Tag: vap

Kunjungi 5 Desa di Minut, Putri Kesayangan VAP Berbagi Kasih

Politisi yang peduli, SGR tak lelah berbagi (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Kepedulian yang diwariskan dari ibunya, seorang politisi yang dikenal publik di Sulawesi Utara (Sulut) sebagai sosok Bupati yang dermawan, dialah DR (HC) Vonnie Anneke Panambunan, STh atau yang akrab disapa VAP. Benar adanya kebaikan itu tertular kepada anak perempuan kesayangannya, Shintia Gelly Rumumpe (SGR).

Selasa (19/5/2020), politisi NasDem yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Minahasa Utara (Minut) kembali bersilaturahmi dengan masyarakat. Kali ini di tengah terik matahari, SGR berbagi kasih dengan masyarakat di 5 (lima) Desa yang ada di Minut. Diantaranya Desa Makalisung, Waleo 1, Waleo 2, Lilang, dan Langsot. Hal tersebut seperti disampaikan Feibe Panambunan saat dikonfirmasi wartawan Suluttoday.com.

”Puji Tuhan agenda Ibu Dede (SGR) siang tadi berjalan dengan baik, dan lancar. Beliau berbagi kasih dengan masyarakat di 5 Desa yang ada di Minahasa Utara. Semoga menjadi berkat buat masyarakat. Kegiatan ini dilakukannya rutin, atas nama masyarakat, Ibu Dede seperti tidak mengenal lelah. Kita doakan semoga beliau sehat selalu dan terus berbuat bagi masyarakat tercinta. Berbagi kasih yang dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan,” ujar Feibe, Selasa (19/5/2020).

Kutipan postingan Tanod (Foto Suluttoday.com)

Di tempat terpisah, pemilik akun Facebook yang bernama Tanod Tou juga memposting sejumlah bantuan yang diketahui berasal dari SRG. Putri Bupati Minut dua periode ini, mendapat pujian dan doa dari masyarakat. Pemilik akun tersebut pun menyampaikan terima kasih atas perhatian politisi muda yang murah senyum ini. Bantuan berupa masker dan hand sanitaizer serta bantuan lainnya juga tak lupa dipostingnya di beranda Facebooknya.

SGR berbagi kasih dengan masyarakat (Foto Istimewa)

”Bersyukur terhadap berkat di tengah Pandemi Covid-19 yang berasal dari Tuhan, melalui Kepedulian VAP-SGR yang membagikan bantuan Masker, Hand Sanitizer, Mie Instan, Gula, Beras, Minyak Kelapa dan uang, langsung for orang tuaku, Mami deng Papi di Waleo, sore tadi. Terima Kasih Dede yang so serahkan langsung bantuan untuk Lansia dan masyarakat umum termasuk buah untuk anak-anak,” kata Tanod yang juga Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat LSM Maesa’an Tou Malesung ini.

(*/Bung Amas)

Begini Cara VONNIE PANAMBUNAN Salurkan Bantuan Kepada Ojek Online

Indra Saragih saat membagikan bantuan (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Sosok politisi yang dikenal peduli pada masyarakat, dialah Vonnie Anneke Panambunan. Bupati Kabupaten Minahasa Utara (Minut) 2 periode ini kini digadang menjadi calon Gubernur Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Melalui relawan dan tim kerjanya, VAP begitu sapaan akrab Vonnie, Sabtu (4/4/2020), menyalurkan bantuan kepada ojek online di area Kota Manado.

Bantuan diberikan diantaranya beras, alat pelindung diri seperti masker, hand sanitizer. Hal itu seperti disampaikan Syupriady Indra Saragih, saat mengubungi Suluttoday.com. Menurut Indra, kegiatan bakti sosial ini diberikan dialamatkan untuk pengemudi ojek online yang dinilai terdampak covid-19.

“Kali ini kita utamakan teman-tekan Ojek Online. Pengemudi ojek online sangat merasakan dampaknya dengan adanya penyebaran Virus Corona. Akibat Corona, pendapatan mereka menurun,” ujar Indra, Minggu (5/4/2020).

Lanjut Indra, menyampaikan kepedulian VAP kepada masyarakat tak akan putus. VAP disebutnya selalu merindukan dan peduli pada masyarakat Sulut. Atas alasan kemanusiaan itu, VAP melalu milenial Sulut VAP memberikan bantuan ini kepada ojol.

Hal senada juga ditambahkab Christian Bagensa, milenial Sulut VAP mengatakan bahwa mereka turun langsung door to door guna membagikan bantuan ke Ojek Online secara langsung.

Masyarakat antusias menerima bantuan dari VAP (Foto Suluttoday.com)

“Kita konsentrasikan di Kota Manado dulu, menyalurkan bantuan ini. Akan bergiliran ke daerah lain juga. Inilah cara yang kami pilih untuk menyalurkan bantuan. Semoga bermanfaat dan membantu teman-teman kami sebagai pekerja Ojek Online,” kata Christian.

Apresiasi datang dari pekerja Ojek Online, sebut saja Roland Maruf, menyebutkan bantuan yang diberikan VAP sangatlah membantu mereka. Pihaknya menyampaikan terima kasih kepada VAP.

“Bantuan yang diberikan Ibu VAP ini sangat membantu kami. Terima kasih Ibu Vonnie Anneke Panambunan yang sudah berbagi kasih bersama kami para pengemudi ojek onlineo” tukasnya Maruf.

(*/Adm)

Metapolitik “4+” Menakar Takdir

Bang Reiner bersama beberapa Kepala Daerah (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Sebuah relasi apapun akan menunjukkan tanda-tanda suatu peristiwa yang merekatkan kita dengan yg lain. Kalimat ini yg disarikan dari sebuah buku ahli fisika eko-spiritual, Fritjof Capra (The Web of Life,1996). Dengan itu pula, saya menakar relasi saya sebagai “tanda semesta” yang bisa menunjukkan kualitas dan kualifikasi seorang yang ditakdirkan jadi pemimpin. Meski ada teori yang mengklasifikasikan tiap-tiap pemimpin berdasar model dan karakternya, tidak dgn sendirinya teori itu menggambarkan seluruh kepribadiaannya(personality = topeng).

Dengan kata lain, topeng pemimpin itu dibaca dari seberapa dlm mereka menunjukkan apa yg disebut Martha C. Nussbaum sebagai “competing of capabilities.” Untuk keempat pemimpin plus ini (+SK), saya telah menaruh apresiasi terhadap mereka, baik personal maupun institusional, sebagai sikap untuk mengungkapkan “kompetisi & kapabilitas” mereka masing-masing.

Secara semiotik, mula-mula saya membaca slogan atau tagar yg mereka utarakan: OD(Kepemimpinan adalah Teladan), CEP (Profesional & Spiritual), VAP (Diberkati untuk Memberkati), GSVL (Cerdas & Kota Doa). Narasi-narasi ini begitu “hemat” kosakata dn secara sosio-linguistik mengandung aforisme ajakan ke dalam situasi yang lebih psikologis. Jika disamaratakan tergambar mereka semua didasarkan atas modal spiritualitas masing-masing.

Meski dalam beberapa kesempatan saya pernah berdialog dengan mereka, rata-rata menyimpan potensi spiritualitas yang disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi berbagai tantangan mereka sebagai pemimpin. Tapi, untuk VAP, potensi itu terlampau lugas dan lugu ia kesankan. Saya tak tahu apakah karna dia sdh mengecap pendidikan teologi dan sdh diberi gelar Dr (HC) bidang teologi. Semua itu tak jadi urgen dan penting mengingat masyarakat yg mereka pimpin sangat majemuk, baik internal maupun eksternal.

Karena itu, saya lebih menyukai untuk mengejar kedalaman slogan (Kepemimpinan itu adalah Teladan). Selain lebih universal praksis etiknya, memimpin itu menjadi perintah bagi siapa saja. Setidaknya, memimpin diri sendiri atau keluarga.

Universalisme kepemimpinan sejatinya akan dihadapi oleh siapapun. Tapi, untuk jadi teladan dan diteladani, urusannya tidak sesederhana itu. Keteladanan itu hrs diekspresikan bukan pada semua level dan hierarki. Keteladanan pada keluarga tentu akan brbeda dengan yg diterapkan pada level birokrasi dan kalangan profesional. Bahkan akan lebih menentang diejawantahkan pada pelbagai komunitas yang jamak.

Untuk itu, saya masih menemukan kendala obyektif untuk mengevaluasi secara obyektif dan komprehensif bahwa memimpin dengan keteladanan itu membutuhkan instrumen-instrumen material dan immaterial yang sarat dgn lingkungan yang memadai. Misalnya, apakah hasil-hasil WTP itu bisa disigi dari perspektif keteladanan administrasif atau birokratisasi? Ringkasnya, pada keempat pemimpin plus ini, masyarakat tk membutuhkan sejauh mana slogan itu praksis dan aplikatif karna mereka tak punya alat ukur sistemik, obyektif dan ilmiah.

Mereka vis a vis rakyat hanya butuh kehadiran anda untuk bisa berdialog dari hati ke hati agar psikologi keteladanan itu bisa mereka resapkan langsung persis ketika Sukarno setengah abad silam berdialog di sawah dengan petani bernama: Marhaen. Sejak itu, Sukarno — terlepas tersungkur oleh “konspirasi politik” — menunjukkan keteladanannya pada rakyat belaka. Kelak, muncul istilah “berdikari”, gotong-royong, penyambung lidah rakyat, trisakti, nawaswara, manipol-usdek, dekrit dan lain-lain.

Istilah-istilah ini hendak menunjukkan sebuah keteladanan “arus bawah” untuk menenggang “arus atas (elitis) yang sejauh ini terlampau jauh dari proksimitas dan intimitas seluruh rakyat yang akan memilih mereka kelak. Meski tampak klise, adagium ini masih sangat relevan: Vox Populi Vox Dei. Homo Emeritus, Manusia bakal pensiun. Tapi, Homo Deus, akan terus berjaya hingga akhir dunia.

Kebal Hukum, Bupati Minut Disebut Lebih Tinggi dari Tuhan

Ketika masyarakat melakukan demo (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) bersama LSM masyarakat Minahasa Utara Senin (08/10/2018) menduduki Kantor Kejaksaan Tinggi untuk menuntut kejelasan kasus korupsi sebesar Rp 8.3 M yang dilakukan oleh Vonny Anneke Panambunan atau VAP yang adalah Bupati Minut ini.

Dalam demo sekitar 100 orang ini sempat menunjukkan sebuah karang bunga yang bertuliskan ‘Diduga Bupati VAP lebih tinggi dari Tuhan’ karena dinilai tak pernah mempan dengan hukum yang berlaku. Koordinator lapangan LSM Minut Connection Noldy Awuy, mengatakan bahwa hasil putusan persidangan telah menyatakan aliran dana pemecah ombak masuk kantong VAP, tapi hingga saat ini belum ditetapkan maupun ditahan sebagai tersangka.

Lebih lanjut Awuy mengatakan VAP jangan berlindung di balik partai politik yang baru dimasukinya demi memulihkan kasus.(Cat)

Akibat Jalan Berlobang di Sarongsong Dua Nyaris Memakan Korban

Kondisi jalan yang mengalami kerusakan (FOTO Suluttoday.com)

MINUT, Suluttoday.com – Ruas Jalan depan SMK Baramuli Sarongsong Dua yang berlubang menganga diruas jalan Sarongsong dua kembali mengancam keselamatan pengguna jalan baik itu kendaraan roda empat, maupun kendaraan roda dua.

Beberapa hari lalu sebuah mobil Ayla dari arah Airmadidi menuju Manado, nyaris menabrak rumah warga saat menghidari beberapa llbuah lubang tersebut. Rabu (7/6/2018) sekitar pukul 6.35 Wita, dua gadis cantik bernama Fika (20), Ayu (19), karyawati salah satu perusahaan di Bitung, bergoncengan dari arah Airmadidi kearah Manado, dengan sebuah sepeda motor matic warna merah muda.

Didepan SMK Baramuli, motor yang dikendarai Fika, melambung dan halangi pandangan gadis manis itu, padahal didepannya sudah menganga beberapa lubang besar dan dalam. Karena lubang sudah terlalu dekat, Fika tak dapat menghindari lagi. Roda depan sepeda motor pun terperosok, sedangkan Fika dan Ayu terlempar keluar jalan dengan beberapa bagian tubuh sakit karena terbentur aspal.

“Saya tidak tahu kalau ada beberapa lubang besar disini, sehingga kami jatuh. Masih untung tak ada mobil dibelakang kami,” seru Ayu sambil meringis menahan sakit di lutut kirinya.

Sesuai keterangan warga setempat, lubang-lubang besar itu sudah banyak memakan korban. Hanya saja para korban teperosok di lobang itu tidak tahu harus melaporkan siapa dan kemana.

“Sudah banyak korban gara-gara lubang-lubang ini, tapi mereka tak tahu harus melapor pada siapa. Apakah nanti sudah ada yang mati celaka baru pemerintah akan bergerak,” tukas Joni warga Kelurahan Sarongsong Dua Linggkungan III.

Terpisah, Jefran de’Jong aktivis Li TIPIKOR Sulut mengecam sikap diam dan janji dari BPJN XV, terkait keberadaan lubang-lubang menganga mengancam keselamatan manusia itu.

“Beberapa waktu lalu saya ada mengutip janji Kabalai BPJN XV janji akan segera memperbaiki lubang-lubang itu. Sampai hari ini, maana janjinya, apakah nanti sudah ada pengguna jalan yang mati karna celaka disitu baru ada perbaikan,” katanya.

Lanjut de’Jong, jika dalam beberapa waktu kedepan ada pengguna jalan yang celaka dan mati ditempat itu, pihaknya akan mengawal laporan ke ranah hukum, terkait pembiaran oleh BPJN XV, dari PPK, Kasatker maupun Kabalai.

“Sebaiknya segeralah lakukan perbaikan, jangan nanti sampai ada korban nyawa. Sebab, apabila yerjadi hal-hal tak di inginkan, kami pasti mengawal laporan dan proses hukum terhadap BPJN XV dari PPK sampai Kabalai nya,” janji Jefran.(Eman)

iklan1