Tag: tokoh agama

Festivalisasi dan Politisasi Doa di Masa Pilkada

Abid Takalamingan, S.Sos.,MH (Foto Istimewa)

Catatan : Abid Takalamingan, Ketua BAZNAS Sulawesi Utara

Doa adalah permintaan hamba (yang di ciptakan) kepada Allah/Tuhan (yang menciptakan). Doa adalah sesuatu yang sakral pada semua agama. Dengan berdoa menunjukkan bahwa kita mahluk yang lemah dan percaya bahwa dialah Allah yang maha perkasa yang bisa mewujudkan setiap pinta dan harapan kita mahlukNya.

Tentu saja doa harus di barengi dengan usaha atau ikhtiar, bahkan sebagian ulama (dalam Islam) menganggap bahwa ikhtiar/usaha adalah spiritnya doa.

Disisi lain bahwa doa yang paling mustajab adalah doa yang dilakukan secara sendiri ataupun berjamaah dalam keadaan ikhlas dan jauh dari sekedar untuk ditunjukkan kepada selainNya.

Beberapa hari terakhir ini ada pemandangan menarik di media sosial dalam hubungan doa dan para calon kandidat yang akan berkontestasi pada 9 Desember 2020. Saya tak perlu menyebutkan detail tentang nomena ini karena bagi pegiat medsos bisa mengikuti secara jelas dan terang.

Tulisan ini tdk bermaksud mengusik kegiatan berdoa yang dilakukan oleh para kandidat atau meminta orang-orang yang ditokohkan karena pengetahuan agamanya (tokoh agama) tapi menurut saya apa yang tampak telah keluar dari esensi doa terutama dari aspek tujuan dari pada dipanjatkannya doa, dimana Allah sebagai satu-satunya tujuan bukan lainnya.

Menurut saya tidak pantaslah kita berdoa atau meminta di doakan terselip maksud agar publik memahami bahwa kita sedang meminta kepada Allah atau si Fulan telah mendoakan tentang apa yang saya ikhtiarkan tapi terselip maksud terselubung agar khalayak tau bahwa yang berdoa mendukung saya secara politis dalam hajat yang saya minta.

Persoalan ini kelihatan sederhana memang tapi sekali lagi itu telah menghilangkan esensi berdoa dan maksud serta tujuannya doa. Selebihnya doa seperti ini telah kehilangan kesakralannya karena dimaksudkan untuk tujuan-tujuan yang selainnya.

Mudah-mudahan bagi yang meminta di doakan niatnya tulus begitu juga yang mendoakan akan tetapi ketika kegiatan ini di sampaikan ke ruang publik untuk menunjukkan bahwa yang di doakan didukung secara politis oleh yang mendoakan maka disitulah masalahnya muncul. Apalagi jika benar bahwa yang berdoa memang memiliki dukungan politik bagi yang lain bukan kepada yang didoakan.

Untuk hal itu saya sudah coba bertanya kepada salah seorang yang berdoa kepada yang meminta di doakan bahwa betulkah anda mendukung secara politis pada yang di doakan seperti yang diberitakan, dia mengatakan secara tegas ; “tidak”. Alasannya kemudian ; mereka yang datang silaturahim saya TDK meminta dan juga tdk bisa menolak dan mereka meminta saya doakan saya doakan karena saya tidak boleh menolak orang yang meminta di doakan.

Jadi bagi awak media atau tim sukses, memang hak anda mau menulis dan memberitakan apa saja tapi menurut hemat saya beritakanlah substansi yang lain agar lebih mendidik dan mencerahkan masyarakat dan tidak memposisikan yang mendoakan dalam posisi dilematis karena pemberitaan.

Biarlah doa berada pada ruang yang lain agar doa ini semata-mata menjadi hak Allah dan kesakralanNya menjadi terjaga. Masalahnya sekarang ini suasananya jadi sangat politis jadi doapun bisa dipolitisasi dan diruang publik menjadi seperti festivalisasi doa antara kandidat.

Dengan begitu maka kegiatan berdoa dan meminta di doakan berjalan sesuai substansi dan tujuannya sambil tetap terjaga pilihan politik masing-masing agar setiap orang termasuk yang mendoakan tetap bebas menentukan pilihan karena ternyata yang berdoa belum tentu mendukung secara politis bagi yang di doakan.

Bukankah kita ingin ikhlas dalam berdoa dan didoakan. Karena kalau ingin dipilih maka anda perlu menyampaikan program anda dan kalau harapan anda ingin dikabulkan maka berdoa dan mintalah doa dengan tulus kepada Allah tanpa perlu festival. (**)

Soal Masjid Texas, Sekretaris FKUB Dukung Langkah Pemkot Manado

Wali Kota Manado saat melakukan pertemuan dengan tokoh agama (Foto Ist)

Wali Kota Manado saat melakukan pertemuan dengan tokoh agama (Foto Ist)

MANADO РDR GS Vicky Lumentut selaku Wali Kota Manado, Selasa (10/3/2015) menerima para tokoh-tokoh Agama yang tergabung dalam Badan Kerjasama Sesama Umat Beragama (BKSUA) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Kota Manado.

Pertemuan tersebut dilaksanakan di Rumah Dinas Wali Kota, bilangan Bumi Beringin Manado. Menurut Sofyan Lapasau, salah satu tokoh umat muslim Manado, usai pertemuan dengan Wali Kota Manado, menjelaskan perihal pertemuan tersebut pada wartawan.

”Pak Wali Kota GS Vicky Lumentut meminta kepada kami sebagai tokoh-tokoh agama, agar bisa membantu mengatasi permasalahan keamanan di Kota Manado.Juga ada langkah-langkah yang telah menjadi kesepakatan bersama antara Pemerintah Kota Manado, BKSUA dan FKUB, untuk membangun taman religi di Eks Kampung Texas Manado,” ujar Sofyan yang juga Sekretaris FKUB Manado itu.

Lanjut Lapasau, terkait dengan pembangunan Mesjid yang terletak di lokasi Taman Religi, hanya permasalahan kurang komunikasi saja. Karena ada hal-hal yang tidak sempat dijelaskan hingga ke tingkat lapisan masyarakat paling bawah, untuk itu kami sebagai tokoh-tokoh Agama terlebih khusus tokoh agama muslim, akan turun bersama-sama untuk menjelaskan kepada masyarakat terkait hal tersebut.

Menurutnya, meskipun Pemkot berniat baik untuk menjadikan Kota Manado lebih baik kedepan, kalau tidak tersosialisasikan dengan baik pasti akan menimbulkan hal-hal yang terkesan negatif. Dirinya mengaku tatap muka pihaknya bersama Wali Kota Manado sangat bermanfaat.

”Untuk itu tokoh-tokoh agama terutama tokoh agama muslim, akan membangun silahturahmi dengan masyarakat untuk mensosialisasikan dan mejelaskan kepada mereka, terkait apa yang akan di bangun nanti di lokasi eks kampung texas tersebut. Sebagai Sekertaris FKUB juga adalah seorang tokoh agama muslim bersama dengan BKSUA sangat mendukung langkah yang terbaik diambil oleh Pemkot Manado, apalagi dalam membangun taman religi di eks kampung texas karena itu lambang kerukunan antar umat beragama di Kota Manado,” ucap Lapasau. (Amas Mahmud)

Bersama Rakyat, KNPI Sulut Ajak Mahasiswa, Ormas Bersatu Lakukan Demo PLN

Ketua DPD KNPI Sulut, Jackson Kumaat (Foto Ist)

Ketua DPD KNPI Sulut, Jackson Kumaat (Foto Ist)

MANADO – Menyikapi keluhan warga Kota Manado dan Sulawesi Utara pada umumnya, pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Utara (Sulut) berencana menggelar aksi demonstrasi terkait pemadaman Listrik oleh PLN Wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo (Sulutteggo). Demo yang digelar bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2014 akan menurunkan ribuan massa untuk menduduki kantor PLN Suluttenggo.

Saat diwawancarai Suluttoday.Com, Ketua Umum DPD KNPI Sulut, Jackson Kumaat menghimbau kepada masyarakat Sulawesi Utara agar ikut serta dalam demo yang digelar KNPI tersebut. Dikatakan Jacko sapaan akrab Kumaat bahwa dengan semangat kolektifitas KNPI Bersama Rakyat, maka demo kepada PLN Suluttenggo sebagai wujud keberpihakan KNPI terhadap kepentingan rakyat.

Kami meminta masyarakat yang mau bergabung dengan KNPI Sulut untuk melakukan demo kepada PLN Suluttenggo yang hingga saat ini masih tetap saja melakukan pemadaman Listrik secara tidak beraturan. Pimpinan PLN Suluttenggo yang harus bertanggung jawab dengan segala kerusakan elektronik dari warga akibat pemadaman Listrik tersebut, kami menargertkan ribuan warga akan turun bersama KNPI Sulut agar kita sama-sama menduduki kantor PLN Wilayah Suluttenggo. – Jackson Kumaat, Ketua Umum DPD KNPI Sulut.

Tak hanya itu, Jacko malah mengatakan terkait akomodasi dan atribut aksi KNPI Sulut yang menanggungnya sehingga warga, para mahasiswa, aktivis LSM, tokoh masyarakat dan tokoh agama diharapkan ikut bersama-sama dalam gerakan yang dibangun KNPI itu. Menurutnya, KNPI Sulut juga menyayangkan atas sikap pimpinan PLN Suluttenggo yang tidak sedikitpun berfikir tentang kesulitan masyarakat saat pemadaman dilakukan.

”Ironisnya pemdaman dilakukan dalam jangka waktu yang relatif lama, coba dipikirkan pihak PLN untuk mencari solusi bijak bagaimana mensiasati pemadaman Listrik agar tidak terjadi terus-menerus. Apalagi berdasarkan laporan masyarakat, pemadaman Listrik juga terkesan diskriminatif. Kami mengajak aktivis mahasiswa, aktivis LSM, tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk sama-sama kita melakukan demo terhadap PLN yang sudah sewenang-wenang membuat rugi masyarakat,” tegas Jacko menutup. (Amas Mahmud)

iklan1