Tag: UNIMA

Legislator PSI Manado: Prof Paula Sosok Keibuan dan Bersahaja

Jurani Rurubua, Ketua PSI Manado dan Harley Mangindaan (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Kehadiran Prof. Jelyeta Paulina Amelia Runtuwene di kancah politik memberi warna tersendiri. Dimana JPAR begitu Julyeta akrab disapa menjadi calon Wali Kota Manado yang berpasangan dengan Dr. Harley A.B. Mangindaan, sebagai calon Wakil Wali Kota Manado berposisi seperti magnet di tengah gempuran gelombang demokrasi di Kota Manado.

Menurut Jurani Rurubua, Anggota DPRD Kota Manado dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kehadiran JPAR akan memberi dampak politik terhadap konstalasi perpolitikan di Pilwako Manado 2020. Betapa tidak, calon Wali Kota Manado yang juga mantan Rektor Universitas Negeri Manado (UNIMA) Manado itu dinilai memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi seorang pemimpin di Kota Manado.

”Dari kepribadian seorang Ibu Pula tergambar beliau seorang pemimpin yang unggul. Punya kualitas dan wawasan yang luas. Tentu beliau punya segudang pengalaman tentang kepemimpinan. Modal sebagai calon Wali Kota Manado dengan pengalaman yang tidak sedikit membuat masyarakat akan memilih PAHAM (Paula-Harley) sebagai paslon Wali Kota Manadoaa,” ujar Jurani, legislator Dapil Singkil-Mapanget ini, Selasa (8/9/2020).

Tidak hanya itu, politisi vokal yang begitu akrab dengan para jurnalis itu menyebut JPAR sebagai potret perempuan keibuan dan bersahaja. Potensi tersebut makin menguatkan JPAR dalam memimpin Kota Manado kedepan karena akan berkolaborasi dengan Harley Mangindaan yang notabenenya sebagai mantan Wakil Wali Kota Manado. Jurani mengatakan penataan Kota Manado kedepan membutuhkan pemimpin yang punya program jelas dan pro rakyat.

”Pengalaman memimpin, kemudian sikap keibuan dan bersahaja dari seorang Prof Paula memberi optimisme bahwa Manado kedepan makin maju lagi. Eksistensi JPAR makin kuat lagi karena berdampingan dan berkolaborasi dengan Bang Harley Mangindaan. Saya menilai duet PAHAM ini sangat unggul, disukai masyarakat karena memiliki program yang jelas-jelas berpihak pada masyarakat kecil,” tutur Jurani yang juga Wakil Ketua PSI Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini.

(*/Bung Amas)

PAHAM di Tengah Kontestasi Kepentingan

Prof. Julyeta Paulina Amelia Runtuwene (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Tidak mudah memutuskan sebuah pilihan yang kedua-duanya menjanjikan. Situasi itu kira-kira dirasakan Prof. Dr. Julyeta Paulena Amelia Runtuwene, MS sang Rektor Universitas Negeri Manado (Unima). Disaat yang bersamaan, Prof Paula begitu istri tercinta Wali Kota Manado 2 periode Dr. GS Vicky Lumentut ini akrab disapa dalam pusaran pilihan yang ‘menggoda’.

Memilih melanjutkan jabatan Rektor tentu lebih mudah. Selain petahana, JPAR (Prof Paula) dinilai berhasil memajukan Unima menjadi Perguruan Tinggi yang diperhitungkan dan JPAR pasti punya nilai lebih dibanding kontestan calon Rektor lainnya. Karyanya telah dirasakan civitas akademika Unima, secara otomatis trustnya terjaga.

Prof Paula memilih maju dalam suksesi Pilwako Manado, Desember 2020 mendatang. Tantangan yang tidak mudah harus diambil sang Guru Besar itu. Hal tersebut tak lain adalah wujud keterpanggilannya untuk mengabdi kepada masyarakat Kota Manado plural ini. Dari perspektif kepemimpinan perempuan yang murah senyum itu tak perlu diragukan lagi.

Komunikasi publik, etika dan prinsip-prinsip kepemimpinan bukan hanya dimengertinya dalam teori. Melainkan lebih dari itu, Prof Paula telah menerapkan dalam aktivitas kesehariannya. Kemajemukan juga terpancar dalam pergaulan sosialnya yang tidak sektarian, tidak anti agama atau suku tertentu. Perempuan berdarah Tomohon itu bukan sosok yang ujuk-ujuk menjadi pemimpin. Tapi, telah melewati antrian panjang ujian dan penggodokan kepemimpinan.

Manado dalam tantangan kedepan membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki wawasan luas. Punya pandangan futuristik, peka terhadap kondisi masyarakat, terlebih yang mengerti seluk-beluk Kota Manado secara geografis, sosio-kultural dan kondisi ekonomi masyarakat. Prof Paula telah beradaptasi dan mengetahui anatomi Kota Manado, sudah pasti karena mengikuti betul kiprah suaminya membangun Manado sebagai Wali Kota.

Tentang kesejarahan Manado juga dikenali betul Prof Paula. Sebab, seperti kata Bung Karno ‘Jas Merah’ (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Bagaimana pun itu konstruksi sejarah hari ini merupakan warisan yang ditinggalkan para pendahulu, sebelum kita. Itulah pentingnya seorang pemimpin memahami sejarah secara lengkap. Bagi pemimpin yang ahistoris, pasti menemui kendala dalam mengkonsolidasikan masyarakatnya dalam mewujudkan kerukunan dan kemajuan.

Berbeda tentunya sepenggal memahami sejarah. Pemimpin yang mengerti akan lebih mudah melakukan akselerasi pembangunan, tidak menabrak kearifan lokal. Pemahaman dasar tersebut bisa menjadi acuan dan pembeda. Jika kita lebih jauh membaca literatur sejarah, para ahli menyarankan menghidupkan sejarah dan menggalinya jauh kebelakang agar kita, terutama pemimpin dapat mengembangkan proyeksi pemikirannya lebih jauh lagi kedepan. Patahan sejarah hanya akan dihasilkan oleh orang-orang yang gagal membaca sejarah secara integral (utuh). Prof Paula beruntung berada dalam posisinya saat ini.

Setelahnya, kenapa harus PAHAM (Paula-Harley Mangindaan)?, ini pilihan yang bukan tanpa pertimbangan. Atau pilihan yang didasarkan atas emosi dan sahwat politik semata. Lebih dari itu adalah keterpaduan kepemimpinan yang apik. Saling mengisi kekosongan kepemimpinan, dimana Harley Mangindaan selain sebagai potret politisi milenial juga representasi dari seseorang yang pernah berpengalaman menjadi Wakil Wali Kota Manado.

Pengalaman memimpin yang dinamis, energik dan sederhana itu akan menambah energi bagi Prof Paula kelak jika menjadi Wali Kota Manado. Untuk menjadi PAHAM, dibutuhkan perpaduan langkah yang selaras. Bukan sekedar tukar tambah kepentingan pribadi, namun bagaimana meletakkan harapan publik untuk mereka realisasikan. Tidak mudah dalam tafsir “paham” secara umum terhadap jualan ide atau gagasan (produk) untuk diterima halayak ramai.

Situasi ini membutuhkan sarana untuk membuat PAHAM banyak pihak. Melakukan edukasi agar semua pihak benar-benar PAHAM. Bukan menjadikan PAHAM sekedar jargon yang miskin narasi intelektualnya. Ada impresi yang dalam ketika publik mendengar kata PAHAM, tidak sekedar berarti mengerti, memahami sesuatu hal. Selain itu, menuju ke level paham setiap orang perlu belajar, mengerti, mengenali apa yang harus mereka pahami. Maka, mereka yang berada dilingkup dan rumah besar PAHAM harus mematangkan kecerdasan. Memperkuat kampanye yang bersifat mendidik publik. Ada gagasan konstruktif yang dipamerka.

Dengan terjunnya JPAR ke panggung politik, bukan berarti dirinya mau melanggengkan kekuasaan suami. Jauh lebih penting adalah menjadikan jabatannya sebagai Wali Kota Manado berikut sebagai ladang pengabdian. Dunia politik praktis memang relatif berbeda iklimnya dengan tradisi intelektual yang dibangun di kampus. Pentas politik memang penuh rintangan, gelombang dan hasut-menghasut. Publik, terlebih mereka yang merasa bagian dari PAHAM berharap JPAR sudah punya benteng menghadapi semua hal itu.

JPAR harus betul-betul menjaga keseimbangan. Untuk meraih simpati publik dalam konteks politik elektoral juga tidak mudah. Ketenangan, penuh perhitungan dan kesantunan yang tercermin dari dirinya itu saja tidak menjamin publik ramai-ramai memilih. Perlu pergerakan massif, pendekatan yang tepat dan jualan program yang menyentuh di jantung hati masyarakat. Kehadiran JPAR di ruang politik kita harapkan makin menambah dialektika gagasan (nilai), sehingga praktek politik pragmatis menjadi teredam.

JUARA, Legislator Manado: Tuhan Ajarkan Kita untuk Berbagi

Jurani Rurubua saat berbagi (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Kebiasaan anggota DPRD Kota Manado, Jurani Rurubua, S.ST atau yang akrab disapa JUARA untuk berbagi dengan masyarakat, bukan tanpa alasan. Politisi PSI Kota Manado itu mengatakan bahwa dalam ajaran agama Kristen dirinya diajarkan untuk sedapat mungkin untuk berbagi dengan sesama ketika telah bekecukupan.

Apalagi saat mengatasi penyebaran Virus Corona (Covid-19). JUARA mengaku bukan ketika menjadi wakil rakyat saja baru ia peduli dengan masyarakat melalui kegiatan berbagi (bantuan sosial) dan saling membantu lainnya. Namun, lebih dari itu, JUARA telah terbiasa memberi karena yang dilakukan itu sebagai wujud dari menjalankan perintah Tuhan.

“Tuhan ajarkan kita untuk berbagi. Itu sebabnya, saya suka berbagi karena itu ajaran Tuhan, sebelum jadi anggota dewan sudah ada di dunia sosial, membangun rumah singgah untuk anak yatim piatu dan broken home,” ujar JUARA, anggota Komisi 3 DPRD Kota Manado ini, Sabtu (9/5/2020).

Legislator Dapil Singkil-Mapanget itu menyebutkan bahwa kebiasaan melakukan kegiatan kemanusiaan telah dilakoninya sejak lama. Bahkan, telah mengambil tanggung jawab untuk saling membantu demi memenuhi kebutuhan dari masyarakat tertentu yang dinilai membutuhkan bantuan untuk pendidikan.

“Ada beberapa mahasiswa yang kuliah di Politeknik, Unima dan Unsrat Manado saya bantu membayar uang Semester mereka. Tidak ada komitmen apa-apa dengan mereka, harapan saya adalah mereka kuliah dengan baik, ulet belajar dan disiplin. Tentu semua untuk kebaikan serta masa depan mereka, saya senang kalau mereka menjadi mahasiswa rajin,’’ kata legislator yang hoby membaca ini pada Suluttoday.com.

JUARA juga menuturkan kalau dirinya pernah berjanji dalam hati untuk selalu bekerja membantu anak-anak miskin, serta menolong orang yang membutuhkan. Politisi vokal dan sederhana dalam bergaul itu menegaskan bahwa apa yang dilakukan tersebut jauh dari interest politik, melainkan untuk kepentingan kemanusiaan.

“Sudah saya niatkan, semoga selalu membantu masyarakat kurang mampu. Saya memberi bukan mencari popularitas, pujian, atau pencitraan. Memberi dengan cara mencari pujian adalah hal yang tidak saya harapkan. Saya bukan ingin mengejar dunia yang enak seketika saja,” tutur Istri dari Hardinas Meydi Parengkuan SH, yang juga anggota Polri itu.

(*/Bung Amas)

Spektakuler, Taekwondo Kids Manado Juara Umum

Boyong 33 Medali Emas 

Tim Taekwondo Kids Manado (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Dojang Taekwondo Kids Manado meraih 33 medali emas, 26 perak dan 42 perunggu dalam Kejuaraan Terbuka Walikota Cup ke – IV Manado, 17 – 20 November 2018 di Transmart Bahu Mall Manado yang diselenggarakan Universal Taekwondo Indonesia Profesional (UTI – Pro) Sulawesi Utara.

Dengan perolehan medali tersebut, Tim Taekwondo Kids menjadi Juara Umum setelah mengirimkan puluhan atlet. Pelatih Taekwondo Kids, Rosalina Sangkaeng mengucapkan terima kasih kepada para atlet dan orangtua serta pihak-pihak yang membantu secara moril maupun materil sehingga bisa mengikuti kejuaraan ini.

”Semua usaha ini demi memajuan atlet-atlet binaan, khususnya untuk memajukan potensi dan sumber daya manusia di Manado, Sulawesi Utara,” kata Rosalina, Selasa (20/11/2018) malam.

Juara umum kedua diraih Dojang Bank SulutGo dengan capaian 6 emas, 7 perak dan 4 perunggu kemudian juara umum ketiga Unima Ekma dengan capaian 4 medali emas, 3 perak dan 5 perunggu. Sementara itu Grand Master Azhari, pengurus UTI Pro mengatakan grafik peningkatan atlet terlihat makin menanjak dan atlet terlihat lebih percaya diri dalam menghadapi lawan-lawan.

”Banyak dojang baru yang mulai meningkat dalam membina atlet, dan nanti para atlet yang berprstasi akan dievaluasi untuk mewakili Tim UTI Pro Sulut di Kejuaraan Internasional Korea tahun depan,” kata Azhari.

Sedangkan Wakil Ketua Umum UTI Pro Pusat, Rudi Pusung menambahkan bahwa Sulut dibawah pimpinan Nortje Van Bone makin menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. Begitu juga di beberapa kabupaten kota. Peserta yang ikut banyak sekali. Bahkan ada dari beberapa klub luar daerah seperti DKI Jakarta, Palembang dan Maluku yang ikut bertarung.

“Ini membuktikan bahwa UTI Pro diterima masyarakat sebagai wadah untuk mengembangkan prestasi para atlet,” ungkapnya. Diketahui Kejuaraan ini kerjasama dengan Pemkot Manado melalui Dispora Manado. (don)

Bantu Korban Bencana di Lombok, Mahasiswa FIP Unima Turun Jalan

Mahasiswa FIP UNIMA dengan penuh semangat melakukan penggalangan dana (FOTO Suluttoday.com)

MINAHASA, Suluttoday.com – Aliansi Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Manado (UNIMA) Peduli Lombok Tomohon, Kamis (16/8/)2018), melaksanakan Aksi Penggalangan Dana. Menurut Koordinator Aksi Gusty Prayogo Aziz menyampaikan bahwa rute aksi dari Kampus, bundaran Tomohon sampai titik akhir di Gedung AlfaOmega sekaligus do’a bersama.

”5 Agustus 2018 tepatnya 12 hari yang lalu musibah besar telah terjadi menyisakan duka lara dan air mata yang teergores dihati saudara-saudari kita sebangsa dan setanah air. Gemba bumi berkekuatan 7.0 SR. diikuti dengan tanah longsor yang mengakibatkan ratusan bahkan ribuan korban jiwa dan korban luka. 22.721 unit rumah rusak, 381 korban jiwa , 1033 orang luka-luka, 270.168 orang telah mengungsi,” kata Gusty.

Dikatakannya lagi bahwa sejauh ini tercatat sudah 355 gempa telah mengguncang wilayah Lombok Lombok sedang berduka kawanku! Lombok membutuhkan kita saudaraku, untuk itu kami yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa FIP UNIMA Peduli Lombok terpanggil hatinya demi membantu saudara sebangsa dan setanah air kita yang berada di Lombok NTB. Karena keterpanggilan nurani itu berasal dari hati yang suci. Bukan sebagai alasan untuk pamer aksi ataupun koalisi dalam dunia politisi.

Sementara itu, dalam rangka realisasi tridarma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat maka melalui ini kami turun sebagai penyambung lidah dari saudara kita yang jauh disana yang sedang terkena musibah. Apalah daya ekspektasi selalu tidak seirama dengan realita.

Untuk saudaraku di Lombok bersabarlah karena ketika kalian mendapat musibah kami juga pasti merasakannya. Mengutip filosofi hidup atau semboyan dari orang-orang yang berpengaruh di dunia bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Juga yang telah dikatakan oleh Pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Sulawesi utara Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau yang biasa kita kenal dengan nama Sam Ratulangi yakni Si tou timou tumou tou, manusia hidup untuk memanusiakan manusia.

Untuk itu kami meminta kerelaan saudara saudariku untuk memberikan donasinya demi membantu saudara saudari kita yang berada di Lombok sana. Selain itu, 1000, 2000, ataupun 5000 mungkin bukan uang yang banyak untuk kita, ongkos parkir pun lebih mahal dari itu tetapi saudara saudari kita di lombok yang telah kehilangan rumah harta dan keluarga sangat mengharapkan bantuan itu. Pakaian yang mereka pakai mungkin tidak lagi layak.

Tenda pengungsian mereka mungkin tidak lagi kuat. Lombok berduka ayo bersama ringankan beban mereka. Lombok, tomohon, minahasa, Indonesia ibarat satu tubuh yang tak terpisah. Apabila Lombok terkena musibah maka kita juga akan merasakannya. Semoga apa yang telah saudara-saudari berikan ini dapat bermanfaat bagi keluarga kita yang berada di Lombok dan semoga kita senantiasa mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Mengutip kata-kata dari Anne Frank yaitu ‘tidak ada orang yang jatuh miskin hanya karna memberi’, untuk itu marilah kita berdonasi untuk keluarga kita di Lombok. Lombok saudara kita, Lombok membutuhkan kita. (*/Redaksi)

iklan1