Tag: Theo Runtuwene

WALHI Sulut Sebut Reklamasi Manado Utara Menambah Ruwetnya Masalah

Theo Runtuwene saat melakukan orasi, tuntaskan konflik agraria (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) melalui Direktur Eksekutif, Theo Runtuwene kepada Suluttoday.com menyampaikan keberatan atas rencana reklamasi pantai di wilayah Manado Utara. Menurut Runtuwene reklamasi hanya akan menambah rumitnya masalah di daerah ini.

”Terkait rencana reklamasi di Manado Utara yang kini eskalasi penolakannya mulai meningkat, kami WALHI Sulut mengetahui bahwa hal ini belum pernah kami dengar dalam pembicaraan formal dengan pemerintah daerah. Soal untung dan ruginya reklamasi itu perlu kajian pemerintah. Reklamasi akan menambah ruwet masalah lingkungan, itu menurut kami,” tutur Runtuwene, Sabtu (7/9/2019).

Lanjut dijelaskannya pula berkaitan dengan perkembangan Kota Manado dan upaya pemerintah daerah dalam membebaskan masyarakat dari banjir bandang harus terus disupport. Bila reklamasi dilakukan, akibatnya kata Runtuwene terjadinya masalah yang makin meluas akibat dilakukan reklamasi tersebut.

”Soal masalah sampah, banjir dan juga nelayan yang akan mengalami dampak reklamasi Manado Utara. Hal ini patut diperhitungkan pemerintah. Kalau pihak pengembang ya santai-santai saja mereke pikirnya asal dapat untung. Tapi kasihan masyarakat. Dampak ekonomi, sosial dan budaya juga akan berpengaruh terhadap masyarakat. Laut akan dikavling, akhirnya masyarakat yang mau ke pantai juga akan membayar karcis kalau reklamasi di lakukan. Akses nelayan ke ruang laut akan terbatasi, walau pun pihak investor atau pengembang memberikan opsi-opsi tertentu,” ujar Runtuwene.

Bagi WALHI Sulut jika disepadankan untung ruginya reklamasi maka yang terjadi masyarakat mendapatkan banyak kerugian. Proyek pembangunan daerah yang didasarkan atas Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) harus konsisten dilakasana, jangan ada kesan standar ganda. Kemudian, utamanya perhitungan jangka panjang terhadap perkembangan daerah perlu menjadi catatan pentingn pemerintah untuk tidak mendapatkan masalah kedepannya.

”Untungnya 5 dan ruginya 15 kalau pembangunan dengan investasi berdasar pada reklamasi seperti ini. Antisipasi pemerintah Kota Manado terhadap banjir bandang, ada pendangkalan danau Tondano yang semuanya akan bermuara kepada warga Kota Manado. Ironis kalau dilakukan reklamasi, ancamannya masyarakat yang kena imbasnya. WALHI Sulut akan melawan proses reklamasi di Manado Utara, kita sudah berkomunikasi dengan masyarakat adat diseputaran lokasi yang akan direklamasi untuk sama-sama melakukan penolakan,” tukas Runtuwene tegas. (*/BungAmas)

Wah!!! RSUD Manado Tak Gunakan AMDAL, Walhi Warning Kadis PUPR Manado

Theo Runtuwene (Foto Ist)

MANADO – Polemik perpindan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Manado dari Kecamatan Mapanget ke Ringroad Kecamatan Wanea terus bergulir. Menurut Direktur Eksektif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Theo Runtuwene Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPRD) Kota Manado, Bartje K.B Assa perlu memperhatikan ketentuan umum mendirikan Rumah Sakit (RS).

‘’Kami berkewajiban mengingatkan terkait ketentuan umum mendirikan sebuah rumah sakit dan hal-hal lain yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, agar tidak terjadi permasalahan kedepannya dalam pembangunan RSUD Manado. Bila Kadis PUPR mengacu pada Permen Lingkungan Hidup Nomor 5 tahun 2012, silahkan tapi jangan mengabaikan sepenuhnya kondisi lingkungan yang berdampak langsung kepada masyarakat sekitar,’’ ujar Runtuwene mengingatkan.

Selain itu, Kadis PUPR Manado mengakui bahwa pembangunan RSUD Manado tidak memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) karena mengacu ke aturan yang ada. Disisi lain, Walhi Sulut membeberkan sejumlah ketentuan wajib yang perlu dipanduan dalam suatu pembangunan Rumah Sakit.

”Perlu diperhatikan, lingkungan Rumah Sakit harus mempunyai batas yang jelas dilengkapi dengan pagar yang kuat dan tida memungkinkan orang atau binatang peliharaan keluar masuk dengan bebas
b). Lingkungan rumah sakit harus dilengkapi penerangan dengan intensitas cahaya yang cukup
c). Tidak becek, tidak berdebu dan tidak terdapat genangan air serta dibuat landai menuju kesaluran terbuka/tertutup, tersedia lubang penerima air masuk dan disesuaikan terhadap luas halaman. d). Saluran air limbah harus tertutup dan dihubungkan langsung dengan sistem pengolahan air limbah. e). Ditempat parkir, halaman, ruang tunggu dan tempat-tempat tertentu harus tersedia tempat pengumpul sampah pada setiap radius 20 meter, Ruang dan Bangunan,” kata Runtuwene saat diwawancarai Suluttoday.com, Sabtu (15/4/2017).

Ruang dan bangunan, tambahnya harus dalam keadaan bersih dan mudah dibersihkan, tersedia tempat sampah sesuai dengan jenis sampahnya serta tersedia fasilitas sanitasi sesuai dengan kebutuhan. Perbandingan jumlah tempat tidur dengan luas lantai untuk ruang perawatan dan ruang isolasi sebagai berikut:
Ruang bayi:
1) Ruang perawatan minimal 2 m2/tempat tidur
2) Ruang isolasi minimal 3,5 m2/tempat tidurRuang Dewasa
1) Ruang perawatan minimal 4,5 m2/tempat tidur
2) Ruang isolasi minimal 6 m2/tempat tidur

”Ruang dan bangunan harus bebas dari gangguan serangga, binatang pengerat dan binatang penganggu lainnya. Lantai harus selalu bersih, tingkat kebersihan lantai untuk ruang operasi 0-5 kuman/cm2 dan untuk ruang perawata 5-10 kuman/cm2,” ucapnya.

Tak hanya itu, mutu udara harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

”Tidak berbau (terutama H2S dan Amoniak)kadar debu tidak melampaui 150 ug/m3 udara dalam pengukuran rata-rata 24 jamAngka kuman
1) Ruang operasi kurang dari 350 koloni/m3 udara dan bebas kuman pathogen alpha streptococus haemolitius) dan spora gasn gangren
2) Ruang perawatan isolasi kurang dari 700 koloni/m3 udara dan bebas kuman pathogen alpha streptococus haemolitius) kadar gas dan bahan berbahaya. Kadar gas dan bahan berbahaya dalam udara tidak melebihi konsentrasi, maksimum Suhu dan kelembaban, kebisingan dan pencahayaan harus sesuai dengan peraturan,” papar Runtuwene.

Lanjutnya lagi, Runtuwene mengingatkan pula tentang fasilitas sanitasi dan fasilitas penyediaan air, yaitu:
1) Harus tersedia air minum sesuai dengan kebutuhan
2) Tersedia air bersih minimal 500 lt/tempat tidur/hari
3) Air minum dan air bersih tersedia pada setiap tempat kegiatan yang membutuhkan secara berkesinambungan
4) Distribusi air minum dan air bersih di setiap ruangan/kamar harus menggunakan jaringan perpipaan yang mengalir dengan tekanan positif.

Sekedar diketahui, RSUD Manado yang akan dibangun dengan nilai Rp 105 miliar itu masuk kategori Rumah Sakit tipe C yang berdasarkan pemaparan Assa mengacu pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 05 tahun 2012 tidak mengharuskan adanya kajian AMDAL. Itu sebabnya, Assa mempercepat pembangunan RSUD tersebut.

Untuk diketahui, izin lokasi RSUD Manado belum ditandatangani Wali Kota Manado. Sementara itu, Walhi tak lupa memaparkan ketentuan yang perlu diperhatikan lainnya yakni tentang fasilitas toilet dan kamar mandi.

1) Harus selalu terpelihara dan dalam keadaan bersih
2) Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, tidak licin, berwarna terang dan mudah dibersihkan
3) Pada setiap unit ruangan harus tersedia toilet (jamban, peturasan dan tempat cuci tangan) tersendiri. Khususnya untuk unit rawat inap da kamar karyawan harus tersedia kamar mandi.
4) Pembuangan air limbah dari toilet dan kamar mandi dilengkapi dengan penahan bau (water seal).
5) Letak toilet dan kamar mandi tidak berhubungan langsung dengan dapur, kamar operasi, dan ruang khusus lainnya.

6) Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan udara luar
7) Toilet dan kamar mandi pria dan wanita harus terpisah
8) Toilet dan kamar mandi unit rawat inap dan karyawan harus terpisah
9) Toilet dan kamar mandi karyawan harus terpisah dengan toilet pengunjung
10) Toilet pengunjung harus terletak ditempat yag mudah terjangkau dan ada petunjuk arah.
11) Harus dilengkapi dengan slogan atau peringatan untuk memelihara kebersihan
12) Tidak terdapat tempat penampungan atau genangan air yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk
13) Tersedia toilet pengunjung dengan perbandingan 1 toilet untuk 1-40 pengunjung wanita, 1 toilet untuk 1-60 pengunjung pria.

Selanjutnya, diingatkan pula terkait fasilitas pembuangan sampah/limbah padat yaitu: 1) Tempat pengumpul sampaha) Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air dan mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya b) Mempunyai tutup yag mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan c) Terdapat minimal 1 (satu) buah untuk setiap kamar atau setiap radius 10 meter dan setiap radius 20 meter pada ruang tunggu terbuka d) Setiap tempat pengumpul sampah harus dilapisi kantong plastik sebagai pembungkus sampah dengan lambang dan warna sebagai berikut:

(1) Warna merah, untuk kategori radioaktif (2) Warna kuning, untuk kategori infeksius (3) Warga ungu, untuk citotoksis. 4) Warna hitam, untuk umum e) Kantong plastik diangkat setiap hari atau kurang dari sehari apabila 2/3 bagian telah terisi sampah f) Khusus untuk tempat pengumpul sampah kategori infeksius (plastik kuning) dan sampak citotoksis (plastik ungu) segera dibersihkan dan didesinfeksi setelah dikosongkan, apabila akan dipergunakan kembali.

2) Tempat penampungan sampah sementara a) Tersedia tempat penampungan sampah yang tidak permanen b) Terletak pada lokasi yang mudah dijangkau kendaraan pengangkut sampah c) Dikosongkan dan dibersihkan sekurang-kurangnya satu kali 24 jam.

3) Tempat pembuangan sampah akhir a) Sampah radio aktif dibuang sesuai dengan persyaratan teknis dan peraturan perundang-undangan yang berlaku b) Sampah infeksius dan citotoksis dimusnahkan melalui incinerator pada suhu di atas 1000 o C c) Sampah umum (domestik) dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir yang dikelola oleh Pemerintah Daerah, atau badan lain sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku d).

Sampah farmasi dikembalikan kepada distributor, bila tidak memungkinkan supaya dimusnahkan melalui incinerator pada suhu di atas 1000 o C e) Sampah bahan kimia berbahaya, bila mungkin dan ekonomis supaya di daur ulang, bila tidak supaya pembuangannya dikonsultasikan terlebih dahulu ke instansi yang berwenang.

Kemudian, terkait Fasilitas Pembuangan Limbah yang perlu diperhatikan diantaranya: 1) Saluran pembuangan limbah harus menggunakan sistem saluran tertutup, kedap air dan limbah harus mengalir dengan lancar 2) Rumah Sakit harus memiliki unit pengelolaan limbah sendiri atau bersama-sama secara kolektif dengan bangunan di sekitarnya yang memenuhi persyaratan teknis, apabila belum ada atau tidak terjangkau sistem pengolahan air limbah perkotaan 3) Kualitas limnbah (effluent) rumah sakit yang akan dibuang ke lingkungan harus memenuhi persyaratan Baku Mutu effluent sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Yang patut dinilai juga adalah Fasilitas pembuangan gas buagan (emisi) 1) Rumah sakit harus memiliki sarana pengendalian gas buangan (emisi) 2) Gas buangan yang dibuang ke dalam lingkungan harus memenuhi Baku Mutu Emisi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlakuFasilitas pengendalian serangga dan tikus 1) Setiap lubang pada bangunan harus dipasang alat yang dapat mencegah masuknya serangga atau tikus. 2) Setiap persilangan pipa dan dinding harus rapat. 3) Setiap sarana penampungan air harus bersih dan tertutup.

Dan yang terakhir, disampaikan yakni Fasilitas Sanitasi lainnya, berupa 1) harus tersedia tempat penampungan tinja, air seni, muntahan dan lain-lain, (Spoelhok) yang terbuat dari logam tahan karat pada setiap unit perawatan. 2) Tersedia ruang khusus untuk penyimpanan perlengkapan kebersihan pada setiap unit perawatan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). (Amas)

iklan1