Tag: unsrat manado

Doktor FERRY LIANDO Temukan 4 Kelemahan Pemilu 2019

DR Ferry Daud Liando (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Menurut DR Ferry Daud Liando, S.IP.,M.Si, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi Manado dan pengurus AIPI Manado bahwa Pemilu 2019 yang nyaris menelan anggaran pembiayaan pemilu sebesar 30 triliun perlu mendapat perhatian penting. Dimana produk pemilu tahun ini dibagian yang lain, belum bisa menunjukan hasil maksimal.

”Banyak caleg yang terpilih, dinilai publik tidak memiliki kapasitas yang layak sebagai penyelengara negara. Sebagian besar yang terpilih adalah para calon yang memiliki modal yang banyak serta terikat polotik kekerbatan dengan penguasa-pengurus di daerah,” ujar Liando yang juga pengamat politik Sulawesi Utara ini, Rabu (7/8/2019).

Lanjut disampaikannya, memang hak semua warga negara untuk menjadi anggota DPRD namun yang dinkuatirkan merka justru akan menjadi beban negara. Pengeluaran negara akan terkuras, tapi kontribusi mereka masih sangat di ragukan. Kebanyakan yang terpilih tidak memiliki pengalaman kepemimpinan sehingga sulit diharapkan bisa berkontribusi. Beberapa kelemahan yang di dapati pada pemilu 2019.

Pertama regulasi pemilu yakni UU 7 tahun 2017 mengandung banyak sekali kelemahan. Terlalu banyak pasal yang melahirkan Multi tafsir dan sulit di implementasikan. Dan bukti yang paling nyata adalah beberapa pasal yang dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) melalui proses judicial review.

Kedua, kinerja partsi politik yang beluk optimal. Sebagian besar parpol tidsk menjalankan fungsi rekrutmen yang tersistematis namun yang dilakukan adalah mencalonkan mereka yang hanya kuat dari sisi finansial dsn faktor kedekatan dengan penguass lokal. Padahal UU 2 tahun 2011 tentang parpol menyebutkan bahwa tugas parpol itu melakukan fungsi rekrutmen secara sistematis. Tidak dilakukan hanya menjelang pencaloan.

Ketiga, kecenderungan pemilih masih sangat pragmatis. Mereka memilih calon kerap mengabaikan sisi kualitas tapi lebih terpengaruh pada politik uang atauoun politik aliran. Pendidikan politik pemilih sebagian besar masih buruk.

Keempat, kinerja penyelenggata pemilu yang masih melahirkan banyak catatan. Sebagian di laporkan ke DKPP kemudian mendapatkan sanksi. Karena terbukti melakukan pelanggaran. Pada Pilkada 2020, 4 hal ini harus di benahi agar Pilkada makin berkualitas. (*/Amas)

Utusan Unsrat Tembus Semi Final di Ajang MTQ Nasional

Tim MTQ Unsrat Manado saat berada di Aceh (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Seperti mengubah mitos, dimana sepanjang sejarah utusan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado tidak tembus dalam kompetisi di ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional. Kali ini, tepatnya pada MTQ tingkat Mahasiswa se-Indonesia XVI yang bertempat di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, civitas akademika Unsrat tersenyum bangga.

Dimana peserta Kafilah Unsrat yang mengikuti Fahmil Qur’an yaitu lomba Cerdas tangkas Al-qur’an menembus Semi Final. Para rombongan dipimpin langsung Wakil Rektor VI Unsrat Manado, Prof Dr Ir Sangkartadi. Selaku pemimpin Official, Prof Sangkartadi menyampaikan terima kasih dan ucapan syukur atas terobosan yang dilakukan mahasiswa perwakilan Unsrat tersebut.

”Iya tentu kita patut bersyukur atas kemajuan ini. Alhamdulillah kami telah berhasil mencapai Semi Final, dan mohon doa restunya kepada semua pihak agar Tim Unsrat ini masih dapat melaju sampai ke podium juara,” ujar Prof Dr Ir Sangkertadi.

Lanjut ditambahkan Dosen Fakultas Teknik Unsrat Manado itu bahwa lomba Fahmil Qur’an, berkaitan dengan materi-materi sejarah Islam, Syariah, akidah, dan Hadist serta seni bacaan Al Qur’an yang disajikan baik dalam bahasa Indonesia, Arab maupun Inggris.

”Tidak mudah memang materinya. Melalui lomba yang diikuti sekira 72 tim perguruan tinggi ini, hanya 18 tim yang masuk Semi Final. Tim MTQ Unsrat akan bertarung dalam Semi Final pada 1 Agustus nanti,” kata Prof Sangkartadi.

Untuk diketahui, MTQ yang berlangsung sejak 28 Juli hingga 4 Agustus ini, diikuti sekira 179 Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta. Dengan 16 bidang lomba bagi peserta jenis perorangan maupun regu.

Tim Unsrat sendiri mengikuti 7 jenis lomba dengan 13 mahasiswa sebagai peserta. Selain itu, Tim Unsrat yang mengikuti MTQ Nasional juga didampingi para Dosen Agama Islam, instruktur dan pembina Badan Tadzkir serta staf bidang kemahasiswaan. (*/Amas)

PILKADA 2020 Ditengah Arus Disinformasi dan Misinformasi

Boy Paparang, S.IP (FOTO Suluttoday.com)

MEDIA sosial adalah segala jenis Media Online (Daring) sejatinya bertujuan untuk saling berkomunikasi, berinteraksi, berbagi, networking, dan berbagai kegiatan lainnyadari sang pengguna, Berdasarkan data yang dihimpun oleh We Are Social pada awal tahun 2019, pengguna media sosial di Indonesia sudah mencapai 150 juta orang. Ini artinya, sekitar 57% dari seluruh penduduk Indonesia sudah menggunakan berbagai media sosial, dan tiga teratas media yang di gunakan masing-masing.

Dengan Presentase pengguna yaitu Youtube88%, WhatsApp (WA) 83% dan facebook dengan Pengguna Mencapai 81% dari seluruh pengguna Media Sosial di Indonesia atau dengan Jumlah Pengguna rata-rata 120 Juta lebih Orang Pengguna, Tentunya ini menjadi suatu wadah pertukaran dan Penyebaran informasi yang sangat luas dan sulit untuk di lakukan Kontrol terhadap informasi yang beredar di dalamnya.

Terkait ha ini Negara mengakanalisasi atau mengatur penggunaan Media Sosial dalam Undang-undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Namun Di Era demokrasi (bebas) Filtrasi Informasi merupakan sesuatu yang “haram” untuk di lakukan oleh pemerintah, pemerintah akan di Judge sebagai pemerintah yang otoriter, dan memang kebebasan adalah cita-cita Reformasi 1998, tak ada lagi pembredelan media, dan penguasaan informasi secara sepihak oleh pemerintah di karenakan era digital pada saat ini setiap orang memiliki hak atas informasi yang dia mikiliki dan inginkan untuk di miliki.

Ada adigium yang mengatakan Bahwa, “siapa yang menguasasi Informasi maka dia yang akan Menguasai dunia”, lantas bagaimana Jika Informasi yang di sebar luaskan dan di terima adalah informasi yang tidak Benar? Hal ini tentu dapat di sebutkan sebagai DisInformasi dan Mis Informasi atau istilah santernya adalah Hoax. dan sudah bisa di bayangkan bagaimana jadinya jika di Jagad Maya (media Sosial) yang begitu luas dan bebas dan tanpa kontrol beredar informasi yang tidak benar bahkan bertendensi Provokatif.

Kita sebagai bangsa sudah memiliki pengalaman di mana pada Pemilihan Umum Legislatif dan pemilihan Presiden Bulan April 2019, dampak dari disinformas dan misinformasi atau Hoax telah terjadi polarisasi yang begitu kuat di tengah-tengah masyarakat, bahkan pasca tahapan dan hasil Pemilu pun masih terjadi. Salah satu faktor yang mendukung gelombang Hoax.

Hal ini di terima dengan mudah oleh masyarakat adalah sitem Presidensial Treshold dalam Penentuan Calon Presiden di mana setiap calon harus mengantongi 20% suara Partai dan atau gabungan Partai di Parlemen atau 25% suara sah nasional Partai dan atau gabungan partai di parlemen, hal ini seolah olah menghambat untuk munculnya calon-calon alternatif sehingga masyarakat hanya di perhadapkan pada dua pilihan yang tentunya berdiri pada dua kutub yang berbeda sehingga resistensi yang terjadi atas Disinformasi dan Misinformasi menjadi sangat tajam dan kuat di antara dua Kubu tadi.

Pada Tahun 2020 Nanti Indonesia akan Menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah di 2070 daerah dengan rincian: 9 Pillgub, 224 Pilbup dan 37 Pilwakot, yang Tahapannya di mulai bulan September tahun 2019. Walaupun peta politik pada Masing-masing Pilkada Nanti bisa berubah dari Peta Politik (koalisi) yang ada Pada Pilpres 2019, namun dampak yang telah terjadi dari Pilpres tersebut masih memiliki sel-sel hidup yang berpotensi akan berkembang pada Pemilihan Kepala daerah serentak pada Tahun 2020 nanti.

Karena Jika mereview Pilkada di Sulawesi Utara pada Pilkada Serentak tahun 2017 rata-rata Pilkada hanya menyertakan dua pasang Calon dan bukan tidak mungkin pada Pilkada tahun 2020 nanti akan terjadi demikian dan jika hal itu terjadi maka secara Psikologhis Masyarakat akan membentuk polarisasi kembali dalam dua kelompok besar di masing-masing daerah, di Sulawesi Utara Sendiri Kita akan Menghadapi Pemilihan Gubernur.

Pemilihan Bupati di 4 Kabupaten dan Pemilihan Walikota di 3 Kota. Yang tentunya di pastikan akan banyak terjadi Disinformasi/Mis Informasi melalui Media Sosial yang di Khwatirkan berkembang Menjadi Konflik Sosial hal ini menjadi sangat mungkin terjadi mengingat Pada Pilkada nanti Resistensi yang akan terjadi di sebabkan kepentingan masyarakat yang bersinggungan secara langsung dengan Calon Pemimpin daerah yang di Jagokan Oleh Masing masing Individu Maupun Kelompok.

Untuk menangulangi DisInformasi dan Misinformasi (Hoax) dengan kata lain, penyalahgunaan Media Sosisal, tentunya harus di lakukan langkah-langkah Preventif dengan melibatkan semua Stakeholder tidak hanya Pemerinth dengan Aparatnya melainkan seluruh elemen masyarakatuntuk saling mengedukasi baik tentang pengenalan dan cara Pengunaan Media Sosisal dengan baik.

Bahkan Regulasi Pilkada itu sendiri maupun segala Hal yang berkaitan dengan Penyelenggaraan Pilkada di Masing-masing daearah yang ada di Indonesia terlebih khusus di Sulawesi Utara agar terciptanya Pemilihan Kepala daerah yang aman. Damai dan kondusif serta tujuan dari demokrasi bisa tercapai dan akan lahir-pemimpin-pemimpin daearah yang berkualitas dari, oleh dan untuk masyarakat demi berhasilnya cita-cita otonomi yaitu kemajuan dan kemandirian dan sinergitas daerah-daerah yang ada di Indonesia. [***]

 

____________________________

Boy Paparang, S.IP, Pemerhati Politik dan Pengurus KNPI Sulut

Bersama IKA Unsrat, Kemenpora RI Gelar Pelatihan Kreatifitas Pemuda

Informasi pelaksanaan Pelatihan (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Pelaksanaan kegiatan Pelatihan peningkatan kreatifitas pemuda di bidang Industri Kreatif dilaksanakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia (RI) bertempat di Aula Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Kegiatan ini digelar, Sabtu sampai Minggu tanggal 25 – 26 JULI 2019.

Melalui Asisten Deputi Peningkatan Kreativitas Pemuda, Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda bersama Dispora Provinsi Sulawesi Utara dan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unsrat menggelar kegiatan Pelatihan. Kegiatan pelatihan bidang Fashion yang pesertanya dibatasi hanya 50 orang pemuda, bertujuan meningkatkan pengetahuan bagi para pemuda di bidang fashion terkait pembuatan pakaian mulai dari proses desain hingga pakaian menjadi sebuah produk fashion yang bernilai tinggi.

”Kegiatan pelatihan bidang Fashion yang dilaksanakan di Aula Fakultas Hukum Unsrat diantaranya: 1. Teknik pembuatan bahan pewarna 2. Desain pakaian 3. Teknik memotong dan menjahit Manado dikenal sebagai Kota yang sangat Fashionable, dimana fashion sudah seperti mendarah daging bagi pemuda-pemudi Manado, namun besarnya atensi dibidang fashion tidak diimbangi dengan perkembangan industri fashion lokal yang belum terlalu banyak berkembang,” sebagaimana rilis yang disampaikan Risat Sanger, salah satu pengurus IKA Unsrat saat disampaikan kepada wartawan Suluttoday.com, Kamis (25/7/2019).

Lanjut disampaikannya, Pelatihan bidang Fashion teknik membuat produk fashion diharapkan dapat menumbuhkembangkan minat dan bakat pemuda-pemudi Kota Manado di bidang fashion yang bisa meningkatkan pendapatan dan dapat menjadi potensi pariwisata di Kota Manado. (*/Redaksi)

AI MUSTIKA: Jangan Ada Upaya Kongkalikong untuk Seleksi Paskibraka Manado

Firman Mustika (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Sejumlah Purna Paskibraka Kota Manado dan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), menduga kuat bahwa Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Manado menyalahgunakan kewenangannya dalam hal perekrutan peserta didik atau calon Paskibraka.

Hal itu seperti disampaikan salah satu Purna Paskibraka Manado, Firman Mustika, SH.,MH. Kepada Suluttoday.com, Rabu (24/7/2019), Mustika menyampaikan beberapa catatan penting terkait perekrutan calon Paskibraka tahun 2019 di Kota Manado. Menurutnya, Dispora Manado disinyalir melakukan praktek yang kurang elok.

”Kembali dispora kota manado membuat masalah, setelah tahun lalu dilaporkan oleh salah seorang orang tua ke Kepolisian karena diduga tidak prosedural , tahun ini diduga juga memasukan 10 orang cadangan menjadi peserta calon paskibraka yang sementara melakukan pelatihan di lapangan sparta tikala,” ujar Mustika yang juga sebagai mantan panitia dan pelatih Paskibraka Manado.

Mustika yang juga jebolan Fakultas Hukum Unsrat dan mantan pengurus HMI Cabang Manado itu mengecam Dispora Kota Manado karena dinilainnya mengetahui prosedur dan teknis penilaian saat seleksi pada Februari. Pihaknya telah dihubungi oleh beberapa perwakilan Purna Paskibraka sekolah untuk menindaklanjuti ke DPRD Manado, Ombudsman bahkan di Kepolisian dengan dugaan Penyalahgunaan Jabatan/Penggelapan karena Jabatan.

”Kami menampung aspirasi masyarakat serta keluarga calon paskibraka yang tidak lulus maupun pihak sekolah dan akan disampaikan kepada Bapak Wali Kota Manado – Jangan ada upaya kongkalikong dan 10 orang yg seharusnya cadangan bisa masuk latihan, dimana mana, cadangan itu masuk ketika ada yang keluar,” kata Ai sapaan akrab Mustika, sembari menambahkan bahwa segala sesuatu harus ada produk hukum atau aturan jangan sampai ini kebijakan yang inprosedural. (*/Redaksi)

iklan1