Tag: Tetty paruntu

Tiga Bulan Jelang Pilkada di Sulut, LSI Beberkan ODSK Menang di Kantong Muslim

Ikrama Masloman (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Makin dekatnya hajatan politik di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), mulai melahirkan iklim demokrasi yang dinamis. Hal itu disampaikan Peneliti senior Lembaga Survey Indonesia (LSI) Denny JA, Ikrama Masloman. Melalui tatap muka dengan wartawan di Hotel Aston Manado, Ikrama membeberkan hasil survey terbarunya bahwa tiap-tiap kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur mengalami peningkatan elektabilitas.

“Hasil survey terbaru, metode riset dengan memperdiksi suara pemilih masing-masing pasangan calon Kepala Daerah secara tatap muka langsung. Data diambil tanggal 22-29 Agustus 2020,” kata Ikrama, jebolan Unsrat Manado ini, Minggu (13/9/2020).

Selain itu, Ikrama mengatakan petahana masih unggul di 6 kantong besar suara. Walau begitu pergerakan suara disebutnya akan terus mengalami peningkatan pergeseran suara. Disebutnya ODSK (Olly Dondokambey-Steven Kandouw) masih perkasa di kontestasi Pilgub Sulut 2020 yang popularitas dan elektabilitasnya begitu tinggi.

Pemaparan hasil survey (Foto Suluttoday.com)

“Patahana dan penantang masing-masing mengalami peningkatan elektabilitas pasangan, kata Ikrama. Jebolan aktivis HMI Cabang Manado itu menuturkan pula bahwa dinamisnya Pilkada Serentak 2020 juga diperkirakan akan melahirkan kejutan-kejutan tertentu. Petahana sendiri masih menang 60% lebih menang di basis pemilih muslim,” ujar Ikarama yang mengatakan potret elektabilitas didapati melalui 6 kantong pemilih.

Segmen pemilih gender, kantong pemilih Prostestan, kantong pemilih muslim, pemilih milenial, kantong pemilih terpelajar dan terakhir pemilih etnis, yang dipetakan Minahasa, Sanger dan Bolmong.

(*/Bung Amas)

Pendukung Imba Sebut Golkar Sulut Penghianat, Tetty Paruntu Langsung Berkomentar

Imba dan istri tercinta bertemu Olly Dondokambey yang juga Gubernur Sulut (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Munculnya kekecewaan, penyesalan dan bahkan tudingan adanya penghianatan dari kubu pendukung bakal calon Jimmy Rimba Rogi atau yang akrab disapa Imba begitu mewarnai jagat maya. Bahkan, tak hanya di Medsos saja, sejumlah pendukung Imba meluapkan kekesalannya melalui tulisan ucapan. Sebagian yang lain mereka memberi warning kepada Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Christiany Eugenia Paruntu (CEP).

CEP atau Tetty Paruntu dinilai paling bertanggung jawab atas tidak dikeluarkannya dukungan Partai Golkar terhadap Imba yang notabenenya sebagai kader asli Beringin Kota Manado untuk maju dalam kontestasi Pilwako Manado 2020. Postingan status yang bernada tidak mendukung CEP sebagai calon Gubernur Sulut juga menguat di Medsos. Menariknya, ucapan turut berduka cita atas penghianatan Partai Golkar Sulut dibuat pendukung dan simpatisan Imba.

Ucapan berduka cita dari pendukung Imba (Foto Istimewa)

Bahkan Imba bersama istri juga dalam postingan foto yang beredar telah bertemu Olly Dondokambey, yang adalah calon Gubernur Sulut dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Menanggapi hal tersebut, Tetty Paruntu memberi bantahan. Menurutnya pihaknya telah memberikan kesempatan kepada Imba untuk mencari partai pendukung, tapi belum berhasil memanfaatkan kesempatan memperoleh partai pendukung.

”Jangan salahkan Partai Golkar kalau paslonnya tidak bisa mendapat partai pendukung. Kami sudah memberi kesempatan kepada Pak Imba untuk mencari partai pendukung. Ternyata tidak bisa mendapatkan partai pendukung,” kata Tetty Paruntu, pada Suluttoday.com, Jumat (4/9/2020).

(*/Bung Amas)

Peneliti LSI Sebut OD Jauh Lebih Unggul Tinggalkan Penantang

Peneliti LSI, Ikrama Masloman saat diwawancarai wartawan (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Konstalasi politik memang tidak statis, selalu dalam tiap waktu mengalami perubahan. Berdasarkan rilis yang disampaikan Lembaga Survei Indonesia (LSI), Minggu (9/8/2020) menyebutkan poin elektabilitas yang saat ini diraih Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Olly Dondokambey (OD) sebagai petahana begitu tinggi. Posisi elektabilitas yang melambung itu menyulitkan para penantang, menurut Ikrama Masloman, Peneliti Senior LSI.

‘’Berdasarkan data, posisi petahana masih perkasa. Pak OD elektabilitasnya jauh lebih unggul tinggalkan petahana. Terbaca pendukung militan OD 47%, Ibu Tetty Paruntu 6,2%, Elly Lasut 5,3, GS Vicky Lumentut 2,5%, setelahnya ada Ibu Vonny Panambunan dan Pak Vreeke Runtu. Beliau meninggalkan penantang dengan spasi yang cukup jauh tertinggal. Ini bertanda ketika dapat dipertahankan sampai hari H pemilihan, petahana sudah pasti menang telak,’’ ujar Ikrama saat diwawancarai wartawan di Hotel Aston Manado.

Lanjut Ikrama menyebutkan tentang rival OD sampai saat ini belum ada yang menonjol. Hal itu bukan tanpa alasan, melainkan data empiris yang disajikan Konsultan Citra Indonesia (KCL) LSI Networking per April 2020 mendapati dimana pompetitor petahana yang muncul, elektabilitasnya di bawah 10%. Kemudian, untuk penyebaran dukungan keinginan petahana menjabat merata di semua teritori.

“Belum ada lawan OD yang tangguh dalam Pilgub Sulawesi Utara tahun 2020 ini. Jika taka da pergerakan yang signifikan dalam peta politik, maka peluang OD menang sangat besar. Selanjutnya, dari VI (enam) Dapil di Sulut yang paling tinggi keinginan masyarakat agar petahana menjabat kembali adalah di Dapil VI yakni 79%, kemudian diikuti Dapil III yang menginginkan 77,1%, Dapil V 70% dan Dapil II terdiri atas 69%,’’ ucap Ikrama.

Selain itu, Ikrama menjelaskan bahwa mengapa elektabilitas petahana sangat kokoh?, indicator yang dipakai yakni berdasarkan kinerja. Hasil survei menyebutkan sebesar 85,5% masyarakat Sulawesi Utara yang menyatakan petahana sangat berhasil dan cukup berhasil. Masyarakat mengaku puas dengan apa yang dilakukan Olly selama 1 periode memimpin daerah ini.

‘’Tingkat kepuasan kinerja dari petahana Olly Dondokambey di atas 80%, itu sebabnya elektabilitasnya makin meroket. Olly kokoh, melalui raham kebijakan yang dirasakan langsung masyarakat. Kebijakan Olly-Steven sebagai Gubernur dan Wagub Sulut mendapatkan nilai cukup puas 58,7 58,5% dan sangat puas 26 17,8%. Total masyarakat yang sangat puas dan cukup puas dengan kinerja Olly Dondokambey sebagai petahana sebesar 84,7%. Ini sangat mantap dan luar biasa sebetulnya,’’ kata Ikrama menutup.

Tidak hanya itu, Olly juga paling populer dan disukai masyarakat. Posisi Olly menempati urutan tertinggi dari Elly Lasut, Steven Kandouw, GS Vicky Lumentut, Christiany Paruntu, Vonny Panambunan, Stevanus Vreeke Runtu, James Sumendap, Wenny Warouw, Herson Mayulu, Yasti Soepredjo, Yanni Tuuk, Jimmy Eman, Sehan Salim Landjar, Ronny Franky Sompie, Siswa Rahmat Mokodongan dan Jimmy Tampi dengan popularitas 90,5% dan dengan tingkat kesukaan terhadap Olly yaitu 91,4%.

(*/Bung Amas)

Koalisi CEP-SSL di Sulut, Tanda Warning Bagi Petahana

Menguatnya CEP SSL (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Petahana Olly Dondokambey, SE, yang akan bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Utara (Sulut), harus meningkatkan kewaspadaannya. OD begitu Gubernur Sulut saat ini akrab disapa berpotensi merubah skenario politiknya. Bila Sehan Salim Landjar (SSL) bersekukuh menjadi calon Wakil Gubernur Sulut mendampingi Cristiyani Eugenia Paruntu (CEP). Kekuatan representasi wilayah, identitas suku agama dan antar golongan juga masih kental dalam praktek politik kita di daerah ini. Hal tersebut turut menguatkan posisi CEP-SSL.

Irisan dan perpaduan kekuatan CEP yang adalah Bupati Minahasa Selatan 2 periode ditambah SSL, Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) memberi isyarat kuat bahwa CEP-SSL menjadi kompetitor kuat OD-SK. Pilihan yang boleh juga diambil OD yakni menggantikan Steven Kandouw (SK) sebagai calon Wakil Gubernur mendampinya. Probabilitas itu dapat menyumbangkan pengaruh besar dalam sisi elektoral. Pada konteks kemasan isu demokrasi akomodatif, CEP-SSL lebih diuntungkan.

Gambaran lain betapa berpengaruhnya bangunan koalisi ECP-SSL atau Golkar-PAN terbaca dengan belum keluarnya SK rekomendasi dari DPP PDI Perjuangan di Kabupaten Boltim. Potensinya, berpeluang anak tersayang SSL yakni Amalia Landjar menjadi pertimbangan untuk didukung PDI Perjuangan. Selain popularitas dan elektabilitas Ketua DPD KNPI Boltim (Amalia) juga ditopang bargaining politik SSL membuat Olly Dondokambey harus berfikir keras untuk menang di Pilkada Serentak 2020.

CEP-SSL juga mewakili isu-isu gender yang strategis dijual ke konstituen. Tidak hanya itu, CEP yang perempuan memiliki kans merubah ‘mitos’ politik bahwa perempuan di Sulut belum pernah atau tak akan menjadi Gubernur sama sekali. Iklim politik yang terbangun menempatkan CEP dalam pusaran tantangan yang tidak mudah. Selanjutnya juga pada tahapan berikut memberi peluang pada CEP guna melakukan pembaharuan di daerah nyiur melambai tercintai.

Kedatangan SSL mendampingi CEP memberi akselerasi kepada CEP untuk meraih kerinduan warga Sulut tentang Gubernur Sulut perempuan. Belum lagi kesadaran berpolitik kita di daerah yang yang terhadap politik diskriminasi. Menurut pandangan umumnya, politik adalah soal kesetaraan dan keadilan. Kepemimpinan publik di era demokrasi bukan saja layak ditempati kaum laki-laki. Melainkan, perempuan seperti CEP punya peluang yang sama menjadi Gubernur seperti laki-laki.

Kombinasi kekuatan Minahasa tambah Bolmong Raya dan Gorontalo, di tambah membuat power CEP-SSL beberapa tingkat lebih tinggi levelnya ketimbang OD-SK. Perang isu terkait hal tersebut memang tak bisa diabaikan. Lain soalnya tentang saling membentur-benturkan isu SARA, konteks yang dijelaskan ini bukan pada ranah itu. Melainkan menyemangati dan menghidupkan sentimen primordial yang positif konstruktif. Bukan mengajak pemilih untuk saling berkonflik kepentingan.

Lebih dari itu, CEP-SSL menjadi solusi dalam menarik kekusutan dan ketimpangan struktur sosial yang selama ini begitu dieksploitasi secara sektarian dalam praktek politik. Semangat positif, saling mengajak dan mendukung antara sesama, baik itu sesama internal suku, agama ras dan antara golongan diperlukan dalam konsolidasi demokrasi. Jangan membawahnya dalam ruang pertentangan yang memicu konflik.

Politik simbolik memang bukan hal baru lagi saat ini. Justru simbolisasi politik itulah yang sering dipangkas magknanya, sehingga lebih ditafsir secara negatif dan destruktif. Lantas aktualisasinya di lapangan menjadi bencana bagi persatuan dan kesatuan nasional, padahal tidak seperti itu harusnya. Sentimen politik simbolik atau politik identitas, keterwakilan wilayah dan sebagainya ditata rapi, dimaksudkan meningkatkan kesadaran kolektif. Saling memberi kesejukan, menguatkan agar lebih mudah dalam kerja-kerja sosial, meningkatkan cita-cita bersama secara berkelanjutan. Itu poinnya.

Jangan menarik atau merendahkan, mendistorsi politik simbolik dalam penjara pikiran yang kotor dan culas. Politik simbolik harus dipandangan dalam perspektif yang membangun, positif. Karena semua kehidupan ini simbolik (berlabel), sebagai penanda. Sehingga kita tidak dapat lepas dari makna-makna simbolik tersebut. CEP-SSL berada diposisi strategis menarik, menjembatani semua komunitas-komunitas masyarakat untuk hidup rukum, damai, saling menghormati, tanpa saling mendiskreditkan antara sesama masyarakat.

Tak ada masyarakat di daerah ini yang nanti merasa berada dalam level nomor 2 atau nomor 3 dan seterusnya. Tapi keberadaannya secara sosial adalah sama, setara. Itu sebabnya, OD punya kesempatan menimbang ulang keberadaan SK. Boleh jadi OD mengambil Wakilnya dari kalangan agamawan atau politisi, bisa juga Ketua MUI Sulut, Ketua NU Sulut, Ketua Sinode GMIM, Ketua Syarikat Islam, atau Andrei Angouw dari kalangan politisi pengusaha. Pilihan berada di tangan OD, dirinya harus berfikir matang dan selektif dalam menghadapi CEP-SSL.

Elemen urgen yang perlu diperhitungkan lagi OD yakni CEP-SSL punya rekam jejak memimpin yang teruji. Mereka berdua sukses membangun daerahnya masing-masing selama 2 periode, punya basis dukungan yang luas juga spesifik (pendukung militant). CEP dan SSL menjadi miniatur keberagaman di Sulut. Selebihnya, CEP maupun SSL Ketua parpol di tingkat Provinsi yang punya pasukan di tiap Kabupaten/Kota. Untuk memobilisasi kekuatan, bagi mereka berdua hal yang kecil dilakukan. Koalisi CEP-SSL bagai alarm pengingat terhadap OD.

CEP dan SSL (Foto Istimewa)

Mengingatkan OD dalam keyakinan politiknya bahwa harus melanjutkan bersama SK atau mengocok ulang posisi SK. Boleh dibilang ini pergumulan politik bagi OD selama karir politiknya yang sukses dibangun. Salah memilih Wakilnya, maka bersiaplah OD menjemput kekalahan. Peta politik yang tersaji, sebagiannya masih samar-samar membuat OD harus komprehensif melakukan pertimbangan dari bacaan situasi di lapangan. CEP-SSL dua sosok politisi yang handal, politisi senior yang berwawasan nasionalis, saling melengkapi kekuatan kelemahan.

Quo vadis Olly Dondokambey?

Selepas Partai Golkar dan PAN mengeluarkan rekomendasi terhadap CEP-SSL, Olly Dondokambey harus selamatkan posisinya agar menang di pertarungan Pilgub Sulut, Rabu 9 Desember 2020 mendatang. Bukan ‘kaleng-kaleng’ rival Olly kali ini cukup menghawatirkan. Akan mengancam kemenangannya sebagai Gubernur Sulut 2 periode. Konstalasi politik seperti ini membuat OD dilema dan terhimpit. Politisi kawakan ini butuh kekuatan solid dan siap bertarung, jangan sampai ada yang menggembosi kekuatannya dari dalam.

Peluang dan tantangan OD yaitu dalam membaca ulang data-data survey potensi kemenangan dirinya. Dalam politik ada presisi dan probabilitas kekuatan yang harus diperhitungkan para politisi, OD tentu teliti membaca hal-hal tersebut. Ketika teliti dan cermat tentunya dirinya tidak asal-asalan mengambil keputusan. Yang bermain di benak OD adalah dirinya harus menang. Dari kekuatan personal, OD cukup kuat, harus ditambah dengan keberadaan calon Wakil Gubernur yang menjadi nilai tambah bagi dirinya. Ketika faktor itu diabaikan, maka Pilkada Serentak di musim pandemic COVID-19 akan menjadi mimpi buruk kelak bagi OD. Alhasil sepanjang sejarahnya memulai berpolitik, kali ini OD meleset meraih target. Ketenangan OD kini diuji dengan hadirnya CEP-SSL.

Peluang lain yang harus dihadirkan OD selain mengganti SK yaitu melahirkan opsi poros koalisi baru. Ketika Pilgub Sulut melahirkan 4 pasangan calon, maka OD berpeluang menang. Konstalasinya malah alot dan tidak menguntungkan OD, jika terjadi head to head OD-SK vs CEP-SSL. Berarti tugas OD adalah melahirkan calon boneka untuk meramaikan kontestasi Pilgub Sulut. Atau OD perlu lagi membangun sekutu yang kuat dalam game politik kali ini.

Selain menambah personil orang-orang yang solid dan punya dukungan massa luas. Punya trust di masyarakat, OD juga membutuhkan petarung andal yang mampu menjadi pemecah ombak bagi CEP-SSL. Sejauh ini belum ada hal tersebut. OD baru dikelilingi ‘para pembisik’ yang kurang taringnya di masyarakat bawah. Bahkan sebagian mereka pengaruhnya padam di tingkat masyarakat akar rumput. Soliditas tim yang kemudian perlu diperkuat lagi OD jika betul-betul mau bertarung melawan CEP-SSL. Ketika kontestan Pilgub menjadi 4 paslon, maka peluang OD lebih terbuka.

Tukar tambah kekuatan menjadi perlu dan mendesak dilakukan OD saat ini. Pengalaman akurasi hitungan politik OD memang diakui politik, disinilah kembali OD diuji kematangannya. Belum lagi faksi politik SHS yang membawa gerbong para ‘purnawirawan’. Ada GSVL, JWS, E2L, dan sederet nama politisi popular lainnya mengambil peran. Jatung politik itu ada pada kepentingan, bagaimana mengaturnya agar tidak menyeret atau menghancurkan politisi itu sendiri. Termasuk mengatur detak dan iramanya agar memudahkan politisi untuk meraih kemenangan.

OD sebagai petahana dan juga Ketua DPD PDI Perjuangan Sulut perlu analisis yang tajam dalam menentukan bangunan koalisi di Pilkada Kabupaten/Kota. Ketika lengah dan tidak cermat membaca peta kekuatan politik, maka OD kalah. Posisi Pilkada Manado juga menjadi salah satu indikator yang mengantar kemenangan OD. Hitungan kompensasi atau konsesi politik memang bisa dipakai dalam membangun logika koalisi, tapi sudah lebih waspada lagi karena OD kini mendapat lawan tanding yang sepadan.

Golkar-NasDem Menyatu di Sulut, ODSK Punya Lawan Tanding

Bung Amas (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Perkiraan para analis politik, praktisi dan juga para aktivis terkait Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ketika dilaksanakan 9 Desember 2020. Maka, dikalkulasi akan menguntungkan para incumbent (petahana). Meski digulirnya Pilkada yang tengah bergerak pada tahapan revisi Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU). Konsensus Pilkada dilaksanakan tahun ini bukan isapan jempol, bukan asal-asalan. Ini tentu kompromi kepentingan yang serius dibangun.

Sampailah rancangan PKPU juga tengah digodong. Sabtu (6/6/2020) hari ini, KPU Republik Indonesia (RI) tengah melakukan Uji Publik terhadap rancangan peraturan KPU tentang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota dalam kondisi bencana Nonalam.

Ketika melakukan simulasi sederhana. Peta politik di daerah yang fluktuatif perlu hitungan terukur untuk menang. Baik pertarungan pasangan calon Pilgub, Pilbup dan Pilwako melahirkan konstalasi yang nyaris sama. Ada probabilitasnya, tidak pasti dalam matematika politik. Konstruksi koalisi secara nasional dari partai politik (parpol) juga akan menjadi ukuran kecenderungan menang atau kalahnya suatu parpol dalam kontestasi Pilkada. Siklus politik memang tidak pernah absolud, tidak pernah paten. Namun berjalan fleksibel, layaknya konstalasi demokrasi umumnya yang berlangsung dinamis.

KPU pun telah memastikan bahwa tahapan Pilkada 2020 akan dilanjutkan Juni 2020. Hal itu sebagai tindaklanjut dari rapat Komisi II DPR RI, Kementerian Dalam Negeri, Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), serta Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) sepakat tahapan Pilkada 2020 mulai dijalankan kembali. Penetapan Pilkada di tengah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) tidak mudah. Sarat kepentingan politik.

Pemungutan suara akan dihelat pada 9 Desember mendatang. Walau kondisi Indonesia sedang darurat kesehatan, motivasi dan obsesi stakeholder terkait memang sudah bulat. Atas keinginan itu, optimisme menyangkut Pilkada siap digelar mulai disampaikan KPU di daerah sampai Kepala Daerah. Konsolidasi melalui loby-loby politik tentu mulai dilakukan kelompok berkepentingan.

Di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), peluang kemenangan lebih dari 50% berada ditangan petahana. Menarik ketika terjadi head to head di Pilgub Sulut. Petahana Olly DonadokambeyStaven Kandouw (ODSK) akan mendapat lawan tanding yang kuat ketika menghadapi koalisi dari partai Golkar dan NasDem. Jika yang dipasangkan adalah GS Vicky LumentutChristiany Eugenia Tetty Paruntu, Tetty Paruntu-Vonnie Anneke Panambunan, atau Vonnie Panambunan menggaet papan dua dari politisi muslim, berarti ODSK dipastikan kesulitan meraih menang.

Petahana tentu menjual soal kesuksesan program. Perbuatan baik dan kontribusi-kontribusi yang dilakukan, lalu keunggulan perang udara (politik uang) juga menjadi hitungan tersendiri dalam memudahkan kemenangan kandidat dalam Pilkada. Sebagai wacana tanding, melawan petahana dengan skenario politik progresif. Menjadi oposisi yang waras, tidak membabi-buta dalam mengajukan kritik. Apalagi rival politik ODSK punya jejak rekam politik yang ternyata masih dapat dilumpuhkan. Track record menjadi begitu penting disini.

Pihak non petahanan berada dalam posisi bebas dan lebih diuntungkan sebetulnya. Mengelola serta mengemas isu yang akurat juga menjadi penentu. Yang patut menjadi jualan dalam Pilkada 2020 sejatinya yakni humanisme. Memperdagangkan nama baik, bukan mendiskreditkan atau melakukan praktek politik destruktif. Kompetisi program (narasi) perlu diprioritaskan. Bukan menggunakan black campaign. Merendahkan lawan politik dengan cara-cara melabrak etika juga sangat tidak menguntungkan.

Mendrive calon pemimpin untuk menang dalam Pilkada Serentak tidak mudah. Kemudian, tak sampai saja dalam meraih kemenangan. Lebih dari itu, mengawalnya sampai selesai periodesasi kemenangan. Merawat keakraban, soliditas dan harmonisasi kepemimpinan agar selalu akur menjadi penting. Sebab, dalam periodesasi sejarah kepemimpinan Kepala Daerah selalu terjadi ‘pica kongsi’ di tengah jalan.

Selain itu, kekuatan teamwork menjadi kuncinya. Seperti kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bahwa kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Artinya, core dari yang disampaikan Imam Ali yaitu kerja-kerja kolektif. Melalui kerja yang terorganisir, maka segala peluang kemenangan akan mudah diraih. Diprediksi isu politik identitas dan politik dinasti akan mencuat di Pilkada Serentak 2020 ini. Perlu dibendung, disiapkan kanalisasi isu.

Bola politik bisa juga digulirkan untuk menggalang opini guna melawan petahana. Ketika lalai, kurang peka membaca tanda-tanda politik, maka petahana menjadi musuh bersama (common enemy). Pekerjaan rumah lainnya, petahana harus bekerja maksimal membebaskan atau membentengi masyarakat dari penyebaran virus Covid-19. Karena ketika tidak selesai, maka petahana akan diganjal atas isu tidak beresnya petahana memerangi Covid-19.

Keberpihakan nama-nama politisi seperti Jantje Wowiling Sajow, Jimmy Rimba Rogi dan Elly Egelbert Lasut sebagai tolak ukur kemenangan Pilkada Sulut. Ketika JWS sapaan akrab Jentje Sajow bergerak dan gabung dengan NasDem, konstalasi politik di Pilkada Sulut makin menguntungkan posisi NasDem di daerah ini. JWS yang dikenang sempat berseberangan dengan OD terpantau sedang gerilya, melakukan safari politik, boleh jadi ini penanda kalau ODSK bakal menemukan lawan sepadan.

Ketika dipenghujung, kemudian OD mampu merangkul JWS, Elly Lasut dan Jimmy Rimba Rogi atau Imba, berarti OD akan menang dengan tidak terlalu bekerja keras. Politik memang tak semudah yang dipikirkan. Tapi, juga merobohkan ketidakmungkinan-ketidakkemungkinan yang ada. Dalam politik segala sesuatu dapat menjadi mungkin.

iklan1