Tag: yogie maharesi

Terobosan di Tengah Pandemi, KAUMY Luncurkan Startup

Yogie Maharesi (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PP KAUMY) meluncurkan marketplace Pasar KAUMY sebagai media jual beli online berbasis komunitas dan jaringan sekitar 40 ribu alumni UMY. Pasar KAUMY hadir di tengah pandemi yang menyebabkan kontraksi ekonomi berkepanjangan dan memukul banyak sektor.

“Kita harus terus mengembangkan inovasi. Karena ekonomi digital membuka ruang permintaan dan penawaran di masa pandemi. Kami menjawab tekanan ekonomi yang dirasakan termasuk oleh para alumni UMY, dengan mengembangkan www.pasarkaumy.com sebagai medium jual beli online bagi para alumni almamater kami,” ujar Ketua Umum PP KAUMY Yogie Maharesi, Senin (14/9/2020) di Jakarta.

Disampaikan Yogie, pasar KAUMY menghimpun produk barang dan jasa para alumni UMY yang sangat bervariasi sehingga memperluas peluang kolaborasi.

“Terobosannya seperti ini, kami memilih berdaya bersama. Saling membantu dan mendukung usaha sesama alumni di tengah situasi sulit ini. Semua jenis produk barang dan jasa alumni dari berbagai sektor usaha diperjualbelikan secara online,” tutur Yogie.

Lanjutnya lagi bahwa PP KAUMY berharap upaya ini turut membawa dampak positif pada ketahanan ekonomi di masyarakat luas.

“Semakin banyak alumni yang bergabung dan bertransaksi, maka skala ekonomi yang ditimbulkan tentu semakin besar. Manfaatnya tidak hanya bagi alumni, melainkan juga berkontribusi pada pelaku usaha di setiap mata rantai produksi dan distribusi yang dilalui oleh sebuah produk barang dan jasa,” kata Yogie yang juga jebolan aktivis Cipayung ini.

(*/Bung Amas)

Berharap HMI Lahirkan Pemimpin Kembali

Yogie Maharesi (Foto Istimewa)

Oleh : Yogie Maharesi, Alumni HMI

Waktu saya menjadi Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta tahun 2002-2003, saya sering iseng bertanya kepada kader peserta seleksi Latihan Kader (LK II) atau Senior Course (SC) yang diwawancarai oleh tim seleksi di sekretariat HMI Cabang Yogyakarta, Karangkajen: “Anda kader HMI? Atau HMI MPO?” Biasanya kader yang ditanya tak perlu pikir panjang untuk mantap menjawab: “HMI MPO.”

Pertanyaan lanjutan dari saya: “Dari mana anda tahu bahwa anda kader HMI MPO? Apa ada di konstitusi organisasi ini bahwa kita adalah kader HMI dengan label MPO? Anda coba buka juga dokumen susunan Pengurus HMI Cabang Yogyakarta sejak didirikan tahun 1947 sampai sekarang, mengapa kita tetap terus mendokumentasikan diri sebagai kelanjutan HMI dari tahun 1947 sampai sekarang? Mengapa tidak kita tanggalkan saja dari diri kita sejarah HMI sejak 1947 sampai HMI pecah tahun 1986, lalu kita buat sejarah HMI MPO sendiri mulai 1986 sampai sekarang dan seterusnya?”

Beberapa pertanyaan ini memang tidak saya maksudkan untuk langsung dijawab, karena pertanyaan simpanan berikutnya yang saya ingin langsung mereka jawab adalah: “Kalau anda kader HMI MPO, sejak kapan organisasi HMI MPO anda ini berdiri?” Semua yang ditanya sekali lagi mantap menjawab: “1986.” Pertanyaan akhir dari keisengan saya: “Jadi, anda kader HMI yang didirikan sejak tahun 1947, atau kader HMI MPO yang menurut anda didirikan sejak tahun 1986?” Saya ingat betul, pertanyaan terakhir ini hampir selalu gamang dijawab. Semua tetap kekeuh menyatakan diri sebagai kader HMI MPO, tapi sulit -untuk tidak mengatakan tidak bisa- menempatkan diri secara utuh dan mantap, apakah dia merupakan penerus HMI sejak 1947 atau penerus HMI MPO sejak 1986.

Jawabannya lalu kalau menurut saya sendiri bagaimana? Bagi saya, saya adalah kader HMI, bukan HMI MPO. Saya adalah penerus HMI yang berdiri sejak 1947 sampai sekarang. Adapun terjadinya perpecahan HMI pada tahun 1986 karena penerapan Asas Tunggal Pancasila yang kemudian HMI menjadi HMI MPO dan HMI Dipo, yang keduanya sama-sama mngklaim sebagai HMI yang “sah”, itu terserah masing-masing HMI saja. Itu dinamika dan kenyataan yang memberi banyak pelajaran bagi HMI MPO dan HMI Dipo, serta umat Islam secara luas. Nah, karena HMI tempat saya dikader sejatinya merasa benar sebagai penerus “HMI yang haq” dan berdiri sejak 1947, maka justru karena itu saya menempatkan diri sebagai kader HMI, bukan HMI MPO.

Penempatan diri itu sejak awal saya lakukan dalam hati dengan tetap menaruh hormat yang tinggi pada para pendahulu saya di garis MPO. Mereka semua pejuang di zamannya dan masih istiqomah sampai saat ini mengawal perkaderan, menjaga kultur dan memberi contoh keteladanan dalam banyak bentuk. Apa yang pernah saya lakukan selama di HMI, kerap terpikir tak seberapa dibandingkan pengorbanan mereka bagi organisasi ini.

Mengapa penting bagi saya menempatkan diri sebagai kader HMI, dan bukan HMI MPO? Alasanya agar saya tidak terputus menjadi bagian dari perjalanan panjang HMI yang berdiri pada tahun 1947, dan tidak terputus dari interaksi dengan para pendahulu HMI di semua era baik sebelum maupun setelah perpecahan, bahkan tidak terputus silaturahmi dengan saudara-saudara saya di HMI Dipo.

Dengan segala tantangan yang kadang tidak mudah sebagai kader dari rahim MPO yang membuka pergaulan dengan dunia luar dan jejaring HMI dari semua era, saya mendapati langkah itu sebagai pilihan yang tidak salah. Banyak alumni HMI dari semua era yang saya temui tidak hirau pada soal MPO atau Dipo, karena yang mereka lihat adalah kualitas diri, kesamaan visi, sopan santun, kesan kuat ingin belajar, dan kemampuan komunikasi kita untuk membangun hubungan baik. Menempatkan diri sebagai kader HMI berarti menempatkan diri sebagai bagian dari sejarah HMI yang panjang dan tak terputus silaturahmi dan etos perjuangannya.

* * * * *

Lulus SMA tahun 1998 di Curup, Bengkulu, saya kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), sebuah kampus yang bergolak saat reformasi dan menjadi salah satu barometer pergerakan mahasiswa di Yogyakarta. Euforia reformasi pekat sekali. Kajian, diskusi dan seminar kritis dimana-mana, yang diselenggarakan oleh bermacam organisasi mahasiswa, NGO, kelompok studi, dan banyak lagi.

Sebagai orang yang sejak SMP dan SMA memang sudah aktif berorganisasi, saya segera melibatkan diri menjadi peserta berbagai aktifitas kemahasiswaan di kampus. Saya ikut banyak kajian, diskusi, seminar, training, kepanitiaan, dengan bersemangat. Saya bukan partisipan pasif, melainkan aktif bertanya dan berkomentar di beberapa kesempatan. Perkara jiwa mahasiswa baru yang ingin eksis juga ada dalam diri.

Perlahan saya mengenal tokoh-tokoh mahasiswa di kampus kami. Terdengar di telinga ini: Ketua Senat Mahasiswa FE itu kader HMI. Ketua BEM FE itu juga HMI. Ketua Senat Mahasiswa UMY, itu senior HMI. Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa UMY, dia mahasiswa berprestasi dan dari HMI. Ternyata yang saya dengar tidak sampai di situ: Rektor UMY itu HMI. Pembantu Rektor UMY itu HMI. Dekan dan dosen yang ini dan yang itu, HMI.

Tambah lagi lebih jauh pendengaran saya: Rektor UGM itu HMI, Rektor UII, Rektor UNY juga HMI, tokoh reformasi Prof. Amien Rais, Ketum PP Muhammadiyah Prof. Syafii Maarif, sederet Guru Besar, Doktor hingga dosen-dosen muda yang energik dari berbagai kampus yang menjadi pembicara di acara-acara mahasiswa, juga HMI. Ketua Senat Mahasiswa UGM, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa UII, Ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa UII, Sekretaris Jenderal Senat Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, dan banyak lagi tokoh mahasiswa Yogyakarta kala itu, semuanya HMI.

Dalam hati saya berujar, luar biasa ini organisasi HMI. Begitu banyak tokoh lahir dari HMI. Seiring waktu tak berapa lama, saya juga jadi tahu kebesaran HMI belum cukup sampai di lingkup Yogyakarta, melainkan di level nasional yang ditampilkan oleh tak terbilang jumlah tokoh-tokohnya baik sebagai cendikiawan, pejabat pemerintah, politisi, pengusaha, penggerak NGO, pemimpin ormas, dan nampak pula di semua lini yang lain. Saya terkesima.

Suatu hari saya diminta oleh seorang kakak tingkat untuk datang ke sebuah rumah kontrakan. Ternyata itu sekretariat HMI Komisariat UMY di Wirobrajan. Saya bertemu beberapa senior di kampus, yang baru saat itu saya tahu bahwa mereka kader HMI. “Yogie, kamu mau kita ikutkan mewakili kampus kita, jadi peserta training HMI selama empat hari. Pesertanya utusan mahasiswa pilihan dari kampus-kampus di Jogja. Pembicaranya tokoh-tokoh gerakan mahasiswa,” langsung demikian kira-kira sang senior membuka pembicaraan.

Saya mengiyakan, apalagi ada kata-kata “mewakili kampus kita” dan “mahasiswa pilihan”, yang bikin saya bangga. Meski di kemudian hari saya baru sadar, kata-kata itu tak lebih hanya bagian dari bujuk rayu saja supaya saya mau ikut menjadi peserta. Maka berlangsunglah selama empat hari saya menjadi peserta Latihan Kader (LK) I/Basic Training HMI yang diselenggarakan oleh HMI Komisariat Fisipol UGM di sebuah panti asuhan.

Selama training, bangun dini hari untuk sholat tahajud, lanjut sholat subuh berjamaah, istirahat sebentar, sarapan, lalu dari pagi sampai malam mengikuti rangkaian materi sambil terkantuk-kantuk. Materi-materi tentang keislaman, wawasan sosial, wawasan ilmu, etos perjuangan, dan sebagainya seketika membuka kesadaran intelektual baru, sikap kritis dan sekaligus kebutuhan untuk belajar lebih dan lebih banyak lagi untuk menjadi mahasiswa penggerak di kampus.

Para senior HMI yang menjadi pemateri itu telah berhasil mengingatkan bahwa saya ternyata belum tahu apa-apa tentang banyak sekali soal, hingga untuk beberapa bulan sempat membuat saya “stress” sendiri memikirkan: Bagaimana caranya supaya bisa cerdas seperti senior-senior HMI itu? Mulai dari mana?

Pasca LK I HMI, saya menemukan keberuntungan. Sebagai kader HMI, saya punya akses untuk bertemu dan berdiskusi informal dengan para senior HMI. Dalam arti, mereka semua ternyata benar-benar low profile, senang dikunjungi, dan semangat berbagi ilmu, informasi dan pengalaman. Jadilah hari-hari saya dipenuhi dengan kunjungan ke kost-kost para senior HMI, yang selama ini hanya saya pandang mereka sebagai tokoh mahasiswa dari kejauhan, kini saya bisa akrab dan dididik langsung oleh mereka.

Dari lepas maghrib sampai lewat tengah malam, saya bisa habiskan waktu bertanya di kost seorang senior HMI. Malam berikutnya juga begitu, bersama senior yang lain. Dan itu saya lakukan sendiri karena saya percaya pada satu prinsip, bahwa kader yang akan berhasil adalah kader yang mandiri dalam berproses. Jadi tidak perlu diajak, diminta, diundang, diarahkan, apalagi dibujuk untuk aktif atau melakukan sesuatu yang baik untuk diri kita. Mandiri, lakukan sendiri, jangan menunggu.

Tak jarang saya sebagai junior dibawa ikut serta ke pertemuan atau diskusi yang isinya para aktivis HMI lintas kampus, tentu semuanya senior saya. Paling sering berkumpul di sekretariat HMI Korkom UGM di Jetis, kampus UII di Cik Ditiro dan Taman Siswa, serta Marakom di Sapen. Dari situ pula saya mengenal Liga Mahasiswa Muslim Yogyakarta (LMMY), sebuah organ mantel legendaris yang dibentuk oleh para aktivis HMI Cabang Yogyakarta, isinya para tokoh HMI lintas kampus yang menjadi think tank sekaligus petarung politik mahasiswa dan penggerak aksi-aksi demonstrasi HMI di Yogyakarta. Pada waktunya tahun 2001-2002, ternyata saya diamanahi untuk menjadi Sekretaris Jenderal LMMY.

Interaksi dengan para senior dan teman-teman HMI lintas kampus di Yogyakarta, mempercepat proses belajar saya di dunia gerakan mahasiswa. Saya beruntung dan bersyukur sekali merasakan kesempatan belajar dan menimba ilmu yang berlimpah ruah dan gratis di dalam keluarga besar HMI Cabang Yogyakarta. Kepada mereka saya bisa bertanya tentang apa saja mulai dari filsafat, ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, dan sebagainya untuk memperoleh bekal diskusi di forum-forum mahasiswa umum.

Saya sering “tricky” apabila tahu besok atau lusa akan berdiskusi di forum dengan teman-teman mahasiswa di kampus, terutama yang berasal dari organisasi selain HMI, maka di hari sebelumnya saya main ke kost atau rumah senior HMI yang kompeten untuk topik yang akan dibahas. Saya gali sebanyak-banyaknya perspektif, informasi, kritik, referensi dan seterusnya, untuk saya tumpahkan kemudian di diskusi saya dengan teman-teman mahasiswa di kampus. Jadilah saya seolah nampak lebih tahu dan lebih intelek dibanding yang lain, padahal baru belajar kemarin.

Namun dari semua proses meeting of mind, diskusi, bahkan perdebatan di HMI, dengan sendirinya telah membentuk cara, pola, dan sistem berpikir di kepala saya sendiri yang tersusun sedemikian rupa berdasarkan analisis, informasi, data, minat, dan tentu saja batas kemampuan intelektual yang saya miliki. Para aktivis HMI berbeda-beda type satu sama lain karena memang di wadah ini semua memiliki kebebasan intelektual dalam membedah berbagai masalah keislaman dan kebangsaan. Para aktivis HMI itu kritis, dan pada saat yang sama tidak anti kritik. Berbagai perbedaan dengan mudah dikesampingkan di HMI, karena ada visi besar yang membuat para aktivisnya selalu memilih menjaga kebersamaan di tengah perbedaan, yaitu visi keumatan.

Dan rupanya, saya lebih tertarik dan melibatkan diri pada soal gerakan mahasiswa dan pengembangan jaringan. Saya ambil peran lebih operasional, manajerial dan struktural di HMI. Bisa jadi itu juga karena keterbatasan saya secara intelektual untuk mendalami wacana-wacana pemikiran dan keilmuan yang berkembang dalam dinamika dan dialektika di HMI.

Maka, setelah saya mengikuti jenjang Latihan Kader II yang diselenggarakan oleh HMI Komisariat Fakultas Kehutanan UGM, saya dipercaya menjadi Ketum HMI Korkom UMY di tahun kedua kuliah. Kemudian ikut Senior Course (SC) untuk menjadi Pengader yang sebagian tugasnya adalah sebagai Pemandu dan/atau Pemateri di training-training HMI. Secara jenjang struktural selanjutnya saya di cabang menjadi Ketua Bidang Perguran Tinggi dan Kemahasiswaan, lalu periode berikutnya diamanahi sebagai Ketum HMI Cabang Yogyakarta.

Masih berlanjut, saya menjalani amanah di jenjang berikutnya sebagai Ketum HMI Badan Koordinasi (Badko) Indonesia Bagian Tengah, dan terakhir menjadi Ketua Komisi Politik Pengurus Besar HMI. Suatu perjalanan panjang ber-HMI yang secara sadar dan sengaja saya lalui. Perjalanan yang berat, penuh pelajaran akan arti pengorbanan dan perjuangan, sekaligus juga bertaruh untuk masa depan. Mengapa demikian? Karena bagi saya, HMI memberi beberapa makna mendalam.

Pertama, HMI memberi basis ideologi Islam yang berpihak pada kaum lemah dan tertindas. Sebagian besar kader HMI bisa dibilang tidak menunjukkan simbolisasi sebagai muslim yang fanatik. Tapi jangan tanya kalau perkara keberpihakan, mereka telah melalui proses ideologisasi untuk selalu membela kaum lemah dan tertindas. Warisan ideologi ini mahal dan makin langka di tengah era informasi dan demokrasi liberal saat ini, sehingga peran HMI sebagai kawah ideologisasi bagi para calon pemimpin harus terus bertahan sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Kedua, HMI memberi basis intelektual dengan medan jelajah yang luas bagi saya. HMI membentuk kader-kadernya untuk memiliki pemahaman multidimensional, karena itu penalarannya terhadap masalah keumatan dan kebangsaan tidak parsial, melainkan komprehensif. Tradisi intelektual di HMI merupakan kayu bakar yang terus memanasi kader untuk mengembangkan pemikiran dan mencari solusi atas masalah-masalah yang muncul di tengah masyarakat. Kader HMI lazimnya selalu memiliki ketertarikan dan rasa haus akan ilmu pengetahuan meski kadang tak sebidang dengan basis akademisnya. Kesadaran akan pentingnya memiliki wawasan dengan horison membentang luas, adalah satu dari sekian ciri para kader HMI.

Ketiga, HMI memberi inspirasi, motivasi dan visi sejak pertama saya mengenalnya, untuk menyiapkan dan membentuk diri sebagai calon pemimpin. Bagi saya, HMI adalah organisasi para calon pemimpin Indonesia masa depan. Secara ekstrim dalam berbagai kesempatan saya sampaikan pada kader-kader HMI di bawah saya: Mestinya tidak ada tempat di HMI bagi mahasiswa yang tidak punya visi untuk menjadi pemimpin yang sesungguhnya. Fokus HMI adalah mencetak pemimpin-pemimpin baru, yang itu berarti benar-benar mendorong, mendukung dan mengarahkan perkaderannya untuk melahirkan para pemimpin.

Keempat, HMI memberi kesempatan untuk melakukan mobilitas sosial vertikal melalui luasnya jaringan. Jejaring dan interaksi dengan para pendahulu HMI yang menjadi tokoh dan orang penting di berbagai sektor, merupakan modal bagi para kader untuk tumbuh dan membuka jalan pengembangan diri ke depan, hingga meraih kesuksesan. Nama-nama besar alumni HMI, cenderung tidak sulit diakses oleh para pengurus HMI di semua level. Dengan berbekal basis ideologi, intelektual dan kepemimpinan yang kuat, maka luasnya jaringan akan melengkapi kapasitas dan kemampuan para kader HMI untuk tampil di medan pengabdian yang lebih luas, hingga ia tak lagi sebatas diidentifikasi sebagai kader HMI, melainkan sudah menjadi kader umat dan kader bangsa yang siap menjadi pemimpin semua golongan.

HMI sudah terbukti kuat basis ideologi dan intelektualnya, tapi belum didorong untuk sungguh-sungguh mencetak calon pemimpin dan memiliki jaringan luas untuk pengembangan diri kader-kadernya. Tidak sedikit alumni HMI dari rahim MPO yang berhasil dan punya jaringan luas tapi bukan karena rekayasa perkaderan, melainkan karena usaha sendiri tanpa didukung oleh organisasi. Ini penting untuk menjadi perhatian serius.

Menjadi ideologis dan intelek tidaklah cukup untuk bisa turut mempengaruhi perjalanan bangsa. Kita butuh kader-kader pemimpin masa depan yang mampu diterima dan berdiri di atas semua golongan. []

Jakarta, 1 Maret 2020

iklan1