasus ASF pada September lalu.

“Kemudian, ada juga penerbangan langsung Manado-Davao PP,” ujar Agus dalam Sosialisasi dan FGD Simulasi Introduksi ASF di Swiss Belhotel Maleosan Manado, Selasa (19/11/2019).

Alasan berikutnya ialah terdapat sejumlah penerbangan langsung dari negara-negara positif ASF, di antaranya Tiongkok. Selain Tiongkok dan Filipina, negara yang tertular ASF, Korea Selatan, Vietnam, Jepang dan Timor Leste. Kedatangan wisman dalam jumlah besar dari Tiongkok juga menjadi potensi penyebar ASF. Begitu juga, para wisman ini membawa makanan yang juga bisa menjadi perantara virus ASF.

“Kemudian, peternakan babi di Sulut banyak dan menyangkut hajat hidup sebagian besar warga,” katanya.

Karena itu, tambah Sunanto, pengawasan di pintu-pintu masuk perlu diperketat. Secara khusus terhadap sampah makanan yang dibawa penumpang dan sisa katering dalam pesawat dari negara positif ASF. Ia menjelaskan, skenario masuknya ASF beragam.

Mulai dari pemasukan babi secara ilegal melalui jalan darat, penyeludupan daging, sisa makanan yang dibawa penumpang atau katering dalam pesawat atau bisa juga melalui orang yang pakaian dan bawaannya terpapar virus tersebut. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulut, Novly Wowiling mengatakan, ASF perlu diwaspadai karena sejauh ini belum ada vaksin atau obat yang bisa melawannya.

“Apalagi, tingkat kematian yang disebabkan virus ini 100 persen. Sangat berbahaya bagi Sulut,” kata Novly.

Sebutnya lagi, populasi babi di Sulut mencapai 490 ribu. “Bisa dibayangkan dampak ekonomi dan sosial jika virus ini menyebabkan wabah di Sulut,” katanya.

Termasuk sektor pariwisata, akan terkena dampak langsung. “Kami berkoordinasi dengan para pihak, bagaimana membangun bio security bersama. Peternak pun diharapkan menjaga kesehatan ternak dan lingkungan peternakannya,” jelasnya.

Kepala Balai Karantina Pertanian Manado, Junaidi mengatakan, sosialisasi itu dimaksudkan membangun kesadaran para pihak. Junaidi berharap setelah ini terbangun sinergitas di antara pemangku kepentingan mencegah ASF. “Tujuan kita tentu agar jangan sampai ada ASF di Sulut. Karantina tak bisa sendiri, peternak juga begitu. Makanya kita cegah bersama-sama,” tukasnya.(cat)

Demo Berantas Mafia Tanah Nyaris Ricuh dan Adu Jotos

Pendemo dan Satpol PP nyaris bentrok (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Ratusan warga dari Bolaang Mongondow, Bitung dan Minahasa Utara Kamis (14/11/2019) “menduduki” kantor Gubernur Sulawesi Utara untuk menuntut keadilan terkait kepemilikan tanah yang telah dirampas karena adanya investasi, nyaris anarkis dan ricuh.

Dengan seruan-seruan pedas pun mengalir ditujukan kepada pemimpin daerah Sulut agar sesegera mungkin bertatapmuka serta mengatasi masalah yang tengah dilanda masyarakat. Sementara itu, Kasat Pol PP Sulut, Evans Liow yang menerima curahan hati warga, menyatakan bahwa Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey saat ini tengah berada di istana negara.

Tapi pernyataan itu langsung menyulut amarah pendemo dan ingin menyerang Liow namun dengan tanggap ditahan Sat Pol PP. Alhasil aksi yang sempat memanas melukai beberapa anggota Satuan Pamong Praja (Sat Pol PP). Aksi masyarakat yang tertindas di mulai Polda Sulut, Kanwil Agraria dan berakhir di kantor gubernur dikomandani oleh Koordinator lapangan komunitas petani penggarap Desa Tiberias dan sekitarnya, Abner Patras dan didukung PMII cabang Metro Manado mengatasnamakan Forum Keadilan bagi Petani dan Nelayan Sulawesi Utara.

Aksi Warga Tiberias Bolaang Mongondow, Candi dan Makawidey Kota Bitung dan Paputungan Likupang Minahasa Utara meminta Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk mencabut sertifikat-sertifikat tanah yang katanya telah dirampas dan dimiliki oleh mafia agraria.(cat)

Disnakertrans Sulut Siapkan Try Out Magang Jepang

Tim Binapenta siap kawal program Magang Jepang (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Jelang seleksi dari IM Jepang, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sulut menggelar try out bagi calon peserta magang. Kegiatan try out magang kerja di negeri Sakura akan dilaksanakan mulai Selasa (12/11/2019) pagi.

Dimana peserta yang telah mendaftar diharapkan hadir pada pukul 07.30 WITA dengan mengenakan kemeja putih dan celana hitam.

Untuk data sementara calon peserta magang yang terdaftar sebanyak 150 orang. Seperti disampaikan Kepala Bidang Binapenta, Lucky Taju Minggu (10/11/2019) masih dibuka kesempatan bagi generasi muda yang ingin berkarir dan mengembangkan diri dengan syarat berusia 19-25 tahun, dan bagi pria tidak memiliki tindik dan tattoo.

Yang belum mendaftar bisa bergabung saat try out sembari membawa kelengkapan berkas.(cat)

Tetap Eksis, UTI Pro Sulut Geber Eksebisi

Rudi Pusung saat memberikan sambutan (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Kurang lebih 180 taekwondoin se Sulut berkumpul ikut eksebisi antar Dojang di Sekretariat UTI Pro Sulawesi Utara, Maumbi. Dua hari lamanya, 9-10 November 2019 waktu menunjukkan yang terbaik dari masing-kategori, Pra Junior, Junior dan Senior.

Terbaik dari setiap kategori diberikan hadiah berupa uang pembinaan. Ya, Universal Taekwondo Indonesia Profesional (UTI Pro) Sulut menggeliat lagi. Bina atlet jadi kewajiban.

“Kita bina anak-anak secara kontinue. Biar terus terasah, baik secara mental dan teknik bertanding. Begitu terjaring terbaiknya, kita jadikan database untuk kejuaraan yang lebih besar,” ujar Wakil Ketua Umum UTI Pro Pusat, Rudi Pusung, Sabtu (9/11/2019).

Kata Pusung, menjaga eksistensi kebesaran UTI Pro wajib dilaksanakan. Perintah pusat seperti itu, jagah marwah organisasi. Baik di daerah hingga pusat.

“Kita tetap eksis, kendati sebagian tergerus. Tetapi semua ini hanya ada iven PON saja. Kita tidak mengikuti semua kegiatan, apalagi dibiayai pemerintah,” tegas Pusung.

Dijelaskan lagi, UTI Pro sifafnya mandiri. Tidak mengemis. Tidak ajukan proposal kemana mana. Uang yang mengalir dari anak anak semuanya untuk kegiatan bersifat kejuaraan.

“Jadi tanpa bantuan siapapun. Ini komitmen UTI Pro dengan kemandirian,” tandasnya. (*/Don)

iklan1